หน้าหลัก / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 7: Jantung yang Berdetak

แชร์

Chapter 7: Jantung yang Berdetak

ผู้เขียน: Sisin Kim
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-16 19:19:30

Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan.

Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua.

Lord Zoltar berdiri di depannya, jubahnya berkibar tertiup angin sihir, dan senyum liciknya menyapa Aliansi Aurora. Di sampingnya, sosok bayangan berdesis. Bentuknya kabur, seperti asap hidup dengan mata merah menyala.

“Selamat datang di akhir perjalanan kalian,” kata Zoltar, suaranya halus namun mematikan. “Jantung Bayangan akan membawa Elyria ke era baru. Tanpa raja yang lemah, tanpa kalian.”

Eiran Voss melangkah maju, Zephyrion menyala perak di tangannya, berdengung dengan intensitas yang hampir tak terkendali.

Mimpi buruk tadi malam masih menghantuinya, gambar ayahnya yang jatuh karena pedang roh yang liar, amarah yang menghancurkan segalanya.

“Kau bicara terlalu banyak, bangsawan,” semburnya, suaranya dingin tapi tangannya gemetar sedikit. “Akhiri ini sekarang.”

Liora Faye, berdiri di sampingnya, merasakan ketegangan Eiran. Dia ingin menggodanya seperti biasa, tapi matanya menangkap getaran kecil di tangan Eiran.

“Eiran, kita lakukan ini bersama,” bisiknya, bunga-bunganya berputar di sekitar kakinya, siap berubah jadi pedang angin.

Dia tersenyum, berusaha mencairkan suasana. “Jangan coba jadi pahlawan sendirian lagi, oke? Aku nggak mau bikin karangan bunga untuk kuburanmu.”

Eiran memelototinya, tapi ada kilasan kehangatan di matanya. “Faye, fokus,” katanya, meski nada suaranya lebih lembut dari biasa.

Kairos Thorne mengangkat tangan, apinya menyala membentuk perisai panas. “Formasi!” teriaknya. “Eiran, Liora, serang Zoltar langsung. Draven, Sylva, tangani bayangan itu. Vesper, lindungi altar, jangan biarkan kristal itu aktif sepenuhnya!”

Pertarungan meledak dalam sekejap. Zoltar mengangkat Jantung Bayangan, dan gelombang asap ungu menerjang tim.

Eiran bergerak cepat, Zephyrion berubah jadi cambuk perak yang menyambar, memblokir asap itu. Tapi setiap serangan membuat pedangnya berdengung lebih keras, seolah menarik amarahnya keluar. Dia merasakan mimpi buruk itu lagi. Jangan hilang kendali, Eiran.

Liora melompat ke sampingnya, badai kelopaknya menghantam Zoltar, memaksanya mundur. “Hei, Tuan Jubah, bunga ini lebih kuat dari kelihatannya!” teriaknya, tapi Zoltar hanya tertawa, mengarahkan gelombang asap lain yang hampir menelannya.

Eiran menarik Liora ke belakang, pedangnya membentuk perisai roh. “Ceroboh, Faye!” bentaknya, tapi matanya penuh kekhawatiran.

Untuk sesaat, mereka saling menatap, napas mereka tersengal di tengah kekacauan. Liora menyentuh lengannya, bunga penyembuhnya muncul tanpa sadar, dan Eiran merasakan kehangatan yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang, bukan karena pertarungan.

“Kau nggak akan kehilangan aku, Voss,” kata Liora, suaranya lembut tapi tegas, matanya penuh keyakinan. “Dan aku nggak akan membiarkanmu kehilangan dirimu sendiri.”

Eiran ingin membalas, ingin bilang sesuatu, tapi mimpi buruk itu berbisik lagi. Pedang ini akan menghancurkan semua yang kau sayangi. Dia menarik napas, menjaga jarak, tapi genggaman Liora di lengannya membuatnya ragu untuk melepaskan.

Di sisi lain, Draven Quill mengirimkan gelombang suara yang mengguncang sosok bayangan, tapi makhluk itu hanya berdesis, tubuh asapnya membentuk cakar yang mencoba mencengkeramnya.

“Sial, ini bukan musuh biasa!” teriak Draven, lalu bersiul keras, angin suaranya membentuk mantra kecepatan yang mempercepat gerakan tim.

Sylva Reed fokus pada bayangan makhluk itu, matanya menyipit di balik kacamata. “Ini bukan manusia… ini roh terikat, mungkin pelayan Jantung Bayangan!”

Dia memproyeksikan ilusi bayangan, membuat makhluk itu menyerang bayangannya sendiri, memberi Draven celah untuk menyerang.

Vesper Hale, di dekat altar, menggunakan akar-akarnya untuk menjerat kristal, mencoba melemahkan denyutnya. “Alam menolak benda ini!” katanya, suaranya tegang. “Tapi aku butuh waktu!”

Kairos menghantam Zoltar dengan ledakan api, tapi bangsawan itu memblokir dengan perisai asap. “Kalian terlalu lemah!” ejek Zoltar. “Jantung Bayangan akan membangunkan kekuatan yang kalian nggak bisa bayangkan!”

Eiran, didorong amarah, berlari ke depan, Zephyrion berubah jadi pedang panjang yang menyala terang.

“Kau sama seperti mereka!” teriaknya, suaranya penuh dendam. Dia menebas Zoltar, tapi pedangnya membelah asap, dan Jantung Bayangan berdenyut lebih keras, membuat Eiran tersandung.

Gambar ayahnya muncul di pikirannya, pedang yang liar, amarah yang menghancurkan. “Tidak,” gumamnya, mencoba menahan diri. “Aku nggak akan jadi seperti itu.”

Liora melihat Eiran goyah, dan tanpa ragu, dia memanggil badai bunga terbesar yang pernah dia ciptakan. “Eiran, bangun!” teriaknya.

Kelopak-kelopaknya berputar jadi pedang angin raksasa, menghantam Zoltar dan memecahkan perisainya. “Kau nggak sendirian, bodoh!”

Zoltar tersandung, kristal di tangannya retak lebih dalam. “Kalian… akan menyesal!” semburnya, lalu melemparkan Jantung Bayangan ke altar.

Kristal itu meledak dalam kilatan ungu, dan sosok bayangan di sampingnya membesar, menjadi makhluk raksasa dengan cakar asap dan mata merah menyala.

Kairos berteriak, “Bersama-sama, sekarang!” Tim menyatu: api Kairos, angin Draven, bayangan Sylva, akar Vesper, dan pedang angin Liora bergabung dalam serangan terkoordinasi.

Eiran, masih bergulat dengan ketakutannya, menarik napas dalam dan menyalurkan emosinya ke Zephyrion.

Pedang itu menyala lebih terang dari sebelumnya, tapi kali ini terkendali, dipandu oleh tekad untuk melindungi tim, terutama Liora.

Dalam serangan terakhir, Eiran dan Liora bergerak bersamaan, pedang roh dan pedang angin mereka menghantam makhluk bayangan itu, menghancurkannya jadi asap. Jantung Bayangan retak sepenuhnya, dan altar runtuh, badai di atas kota melemah.

Zoltar, terluka tapi masih hidup, menghilang ke dalam kabut yang tersisa, berteriak, “Ini belum selesai! Jantung lain menunggu!”

Tim berdiri di tengah reruntuhan, napas mereka tersengal. Vesper memeriksa akar-akarnya, mengangguk. “Alam mulai pulih. Tapi Zoltar benar, ada artefak lain.”

Draven menyeringai, meski wajahnya penuh keringat. “Kita menang, kan? Aku bilang kita pantas dapat pesta sekarang.”

Sylva mendengus. “Kau dan pestamu, Draven. Tapi aku lihat bayangan… Zoltar punya sekutu lebih besar. Kita harus cari tahu siapa.”

Kairos mengangguk. “Kembali ke Elyria. Kita laporkan ini dan siapkan misi berikutnya.”

Di tengah puing-puing, Liora mendekati Eiran, yang berdiri menjauh, menatap Zephyrion dengan ekspresi campur aduk.

“Eiran,” katanya pelan, bunga kecil muncul di tangannya, kali ini bukan untuk menggoda, tapi tanda tulus. “Kau tadi luar biasa. Tapi kau nggak harus takut pada pedangmu… atau dirimu sendiri.”

Eiran menatapnya, mimpi buruk itu masih mengintai, tapi kehadiran Liora seperti cahaya di kegelapan. Dia ingin bicara, ingin membiarkan dirinya jatuh ke dalam kehangatan itu, tapi ketakutan menahannya.

“Liora, aku… aku nggak yakin bisa jadi orang yang kau pikir bisa menghadapi ini,” katanya, suaranya serak.

Liora menggenggam tangannya, bunga itu diletakkan di telapak Eiran. “Aku nggak minta kau jadi siapa pun, Voss. Aku cuma minta kau coba.” Dia tersenyum, tapi ada air mata kecil di matanya, bukan karena sedih, tapi karena dia tahu Eiran sedang berjuang.

Eiran menutup tangannya di sekitar bunga itu, jantungnya berdetak kencang. Untuk pertama kalinya, dia tidak menarik diri. “Aku akan coba,” bisiknya, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Liora tersenyum lebih lebar.

Saat tim berjalan keluar dari gua, langit Elyria di atas mereka cerah, tapi di kejauhan, awan gelap baru mulai berkumpul.

Di suatu tempat, di kastel tersembunyi, Zoltar berlutut di depan sosok bayangan yang lebih besar, suaranya bergetar. “Jantung Bayangan hancur, tapi yang lain sudah siap. Elyria akan jatuh.”

Sosok itu berdesis, “Dan Aliansi Aurora akan hancur bersamanya.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pedang Penebusan    Chapter 33: Pengorbanan Terakhir

    Medan perang di Elyria bergemuruh di bawah langit yang gelap, petir menyambar, dan kabut maut Valmoria menyelimuti kota. Aliansi Aurora—Eiran Voss, Kairos Thorne, Vesper Hale, dan Draven Quill—berdiri di tengah kekacauan, menghadapi Lord Zoltar dan sosok bayangan berjubah hitam, dalang di balik Valmoria. Sosok itu, yang akhirnya mengungkap wajahnya sebagai Archon Veyr, penguasa Drakmor, memegang artefak gelap terakhir, kristal yang memancarkan energi maut. “Elyria akan jatuh, Voss!” sembur Veyr, suaranya seperti racun. “Kalian nggak bisa hentikan kami!” Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di tangannya, menatap musuh dengan mata penuh tekad. Pikirannya tertuju pada Liora Faye, yang mengandung anak mereka, tidur tenang di markas. “Untuk Liora… untuk anakku,” bisiknya. Dia menggigit ujung telunjuknya, darahnya menetes, menyatu dengan Zephyrion. Pedang itu berubah—menjadi ribuan jarum perak yang beterbangan, masing-masing berkilau dengan aura darah Voss. Kair

  • Pedang Penebusan    Chapter 32: Benang Merah Takdir

    Tiga bulan setelah pertempuran di benteng Valmoria, Aliansi Aurora kembali ke Elyria di bawah langit yang cerah namun penuh ketegangan. Menara-menara kaca kota berkilau, tapi desas-desus tentang aliansi musuh—Drakmor, Sylvane, dan Korath—mengguncang istana. Di aula utama, Raja Eldrin mendengarkan laporan Kairos Thorne, wajahnya tegas namun lelah. “Kalian hancurkan artefak utama, tapi Valmoria belum menyerah,” katanya. “Mereka aktif di kerajaan tetangga, menyusun serangan baru.” Eiran Voss, berdiri dengan usaha meski tubuhnya lebih kuat, mengangguk. “Kami akan siap, Yang Mulia.” Zephyrion, masih di pinggangnya, berdengung pelan, tapi matanya penuh tekad—dia telah memutuskan untuk melepaskan pedang itu demi masa depannya dengan Liora Faye. Aria Velren, di sisi ruangan, menghadapi hukuman. Raja Eldrin menatapnya, suaranya dingin namun adil. “Aria, pengkhianatanmu hampir hancurkan Elyria. Tapi kau telah memilih penebusan. Kau akan tetap di sini, menjaga perpustakaan kerajaan seumur hidu

  • Pedang Penebusan    Chapter 31: Pemulihan dan Cinta

    Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,

  • Pedang Penebusan    Chapter 30: Klimaks Perang

    Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung

  • Pedang Penebusan    Chapter 29: Pengkhianatan Aria

    Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P

  • Pedang Penebusan    Chapter 28: Perjalanan ke Benteng Valmoria

    Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal

  • Pedang Penebusan    Chapter 5: Bayang-Bayang di Istana

    Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, t

  • Pedang Penebusan    Chapter 4: Altar Kelam

    Kabut ungu di Hutan Larang semakin tebal, menyelimuti Aliansi Aurora seperti selimut basah yang berbau sihir busuk. Pohon-pohon kuno di sekitar mereka berderit, seolah berbisik tentang rahasia yang terkubur. Di depan, sebuah altar batu kuno muncul dari kabut, diukir dengan rune hitam yang berdenyu

  • Pedang Penebusan    Chapter 3: Jebakan di Hutan Larang

    Kabut ungu menyelimuti Hutan Larang, membuat pepohonan kuno tampak seperti bayangan raksasa yang berbisik. Udara terasa berat, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap seperti logam terbakar. Aliansi Aurora berjalan hati-hati, dengan Kairos Thorne di depan, tangannya menyala api keci

  • Pedang Penebusan    Chapter 2: Jalan yang Berangin

    Mobil terbang Aliansi Aurora meluncur di atas dataran Elyria, mesinnya berdengung pelan berkat kristal sihir yang berkilau di bawah kap. Kendaraan ini lebih mirip perahu kecil dengan sayap logam, dihiasi rune yang menyala biru. Di dalam, suasana jauh dari tenang. Draven Quill, yang duduk di belaka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status