로그인Kabut ungu menyelimuti Hutan Larang, membuat pepohonan kuno tampak seperti bayangan raksasa yang berbisik. Udara terasa berat, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap seperti logam terbakar.
Aliansi Aurora berjalan hati-hati, dengan Kairos Thorne di depan, tangannya menyala api kecil untuk menerangi jalan. Cahaya itu memantul di dinding-dinding pohon yang dipenuhi lumut bercahaya, menciptakan suasana yang indah sekaligus menyeramkan. “Kalau ada yang bilang hutan ini romantis, aku akan muntah,” gumam Eiran Voss, pedang rohnya, Zephyrion, berdengung pelan di pinggangnya. Matanya menyipit, memindai setiap bayangan. Dia tidak suka hutan, terlalu banyak tempat untuk bersembunyi, terlalu banyak kenangan buruk tentang pengkhianatan di masa lalu. Liora Faye, yang berjalan tepat di belakangnya, mendengar gumamannya dan langsung menyeringai. “Romantis? Oh, Eiran, kalau kau mau kencan di hutan, aku bisa buatkan karangan bunga untukmu!” Dia mengibaskan tangan, dan bunga-bunga kecil muncul dari tanah, membentuk hati kecil di depan Eiran sebelum meledak jadi kelopak-kelopak yang beterbangan. Eiran memelototinya, tapi sudut bibirnya berkedut lagi. “Faye, aku serius. Fokus, atau kau akan jadi makanan monster berikutnya.” “Monster? Aku lebih takut pada ekspresimu yang kecut itu,” balas Liora, melompat mendekatinya dengan sengaja. “Ayo, Voss, coba senyum. Satu senyum kecil, dan aku janji nggak akan bikin bunga selama sejam!” “Jam berikutnya akan jadi neraka kalau kau terus bicara,” geram Eiran, tapi nada suaranya tidak sekeras biasa. Liora memperhatikan, dan matanya berbinar nakal. Dia tahu dia sedang mengelupas lapisan dingin Eiran, sedikit demi sedikit. “Kalau kalian berdua sudah selesai pacaran, bisa tolong lihat ke depan?” panggil Kairos dari depan, suaranya penuh tawa. Api di tangannya membesar, menerangi jejak aneh di tanah, lingkaran rune hitam yang berdenyut seperti jantungan. “Sylva, apa ini?” Sylva Reed berlutut di dekat rune, kacamata tipisnya memantulkan cahaya api Kairos. Bayangannya di tanah bergerak sendiri, seolah mencium sihir gelap. “Perangkap,” katanya pelan. “Sihir gelap, tapi cerdas. Kalau kita lewati, sesuatu akan terbangun. Aku lihat bayangan… makhluk dengan banyak kaki, seperti laba-laba raksasa.” Draven Quill, yang sedang menggoyang-goyangkan ranting dengan angin suaranya, mendengus. “Laba-laba? Keren. Aku bisa nyanyi lagu ‘Laba-Laba Nakal’ untuk menakut-nakuti mereka.” Dia mulai bersiul, dan angin kecil membawa nada-nada itu ke udara, membuat daun-daun bergoyang. “Draven, serius,” bentak Sylva, tapi dia tersenyum tipis. “Aku coba baca bayangan perangkap ini. Kalau kita salah langkah, kita dalam masalah besar.” Vesper Hale melangkah maju, akar-akar di lengannya merayap ke tanah. “Aku bisa coba menetralkan runenya dengan akar. Alam di hutan ini masih hidup, meski terluka.” Dia menutup mata, dan akar-akarnya menyelusup ke tanah, mencari celah di rune. Tiba-tiba, tanah berguncang, dan raungan rendah bergema dari dalam hutan. “Bagus, Vesper,” kata Draven. “Kau bangunkan sesuatu. Pasti laba-laba raksasa itu.” Bukan laba-laba. Dari kabut, muncul tiga makhluk aneh, tubuh mereka seperti serangga raksasa dengan kaki-kaki berduri, tapi kepalanya menyerupai burung elang dengan mata ungu menyala. “Roh Penjaga yang terkorup,” kata Vesper, suaranya tenang tapi tegang. “Sihir gelap memutarbalikkan mereka.” Kairos menyalakan perisai api, berdiri di depan tim. “Eiran, Liora, ambil sisi kiri. Draven, Sylva, sisi kanan. Vesper, lindungi belakang. Sekarang!” Eiran bergerak cepat, Zephyrion berubah jadi pedang panjang yang menyala perak. Dia menebas salah satu makhluk, tapi kaki berdurinya memblokir serangan, memicu percikan sihir. “Keras,” geramnya. “Faye, bantu aku!” Liora sudah beraksi, bunga-bunganya berputar jadi badai kelopak tajam. “Jangan panggil aku Faye kalau kau nggak bilang ‘tolong’ dulu!” teriaknya, tapi dia melompat ke samping Eiran, pedang anginnya menghantam makhluk itu. Kelopak-kelopaknya memotong kaki-kaki berduri, membuat makhluk itu menjerit. Di sisi lain, Draven mengirimkan gelombang suara yang mengguncang udara, membuat satu makhluk terhuyung. “Lihat, Sylva, laguku berguna!” serunya, tapi Sylva tidak menjawab, dia fokus membaca bayangan makhluk itu, matanya menyipit. “Ada manusia di balik ini,” kata Sylva tiba-tiba. “Bayangannya menunjukkan sosok dengan jubah bangsawan… dan kristal gelap. Dia di pusat hutan.” “Lord Zoltar,” sela Eiran, suaranya dingin seperti es. Dia menebas makhluk di depannya, Zephyrion berubah jadi cambuk yang melilit leher makhluk itu, menghancurkannya. Tapi matanya gelap, penuh kenangan masa lalu, pengkhianatan bangsawan yang merenggut keluarganya. Liora memperhatikan perubahan di wajah Eiran. Dia ingin bertanya, tapi makhluk lain menyerang, dan dia terpaksa memfokuskan sihirnya. Badai bunganya membesar, menciptakan dinding kelopak yang melindungi tim. “Eiran, kau baik-baik saja?” tanyanya, suaranya lembut di tengah kekacauan. Eiran tidak menjawab, hanya mengangguk kaku. Tapi saat makhluk ketiga menerjang, dia mendorong Liora ke samping, mengambil pukulan di lengannya. Darah menetes, tapi Zephyrion bereaksi, menyala terang dan menghancurkan makhluk itu dalam satu tebasan. “Voss, kau terluka!” Liora berlari mendekat, bunga-bunganya berubah jadi kabut penyembuh yang membalut luka Eiran. “Kenapa kau selalu main pahlawan?” “Karena kau selalu ceroboh,” balas Eiran, tapi nadanya tidak sekeras biasa. Dia menatap Liora sekilas, dan untuk pertama kalinya, ada kehangatan di matanya, meski cepat hilang. Vesper mendekat, akar-akarnya menyelesaikan penyembuhan luka Eiran. “Kalian berdua, simpan drama untuk nanti. Rune di tanah sudah netral. Kita harus ke pusat hutan.” Kairos mengangguk, memimpin tim lebih dalam. “Sylva, apa lagi yang kau lihat?” Sylva mengerutkan kening. “Bayangan bangsawan itu… dia tahu kita di sini. Dan dia tidak sendirian. Ada sesuatu yang lebih besar, mungkin artefak sihir.” Draven bersiul. “Artefak? Keren. Aku taruhan itu kristal besar yang berkilau. Kalau kita ambil, aku mau buat gelang darinya.” “Fokus, Draven,” kata Kairos, tapi dia tersenyum. “Kita cari sumbernya, hentikan badai, dan tangkap siapa pun di balik ini.” Saat mereka melangkah lebih dalam, kabut ungu semakin tebal, dan suara badai di atas menggema seperti tawa. Di kejauhan, Lord Zoltar berdiri di altar kuno, kristal gelap di tangannya berdenyut. “Mereka datang,” katanya pada sosok bayangan di sampingnya. “Biarkan Badai Roh menghibur mereka dulu.” Tiba-tiba, tanah di depan tim meledak, dan pilar-pilar asap ungu muncul, membentuk wajah-wajah mengerikan yang meraung. Liora menarik napas, bunga-bunganya siap. Eiran menggenggam Zephyrion lebih erat, matanya penuh tekad. “Kalian siap?” tanyanya pada tim. “Selalu,” jawab Liora, tersenyum meski jantungnya berdegup kencang. “Tapi kalau kita mati, aku salahkan kau karena nggak tersenyum tadi.” Eiran mendengus, tapi kali ini, senyum kecil benar-benar muncul di wajahnya, hanya sekilas, tapi cukup membuat Liora membelalak. “Jangan biasakan itu, Faye,” katanya, lalu berlari ke depan, pedangnya menyala, siap menghadapi badai.Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal
Cahaya fajar menyelinap melalui jendela penginapan kecil di perbatasan Elyria, menerangi wajah pucat Eiran Voss yang baru siuman. Obat Lia, dibuat dari ramuan bunga Seraphine, telah menstabilkan napasnya, tapi efeknya hanya sementara. Dia duduk di ranjang, Zephyrion berdengung pelan di sisinya, seperti pengingat akan harga yang terus dia bayar. Liora Faye, di sisinya, memegang tangannya, matanya penuh kekhawatiran tapi berusaha tersenyum. “Voss, kau bangun,” katanya, suaranya ceria meski lelah. “Tapi jangan coba-coba pingsan lagi, ya?” Eiran menatapnya, sudut bibirnya naik. “Faye, kau terlihat lebih buruk dariku,” balasnya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia menoleh ke Kairos, Sylva, Vesper, dan Draven, yang berkumpul di ruangan sempit. “Kita harus kembali ke Elyria. Sekarang. Aliansi Aurora ditunggu. Kita nggak bisa buang waktu.” Lia, kelopak di rambutnya menyala lembut, mengangguk. “Obat ini hanya tunda efek Zephyrion. Kau harus lepaskan pedang itu sepenuhnya, Eiran,
Reruntuhan kuno Valmoria masih bergemuruh dengan sisa-sisa pertempuran, kabut ungu dari artefak gelap menyelinap di antara pilar-pilar retak. Aliansi Aurora: Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Liora Faye, bernafas lega setelah kedatangan Liora membalikkan keadaan melawan pasukan Zoltar. Tapi kemenangan mereka terasa hampa tanpa Eiran Voss. Saat kabut mulai memudar, langkah berat terdengar, dan Eiran muncul, didukung Lia, pelayan Ratu Lysara. Wajahnya pucat, Zephyrion berdengung lemah di pinggangnya, tapi matanya penuh tekad saat melihat Liora. “Voss!” Liora berlari ke arahnya, tangannya mencengkeram lengan Eiran. “Kau seharusnya di ranjang, bodoh!” Suaranya ceria tapi penuh kekhawatiran, bunga-bunganya menyala di sekitar Eiran seperti pelukan. Eiran tersenyum tipis, napasnya tersengal. “Faye, aku nggak bisa biarkan kau bersenang-senang sendiri,” katanya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia melangkah maju, bergabung deng
Reruntuhan kuno di jantung hutan Valmoria bergemuruh di bawah langit kelabu, pilar-pilar batu retak bergetar dengan energi gelap dari artefak Valmoria. Altar tengah, dihiasi kristal hitam yang berdenyut seperti jantung, memancarkan kabut ungu yang membentuk bayangan-bayangan jahat. Kairos Thorne, memimpin Aliansi Aurora tanpa Eiran dan Liora, menyalakan perisai apinya, wajahnya tegas meski keringat membasahi dahinya. Sylva Reed, bayangannya menari liar di dinding, mencium kehadiran musuh. Vesper Hale, akar-akarnya menyelami tanah, merasakan alam yang kacau. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Tanpa pasangan bunga, kita kayak band tanpa vokalis,” katanya, menyeringai. “Tapi kita tetap bakal bikin Valmoria nyesel!” Kairos memelototinya. “Fokus, Draven. Artefak itu kunci. Kita hancurkan, Valmoria melemah.” Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, rambut peraknya yang panjang berkibar, rune gelap di jub
Tiga hari setelah Eiran Voss siuman, sinar matahari pagi menyelinap melalui dinding merah muda istana Seraphine, menerangi taman yang penuh dengan bunga-bunga berkilau seperti permata. Kelopak-kelopak lembut mengapung di udara, mengeluarkan aroma manis yang menenangkan, dan air mancur kristal bernyanyi pelan di tengah taman. Eiran, meski masih lemah, berjalan perlahan di sisi Liora Faye, tangannya bertumpu pada lengan Liora yang tidak pernah lepas menggenggamnya, menuntunnya dengan hati-hati. Zephyrion, terikat di pinggangnya, berdengung pelan, seperti pengingat konstan akan harga yang dia bayar. Liora, wajahnya cerah meski matanya masih menunjukkan kelelahan, menatap taman dengan kagum. “Voss, lihat ini,” katanya, suaranya penuh keajaiban. “Ini seperti mimpiku, tempat penuh bunga yang indah, seperti dunia yang aku bayangkan saat kecil.” Dia memetik kelopak kecil, meletakkannya di tangan Eiran, senyumnya lembut tapi penuh kasih. Eiran menatap kelopak itu, lalu ke Liora, jantungnya
Dalam kegelapan mimpi, Eiran Voss berdiri di padang kosong, angin dingin membelai wajahnya. Di depannya, sosok ayahnya, Varian Voss, pria berjubah perak dengan mata penuh kebijaksanaan muncul, wajahnya lembut namun tegas. “Eiran,” katanya, suaranya bergema seperti gema pedang roh, “Zephyrion bukan kekuatanmu. Kekuatanmu ada di dalam dirimu. Pedang itu memakan darahmu, menghancurkanmu.” Varian melangkah mendekat, tangannya menyentuh bahu Eiran. “Jika kau ingin melindungi seseorang... seseorang yang kau sayangi, jangan gunakan pedang yang membunuh tuannya.” Eiran menatap ayahnya, jantungnya berdetak kencang. “Ayah… aku nggak bisa melepaskannya. Itu warisan keluarga.” Tapi matanya, penuh keraguan, mengkhianati kata-katanya, dan bayangan Liora Faye... senyum cerianya, bunga-bunganya... muncul di pikirannya. Varian tersenyum tipis, seolah tahu. “Cinta membuatmu kuat, Eiran. Tapi pedang itu akan merenggutnya darimu. Pilih dengan bijak.” Sosoknya memudar, dan







