Inicio / Fantasi / Pedagang di Antara Dua Dunia / Chapter 16: Guild Petualang

Compartir

Chapter 16: Guild Petualang

Autor: Double Bie
last update Fecha de publicación: 2026-10-20 11:09:23

Tujuan Akira selanjutnya pun telah ditentukan.

“Guild Petualang”

Sesampainya dia di depan bangunan dengan papan tanda besar di atas pintu masuk—pedang dan perisai bersilang, dengan mahkota di atasnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Aku Gugup. Apakah surat Doran benar akan berhasil?” gumam Akira.

Tanpa ragu, Akira mendorong pintu kayu ek berat itu dan melangkah masuk.

Aula itu luas dan seperti gua, dipenuhi meja-meja dan kursi kayu. Para petualang dari berbagai kalangan memenuhi ruangan—pria
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 21: Koin Emas Itu Dihargai 1 Juta Yen

    Pagi hari di Tokyo.Akira bangun dengan semangat yang menyala-nyala. Ia bersiap dengan cepat, mengenakan pakaian kerjanya, dan berjalan menuju toko barang antik milik Takeda.Sesampainya di toko, Takeda menatapnya dengan ekspresi heran."Akira? Bukankah kau libur tiga hari?" tanya Takeda, alisnya terangkat.Akira tertegun. "Eh? Tapi aku sudah pergi tiga hari, Takeda-san."Takeda menggelengkan kepala. "Kau pergi kemarin, Akira. Ini baru hari Kedua dan masih sangat pagi."Akira membeku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.“Tiga hari dua malam di Verenthia... dan paginya aku pulang ke Tokyo. Tokyo sudah malam dan aku berfikir besok pagi aku akan bekerja. tapi di Tokyo, malah baru satu hari?” gumam Takeda dalam hati.Perbedaan waktu itu nyata."Tapi aku merasa sudah pergi tiga hari!" kata Akira, bingung.Takeda tertawa kecil. "Kau bermimpi, mungkin? Atau kau bingung karena kelelahan?" Ia menepuk bahu Akira. "Tapi bagaimanapun, kau sudah datang. Dan kau terlihat bersemangat

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 20: Mereka Taring Kegelapan

    "Prajurit! Prajurit!" teriak Akira, napasnya tersengal saat ia mencapai gerbang.Prajurit yang berjaga langsung sigap menghampiri.“Hei kau, ada apa?” Tanya sang Kapten. Matanya menunjukkan kebingungan. “Bukan kah kau yang bersama Tuan Doran kemarin?”Dengan nafas terengah-engah, Akira menjawab, “Ya, itu aku.”“Nama ku Akira,” tegasnya lagi."Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kapten, wajahnya serius."Di jalan sana... di luar hutan... ada sembilan perompak!" kata Akira, masih terengah-engah. "Mereka mencoba merampokku. Mereka... mereka semua pingsan."Kapten mengerutkan alisnya. "Pingsan?"Akira ragu sejenak. Bagaimana menjelaskan ini? Bahwa ia sendiri mengalahkan mereka? Bahwa ia—seorang pengelana kurus dengan pakaian aneh—berhasil membuat sembilan perompak bersenjata tak berdaya."Aku... aku melawan mereka," katanya, suaranya pelan.Kapten menatap Ak

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 19: 9 Perompak Yang Mencium Emas

    Jalan itu semakin sepi saat ia menjauh dari kota. Suara-suara Verenthia memudar, digantikan oleh desiran angin di antara pepohonan berbatang perak dan kicauan burung asing di kejauhan.Tiba-tiba..Langkah kaki. Banyak. Datang dari pepohonan di kedua sisi jalan.Akira menghentikan kereta kudanya secara tiba-tiba. Jantungnya mulai berdebar kencang. Kudanya mengeluarkan suara panjang sembari menaikkan kedua kakinya keatas.Sembilan sosok muncul dari balik bayang-bayang hutan. Pria-pria kasar dengan wajah berbekas luka dan senyum kejam. Mereka membawa berbagai senjata—pedang berkarat, kapak bergerigi, tombak, dan satu bahkan membawa busur silang yang diacuhkan ke tanah. Pakaian mereka dari kulit usang dan kain tambal sulam, dan mata mereka berkilau dengan nafsu predator.Perompak.Darah Akira terasa membeku.Yang terbesar di antara mereka—seorang pria botak dengan janggut tebal dan bekas luka mengerikan di pipinya—melang

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 18: Pulang Ke Rumah

    Tok...Tok..Tok.."Tuan Akira.."Lagi, suara perempuan memanggil akira di balik pintu itu."Tuan..Apakah kau masih tidur?" teriak wanita itu dengan lantang.Lagi.Suara perempuan di balik pintu kamar Akira."Ehm..mmm.." ruh Akira akhinya telah masuk kembali ke dalam raganya.""TUAN AKIRA! Buka Pintunya!" teriak wanita itu."HAH!"Akira seperti sedang menghadapi gempa yang sangat dahsyat. Dia masih trauma dengan suara wanita di balik pintu kamar."Siapa?" jawab Akira sedikit lantang."Apakah disini juga ada layanan ekstra?" gumam Akira dalam hati."Aku Lyra. Kau baru bangun?""Tuan Doran memanggil mu ke ruangannya. Dia mau mengajak mu makan siang.""Eh" Akira menarik nafas lega. "Kreeeweeewekk..."Suara yang sangat merdu itu keluar dari bagian lambung Akira. dia pun bergegas mandi, bersiap, dan berlari ke ruang Doran. Tok..tok..tok.."Tuan Doran, apa kau memanggil ku?" "Kreeweeweweeweeekkk.." basa basi itu langsung disambut dengan nyanyian perut yang sangat mempesona."Ya, Akira. Masu

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 17: Wanita Ketiga

    Sesampainya di penginapan, Akira disambut dengan meriah oleh wanita-wanita seksi yang ada di penginapan itu. Olga dan Luna serta satu wanita baru berbaris menyambut Akira dengan wajah yang merona merah jambu. Sang "Pangeran Kesiangan" pun mengerutkan kening tanda bingung dengan sikap semua wanita di penginapan itu."Eeh.."Tiba-tiba Akira teringat tragedi pagi yang mencekap itu."Apa kabar tentang pagi tadi sudah menyebar ke semua orang di penginapan ini?" gumam Akira dalam hati.Akira langsung terbayang daging yang mengeras dibalik celananya, serta Luna yang begitu seksi di hadapannya dengan hanya mengenakan pakaian dalam berenda berwarna ungu muda."Selamat datang kembali Tuan Akira," sambut mereka bertiga serentak.Olga dan Luna seakan memiliki maksud lain jika dilihat dari rona wajah mereka. Satu wanita baru yang tidak memiliki kenangan buruk dengan Akira hanya memasang wajah imut dan senyum kecil saat berhadapan dengan

  • Pedagang di Antara Dua Dunia   Chapter 16: Guild Petualang

    Tujuan Akira selanjutnya pun telah ditentukan.“Guild Petualang”Sesampainya dia di depan bangunan dengan papan tanda besar di atas pintu masuk—pedang dan perisai bersilang, dengan mahkota di atasnya.Jantungnya berdetak lebih cepat.“Aku Gugup. Apakah surat Doran benar akan berhasil?” gumam Akira.Tanpa ragu, Akira mendorong pintu kayu ek berat itu dan melangkah masuk.Aula itu luas dan seperti gua, dipenuhi meja-meja dan kursi kayu. Para petualang dari berbagai kalangan memenuhi ruangan—pria kekar dengan kapak besar, wanita ramping dengan busur terpaut di punggung mereka, sosok berjubah dengan tongkat berkilau dengan energi misterius. Akira melangkahkan kaki ke Guild Petualang, semua mata tertuju padanya. Keanehan orang-orang terhadapnya, pakaiannya, sepatunya, hoodienya. Tiba-tiba se-isi ruangan Guild Pedagang itu riuh membicarakannya.Di belakang konter panjang, seorang wanita dengan mata tajam dan rambut perak pendek duduk di kursi tinggi. Ia mengenakan tunik sederhana dengan la

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status