Beranda / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 3: Jebakan di Hutan Larang

Share

Chapter 3: Jebakan di Hutan Larang

Penulis: Sisin Kim
last update Tanggal publikasi: 2025-10-03 22:06:49

Kabut ungu menyelimuti Hutan Larang, membuat pepohonan kuno tampak seperti bayangan raksasa yang berbisik. Udara terasa berat, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap seperti logam terbakar.

Aliansi Aurora berjalan hati-hati, dengan Kairos Thorne di depan, tangannya menyala api kecil untuk menerangi jalan. Cahaya itu memantul di dinding-dinding pohon yang dipenuhi lumut bercahaya, menciptakan suasana yang indah sekaligus menyeramkan.

“Kalau ada yang bilang hutan ini romantis, aku akan muntah,” gumam Eiran Voss, pedang rohnya, Zephyrion, berdengung pelan di pinggangnya.

Matanya menyipit, memindai setiap bayangan. Dia tidak suka hutan, terlalu banyak tempat untuk bersembunyi, terlalu banyak kenangan buruk tentang pengkhianatan di masa lalu.

Liora Faye, yang berjalan tepat di belakangnya, mendengar gumamannya dan langsung menyeringai. “Romantis? Oh, Eiran, kalau kau mau kencan di hutan, aku bisa buatkan karangan bunga untukmu!”

Dia mengibaskan tangan, dan bunga-bunga kecil muncul dari tanah, membentuk hati kecil di depan Eiran sebelum meledak jadi kelopak-kelopak yang beterbangan.

Eiran memelototinya, tapi sudut bibirnya berkedut lagi. “Faye, aku serius. Fokus, atau kau akan jadi makanan monster berikutnya.”

“Monster? Aku lebih takut pada ekspresimu yang kecut itu,” balas Liora, melompat mendekatinya dengan sengaja. “Ayo, Voss, coba senyum. Satu senyum kecil, dan aku janji nggak akan bikin bunga selama sejam!”

“Jam berikutnya akan jadi neraka kalau kau terus bicara,” geram Eiran, tapi nada suaranya tidak sekeras biasa.

Liora memperhatikan, dan matanya berbinar nakal. Dia tahu dia sedang mengelupas lapisan dingin Eiran, sedikit demi sedikit.

“Kalau kalian berdua sudah selesai pacaran, bisa tolong lihat ke depan?” panggil Kairos dari depan, suaranya penuh tawa. Api di tangannya membesar, menerangi jejak aneh di tanah, lingkaran rune hitam yang berdenyut seperti jantungan. “Sylva, apa ini?”

Sylva Reed berlutut di dekat rune, kacamata tipisnya memantulkan cahaya api Kairos. Bayangannya di tanah bergerak sendiri, seolah mencium sihir gelap.

“Perangkap,” katanya pelan. “Sihir gelap, tapi cerdas. Kalau kita lewati, sesuatu akan terbangun. Aku lihat bayangan… makhluk dengan banyak kaki, seperti laba-laba raksasa.”

Draven Quill, yang sedang menggoyang-goyangkan ranting dengan angin suaranya, mendengus. “Laba-laba? Keren. Aku bisa nyanyi lagu ‘Laba-Laba Nakal’ untuk menakut-nakuti mereka.”

Dia mulai bersiul, dan angin kecil membawa nada-nada itu ke udara, membuat daun-daun bergoyang.

“Draven, serius,” bentak Sylva, tapi dia tersenyum tipis. “Aku coba baca bayangan perangkap ini. Kalau kita salah langkah, kita dalam masalah besar.”

Vesper Hale melangkah maju, akar-akar di lengannya merayap ke tanah. “Aku bisa coba menetralkan runenya dengan akar. Alam di hutan ini masih hidup, meski terluka.”

Dia menutup mata, dan akar-akarnya menyelusup ke tanah, mencari celah di rune. Tiba-tiba, tanah berguncang, dan raungan rendah bergema dari dalam hutan.

“Bagus, Vesper,” kata Draven. “Kau bangunkan sesuatu. Pasti laba-laba raksasa itu.”

Bukan laba-laba. Dari kabut, muncul tiga makhluk aneh, tubuh mereka seperti serangga raksasa dengan kaki-kaki berduri, tapi kepalanya menyerupai burung elang dengan mata ungu menyala.

“Roh Penjaga yang terkorup,” kata Vesper, suaranya tenang tapi tegang. “Sihir gelap memutarbalikkan mereka.”

Kairos menyalakan perisai api, berdiri di depan tim. “Eiran, Liora, ambil sisi kiri. Draven, Sylva, sisi kanan. Vesper, lindungi belakang. Sekarang!”

Eiran bergerak cepat, Zephyrion berubah jadi pedang panjang yang menyala perak. Dia menebas salah satu makhluk, tapi kaki berdurinya memblokir serangan, memicu percikan sihir. “Keras,” geramnya. “Faye, bantu aku!”

Liora sudah beraksi, bunga-bunganya berputar jadi badai kelopak tajam. “Jangan panggil aku Faye kalau kau nggak bilang ‘tolong’ dulu!” teriaknya, tapi dia melompat ke samping Eiran, pedang anginnya menghantam makhluk itu. Kelopak-kelopaknya memotong kaki-kaki berduri, membuat makhluk itu menjerit.

Di sisi lain, Draven mengirimkan gelombang suara yang mengguncang udara, membuat satu makhluk terhuyung. “Lihat, Sylva, laguku berguna!” serunya, tapi Sylva tidak menjawab, dia fokus membaca bayangan makhluk itu, matanya menyipit.

“Ada manusia di balik ini,” kata Sylva tiba-tiba. “Bayangannya menunjukkan sosok dengan jubah bangsawan… dan kristal gelap. Dia di pusat hutan.”

“Lord Zoltar,” sela Eiran, suaranya dingin seperti es. Dia menebas makhluk di depannya, Zephyrion berubah jadi cambuk yang melilit leher makhluk itu, menghancurkannya. Tapi matanya gelap, penuh kenangan masa lalu, pengkhianatan bangsawan yang merenggut keluarganya.

Liora memperhatikan perubahan di wajah Eiran. Dia ingin bertanya, tapi makhluk lain menyerang, dan dia terpaksa memfokuskan sihirnya.

Badai bunganya membesar, menciptakan dinding kelopak yang melindungi tim. “Eiran, kau baik-baik saja?” tanyanya, suaranya lembut di tengah kekacauan.

Eiran tidak menjawab, hanya mengangguk kaku. Tapi saat makhluk ketiga menerjang, dia mendorong Liora ke samping, mengambil pukulan di lengannya. Darah menetes, tapi Zephyrion bereaksi, menyala terang dan menghancurkan makhluk itu dalam satu tebasan.

“Voss, kau terluka!” Liora berlari mendekat, bunga-bunganya berubah jadi kabut penyembuh yang membalut luka Eiran. “Kenapa kau selalu main pahlawan?”

“Karena kau selalu ceroboh,” balas Eiran, tapi nadanya tidak sekeras biasa. Dia menatap Liora sekilas, dan untuk pertama kalinya, ada kehangatan di matanya, meski cepat hilang.

Vesper mendekat, akar-akarnya menyelesaikan penyembuhan luka Eiran. “Kalian berdua, simpan drama untuk nanti. Rune di tanah sudah netral. Kita harus ke pusat hutan.”

Kairos mengangguk, memimpin tim lebih dalam. “Sylva, apa lagi yang kau lihat?”

Sylva mengerutkan kening. “Bayangan bangsawan itu… dia tahu kita di sini. Dan dia tidak sendirian. Ada sesuatu yang lebih besar, mungkin artefak sihir.”

Draven bersiul. “Artefak? Keren. Aku taruhan itu kristal besar yang berkilau. Kalau kita ambil, aku mau buat gelang darinya.”

“Fokus, Draven,” kata Kairos, tapi dia tersenyum. “Kita cari sumbernya, hentikan badai, dan tangkap siapa pun di balik ini.”

Saat mereka melangkah lebih dalam, kabut ungu semakin tebal, dan suara badai di atas menggema seperti tawa. Di kejauhan, Lord Zoltar berdiri di altar kuno, kristal gelap di tangannya berdenyut. “Mereka datang,” katanya pada sosok bayangan di sampingnya.

“Biarkan Badai Roh menghibur mereka dulu.”

Tiba-tiba, tanah di depan tim meledak, dan pilar-pilar asap ungu muncul, membentuk wajah-wajah mengerikan yang meraung. Liora menarik napas, bunga-bunganya siap. Eiran menggenggam Zephyrion lebih erat, matanya penuh tekad.

“Kalian siap?” tanyanya pada tim.

“Selalu,” jawab Liora, tersenyum meski jantungnya berdegup kencang. “Tapi kalau kita mati, aku salahkan kau karena nggak tersenyum tadi.”

Eiran mendengus, tapi kali ini, senyum kecil benar-benar muncul di wajahnya, hanya sekilas, tapi cukup membuat Liora membelalak. “Jangan biasakan itu, Faye,” katanya, lalu berlari ke depan, pedangnya menyala, siap menghadapi badai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pedang Penebusan    Chapter 33: Pengorbanan Terakhir

    Medan perang di Elyria bergemuruh di bawah langit yang gelap, petir menyambar, dan kabut maut Valmoria menyelimuti kota. Aliansi Aurora—Eiran Voss, Kairos Thorne, Vesper Hale, dan Draven Quill—berdiri di tengah kekacauan, menghadapi Lord Zoltar dan sosok bayangan berjubah hitam, dalang di balik Valmoria. Sosok itu, yang akhirnya mengungkap wajahnya sebagai Archon Veyr, penguasa Drakmor, memegang artefak gelap terakhir, kristal yang memancarkan energi maut. “Elyria akan jatuh, Voss!” sembur Veyr, suaranya seperti racun. “Kalian nggak bisa hentikan kami!” Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di tangannya, menatap musuh dengan mata penuh tekad. Pikirannya tertuju pada Liora Faye, yang mengandung anak mereka, tidur tenang di markas. “Untuk Liora… untuk anakku,” bisiknya. Dia menggigit ujung telunjuknya, darahnya menetes, menyatu dengan Zephyrion. Pedang itu berubah—menjadi ribuan jarum perak yang beterbangan, masing-masing berkilau dengan aura darah Voss. Kair

  • Pedang Penebusan    Chapter 32: Benang Merah Takdir

    Tiga bulan setelah pertempuran di benteng Valmoria, Aliansi Aurora kembali ke Elyria di bawah langit yang cerah namun penuh ketegangan. Menara-menara kaca kota berkilau, tapi desas-desus tentang aliansi musuh—Drakmor, Sylvane, dan Korath—mengguncang istana. Di aula utama, Raja Eldrin mendengarkan laporan Kairos Thorne, wajahnya tegas namun lelah. “Kalian hancurkan artefak utama, tapi Valmoria belum menyerah,” katanya. “Mereka aktif di kerajaan tetangga, menyusun serangan baru.” Eiran Voss, berdiri dengan usaha meski tubuhnya lebih kuat, mengangguk. “Kami akan siap, Yang Mulia.” Zephyrion, masih di pinggangnya, berdengung pelan, tapi matanya penuh tekad—dia telah memutuskan untuk melepaskan pedang itu demi masa depannya dengan Liora Faye. Aria Velren, di sisi ruangan, menghadapi hukuman. Raja Eldrin menatapnya, suaranya dingin namun adil. “Aria, pengkhianatanmu hampir hancurkan Elyria. Tapi kau telah memilih penebusan. Kau akan tetap di sini, menjaga perpustakaan kerajaan seumur hidu

  • Pedang Penebusan    Chapter 31: Pemulihan dan Cinta

    Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,

  • Pedang Penebusan    Chapter 30: Klimaks Perang

    Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung

  • Pedang Penebusan    Chapter 29: Pengkhianatan Aria

    Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P

  • Pedang Penebusan    Chapter 28: Perjalanan ke Benteng Valmoria

    Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal

  • Pedang Penebusan    Chapter 7: Jantung yang Berdetak

    Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan. Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua.

  • Pedang Penebusan    Chapter 6: Kegelapan di Bawah Tanah

    Malam sebelum perjalanan ke kota bawah tanah, markas Aliansi Aurora sunyi, hanya diterangi cahaya rune lembut di dinding. Eiran Voss duduk sendirian di kamarnya, Zephyrion tergeletak di meja, pedang roh itu berdengung pelan seolah merasakan kegelisahan tuannya. Matanya terpejam, tapi tidur tidak

  • Pedang Penebusan    Chapter 5: Bayang-Bayang di Istana

    Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, t

  • Pedang Penebusan    Chapter 4: Altar Kelam

    Kabut ungu di Hutan Larang semakin tebal, menyelimuti Aliansi Aurora seperti selimut basah yang berbau sihir busuk. Pohon-pohon kuno di sekitar mereka berderit, seolah berbisik tentang rahasia yang terkubur. Di depan, sebuah altar batu kuno muncul dari kabut, diukir dengan rune hitam yang berdenyu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status