Inicio / Urban / Pejantan Tangguh / Bab 1 : Tawaran Elisa

Compartir

Pejantan Tangguh
Pejantan Tangguh
Autor: Mooncrest

Bab 1 : Tawaran Elisa

Autor: Mooncrest
last update Fecha de publicación: 2026-09-08 12:08:50

Dewa bergegas memasuki lift begitu pintunya terbuka. Di dinding lift terpampang foto Elisa, salah satu teman sekelasnya. Wanita itu memang terpilih menjadi brand ambassador kampus tempat Dewa menimba ilmu. Namun wajah cantiknya berbanding terbalik dengan perilakunya.

Melihat wajah Elisa mengingatkan perlakuan buruk wanita itu kepadanya.

“Dewa, lo sadar nggak sih kalau lo tuh ganteng. Tapi sayang … lo bau,” ujar Elisa sambil menutup hidungnya. Refleks Dewa menciummi tubuhnya sendiri.

“Bukan bau badan,  tapi bau orang miskin. Hahaha!” sambung Elisa sambil tertawa kencang. Wajah Dewa langsung memerah. 

Sejak pertama bertemu, Elisa memang selalu mengejek Dewa. Memperlakukannya dengan kasar baik secara sikap maupun verbal. Semua perlakuan kasar itu muncul hanya karena status ekonomi sosial Dewa yang rendah di mana Elisa.

Apalagi ketika Elisa mengetahui bahwa diam-diam Dewa menyukainya. Sikap wanita itu semakin angkuh dan semena-mena.

“Dengar ya, Wa, lo nggak usah mimpi mau jadi pacar gue. Cowok miskin kayak elo nggak masuk kategori gue. Tapi kalau lo mau jadi kacung gue, bakal gue terima dengan senang hati.”

TING!

Lamunan Dewa buyar begitu mendengar suara dentingan lift. Secepatnya dia keluar lalu berjalan menuju kelasnya.

Suasana kelas terasa riuh begitu Dewa masuk ke dalam kelas. Dewa langsung menuju bangkunya di bagian depan. Tepat di depan meja Elisa, salah satu mahasiswi populer di kampus ini. Cantik dan berasal dari keluarga berada. Saat ini dia tengah merintis karier sebagai model dan sedang naik daun.

Usia Elisa tiga tahun lebih tua dari Dewa. Karena kesibukannya, wanita itu sering mengajukan cuti kuliah. Baru sekarang dia melanjutkan kuliahnya lagi dan berada satu kelas dengan Dewa.

Diam-diam Dewa menyukai Elisa. Namun perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Jangankan membalas perasaannya, Elisa yang dikenal angkuh kerap kali menghina dan mempermalukannya di depan teman-teman sekelas.

Meski Elisa kerap menghina dan mempermalukannya, perasaan Dewa tak pernah benar-benar hilang. Barangkali karena pria itu masih penasaran, apa benar Elisa tidak menyuakinya? Terkadang dia menangkap tatapan berbeda dari wanita itu.

Dewa refleks menoleh ke belakang saat kursinya ditendang Elisa dari belakang. Wanita itu menggerakkan telunjuknya, meminta Dewa mendekat.

“Heh! Lo kerja di Urban Bew, kan? Emang berapa gaji lo di sana?”

Dewa membalikkan tubuhnya lagi tanpa menjawab pertanyaan Elisa. Dia tahu wanita itu hanya ingin meledeknya, seperti yang sudah-sudah.

Tubuh Dewa tersentak ke belakang saat Elisa menarik kerah kaosnya. Wanita itu berbisik tepat di telinga Dewa. “Daripada bekerja di sana, mending kerja sama gue. Gue bisa kasih gaji lebih besar. Tertarik?”

“Nggak, makasih,” jawab Dewa singkat.

“Jangan sok jual mahal. Gue tahu lo butuh duit. Udah, kerja aja sama gue!”

Tidak ada jawaban dari Dewa.

“Belagu amat. Kere tapi belagu,” sinis Elisa.

Kesal dengan penolakan Dewa, Elisa menendang kursi yang diduduki pria itu beberapa kali.  Dewa kembali menoleh ke belakang. “Apa? Nggak suka?” tantang Elisa. Dewa kembali melihat ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kalau miskin, jangan belagu. Daftar kuliah modal SKTM, tapi gaya selangit. Lo emang ganteng, tapi kalau nggak ada duit, muka ganteng lo nggak ada gunanya,” Elisa tertawa kencang setelahnya.

Dewa mencoba mengabaikan perkataan Elisa. Hinaan seperti itu sudah sering didengarnya dari mulut wanita itu.

***

Usai perkuliahan, Dewa melangkah cepat keluar dari gedung fakultas. Karena terburu-buru, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang berlawanan arah dengannya. Barang bawaan wanita itu sampai jatuh berserakan di lantai.

“Maaf,” ujar Dewa langsung berjongkok lalu membereskan barang-barang yang berserakan.

Tanpa sengaja, mata Dewa melihat ke kaki jenjang wanita itu. Rok pendek yang dikenakannya, membuat Dewa bisa melihat lekuk kaki yang anggun dengan betis yang ramping.

Dewa segera berdiri lalu menyerahkan barang tersebut. Pria itu terdiam sejenak melihat wanita cantik yang usianya sekitar lima sampai tujuh tahun lebih tua darinya. Wanita itu tersenyum manis kepadanya.

“Sekali lagi saya minta maaf,” ujar Dewa yang masih merasa tak enak hati.

“Ot’s okay, santai aja,” jawab wanita itu sambil menatap Dewa lekat.

Setelah memberikan barang pada wanita itu, Dewa hendak melanjutkan langkahnya lagi. Namun suara wanita itu menahannya. “Tunggu,” terdengar ketukan high heels yang dikenakan wanita itu mendekati Dewa.

“Siapa namamu?” tanyanya sambil menelisik penampilan Dewa dari atas sampai bawah.  “Nama lengkapmu?” ulang wanita itu.

“Dewa Dirgantara,” jawab Dewa cepat.

“Kamu kuliah jurusan apa?” seketika wanita itu penasaran begitu melihat penampilan Dewa.

Kening Dewa berkerut. Kenapa juga wanita di hadapannya banyak bertanya tentangnya. Namun akhirnya Dewa menjawab juga pertanyaannya. “Jurusan Teknik Informatika, semester tujuh.”

Wanita itu menganggukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya. “Namaku Silvia.”

Dengan cepat Dewa membalas uluran tangan wanita itu. Telapak tangan Silvia terasa sangat lembut dan halus, seperti telapak tangan bayi. Dewa menduga Silvia jarang melakukan pekerjaan rumah.

“Senang bertemu denganmu, Dewa. semoga kita bisa bertemu lagi,” ujar Silvia sambil mengedipkan sebelah matanya.

Dewa hanya melemparkan senyum kikuk. Pria itu segera pamit dan bergegas meninggalkan Silvia.

Setelah Dewa pergi Silvia masih berdiri di tempatnya memandangi kepergian Dewa. Wanita itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. “Halo,” terdengar suara seorang pria dari seberang.

“Selidiki soal Dewa Dirgantara. Dia kuliah di Universitas Putra Bangsa, jurusan Teknik Informatika. Cari tahu semua tentangnya. Keluarganya, pendidikannya, teman-temannya, selidiki semua tentangnya dan aku ingin hasil secepatnya!”

Silvia segera mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban dari pria di seberang. Setelahnya dia kembali melanjutkan langkahnya.

***

Dua buah ketukan di atap mobil diberikan Dewa ketika angkot yang ditumpanginya sudah sampai di daerah rumahnya. Setelah membayar ongkos angkot, dengan langkah gontai Dewa berjalan memasuki gang di mana rumahnya berada.

Sayup-sayup telinganya menangkap suara seorang pria dari dalam  rumahnya. Tahu itu adalah suara penagih bank emok atau bank keliling, Dewa mempercepat langkahnya.

Di depan pintu, tampak seorang pria bertubuh gempal tengah memaki kedua orang tuanya.

“Cepat bayar!” hardik pria itu.

“Sekarang belum ada, Pak. Mudah-mudahan besok sudah ada,” jawab wanita berusia 45 tahun dengan suara bergetar. Dia adalah Nela, ibu dari Dewa.

“Giliran minjam gercep banget. Pas bayar ada aja alasannya! Kalian itu sudah tiga hari nunggak! Dasar nggak tahu diri, dikasih hati minta jantung!”

“Kalau sekarang belum ada, Pak. Besok saya usahakan.”

Dengan suara yang nyaris menangis, Nela kembali meminta waktu. Berharap hati penagih itu luluh. Dada Dewa terasa sesak melihat ibunya sampai harus membungkuk seraya menangkupkan kedua tangan. Tangannya mengepal erat menahan emosi.

“Saya mau uangnya masuk sekarang!” penagih utang itu terus memaksa.

“Sekarang tidak ada, Pak. Saya nggak bohong.”

“Besok gue bayar sekalian bunga dan denda tunggakannya!” seru Dewa dari belakang. Pria itu sudah tidak tahan melihat Ibunya terus dibentak.

Sontak pria bertubuh gempal itu membalikkan badannya. Matanya menatap tajam pada Dewa yang berjalan ke arahnya.

“Kasih waktu sampai besok. Tunggakan empat hari langsung dibayar berikut bunganya dan biaya keterlambatan.”

“Awas kalau bohong! Saya pegang ucapan kamu!”

Sambil menabrak pundak Dewa, pria itu segera meninggalkan rumah tersebut. Ada perasaan lega di hati Nela ketika akhirnya penagih itu pergi. Tapi kini kecemasan kembali melandanya. Bagaimana kalau besok Dewa tidak bisa melunasi tagihan yang tertunggak beserta bunganya?

“Wa, memangnya kamu punya uang? Tunggakan empat hari ditambah bunga dan biaya keterlambatan, mungkin hampir dua juta. Apa kamu ada uangnya?”

“Ibu tenang saja,” jawab Dewa seraya merangkul bahu ibunya demi menenangkan wanita itu.

Tidak mungkin Dewa mengatakan kalau dirinya belum memiliki uang yang dijanjinkannya besok. Takut malah menjadi beban ibunya. Pria itu masuk ke dalam rumah dengan pikiran berkecamuk.

Dewa masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. Pikirannya tertuju pada utang yang harus dibayarnya besok. Dari mana dia akan mendapatkan uang? Apalagi jumlahnya tidak sedikit. Dewa mengacak-acak rambutnya. Karena tak tega melihat ibunya terus dibentak dan dihina, Dewa nekat menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepatinya.

Kemudian dia teringat akan penawaran Elisa. Hatinya mulai dilanda kebimbangan. Di satu sisi dia membutuhkan uang, tapi di sisi lain pria itu tahu harga dirinya dipertaruhkan jika menerima tawaran Elisa.

Tak punya pilihan, akhirnya Dewa memantapkan hati menerima tawaran Elisa. Pria tu mengambil ponselnya lalu menghubungi Elisa.

“Halo,” terdengar suara Elisa dari seberang.

“Ini aku, Dewa.”

“Iya gue tahu. Ada apa?” nada suara Elisa terdengar dingin.

“S-Soal tawaranmu tadi, aku bersedia.”

“Kenapa? Bukannya lo udah kerja di Urban Brew? Masih tertarik sama uang gue?” ledek Elisa.

“Aku … butuh uang secepatnya,” ujar Dewa jujur sambil menahan malu.

“OMG! Si kere akhirnya ngaku butuh uang. Harusnya lo terima dari tadi, nggak usah sok nolak.”

“Apa tawaranmu masih berlaku?“ tanya Dewa dengan perasaan cemas.

“Sebenarnya sih nggak. Tapi … karena lo maksa, bolehlah. Gue tunggu lo di halte dekat Urban Brew jam sembilan malam. Telat semenit aja, kerjaan batal!”

“Ba—“

Panggilan diiputus begitu saja oleh Elisa sebelum Dewa menyelesaikan kalimatnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pejantan Tangguh   Bab 10 : Balasan Untuk Pengkhianatan

    Dewa sama sekali tidak menghiraukan tuduhan Eliza. Dia langsung masuk ke dalam mobil bersama Silvia. Tak lama kemudian, mobil itu langsung melaju.Eliza menghentakkan kakinya dengan kesal. Dewa sudah berani mengabaikannya dan membuatnya malu. Diam-diam Danti tersenyum melihat perlakuan Dewa kepada Eliza. Meski berteman cukup dekat, sejatinya Danti tidak terlalu menyukai Eliza yang dinilainya terlalu arogan.Sementara itu, Dewa sudah dalam perjalanan pulang ke kediaman Hendri.“Siapa perempuan tadi?” tanya Silvia memecah keheningan di antara mereka.“Dia teman sekelasku. Namanya Eliza,” jawab Dewa dengan suara pelan.“Hanya teman biasa? Kurasa dia menyukaimu,” ujar Silvia sambil melirik Dewa.“Dia menyukaiku?” tanya Dewa sambil tertawa pelan. “Sepertinya dugaanmu salah. Dia tidak mungkin menyukaiku. Aku ini nggak selevel dengannya.”“Sebagai sesama perempuan, aku yakin kalau dia menyukaimu. Sepertinya dia cemburu kepadaku.”“Sepertinya kamu salah. Aku memang sempat menyukainya. Dia itu

  • Pejantan Tangguh   Bab 9 : Keributan

    Dewa sama sekali tidak menghiraukan tuduhan Eliza. Dia langsung masuk ke dalam mobil bersama Silvia. Tak lama kemudian, mobil itu langsung melaju.Eliza menghentakkan kakinya dengan kesal. Dewa sudah berani mengabaikannya dan membuatnya malu. Diam-diam Danti tersenyum melihat perlakuan Dewa kepada Eliza. Meski berteman cukup dekat, sejatinya Danti tidak terlalu menyukai Eliza yang dinilainya terlalu arogan.Sementara itu, Dewa sudah dalam perjalanan pulang ke kediaman Hendri.“Siapa perempuan tadi?” tanya Silvia memecah keheningan di antara mereka.“Dia teman sekelasku. Namanya Eliza,” jawab Dewa dengan suara pelan.“Hanya teman biasa? Kurasa dia menyukaimu,” ujar Silvia sambil melirik Dewa.“Dia menyukaiku?” tanya Dewa sambil tertawa pelan. “Sepertinya dugaanmu salah. Dia tidak mungkin menyukaiku. Aku ini nggak selevel dengannya.”“Sebagai sesama perempuan, aku yakin kalau dia menyukaimu. Sepertinya dia cemburu kepadaku.”“Sepertinya kamu salah. Aku memang sempat menyukainya. Dia itu

  • Pejantan Tangguh   Bab 8 : Cemburu

    “Jangan lupa buah dan camilannya dimakan,” ucapan Lidya membuyarkan lamunan Dewa. Pria itu menggeleng pelan. Tidak percaya bahwa tadi dia membayangkan hal mesum bersama Lidya.Tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Lidya keluar dari kamar pria itu. Sepeninggal Lidya, Dewa menghempaskan bokongnya di kasur. Dia mengusap wajahnya kasar. Mengapa setiap berdekatan dengan Lidya dan Silvia, otak kotornya langsung bekerja?Apakah ini karena dirinya terlalu lama menjomblo?Untuk mengusir pikiran buruknya, Dewa melanjutkan pekerjaannya tadi sambil menikmati makanan yang disediakan wanita itu.Tak terasa, dua jam berlalu. Dewa menghentikan pekerjaannya lalu bersiap untuk ke kampus. Hari ini dia masih harus mengikuti ujian akhir di kampusnya.Dengan tergesa, Dewa menuruni tangga dengan tas ransel tersampir di bahunya. Di ruang tengah, dia berpapasan dengan Lidya. “Kamu mau ke mana?” tanya Lidya begitu melihat Dewa.“Aku mau ke kampus. Hari ini masih ada ujian.”“Kalau gitu biar diantar Pak Wawan,” uja

  • Pejantan Tangguh   Bab 7 : Peluang Tak Terduga

    Belum hilang rasa terkejut Dewa karena Silvia muncul tiba-tiba, sekarang wanita itu sudah menempelkan bibirnya di bibir Dewa. Bibir kenyal Silvia mulai memagutnya dengan lembut.Untuk sesaat tubuh Dewa membeku. Dia masih tidak tahu harus melakukan apa. Namun, hebatnya permainan bibir Silvia tak ayal membuat Dewa membalas ciuman wanita itu. Karena Dewa membalas ciumannya, Silvia semakin memperdalam ciumannya.Tangan Dewa mulai bergerak dan berhenti di bokong Silvia. Dia meremas bokong itu layaknya squishy.Sadar bahwa apa yang mereka lakukan bisa berakhir di atas ranjang, Silvia segera mengakhiri ciumannya. Dia memeluk leher Dewa, kemudian berbisik pelan di telinga pria itu.“Aku sangat ingin membawamu ke ranjang. Tapi sampai kamu menjadi pendonor, kita tidak bisa melakukan itu. Aku akan menunggumu.”Silvia menggigit kecil telinga Dewa, membuat tubuh Dewa meremang.Setelah itu, Silvia berenang menuju tepian. Wanita itu segera keluar dari kolam. Dewa yang masih berada di tempatnya, mema

  • Pejantan Tangguh   Bab 6 : Godaan Berdatangan

    “Apa hasil tesku sudah keluar?” tanya Dewa tak sabar.“Sudah. Sesuai prediksi, hasil tesmu baik. Kamu sehat dan tidak terdeteksi mengidap penyakit berbahaya.”“Syukurlah,” jawab Dewa senang. Setelah menjalani dua pemeriksaan, akhirnya Dewa bisa menjadi pendonor sperma.Sama seperti Dewa, Silvia juga senang mendengar hasil tesnya tidak mengecewakan. Bukan hanya Dewa yang akan mendapat bayaran sebagai pendonor sperma, Silvia juga akan mendapat bayaran yang cukup besar.“Kamu akan langsung tinggal di rumah Pak Hendri mulai hari ini,” ujar Silvia membuyarkan lamunan Dewa. “Sampai waktu inseminasi buatan terjadi, kamu akan tinggal di rumahnya. Dia ingin memastikan sendiri asupan gizimu terpenuhi dengan baik.”“Apa tidak masalah kalau aku tinggal di rumahnya? Bagaimana kalau para tetangga tahu?”Silvia tidak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Dewa. “Kamu pikir tempat tinggal Pak Hendri sama seperti tempat tinggalmu? Nggak usah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”Dewa melem

  • Pejantan Tangguh   Bab 5 : Ciuman yang Dicuri

    Tepat pukul tujuh pagi Dewa sudah berada di halte dekat gang rumahnya. Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Silvia berhenti di depan halte. Tanpa disuruh, Dewa segera masuk ke dalam mobil.Dari kursi samping, Dewa terus memperhatikan cara Silvia menyetir. Diam-diam Dewa mengagumi Silvia. Bukan hanya cantik, tapi Silvia juga perempuan yang pintar, berwawasan luas, dan mandiri. Wanita itu terlihat semakin keren saat mengemudikan mobilnya.Perjalanan menuju rumah sakit, diisi dengan perbincangan ringan. Dewa akhirnya tahu bahwa Silvia bekerja sebagai konsultan bisnis secara independen. Dia banyak mengenal orang penting di kota ini. Salah satunya adalah klien yang membutuhkan donor sperma dari Dewa.Di usianya yang sudah mencapai 30 tahun, Silvia masih betah hidup melajang. Dia tidak percaya dengan pernikahan karena kedua orang tuanya bercerai saat dirinya masih kecil. Setelah itu, kedua orang tuanya kembali menikah, tetapi bercerai lagi.Pengalaman pahit kedua orang tuanya memb

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status