Beranda / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 56. Jaga Jarak dari Marco.

Share

56. Jaga Jarak dari Marco.

Penulis: Amaleo
last update Tanggal publikasi: 2026-07-25 23:57:11

Zea tersentak mendengar pertanyaan Kakaknya. Bayangan kejadian di kamar mandi pagi tadi bersama Marco kembali muncul di benaknya, membuat kedua pipi gadis itu bersemu merah seketika.

Tapi ia buru-buru menata ekspresinya, berusaha terlihat sewajar mungkin.

“Eh? Serius?" Zea tersenyum kikuk. "Mama juga sempet bilang gitu. Kayaknya obat dari dokter Nancy ngaruh, deh. Badan aku memang udah jauh lebih enakan.”

Zavian masih memicingkan mata, memperhatikan wajah adiknya lebih lama dari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   289. Marco Menolak Minum.

    Marco membeku di tempat setelah mendengar tawaran Zea yang begitu nekat. Zea pun tahu apa yang Marco pikirkan sekarang. Pria itu pasti terkejut bahwa dirinya dengan sukarela menyerahkan diri tanpa memikirkan risiko atau skenario terburuk jika ketahuan.Marco berdehem pelan sebelum ia memalingkan wajahnya. “Bukannya aku sudah bilang kalau aku nggak akan meminum ASI-mu lagi demi performaku dan menjelang pertandingan?”Pria itu menoleh pelan, menatap Zea lekat dengan wajah serius. “Kecuali aku akan minum kalau kamu merasa penuh dan nyeri di dada.”Zea mengedip, namun tekad di wajahnya tak kunjung surut. “Tapi, Marco ... mungkin ASI ini bisa membantu meningkatkan stamina dan menunjang performa fisikmu dengan cepat. Belum lagi ...”Kalimat Zea terhenti. Tatapannya beralih ke bahu kanan pria itu, sebelum kembali menatap wajahnya dengan cemas. “Bahumu ... itu bukan cuma karena salah tidur, kan?” tanyanya pelan.Zea mendadak teringat ekspresi Marco yang sempat berubah ketika Zavian menyebut

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   288. Ayo Minum!

    Vincent mengangkat kedua tangannya perlahan dengan senyum santai di wajahnya.​"Saya di sini hanya untuk periksa kebutuhan nutrisi harian untuk kalian semua,” kelit Vincent halus, mempertahankan nada suaranya setenang mungkin.​Dimas tidak terpengaruh sedikit pun. Ia melangkah satu tapak lebih maju, menatap lurus ke wajah sang fisioterapis dengan binar tajam dan mengintimidasi.​"Tapi cara kamu mendekati Zea membuat dia nggak nyaman sama kamu," tembak Dimas dingin dan lugas. "Kalau mau bicara padanya, kamu bisa bicara di jam istirahat. Bukan di jam segini.”Vincent terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan sambil berusaha menutupi keterkejutannya, lalu mengangguk pelan.​"Baik," sahut Vincent, lalu menoleh ke arah Zea dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Saya akan kembali ke ruang kerja saya sendiri, kalau Dimas memang memaksa."​Vincent menyunggingkan senyuman tipis, masih mempertahankan keramahan di bibirnya. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari mulutnya sengaja disuntikka

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   287. Intimidasi Vincent.

    Sekarang, kenapa Vincent malah ke lounge ini?! batin Zea menjerit panik. Zea langsung memaksakan senyumannya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tangannya refleks memeluk tas jinjing khususnya sedikit lebih erat ke samping tubuhnya. "A–ah ... aku mau ke toilet," sahut Zea cepat, memoles suaranya sejernih mungkin. "Di loker lama ini kan ada kamar kecil. Jadi ya ... begitu." Vincent menyunggingkan senyuman ramah yang tampak begitu hangat di wajahnya. Ia membetulkan posisi kacamatanya, lalu berjalan santai memasuki area meja bar tempat bahan-bahan nutrisi tersusun rapi. "Oh, begitu. Aku pikir kamu kenapa," tutur Vincent halus. “Aku ke sini cuma mau mengecek bahan-bahan dan komposisi nutrisi harian para atlet seperti biasa, Zea.” Pria itu masih mempertahankan senyuman yang tak sampai mata. “Sekalian ... mau ngobrol sebentar sama kamu. Kita kan jarang bicara sebagai rekan sesama tim.” Vincent menatap Zea lekat-lekat, lalu melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Zea meneg

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   286. Situasi Genting!

    Dahi Zea semakin berkerut. Pandangannya kembali tertuju pada Marco, kali ini dengan kecemasan yang perlahan menyusup ke dalam dadanya. “Seharusnya kemarin dia sudah diperiksa sama Vincent, kan, Kak?” tanyanya lirih. Zavian mengangguk pelan. “Benar, kemarin sore sudah diperiksa Vincent. Tapi entahlah, Zea.” Ia mengerutkan kening, kembali mengamati Marco dari kejauhan. “Kakak sudah cukup hapal bagaimana gerakan Marco saat berenang. Tapi kali ini, ada yang nggak beres dengan bahunya.” Naluri Zea seketika menyengat tajam. Ada yang salah. Tanpa membuang waktu, Zea melangkah cepat menghampiri kekasihnya. "Marco!" Marco menoleh. Sembari menahan meringis tipis di wajahnya, pria itu mencoba menggoyang-goyangkan bahunya pelan untuk melakukan stretching. "Sayang? Kamu sudah sampai?" Zea menyipitkan mata, menatap lengan dan pangkal bahu Marco dengan raut cemas yang begitu kentara. "Bahumu … kenapa, Marco?" Marco berusaha mempertahankan raut wajah datarnya, mencoba bersikap seolah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   285. Bahu Marco yang Bermasalah.

    Zea terhenyak mendengar penjelasan Dokter Nancy, sementara Donna sedikit menganga di tempatnya. Donna benar-benar tidak menyangka ada suplemen medis yang memiliki efek samping spesifik seperti itu. Dokter Nancy tersenyum ramah, berusaha menenangkan raut tegang ibu dan anak di hadapannya. "Suplemen jenis ini sebenarnya lebih baik dikonsumsi untuk wanita menyusui yang mengalami keluhan ASI tersumbat atau mampet.” “Untuk kondisi seperti itu, komposisinya memang sangat bagus. Tapi karena status Zea belum menikah dan ada kondisi kelainan hormon langka, saya sarankan kamu jangan meminum suplemen ini dulu ya, Zea." Zea tertegun, lalu mengangguk pelan. "I-iya, Dok ... saya mengerti." Donna ikut mengangguk lega sambil mengusap dada untuk meredakan kepanikannya. Setelah pemeriksaan singkat selesai, Zea dan Donna berjalan keluar dari ruang praktik Dokter Nancy. Namun, jantung Zea masih berdebar kencang. Pikiran gadis itu berputar cepat dan liar. Untuk apa Vincent memberikan suplemen i

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   284. Perkara Suplemen dari Vincent.

    Sinar matahari pagi baru saja menyapu pelataran rumah ketika Zea sibuk merapikan tas jinjingnya di dekat pintu utama. Ia pun masih harus menunggu kakaknya, Zavian, agar bisa berangkat bersama ke pusat pelatihan. Namun, suara deru mobil yang berhenti di halaman membuatnya menoleh ke pintu utama. Bukan mobil sport Marco, melainkan sedan hitam milik keluarga Yozefa yang dikendarai Adrian, asisten pribadi kekasihnya. Adrian turun dari mobil dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal dan kotak kecil berlabel medis di tangannya. "Selamat pagi, Nona Zea," sapa Adrian penuh kesopanan. "Saya diutus Tuan Marco untuk menyampaikan pesan penting ini." Dahi Zea berkerut heran. "Pagi, Adrian. Ada apa? Marco mana?" "Tuan Marco sedang berada di perjalanan menuju pusat pelatihan untuk persiapan sesi latihan pagi menjelang Final," terang Adrian, lalu menyodorkan amplop cokelat dan kotak tersebut. "Ini hasil laboratorium dari tes kandungan suplemen yang dijanjikan Tuan Marco waktu itu. Tuan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status