로그인Dalam kegelapan mimpi, Eiran Voss berdiri di padang kosong, angin dingin membelai wajahnya. Di depannya, sosok ayahnya, Varian Voss, pria berjubah perak dengan mata penuh kebijaksanaan muncul, wajahnya lembut namun tegas. “Eiran,” katanya, suaranya bergema seperti gema pedang roh, “Zephyrion bukan kekuatanmu. Kekuatanmu ada di dalam dirimu. Pedang itu memakan darahmu, menghancurkanmu.”
Varian melangkah mendekat, tangannya menyentuh bahu Eiran. “Jika kau ingin melindungi seseorang...Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal
Cahaya fajar menyelinap melalui jendela penginapan kecil di perbatasan Elyria, menerangi wajah pucat Eiran Voss yang baru siuman. Obat Lia, dibuat dari ramuan bunga Seraphine, telah menstabilkan napasnya, tapi efeknya hanya sementara. Dia duduk di ranjang, Zephyrion berdengung pelan di sisinya, seperti pengingat akan harga yang terus dia bayar. Liora Faye, di sisinya, memegang tangannya, matanya penuh kekhawatiran tapi berusaha tersenyum. “Voss, kau bangun,” katanya, suaranya ceria meski lelah. “Tapi jangan coba-coba pingsan lagi, ya?” Eiran menatapnya, sudut bibirnya naik. “Faye, kau terlihat lebih buruk dariku,” balasnya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia menoleh ke Kairos, Sylva, Vesper, dan Draven, yang berkumpul di ruangan sempit. “Kita harus kembali ke Elyria. Sekarang. Aliansi Aurora ditunggu. Kita nggak bisa buang waktu.” Lia, kelopak di rambutnya menyala lembut, mengangguk. “Obat ini hanya tunda efek Zephyrion. Kau harus lepaskan pedang itu sepenuhnya, Eiran,
Reruntuhan kuno Valmoria masih bergemuruh dengan sisa-sisa pertempuran, kabut ungu dari artefak gelap menyelinap di antara pilar-pilar retak. Aliansi Aurora: Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Liora Faye, bernafas lega setelah kedatangan Liora membalikkan keadaan melawan pasukan Zoltar. Tapi kemenangan mereka terasa hampa tanpa Eiran Voss. Saat kabut mulai memudar, langkah berat terdengar, dan Eiran muncul, didukung Lia, pelayan Ratu Lysara. Wajahnya pucat, Zephyrion berdengung lemah di pinggangnya, tapi matanya penuh tekad saat melihat Liora. “Voss!” Liora berlari ke arahnya, tangannya mencengkeram lengan Eiran. “Kau seharusnya di ranjang, bodoh!” Suaranya ceria tapi penuh kekhawatiran, bunga-bunganya menyala di sekitar Eiran seperti pelukan. Eiran tersenyum tipis, napasnya tersengal. “Faye, aku nggak bisa biarkan kau bersenang-senang sendiri,” katanya, suaranya serak tapi dengan nada main-main. Dia melangkah maju, bergabung deng
Reruntuhan kuno di jantung hutan Valmoria bergemuruh di bawah langit kelabu, pilar-pilar batu retak bergetar dengan energi gelap dari artefak Valmoria. Altar tengah, dihiasi kristal hitam yang berdenyut seperti jantung, memancarkan kabut ungu yang membentuk bayangan-bayangan jahat. Kairos Thorne, memimpin Aliansi Aurora tanpa Eiran dan Liora, menyalakan perisai apinya, wajahnya tegas meski keringat membasahi dahinya. Sylva Reed, bayangannya menari liar di dinding, mencium kehadiran musuh. Vesper Hale, akar-akarnya menyelami tanah, merasakan alam yang kacau. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Tanpa pasangan bunga, kita kayak band tanpa vokalis,” katanya, menyeringai. “Tapi kita tetap bakal bikin Valmoria nyesel!” Kairos memelototinya. “Fokus, Draven. Artefak itu kunci. Kita hancurkan, Valmoria melemah.” Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, rambut peraknya yang panjang berkibar, rune gelap di jub
Tiga hari setelah Eiran Voss siuman, sinar matahari pagi menyelinap melalui dinding merah muda istana Seraphine, menerangi taman yang penuh dengan bunga-bunga berkilau seperti permata. Kelopak-kelopak lembut mengapung di udara, mengeluarkan aroma manis yang menenangkan, dan air mancur kristal bernyanyi pelan di tengah taman. Eiran, meski masih lemah, berjalan perlahan di sisi Liora Faye, tangannya bertumpu pada lengan Liora yang tidak pernah lepas menggenggamnya, menuntunnya dengan hati-hati. Zephyrion, terikat di pinggangnya, berdengung pelan, seperti pengingat konstan akan harga yang dia bayar. Liora, wajahnya cerah meski matanya masih menunjukkan kelelahan, menatap taman dengan kagum. “Voss, lihat ini,” katanya, suaranya penuh keajaiban. “Ini seperti mimpiku, tempat penuh bunga yang indah, seperti dunia yang aku bayangkan saat kecil.” Dia memetik kelopak kecil, meletakkannya di tangan Eiran, senyumnya lembut tapi penuh kasih. Eiran menatap kelopak itu, lalu ke Liora, jantungnya
Dalam kegelapan mimpi, Eiran Voss berdiri di padang kosong, angin dingin membelai wajahnya. Di depannya, sosok ayahnya, Varian Voss, pria berjubah perak dengan mata penuh kebijaksanaan muncul, wajahnya lembut namun tegas. “Eiran,” katanya, suaranya bergema seperti gema pedang roh, “Zephyrion bukan kekuatanmu. Kekuatanmu ada di dalam dirimu. Pedang itu memakan darahmu, menghancurkanmu.” Varian melangkah mendekat, tangannya menyentuh bahu Eiran. “Jika kau ingin melindungi seseorang... seseorang yang kau sayangi, jangan gunakan pedang yang membunuh tuannya.” Eiran menatap ayahnya, jantungnya berdetak kencang. “Ayah… aku nggak bisa melepaskannya. Itu warisan keluarga.” Tapi matanya, penuh keraguan, mengkhianati kata-katanya, dan bayangan Liora Faye... senyum cerianya, bunga-bunganya... muncul di pikirannya. Varian tersenyum tipis, seolah tahu. “Cinta membuatmu kuat, Eiran. Tapi pedang itu akan merenggutnya darimu. Pilih dengan bijak.” Sosoknya memudar, dan







