เข้าสู่ระบบMarco menyentuh dinding kolam lebih dulu. Angka di papan skor langsung menyala. Catatan waktu yang muncul jauh lebih cepat dari performa ‘anjlok’ beberapa hari terakhir, bahkan rekor pribadi baru. Sorak-sorai penonton langsung pecah serentak. Di tepi kolam, Zavian hampir melompat sambil mengepalkan tangan di udara. Wajahnya penuh kelegaan yang jarang sekali terlihat. Sementara di tribun, Donna langsung berdiri. “Ya Tuhan! Marco menang, Zea!” jeritnya sambil bertepuk tangan histeris. Feby ikut melompat-lompat kecil dan merangkul Zea erat. “Marco tadi berenangnya kayak dikejar setan! Gila!” Zea tersenyum lebar. Untuk sesaat, semua rasa bersalah dan kelelahan semalam terasa terbayar. Usahanya tidak sia-sia. Di kejauhan, tepatnya di deretan VIP, Michael Yozefa berdiri tegak. Tepuk tangannya terdengar formal, tetapi ada kebanggaan yang jarang ia tunjukkan di wajahnya. Keha
Venue kolam renang indoor itu sudah dipenuhi ratusan penonton sejak pagi. Suara riuh obrolan bercampur pengumuman dari pengeras suara memenuhi udara, sementara aroma klorin yang khas menyapu setiap sudut venue. Zea, Donna, dan Feby baru saja sampai di lokasi dan duduk berdampingan di tribun penonton, tepat di baris ketiga dari tepi kolam. "Ya ampun, rame banget!" seru Feby sambil celingukan, matanya berbinar menatap sekeliling. "Aku baru tahu kalau semifinal renang bisa seramai ini.” Donna mengangguk, matanya sibuk menyapu deretan atlet yang sedang pemanasan di tepi kolam. "Iya, apalagi ini semifinal penting. Ada sponsor besar yang nonton juga." "Itu Marco, kan?" Feby menunjuk kecil ke arah salah satu atlet berkaos klub biru tua yang sedang melakukan peregangan. "Ya ampun, keliatan makin gagah kalau lagi serius gini.” Zea hanya tersenyum tipis sambil tangannya diam-diam meremas ujung baju di pangkuannya. Jant
Zea ragu sejenak, tapi tetap menurut. Ia menempatkan diri di atas Marco sambil memandu kejantanan yang masih setengah tegang itu masuk kembali. Rasa penuh di dalam tubuhnya membuat Zea menggigit bibir. Marco memegang pinggangnya. “Gerak perlahan dulu.” Zea mulai bergerak naik-turun. Awalnya kaku dan malu, tapi semakin lama semakin berani. Marco menopang payudaranya, menghisap bergantian sambil menyaksikan cairan putih di puting Zea menetes ke dadanya. “Ahhn … Marco …” desah Zea pelan, dengan suara tercekat. Setiap kali Zea turun lebih dalam, Marco mengerang rendah. “Zea… terus … gerakan ....” Zea menungganginya dengan gerakan yang perlahan semakin cepat, tangan menutup mulut sendiri setiap kali desahan hampir lolos. “Hah … ahh … ngghh .…” Marco menahan pinggangnya posesif, sesekali menariknya turun lebih dalam. Matanya gelap oleh nafsu sekaligus kekhawatiran. “Fuck … Zea … kamu masih saja begitu ketat ….” Meski ini sudah ronde kedua, tubuh Zea masih terasa sangat keta
Marco menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik, aku akan minum langsung.” Ia mendorong Zea pelan hingga duduk di tepi ranjang, dan ia berlutut di depannya. Baju tidur Zea disingkap ke atas, lalu bra ditarik turun. Kedua payudara yang penuh dan memerah langsung terpapar di udara dingin kamar. Marco tidak menunggu lagi. Ia menunduk dan langsung menghisap puting kanan dengan dalam dan rakus, jauh lebih intens dari biasanya. Seolah tubuhnya sudah terlalu lama menahan lapar akan rasa itu. “Ahhh…” Zea mendesah tertahan, jari-jarinya langsung mencengkeram bahu Marco. Cairan putih mengalir deras ke mulut pria itu. Marco menelan dan menghisap lebih kuat. Lidahnya berputar dan menekan, memaksa keluar sebanyak mungkin. Ia berpindah ke sisi kiri tanpa melepas hisapan sepenuhnya. Tangan besarnya meremas payudara yang satunya sambil memijat, agar cairan putihnya terus mengalir keluar. Suara hisapan basah memenuhi keheningan kamar. Zea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan sua
Marco terdiam sejenak di ujung telepon. "Kamu yakin, Zea? Nanti Mama dan Kakakmu—" "Udah, cepetan datang!" potong Zea, suaranya panik tapi tegas. "Sebelum aku berubah pikiran! Aku nggak mau besok kamu gagal, Marco!" Marco terdiam sejenak, lalu menjawab singkat. "Oke." Zea menarik napas cepat, lalu menambahkan peringatan yang sejak tadi mengganjal pikirannya. "Pastikan kamu nggak pakai parfum atau wewangian apa pun! Jangan sampai besok kamu ninggalin jejak di kamarku kayak biasanya." "Oke. Aku ke sana." Sambungan telepon pun putus. Zea duduk di tepi ranjang dengan jantungnya yang masih berdegup kencang. Jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan ke Feby, lantaran ia teringat undangan Zavian di kamarnya tadi. Zea: [Besok kamu senggang, nggak?] Balasan datang cukup cepat. Feby: [Nggak, ada apaan?] Zea: [Mau ikut nonton pertandingan semi final bareng, nggak? Sama aku dan Mama?] Beberapa menit kemudian, Feby membalas dengan semangat. Feby: [Aku mau ikut! Besok aku je
Zea mengernyit, berusaha terlihat sepolos mungkin. “Kok malah nanya aku, Kak? Aku kan udah nggak di pusat pelatihan.” Zavian menghela napas berat sambil jarinya mengetuk-ngetuk meja. “Karena sejak status kamu ditangguhkan, performa Marco langsung anjlok balik ke titik awal. Kayak waktu dia pertama masuk klub.” Ia menatap layar laptopnya sekali lagi, seolah masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri. “Dia jadi sering gelisah. Belakang ini Kakak perhatiin dia bolak-balik ke lounge, kayak nyari sesuatu. Terus keluar lagi dengan muka putus asa. Kakak nggak tahu dia nyari apa.” Zavian menggeleng pelan. "Padahal waktu kamu masih ada, dia selalu tenang dan fokus. Performanya juga stabil, bahkan sering mecahin rekornya sendiri.” Zea terkekeh kikuk, berusaha menormalkan suaranya. "Ya … mungkin dia lagi nervous aja, Kak. Ini kan semi final. Kenapa harus disangkut-pautin sama aku?" Zavian terdiam sebentar, menatapnya lama. "Aku juga perhatiin," lanjut Zea, mencoba mengalihkan, "K







