Home / Fantasi / Pedang Penebusan / Chapter 6: Kegelapan di Bawah Tanah

Share

Chapter 6: Kegelapan di Bawah Tanah

Author: Sisin Kim
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-03 22:26:12

Malam sebelum perjalanan ke kota bawah tanah, markas Aliansi Aurora sunyi, hanya diterangi cahaya rune lembut di dinding.

Eiran Voss duduk sendirian di kamarnya, Zephyrion tergeletak di meja, pedang roh itu berdengung pelan seolah merasakan kegelisahan tuannya.

Matanya terpejam, tapi tidur tidak datang dengan mudah. Sebaliknya, mimpi buruk datang lagi, seperti hantu yang tak pernah pergi.

Dalam mimpi itu, Eiran kembali ke masa kecilnya, sebuah rumah bangsawan sederhana di pinggiran Elyria, di mana ayahnya, seorang penyihir setia kerajaan, berdiri di depan pintu dengan pedang yang sama ini.

"Ingat, Eiran," kata ayahnya, suaranya hangat tapi tegas, "pedang roh ini bagian dari darahmu. Kendalikan, atau ia akan mengendalikanmu."

Tapi kemudian, bayangan muncul, bangsawan korup yang datang di malam hari, dengan sihir gelap yang membakar rumah mereka. Ayahnya bertarung, Zephyrion menyala terang, tapi amarah membuat pedang itu liar, memotong segalanya tanpa kendali.

Eiran kecil bersembunyi, menyaksikan ayahnya jatuh, pedang itu berlumur darah. "Aku takut, Ayah," gumam Eiran dalam mimpi. "Bagaimana kalau aku juga hilang kendali?"

Eiran terbangun dengan keringat dingin, napasnya tersengal. Zephyrion berdengung lebih keras, seolah menanggapi ketakutannya. Dia menggenggam gagang pedang itu, jantungnya berdegup.

"Aku nggak bisa kehilangan kendali," gumamnya pada diri sendiri. "Bukan sekarang, bukan dengan mereka." Pikiran tentang tim, terutama Liora, membuatnya semakin gelisah.

Bagaimana kalau amarahnya menyakiti mereka? Bagaimana kalau masa lalunya membuatnya jadi monster seperti yang dia benci?

Pagi harinya, tim berkumpul di pintu masuk kota bawah tanah, sebuah gua tersembunyi di bawah jalan-jalan Elyria yang ramai.

Pintu masuknya adalah gerbang batu kuno, diukir rune yang sudah pudar, dan udara dingin berhembus dari dalam seperti napas makhluk hidup.

Kairos Thorne membuka peta holografik, cahayanya menerangi wajah tim. “Kota bawah tanah ini penuh reruntuhan kuno,” katanya. “Jebakan sihir, monster gelap, dan mungkin Zoltar sudah di sana. Tetap dekat.”

Draven Quill menyeringai, angin suaranya bersiul pelan. “Reruntuhan? Keren. Aku taruhan ada harta karun. Kalau aku temukan, aku bagi, mungkin.”

Sylva Reed menyesuaikan kacamatanya, bayangannya bergerak di tanah gua. “Aku sudah baca arsip. Jantung Bayangan ada di ruang pusat, tapi jebakan di sini dirancang untuk melindungi artefak itu. Bayangan bilang ada perangkap ilusi dan penjaga roh.”

Vesper Hale mengangguk, akar-akarnya merayap ke dinding gua. “Alam di bawah ini lemah, tapi aku bisa gunakan akar untuk deteksi jebakan.”

Liora Faye berjalan di samping Eiran, senyum cerianya kontras dengan kegelapan gua. “Eiran, kau tampak seperti baru bertengkar dengan mimpi buruk,” katanya, suaranya ringan tapi penuh perhatian.

Dia memanggil bunga kecil yang bersinar, menerangi jalan mereka. “Mau cerita? Atau aku bisa buatkan mahkota bunga untuk mood booster?”

Eiran mendengus, tapi sudut bibirnya berkedut. “Nggak usah, Faye. Fokus saja.” Tapi dalam hati, kehadiran Liora membuatnya sedikit tenang, sampai mimpi malam tadi mengingatkannya pada risiko. Dia menjaga jarak, berjalan agak di depan.

Mereka memasuki koridor bawah tanah, dindingnya dipenuhi kristal pudar yang sesekali menyala. Tiba-tiba, tanah bergetar, dan rune di dinding menyala merah. “Jebakan!” teriak Sylva.

Dari dinding, ilusi muncul—bayangan monster raksasa dengan cakar api, menerjang tim. Draven langsung mengirimkan gelombang suara, tapi melewati bayangan itu tanpa efek. “Sial, ini palsu!” katanya.

Kairos menyalakan perisai apinya. “Ilusi, tapi jebakan sebenarnya di tanah—lihat rune itu!”

Eiran melompat ke depan, Zephyrion berubah jadi cambuk yang menyambar rune, mematahkan ilusi. Tapi jebakan lain aktif: dinding gua runtuh, batu-batu jatuh seperti hujan. Vesper langsung bereaksi, akar-akarnya membentuk atap pelindung di atas tim. “Cepat, lari!”

Liora memanggil badai bunga, kelopak-kelopaknya mendorong batu-batu menjauh dengan angin tajam. “Ini seperti pesta kejutan yang buruk!” katanya, terkikik meski napasnya tersengal.

Tim lolos ke ruangan lebih dalam, tapi Eiran tersandung, lengan bajunya robek oleh batu tajam. Liora langsung mendekat, tangannya menyentuh lengannya untuk memeriksa luka. “Eiran, biar aku sembuhkan,” katanya pelan, bunga penyembuhnya berputar lembut di sekitar mereka.

Untuk sesaat, dunia seolah berhenti. Eiran menatap Liora, mata hijau cerahnya penuh kepedulian, dan aroma bunganya menenangkan. Dia merasa ingin mendekat, ingin cerita tentang mimpi buruknya tentang ketakutan kehilangan kendali atas pedang dan dirinya. “Liora, aku…” mulainya, suaranya rendah, intim.

Tapi mimpi malam tadi muncul lagi: ayahnya yang jatuh karena amarah tak terkendali. Eiran mundur pelan, wajahnya mengeras. “Aku baik-baik saja,” katanya, suaranya dingin tapi ragu. “Jangan buang energimu.”

Liora mengerutkan kening, tapi dia tidak mendesak. “Kau tahu, Voss, ragu-ragu itu seperti bunga yang tak mekar indah, tapi menyedihkan.” Dia tersenyum tipis, tapi matanya menunjukkan kekecewaan.

Draven, yang melihat dari jauh, berbisik ke Sylva, “Mereka berdua ini seperti komedi romansa yang buruk. Kapan Eiran sadar?”

Sylva tersenyum kering. “Saat dia berhenti takut pada dirinya sendiri.”

Tim melanjutkan, menghadapi jebakan lain: sungai bawah tanah dengan air beracun yang dipenuhi roh air terkorup. Kairos membekukan air dengan api waktunya, menciptakan jembatan es.

Draven menggunakan angin suara untuk mengalihkan roh-roh itu, sementara Sylva membaca bayangan mereka untuk menemukan celah.

Akhirnya, mereka mencapai pintu ruang pusat, di mana cahaya ungu samar-samar terpancar. “Jantung Bayangan ada di balik ini,” kata Vesper, akar-akarnya bergetar. “Tapi aku rasakan Zoltar di sana.”

Eiran menggenggam Zephyrion, pedang itu berdengung dengan intensitas yang membuatnya gelisah. “Aku siap,” katanya, tapi dalam hati, mimpi buruk itu berbisik: Jangan hilang kendali.

Liora meliriknya, tangannya menyentuh punggungnya sekilas. “Kita siap,” katanya, suaranya penuh keyakinan. Eiran mengangguk, meski ragu masih ada tapi kehadiran Liora membuatnya ingin percaya.

Di balik pintu, Lord Zoltar menunggu, Jantung Bayangan berdenyut di tangannya. “Mereka datang,” katanya pada sosok bayangan. “Biarkan permainan dimulai.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pedang Penebusan    Chapter 33: Pengorbanan Terakhir

    Medan perang di Elyria bergemuruh di bawah langit yang gelap, petir menyambar, dan kabut maut Valmoria menyelimuti kota. Aliansi Aurora—Eiran Voss, Kairos Thorne, Vesper Hale, dan Draven Quill—berdiri di tengah kekacauan, menghadapi Lord Zoltar dan sosok bayangan berjubah hitam, dalang di balik Valmoria. Sosok itu, yang akhirnya mengungkap wajahnya sebagai Archon Veyr, penguasa Drakmor, memegang artefak gelap terakhir, kristal yang memancarkan energi maut. “Elyria akan jatuh, Voss!” sembur Veyr, suaranya seperti racun. “Kalian nggak bisa hentikan kami!” Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di tangannya, menatap musuh dengan mata penuh tekad. Pikirannya tertuju pada Liora Faye, yang mengandung anak mereka, tidur tenang di markas. “Untuk Liora… untuk anakku,” bisiknya. Dia menggigit ujung telunjuknya, darahnya menetes, menyatu dengan Zephyrion. Pedang itu berubah—menjadi ribuan jarum perak yang beterbangan, masing-masing berkilau dengan aura darah Voss. Kair

  • Pedang Penebusan    Chapter 32: Benang Merah Takdir

    Tiga bulan setelah pertempuran di benteng Valmoria, Aliansi Aurora kembali ke Elyria di bawah langit yang cerah namun penuh ketegangan. Menara-menara kaca kota berkilau, tapi desas-desus tentang aliansi musuh—Drakmor, Sylvane, dan Korath—mengguncang istana. Di aula utama, Raja Eldrin mendengarkan laporan Kairos Thorne, wajahnya tegas namun lelah. “Kalian hancurkan artefak utama, tapi Valmoria belum menyerah,” katanya. “Mereka aktif di kerajaan tetangga, menyusun serangan baru.” Eiran Voss, berdiri dengan usaha meski tubuhnya lebih kuat, mengangguk. “Kami akan siap, Yang Mulia.” Zephyrion, masih di pinggangnya, berdengung pelan, tapi matanya penuh tekad—dia telah memutuskan untuk melepaskan pedang itu demi masa depannya dengan Liora Faye. Aria Velren, di sisi ruangan, menghadapi hukuman. Raja Eldrin menatapnya, suaranya dingin namun adil. “Aria, pengkhianatanmu hampir hancurkan Elyria. Tapi kau telah memilih penebusan. Kau akan tetap di sini, menjaga perpustakaan kerajaan seumur hidu

  • Pedang Penebusan    Chapter 31: Pemulihan dan Cinta

    Kerajaan Seraphine menyambut Aliansi Aurora dengan keheningan tegang, istana merah muda berkilau di bawah sinar bulan, tapi aroma bunga penyembuhan tidak bisa menutupi bayang-bayang ancaman. Perwakilan dari Drakmor, Sylvane, dan Korath telah pergi, ragu untuk melawan kekuatan perempuan Seraphine setelah ancaman Ratu Lysara. Namun, fokus tim tertuju pada Eiran Voss, yang terbaring di ruang penyembuhan, dikelilingi oleh penyembuh Seraphine. Ranjang batu diterangi kristal bunga, tapi suasana berat—di dada kiri Eiran, akar hitam dari Zephyrion menjalar hingga lehernya, tanda rasa sakit yang dia tanggung demi bertarung bersama tim. Eiran siuman, matanya redup, napasnya lemah. Lia, kelopak di rambutnya menyala, memeriksa kondisinya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Dia nggak bisa bergerak,” katanya pada tim—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, dan Aria Velren—yang berdiri di sekitar ranjang. Tidak ada candaan dari Draven kali ini; wajahnya serius, matanya penuh empati. “Voss,

  • Pedang Penebusan    Chapter 30: Klimaks Perang

    Benteng Valmoria berdiri seperti makam gelap, dinding obsidiannya berdenyut dengan sihir jahat, rune-rune ungu menyala di bawah langit yang bergolak. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, Aria Velren, dan Lia—berdiri di gerbang utama, menghadapi pasukan Zoltar: prajurit hantu dengan mata menyala dan roh pendendam yang melayang, mengeluarkan jeritan yang mengguncang jiwa. Zoltar sendiri, jubahnya compang-camping, memimpin aliansi musuh dari Drakmor, Sylvane, dan Korath, matanya penuh dendam. Kairos menyalakan perisai api, suaranya bergema. “Ini akhirnya! Hancurkan artefak, akhiri Valmoria!” Pertarungan epik meledak. Api Kairos membakar prajurit hantu, akar Vesper menjerat roh pendendam, bayangan Sylva memotong musuh, dan gelombang suara Draven menghancurkan formasi. Liora, pedang anginnya berputar, melepaskan badai kelopak yang menyapu musuh, suaranya tetap ceria meski tegang. “Ayo, teman-teman, kita nggak boleh kalah di panggung

  • Pedang Penebusan    Chapter 29: Pengkhianatan Aria

    Di luar benteng Valmoria, angin malam membawa aroma asap dan sihir gelap, dinding-dinding obsidian benteng memantulkan kilatan petir di langit kelabu. Aliansi Aurora—Kairos Thorne, Sylva Reed, Vesper Hale, Draven Quill, Liora Faye, Eiran Voss, dan Lia—berdiri di tengah puing-puing, napas mereka tersengal setelah bertahan dari jebakan sihir. Tiba-tiba, kabut ungu meledak, dan Aria Velren muncul, memimpin pasukan bayangan Valmoria. Rambut peraknya berkibar, rune gelap di jubahnya menyala, tapi matanya penuh konflik. “Kalian nggak seharusnya ada di sini,” katanya, suaranya dingin namun goyah. Bilah cahaya gelapnya menyala, siap menyerang. Kairos menyalakan perisai api. “Aria, berhenti! Apa yang Valmoria janjikan padamu?” Aria ragu, lalu suaranya pecah. “Keluargaku… Valmoria ancam mereka. Aku nggak punya pilihan!” Dia melepaskan ledakan cahaya gelap, memaksa tim mundur. Sylva, bayangannya menari, berteriak, “Kau pilih pengkhianatan demi ancaman? Kami bisa lindungi keluargamu, Aria!” P

  • Pedang Penebusan    Chapter 28: Perjalanan ke Benteng Valmoria

    Langit di atas hutan Valmoria kelabu, kabut tebal menyelimuti jalan menuju benteng utama, sebuah monolit obsidian yang menjulang di kejauhan, dikelilingi pilar-pilar rune gelap yang berdenyut. Aliansi Aurora bergerak hati-hati, mobil terbang mereka ditinggalkan karena jebakan sihir yang mematikan. Kairos Thorne memimpin, apinya menyala redup untuk menerangi jalan. Sylva Reed, bayangannya menari di tanah, waspada terhadap ancaman. Vesper Hale, akar-akarnya merayap, merasakan alam yang terganggu. Draven Quill, angin suaranya siap, mencoba mencairkan ketegangan. “Jadi, kita masuk ke sarang Valmoria tanpa rencana cadangan?” katanya, menyeringai. “Keren. Ini bakal jadi lagu epik.” Liora Faye berjalan di sisi Eiran Voss, tangannya mencengkeram lengan pria itu, bunga-bunganya menyala lembut. Eiran, wajahnya pucat, Zephyrion berdengung di pinggangnya, berjalan dengan langkah terhambat tapi penuh tekad. Lia, pelayan Ratu Lysara, mengikuti di belakang, kelopak di rambutnya siap untuk merapal

  • Pedang Penebusan    Chapter 7: Jantung yang Berdetak

    Pintu batu raksasa di ruang pusat kota bawah tanah bergemuruh saat terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya ungu jahat dari Jantung Bayangan. Kristal raksasa itu, sebesar manusia, bertahta di tengah altar hitam, denyutnya seperti detak jantung yang mengguncang dinding gua.

  • Pedang Penebusan    Chapter 5: Bayang-Bayang di Istana

    Langit Elyria kembali cerah saat mobil terbang Aliansi Aurora mendarat di pelataran markas mereka, sinar matahari memantul dari menara kaca yang berkilau. Kota ini tampak hidup kembali setelah badai mereda, tapi udara masih terasa tegang, seolah alam tahu ancaman belum selesai. Di dalam markas, t

  • Pedang Penebusan    Chapter 4: Altar Kelam

    Kabut ungu di Hutan Larang semakin tebal, menyelimuti Aliansi Aurora seperti selimut basah yang berbau sihir busuk. Pohon-pohon kuno di sekitar mereka berderit, seolah berbisik tentang rahasia yang terkubur. Di depan, sebuah altar batu kuno muncul dari kabut, diukir dengan rune hitam yang berdenyu

  • Pedang Penebusan    Chapter 3: Jebakan di Hutan Larang

    Kabut ungu menyelimuti Hutan Larang, membuat pepohonan kuno tampak seperti bayangan raksasa yang berbisik. Udara terasa berat, bercampur bau tanah basah dan sesuatu yang lebih gelap seperti logam terbakar. Aliansi Aurora berjalan hati-hati, dengan Kairos Thorne di depan, tangannya menyala api keci

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status