Share

98. Setelah Menyatu.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-08-09 21:50:26
Zea terdiam dengan napas masih tersengal. Pipinya memerah malu hingga ke telinga. Ia menepuk-nepuk bahu Marco pelan dengan suara rengek kecil.

“Istirahat dulu, lah. Ini pertama kalinya aku … lakuin ini.” Ia meringis. “Ah … pinggulku ngilu.”

Marco masih menempel erat dengan napas berat di ceruk leher Zea. Ia enggan melepaskan.

“Hm,” gumamnya pelan, seolah keberatan.

“Kita keluar, yuk,” lanjut Zea, masih merengek pelan. “Nanti kita masuk angin. Kamu juga harus datang ke pusat pelatihan bes
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   290. Ketegangan H-1 Pertandingan Nasional.

    ​Napas Zea tertahan di dada saat mendengar nama itu disebut.Marco menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tak mencapai matanya. Sorot matanya tetap tenang, tetapi ada ketegasan dingin yang tersirat di balik tatapannya.“Aku nggak akan membiarkan Vincent mendekatimu lagi atau membuatmu merasa nggak aman sedikit pun,” ucapnya datar. Ia berhenti sejenak, lalu melirik bahu kanannya. “Dan mulai sekarang, aku juga nggak akan membiarkan dia menyentuhku lagi.”​Zea akhirnya hanya bisa menurut pasrah di bawah keteguhan mutlak pria di hadapannya. Meski rasa cemas tentang kondisi bahu Marco masih membayangi benaknya, ketulusan dan perlindungan tanpa kompromi dari Marco berhasil menenangkan gejolak di dadanya.​”Kamu mengerti apa yang aku bilang, Sayang?" bisik Marco lembut.​Zea mengangguk pelan. "Iya, Marco. Aku mengerti."​Marco menyunggingkan senyum tulusnya yang amat tampan. Pria tegap itu merengkuh pinggang Zea, menarik tubuh halus kekasihnya ke dalam dekapan hangat yang amat protekti

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   289. Marco Menolak Minum.

    Marco membeku di tempat setelah mendengar tawaran Zea yang begitu nekat. Zea pun tahu apa yang Marco pikirkan sekarang. Pria itu pasti terkejut bahwa dirinya dengan sukarela menyerahkan diri tanpa memikirkan risiko atau skenario terburuk jika ketahuan.Marco berdehem pelan sebelum ia memalingkan wajahnya. “Bukannya aku sudah bilang kalau aku nggak akan meminum ASI-mu lagi demi performaku dan menjelang pertandingan?”Pria itu menoleh pelan, menatap Zea lekat dengan wajah serius. “Kecuali aku akan minum kalau kamu merasa penuh dan nyeri di dada.”Zea mengedip, namun tekad di wajahnya tak kunjung surut. “Tapi, Marco ... mungkin ASI ini bisa membantu meningkatkan stamina dan menunjang performa fisikmu dengan cepat. Belum lagi ...”Kalimat Zea terhenti. Tatapannya beralih ke bahu kanan pria itu, sebelum kembali menatap wajahnya dengan cemas. “Bahumu ... itu bukan cuma karena salah tidur, kan?” tanyanya pelan.Zea mendadak teringat ekspresi Marco yang sempat berubah ketika Zavian menyebut

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   288. Ayo Minum!

    Vincent mengangkat kedua tangannya perlahan dengan senyum santai di wajahnya.​"Saya di sini hanya untuk periksa kebutuhan nutrisi harian untuk kalian semua,” kelit Vincent halus, mempertahankan nada suaranya setenang mungkin.​Dimas tidak terpengaruh sedikit pun. Ia melangkah satu tapak lebih maju, menatap lurus ke wajah sang fisioterapis dengan binar tajam dan mengintimidasi.​"Tapi cara kamu mendekati Zea membuat dia nggak nyaman sama kamu," tembak Dimas dingin dan lugas. "Kalau mau bicara padanya, kamu bisa bicara di jam istirahat. Bukan di jam segini.”Vincent terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan sambil berusaha menutupi keterkejutannya, lalu mengangguk pelan.​"Baik," sahut Vincent, lalu menoleh ke arah Zea dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Saya akan kembali ke ruang kerja saya sendiri, kalau Dimas memang memaksa."​Vincent menyunggingkan senyuman tipis, masih mempertahankan keramahan di bibirnya. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari mulutnya sengaja disuntikka

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   287. Intimidasi Vincent.

    Sekarang, kenapa Vincent malah ke lounge ini?! batin Zea menjerit panik. Zea langsung memaksakan senyumannya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tangannya refleks memeluk tas jinjing khususnya sedikit lebih erat ke samping tubuhnya. "A–ah ... aku mau ke toilet," sahut Zea cepat, memoles suaranya sejernih mungkin. "Di loker lama ini kan ada kamar kecil. Jadi ya ... begitu." Vincent menyunggingkan senyuman ramah yang tampak begitu hangat di wajahnya. Ia membetulkan posisi kacamatanya, lalu berjalan santai memasuki area meja bar tempat bahan-bahan nutrisi tersusun rapi. "Oh, begitu. Aku pikir kamu kenapa," tutur Vincent halus. “Aku ke sini cuma mau mengecek bahan-bahan dan komposisi nutrisi harian para atlet seperti biasa, Zea.” Pria itu masih mempertahankan senyuman yang tak sampai mata. “Sekalian ... mau ngobrol sebentar sama kamu. Kita kan jarang bicara sebagai rekan sesama tim.” Vincent menatap Zea lekat-lekat, lalu melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Zea meneg

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   286. Situasi Genting!

    Dahi Zea semakin berkerut. Pandangannya kembali tertuju pada Marco, kali ini dengan kecemasan yang perlahan menyusup ke dalam dadanya. “Seharusnya kemarin dia sudah diperiksa sama Vincent, kan, Kak?” tanyanya lirih. Zavian mengangguk pelan. “Benar, kemarin sore sudah diperiksa Vincent. Tapi entahlah, Zea.” Ia mengerutkan kening, kembali mengamati Marco dari kejauhan. “Kakak sudah cukup hapal bagaimana gerakan Marco saat berenang. Tapi kali ini, ada yang nggak beres dengan bahunya.” Naluri Zea seketika menyengat tajam. Ada yang salah. Tanpa membuang waktu, Zea melangkah cepat menghampiri kekasihnya. "Marco!" Marco menoleh. Sembari menahan meringis tipis di wajahnya, pria itu mencoba menggoyang-goyangkan bahunya pelan untuk melakukan stretching. "Sayang? Kamu sudah sampai?" Zea menyipitkan mata, menatap lengan dan pangkal bahu Marco dengan raut cemas yang begitu kentara. "Bahumu … kenapa, Marco?" Marco berusaha mempertahankan raut wajah datarnya, mencoba bersikap seolah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   285. Bahu Marco yang Bermasalah.

    Zea terhenyak mendengar penjelasan Dokter Nancy, sementara Donna sedikit menganga di tempatnya. Donna benar-benar tidak menyangka ada suplemen medis yang memiliki efek samping spesifik seperti itu. Dokter Nancy tersenyum ramah, berusaha menenangkan raut tegang ibu dan anak di hadapannya. "Suplemen jenis ini sebenarnya lebih baik dikonsumsi untuk wanita menyusui yang mengalami keluhan ASI tersumbat atau mampet.” “Untuk kondisi seperti itu, komposisinya memang sangat bagus. Tapi karena status Zea belum menikah dan ada kondisi kelainan hormon langka, saya sarankan kamu jangan meminum suplemen ini dulu ya, Zea." Zea tertegun, lalu mengangguk pelan. "I-iya, Dok ... saya mengerti." Donna ikut mengangguk lega sambil mengusap dada untuk meredakan kepanikannya. Setelah pemeriksaan singkat selesai, Zea dan Donna berjalan keluar dari ruang praktik Dokter Nancy. Namun, jantung Zea masih berdebar kencang. Pikiran gadis itu berputar cepat dan liar. Untuk apa Vincent memberikan suplemen i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status