LOGINMobil terbang Aliansi Aurora meluncur di atas dataran Elyria, mesinnya berdengung pelan berkat kristal sihir yang berkilau di bawah kap. Kendaraan ini lebih mirip perahu kecil dengan sayap logam, dihiasi rune yang menyala biru.
Di dalam, suasana jauh dari tenang. Draven Quill, yang duduk di belakang, sedang memainkan sihir angin suaranya, membuat nada-nada lagu pop Elyria bergema di kabin, sampai Sylva Reed melemparkan kertas ke arahnya. “Draven, kalau kau mainkan lagu itu sekali lagi, aku akan buat bayanganmu menyanyi opera sampai kau minta ampun,” ancam Sylva, kacamata tipisnya memantulkan cahaya rune. Bayangan di bawah kursinya bergerak-gerak, seolah setuju. Draven menyeringai, kaki masih selonjor di kursi. “Opera? Sylva, kau tahu aku lebih cocok nyanyi balada patah hati.” Dia mengibaskan tangan, dan angin kecil membawa suaranya ke telinga Sylva: “Oh, Sylva yang kejam, hatiku kau hancurkan…” Vesper Hale, yang duduk di sudut dengan akar kecil melilit lengannya, tertawa pelan. “Draven, simpan energimu untuk monster. Badai Roh selalu bawa makhluk aneh.” Kairos Thorne, yang mengemudikan mobil, menoleh sekilas. “Fokus, semua. Kita hampir sampai di Varyn. Peta bilang desa itu di tepi Hutan Larang. Eiran, strategi?” Eiran Voss duduk di kursi depan, dekat jendela, menatap awan kelabu yang bergulung di cakrawala. Zephyrion, pedang roh di pinggangnya, berdengung pelan, seolah merasakan badai yang mendekat. “Kita periksa desa dulu,” katanya dingin. “Cari tanda sihir gelap. Kalau ada monster, aku dan Kairos tangani depan. Liora, kau dan Vesper amankan perimeter dengan sihir alam kalian. Sylva, baca pikiran siapa pun yang mencurigakan. Draven… jangan bikin masalah.” “Wow, terima kasih atas kepercayaanmu, Voss,” balas Draven, pura-pura tersinggung. “Aku bisa bikin monster kabur dengan serenade ku, tahu?” Liora Faye, yang duduk di tengah dengan setumpuk bunga kecil di pangkuannya, terkikik. “Eiran, kau lupa bilang aku juga bisa bikin pedang angin yang lebih keren dari pedangmu.” Dia mengibaskan tangan, dan bunga-bunga di pangkuannya melayang, membentuk wajah tersenyum di udara, persis wajah Eiran, tapi dengan ekspresi ceria yang jelas palsu. Eiran memelototinya. “Faye, kalau kau buat satu bunga lagi di dekatku, aku potong jadi konfeti.” Liora menyeringai lebar. “Konfeti bunga? Ide bagus! Kita bisa buat festival!” Dia sengaja memanggil bunga kecil lain, kali ini mendarat di bahu Eiran. Bunga itu berputar, mengeluarkan aroma manis yang mengganggu. Kairos menggelengkan kepala, tapi tersenyum. “Kalian berdua, serius. Kita masuk zona badai sekarang. Lihat ke depan.” Di cakrawala, langit berubah gelap, awan berputar seperti pusaran raksasa. Kilat berwarna ungu menyambar, bukan kilat biasa, tapi kilat sihir yang meninggalkan jejak asap berkilau. Mobil terbang bergoyang, dan Vesper langsung mengulurkan tangan. Akar-akar kecil muncul dari lantai kabin, menstabilkan kendaraan. “Badai Roh,” gumamnya. “Alam sedang marah.” Sylva menatap bayangan di dinding kabin, matanya menyipit. “Ada sesuatu di bawah sana. Bayangan… tidak alami. Seperti ada orang yang mengintai.” Eiran menegang, tangannya sudah di Zephyrion. “Orang? Atau makhluk?” “Belum tahu,” jawab Sylva. “Bayangannya terlalu kabur. Tapi pasti ada sihir gelap di dekatnya.” Mobil mendarat di tepi Desa Varyn, yang kini lebih mirip puing-puing. Rumah-rumah kayu hancur, pohon-pohon terbalik, dan tanah retak seolah dipukul palu raksasa. Di kejauhan, Hutan Larang menjulang, kabut ungu menyelimuti pepohonan. Bau logam dan bunga busuk menyengat udara. Liora melompat keluar duluan, sepatunya mendarat di tanah berlumpur. “Oke, ini buruk. Tapi lihat!” Dia menunjuk ke tanah, di mana bunga liar kecil masih bertahan di antara reruntuhan. Dia mengulurkan tangan, dan bunga-bunga itu bergerak, membentuk lingkaran pelindung di sekitar tim. “Alam masih punya harapan,” katanya, suaranya ceria tapi ada nada serius. Eiran melangkah ke depan, pedangnya menyala tipis dengan aura perak. “Harapan tidak akan menang melawan badai. Tetap waspada.” Matanya menyipit ke arah hutan. Zephyrion berdengung lebih keras, seolah mencium bahaya. Tiba-tiba, tanah berguncang. Dari kabut hutan, sesosok makhluk muncul, seekor serigala raksasa, tapi tubuhnya terbuat dari ranting dan asap ungu, matanya menyala merah. “Roh Hutan yang terkorup,” kata Vesper, akar di lengannya mulai bergerak. “Sihir gelap mengendalikannya.” “Bagus,” kata Draven, melompat berdiri dengan senyum nakal. “Aku suka tantangan.” Dia mengibaskan tangan, dan angin membawa suaranya jadi gelombang keras, menghantam serigala itu. Makhluk itu menggeram, tapi tidak terluka. Kairos menyalakan api di tangannya, membentuk perisai panas. “Eiran, sekarang!” Eiran berlari ke depan, Zephyrion berubah jadi cambuk perak yang menyambar. Dia memotong kaki serigala, tapi ranting-ranting itu tumbuh kembali. “Sial,” geramnya. “Ini bukan monster biasa.” Liora melompat ke sampingnya, bunga-bunganya berputar jadi pedang angin. “Kau bilang konfeti tadi, kan? Lihat ini!” Dia melemparkan badai bunga, kelopak-kelopak tajam menghujam serigala, membuatnya terhuyung. Tapi serigala itu meraung, dan gelombang asap ungu menerjang mereka. Eiran menarik Liora ke belakang, pedangnya membentuk perisai roh untuk melindungi mereka. “Kau mau mati, Faye?” bentaknya, tapi ada kekhawatiran di matanya. Liora tersenyum, meski napasnya tersengal. “Kau khawatir padaku, Voss? Aku tersentuh.” Dia melemparkan bunga lain, kali ini meledak jadi kabut penyembuh yang menenangkan tim. Vesper berlari mendekat, akar-akarnya menjerat kaki serigala, sementara Sylva fokus membaca bayangannya. “Ada manusia di balik ini!” teriak Sylva. “Aku lihat bayangan bangsawan… dia di hutan!” Kairos menghantam serigala dengan ledakan api, akhirnya menghancurkannya jadi abu. Tapi badai di atas mereka semakin ganas, kilat ungu menyambar dekat. “Kita harus ke hutan,” katanya. “Sumber sihir gelap ada di sana.” Eiran mengangguk, tapi matanya tertuju pada Liora, yang sedang memeriksa bunga-bunganya dengan wajah serius. Untuk sesaat, dia teringat ayahnya, pengkhianatan bangsawan yang menghancurkan keluarganya. “Jangan cuma berdiri di sana, Faye,” katanya, suaranya lebih lembut dari biasa. “Kita punya pekerjaan.” Liora menoleh, terkejut dengan nada Eiran. Dia tersenyum kecil. “Aku tahu, Voss. Tapi kau harus akui, pedang anginku tadi keren, kan?” Eiran mendengus, tapi sudut bibirnya berkedut lagi, hampir tersenyum. “Jangan mimpi.” Di kejauhan, di dalam Hutan Larang, Lord Zoltar menyaksikan melalui kristal gelapnya. “Mereka lebih kuat dari yang kukira,” gumamnya. “Tapi tidak untuk waktu lama.” Dia menggosokkan kristal itu, dan badai di atas hutan menggila, kilat ungu menyambar ke arah tim.Medan perang di Elyria bergemuruh di bawah langit yang gelap, petir menyambar, dan kabut maut Valmoria menyelimuti kota. Aliansi Aurora—Eiran Voss, Kairos Thorne, Vesper Hale, dan Draven Quill—berdiri di tengah kekacauan, menghadapi Lord Zoltar dan sosok bayangan berjubah hitam, dalang di balik Valmoria. Sosok itu, yang akhirnya mengungkap wajahnya sebagai Archon Veyr, penguasa Drakmor, memegang artefak gelap terakhir, kristal yang memancarkan energi maut. “Elyria akan jatuh, Voss!” sembur Veyr, suaranya seperti racun. “Kalian nggak bisa hentikan kami!” Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di tangannya, menatap musuh dengan mata penuh tekad. Pikirannya tertuju pada Liora Faye, yang mengandung anak mereka, tidur tenang di markas. “Untuk Liora… untuk anakku,” bisiknya. Dia menggigit ujung telunjuknya, darahnya menetes, menyatu dengan Zephyrion. Pedang itu berubah—menjadi ribuan jarum perak yang beterbangan, masing-masing berkilau dengan aura darah Voss. Kair
Tiga bulan setelah pertempuran di benteng Valmoria, Aliansi Aurora kembali ke Elyria di bawah langit yang cerah namun penuh ketegangan. Menara-menara kaca kota berkilau, tapi desas-desus tentang aliansi musuh—Drakmor, Sylvane, dan Korath—mengguncang istana. Di aula utama, Raja Eldrin mendengarkan laporan Kairos Thorne, wajahnya tegas namun lelah. “Kalian hancurkan artefak utama, tapi Valmoria belum menyerah,” katanya. “Mereka aktif di kerajaan tetangga, menyusun serangan baru.” Eiran Voss, berdiri dengan usaha meski tubuhnya lebih kuat, mengangguk. “Kami akan siap, Yang Mulia.” Zephyrion, masih di pinggangnya, berdengung pelan, tapi matanya penuh tekad—dia telah memutuskan untuk melepaskan pedang itu demi masa depannya dengan Liora Faye. Aria Velren, di sisi ruangan, menghadapi hukuman. Raja Eldrin menatapnya, suaranya dingin namun adil. “Aria, pengkhianatanmu hampir hancurkan Elyria. Tapi kau telah memilih penebusan. Kau akan tetap di sini, menjaga perpustakaan kerajaan seumur hidu
Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,
Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung
Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P
Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal
Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan. Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua.
Malam sebelum perjalanan ke kota bawah tanah, markas Aliansi Aurora sunyi, hanya diterangi cahaya rune lembut di dinding. Eiran Voss duduk sendirian di kamarnya, Zephyrion tergeletak di meja, pedang roh itu berdengung pelan seolah merasakan kegelisahan tuannya. Matanya terpejam, tapi tidur tidak
Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, t
Kabut ungu di Hutan Larang semakin tebal, menyelimuti Aliansi Aurora seperti selimut basah yang berbau sihir busuk. Pohon-pohon kuno di sekitar mereka berderit, seolah berbisik tentang rahasia yang terkubur. Di depan, sebuah altar batu kuno muncul dari kabut, diukir dengan rune hitam yang berdenyu







