LOGINZea tersentak mendengar pertanyaan Kakaknya. Bayangan kejadian di kamar mandi pagi tadi bersama Marco kembali muncul di benaknya, membuat kedua pipi gadis itu bersemu merah seketika.
Tapi ia buru-buru menata ekspresinya, berusaha terlihat sewajar mungkin.“Eh? Serius?" Zea tersenyum kikuk. "Mama juga sempet bilang gitu. Kayaknya obat dari dokter Nancy ngaruh, deh. Badan aku memang udah jauh lebih enakan.”Zavian masih memicingkan mata, memperhatikan wajah adiknya lebih lama dariZea berbaring tengkurap di atas meja pijat yang empuk di ruang treatment lantai dua hotel. Robe hotel berwarna krem masih membungkus tubuhnya dengan longgar di bagian dada. Staf reflexology perempuan berusia tiga puluhan sedang memijat kakinya dengan tekanan yang pas. Pijatan dimulai dari telapak kaki, perlahan naik ke betis, kemudian ke bagian bawah paha hingga berlanjut ke paha bagian dalam. Setiap kali jari-jari wanita itu menekan titik tertentu, Zea menahan napas dan mendesah pelan. “Nngh .…” Bukan desahan hasrat. Melainkan desahan lelah dan pegal yang tertinggal dari semalam. Otot-ototnya masih sensitif. Setiap tekanan di betis membuatnya teringat bagaimana Marco mengangkat tubuhnya. Lalu bagaimana jari-jari besar itu mencengkeram paha dan bokongnya saat menahannya di dinding kamar mandi. Belum lagi, bagaimana tubuhnya diguncang dengan gerakan yang dalam malam itu. Zea memejamkan mata. Wajahnya seketika terasa panas. Bodoh. Kenapa kejadian itu masih terus terlintas di ke
Zea mencicit kecil. Suaranya bergetar, campur sisa desahan yang masih tersisa di tenggorokannya. “Aku … aku cuma kagum sama badan kamu, Marco,” bisiknya cepat, wajahnya memerah hebat. “Bukan … bukan berarti aku mau macam-macam.” Ia menggigit bibir, lalu merengek pelan dengan nada memohon. “Please … jangan bikin aku sampai susah jalan nanti. Hari ini aku harus pulang, Marco. Kalau sampai jalanku aneh, orang rumah pasti curiga ….” Marco yang masih menahan kedua pergelangan tangannya di atas bantal hanya menatapnya diam sejenak. Lalu kedua sudut bibirnya terangkat yang penuh arti. Ia melihat jelas rasa takut yang bercampur malu di wajah Zea, dan entah kenapa pemandangan itu justru membuat dadanya terasa hangat. Perlahan ia menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Zea dengan sangat lembut, kontras sekali dengan ancaman yang baru saja ia ucapkan. Ciumannya begitu dalam namun pelan, seolah ingin menenangkan. Sambil bibir mereka masih saling menempel, Marco berbisik pelan dengan napas masih
Zea tertegun, lalu melirik ke Marco yang masih membelai putingnya. “Usulanmu gila,” gumam Zea pelan dengan wajah memerah hebat. Lalu ia menggeleng pelan. “Pompa di satu sisi, mulutmu di sisi lain … aku pasti nggak akan kuat.” Marco mengangkat sebelah alisnya, jari-jarinya mengusap pelan perut datar Zea. “Kenapa? Aku cuma mau bantu kamu lebih cepat. Biar nggak penuh terus. Dan sekalian—” Tapi Zea sudah menggeleng cepat dengan mata mulai berkaca-kaca. Ia merengek dengan suara kecil dan agak putus asa. “Nggak mau … alat itu nggak nyaman dan bikin aku sakit. Tarikannya kasar. Aku lebih suka … dari mulut kamu aja. Itu udah cukup kok, Marco. Tolong .…” Marco terdiam sejenak. Ia mendengus pelan, seperti menahan rasa kesal campur gemas. Lalu menghela napas panjang. “Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Kalau kamu bilang begitu.” Ia menyingkirkan ide pompa itu sama sekali. Sebagai gantinya, Marco kembali menunduk dan menempelkan mulutnya langsung di payudara kanan Zea. Lidahnya
Marco terdiam mendengar pertanyaan Zea. Rahangnya mengeras sesaat, lalu ia menggeleng pelan. "Cukup," ucapnya singkat. "Nggak usah dibahas lagi malam ini." Ia bangkit dari tepi ranjang. "Biar aku bantu kamu pakaikan baju." Zea mendengus kesal. Marco seenaknya mengganti topik begitu saja, tapi ia memilih tidak mendesak lebih jauh. Ia sendiri buru-buru bangkit berdiri, bermaksud memakai baju sendiri karena ia merasa masih bisa bergerak. “Aku bisa sendiri— Ahh!” Baru dua langkah, ia meringis keras. Bagian paha dalamnya masih ngilu, membuat lututnya nyaris melipat. Marco sigap mendorong bahunya pelan, memaksanya duduk kembali di tepi ranjang. "Jangan bandel." Zea meringis sambil mendelik kesal, tapi akhirnya membiarkan Marco membantunya. Pria itu memakaikan pakaian dalam, lalu baju tidur, dan terakhir celana pendek dengan gerakan hati-hati. Setiap sentuhannya di kulit Zea tidak lagi terasa seperti godaan, melainkan benar-benar seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh. Begitu seles
Marco terdiam sebelum akhirnya pria itu duduk di tepi ranjang, sedikit menjauh dari Zea. Matanya menerawang ke lantai seolah mencari kalimat pembuka yang tepat. "Kamu udah tahu dari Dimas," ucapnya akhirnya, suaranya datar. "Tapi aku mau dengar dari kamu langsung. Bukan dari Dimas atau siapa pun," balas Zea, tenang tapi tidak memberi ruang untuk mengelak. Marco menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya sebelum mulai bicara. "Dulu, perusahaan Papaku hampir bangkrut," katanya pelan. "Ayahnya Selena yang nyelametin. Sekarang Papaku masih jadi pemilik, sekaligus komisaris. Tapi yang benar-benar pegang kendali, dan jalanin operasional perusahaan ... Ayah Selena, sebagai CEO.” Zea diam mendengarkan, tanpa memotong. "Perjodohan ini bukan ide Papaku," lanjut Marco. "Itu permintaan Ayah Selena. Katanya, Selena udah lama suka sama aku. Dan Papaku ... nggak bisa nolak. Terlalu banyak yang dipertaruhkan kalau sampai hubungan bisnis itu rusak.” Ia terdiam sesaat, rahangnya mengeras. "Ak
Zea terdiam dengan napas masih tersengal. Pipinya memerah malu hingga ke telinga. Ia menepuk-nepuk bahu Marco pelan dengan suara rengek kecil. “Istirahat dulu, lah. Ini pertama kalinya aku … lakuin ini.” Ia meringis. “Ah … pinggulku ngilu.” Marco masih menempel erat dengan napas berat di ceruk leher Zea. Ia enggan melepaskan. “Hm,” gumamnya pelan, seolah keberatan. “Kita keluar, yuk,” lanjut Zea, masih merengek pelan. “Nanti kita masuk angin. Kamu juga harus datang ke pusat pelatihan besok dengan kondisi bagus di depan sponsor.” Marco menghela napas panjang sebelum akhirnya ia menurut. Dengan gerakan sangat pelan, ia mengeluarkan kejantanannya dari dalam Zea. Saat batang panas itu lepas sepenuhnya, Zea mendesah lagi, yang kali ini karena rasa kosong yang tiba-tiba memenuhi inti tubuhnya. “Ahh .…” Pinggul dan bagian dalam pahanya terasa ngilu. Marco langsung sigap. Ia mematikan kran shower, lalu mengangkat Zea dalam gendongan hadap-hadapan. Tubuh gadis itu menempel penuh di d







