LOGIN"Ah ... sakit sekali .…”
Pagi itu, ia tengah duduk di tepi ranjang sambil memompa ASI portable dari nakas setelah bangun tidur. Corongnya menempel ke kulit yang masih lecet bekas semalam. Zea terus meringis dan menahan desahannya.Di tengah proses itu, pikirannya kembali melayang kepada Marco. Wajah pria itu di dalam mobil semalam, disusul omelan Zavian yang masih terngiang jelas di telinganya.Dan ia akhirnya memutuskan agar Marco hanya akan menerima ASI lewat botol. Tidak akan aSeketika, seluruh perhatian tamu di tempat itu teralih ke arah Selena. "Selena! Kamu nggak apa-apa?" "Ya ampun, sini, sini, dibantu berdiri!" Marco langsung bergegas maju, meraih lengan Selena dan membantunya berdiri dengan hati-hati. Beberapa tamu lain ikut mengelilingi, sementara kedua orang tua Selena tampak panik memeriksa keadaan putri mereka. Sementara Zea masih berdiri sendiri di tepi meja, menahan tubuhnya yang limbung akibat benturan tadi. Tidak ada satu pun yang menoleh ke arahnya. Ia mencoba berdiri tegak meski pergelangan kakinya berdenyut nyeri. Namun belum sempat ia bergerak, tatapan Marco yang sedang memapah Selena tiba-tiba beralih padanya. Rahang pria itu mengeras. "Kenapa jalan nggak hati-hati?!" tegurnya tajam. Zea tertegun. Perkataan Marco terasa seperti tamparan malam ini. Nada suara Marco begitu penuh amarah, seolah semua ini murni kesalahannya. Selena yang masih dipapah menoleh dan
Zea mengerjap sebelum akhirnya tersenyum tipis, berusaha terdengar biasa saja. "Nggak apa-apa, Dimas. Cuma agak pusing aja. Kebanyakan orang, kayaknya," Dimas masih menatapnya ragu, tidak sepenuhnya percaya. "Yakin? Mukamu pucat banget.""Iya, beneran. Aku cuma mau keluar sebentar, cari udara segar," jawab Zea meyakinkan. "Kamu duluan aja, nggak usah nungguin aku."Dimas terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan meski masih terlihat enggan. "Ya udah. Tapi kalau masih pusing, bilang aku, ya. Aku di dalam."Zea mengangguk sebagai jawaban, lalu berjalan menjauh menyusuri lorong menuju balkon di ujung ruangan. Suara musik dan obrolan tamu perlahan memudar begitu ia melangkah keluar.Udara malam langsung menyapa wajahnya begitu pintu kaca balkon terbuka. Angin sejuk membawa aroma kota yang bercampur dengan wangi parfum mahal yang masih tersisa dari dalam ruangan.Zea menyandarkan kedua tangannya ke pagar balkon sambil menghembuskan napas panjang. Kepalanya masih t
"Oh, iya, boleh," jawab Zea, sedikit terkejut. “Mau ngrobrolin apa?” Selena tersenyum manis. “Aku mau minta maaf, waktu itu aku kira kamu asisten dari panitia penyelenggara atau dari venue, jadi aku minta tolong cuciin handuk itu.” Raut wajah Selena tampak menyesal, ia meraih kedua tangan Zea dengan gestur yang tulus. “Ternyata kamu adik Coach Zavian. Aku baru tahu setelahnya. Aku minta maaf, ya.” Zea tersenyum kikuk. Tidak enak membuat perhatian orang-orang teralih padanya. Ia mengangguk. “Iya, nggak apa-apa, kok.” “Tapi, mereka keterlaluan juga, ya. Asisten pelatih kenapa nggak dikasih jaket klub? Aku aja dapat jaket,” lanjut Selena dengan nada mengomel. “Kenji! Kamu ini gimana sih, aku yang bukan bagian tim malah dikasih, tapi adik Coach nggak dikasih!” Selena memukul-mukul pelan lengan Kenji dengan manja, membuat pria itu meringis dan terkekeh. “Aku lupa, Sel. Lagian waktu itu, Zea pernah dipinjamin jaketnya Marco …” Gerakan Selena langsung berhenti. Ia menoleh ke arah Zea.
“Hm, pakai gaun yang mana, ya?” gumam Zea pelan. Ia berdiri di depan cermin kamarnya sambil menatap pantulan dirinya dengan ragu. Beberapa pakaian sudah dicoba bergantian, tetapi belum ada yang benar-benar terasa cocok. Sepulang dari gedung pelatihan tadi, Zea sempat memberi tahu Donna bahwa malam ini ia menghadiri pesta ulang tahun Selena bersama tim renang. Tak disangka, Donna langsung mengizinkannya pergi bersama Zavian. Setelah mandi dan sibuk memilih gaun, Zea akhirnya memilih gaun sederhana berwarna dusty pink selutut yang dipadukan dengan cardigan tipis. Penampilannya tidak mencolok, tetapi juga tidak terlalu sederhana. Cukup rapi untuk menghadiri sebuah pesta, tanpa terkesan berlebihan. Zea berulang kali meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah acara tim biasa. Tak ada alasan untuk gugup, meski jantungnya tetap berdebar tak menentu. Zea menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ia hanya perlu bertahan malam ini saja dan semuanya akan kembali seperti s
Suasana latihan renang terasa berbeda dari biasanya. Suara peluit dan cipratan air terdengar seperti biasa, tetapi ketegangan yang menyelimuti tim hari itu sulit diabaikan. Zea berdiri di tepi kolam sambil mencatat waktu tiap atlet. Sesekali matanya melirik ke lintasan empat, tempat Marco berenang lebih agresif dari biasanya. Namun setiap kali pria itu muncul ke permukaan, Zea segera mengalihkan pandangan ke stopwatch di tangannya. Ia tidak ingin bertemu mata dengan Marco setelah kejadian pagi tadi. Marco sendiri tampak fokus, wajahnya datar dan dingin. Lalu, catatan waktu Marco hari ini cukup memuaskan dari biasanya. Tak ada yang tahu apakah itu karena emosinya yang ia tumpahkan di kolam, atau karena faktor lain yang hanya mereka berdua pahami. Di tengah latihan, Zea tiba-tiba mendengar obrolan para atlet di tepi kolam. “Coach Zavian kenapa makin galak hari ini ya? Trial-ku telat setengah detik saja langsung kena semprot,” keluh Rafi yang baru naik ke tepi kolam, bergabung denga
Keheningan menyelimuti lounge. Marco menoleh perlahan dan tetap berdiri tanpa gentar. Sementara Zea buru-buru mendorong Marco agar menjauh dan mengusap air matanya, dadanya masih naik-turun hebat. Tatapan Zavian bergantian menyorot wajah adiknya yang sembab dan Marco yang masih berdiri di hadapannya. “Kamu yang bikin adik saya nangis?” tanyanya dengan suara rendah. Tanpa menunggu jawaban, Zavian melangkah cepat ke depan dan hendak mengayunkan tinjunya ke arah Marco. Zea langsung bergerak cepat dan menahan lengan kakaknya dengan panik. “Kak! Jangan!” Biarpun ia sendiri juga marah pada Marco, ia tidak bisa membiarkan kakaknya memukulnya. Jika seorang pelatih memukul anak didiknya sendiri, urusannya bisa panjang. Berbeda dengan Zea yang panik, Marco hanya berdiri di sana, menjawab datar tanpa merasa bersalah. “Ini urusan kami, Coach.” Jawaban itu justru membuat amarah Zavian meledak. Ia mendorong Zea dan melepaskan pegangannya begitu saja, lalu maju dan mencengkram kerah baju Mar







