MasukMedan perang di Elyria bergemuruh di bawah langit yang gelap, petir menyambar, dan kabut maut Valmoria menyelimuti kota. Aliansi Aurora—Eiran Voss, Kairos Thorne, Vesper Hale, dan Draven Quill—berdiri di tengah kekacauan, menghadapi Lord Zoltar dan sosok bayangan berjubah hitam, dalang di balik Valmoria. Sosok itu, yang akhirnya mengungkap wajahnya sebagai Archon Veyr, penguasa Drakmor, memegang artefak gelap terakhir, kristal yang memancarkan energi maut. “Elyria akan jatuh, Voss!” sembur Veyr, suaranya seperti racun. “Kalian nggak bisa hentikan kami!” Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di tangannya, menatap musuh dengan mata penuh tekad. Pikirannya tertuju pada Liora Faye, yang mengandung anak mereka, tidur tenang di markas. “Untuk Liora… untuk anakku,” bisiknya. Dia menggigit ujung telunjuknya, darahnya menetes, menyatu dengan Zephyrion. Pedang itu berubah—menjadi ribuan jarum perak yang beterbangan, masing-masing berkilau dengan aura darah Voss. Kair
Tiga bulan setelah pertempuran di benteng Valmoria, Aliansi Aurora kembali ke Elyria di bawah langit yang cerah namun penuh ketegangan. Menara-menara kaca kota berkilau, tapi desas-desus tentang aliansi musuh—Drakmor, Sylvane, dan Korath—mengguncang istana. Di aula utama, Raja Eldrin mendengarkan laporan Kairos Thorne, wajahnya tegas namun lelah. “Kalian hancurkan artefak utama, tapi Valmoria belum menyerah,” katanya. “Mereka aktif di kerajaan tetangga, menyusun serangan baru.” Eiran Voss, berdiri dengan usaha meski tubuhnya lebih kuat, mengangguk. “Kami akan siap, Yang Mulia.” Zephyrion, masih di pinggangnya, berdengung pelan, tapi matanya penuh tekad—dia telah memutuskan untuk melepaskan pedang itu demi masa depannya dengan Liora Faye. Aria Velren, di sisi ruangan, menghadapi hukuman. Raja Eldrin menatapnya, suaranya dingin namun adil. “Aria, pengkhianatanmu hampir hancurkan Elyria. Tapi kau telah memilih penebusan. Kau akan tetap di sini, menjaga perpustakaan kerajaan seumur hidu
Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,
Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung
Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P
Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal
Kabut ungu di Hutan Larang semakin tebal, menyelimuti Aliansi Aurora seperti selimut basah yang berbau sihir busuk. Pohon-pohon kuno di sekitar mereka berderit, seolah berbisik tentang rahasia yang terkubur. Di depan, sebuah altar batu kuno muncul dari kabut, diukir dengan rune hitam yang berdenyu
Kabut ungu menyelimuti Hutan Larang, membuat pepohonan kuno tampak seperti bayangan raksasa yang berbisik. Udara terasa berat, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap seperti logam terbakar. Aliansi Aurora berjalan hati-hati, dengan Kairos Thorne di depan, tangannya menyala api keci
Mobil terbang Aliansi Aurora meluncur di atas dataran Elyria, mesinnya berdengung pelan berkat kristal sihir yang berkilau di bawah kap. Kendaraan ini lebih mirip perahu kecil dengan sayap logam, dihiasi rune yang menyala biru. Di dalam, suasana jauh dari tenang. Draven Quill, yang duduk di belaka
Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, t







