Startseite / Urban / Pejantan Tangguh / Bab 2 : Harga Diri yang Terkoyak

Teilen

Bab 2 : Harga Diri yang Terkoyak

last update Veröffentlichungsdatum: 08.09.2026 12:09:34

Pukul tujuh lebih lima belas menit, Dewa sudah siap pergi. Kaos berkerah warna abu dipadu dengan jeans biru belel. Sambil menyampirkan tas ransel di bahunya, pria itu keluar dari kamar.

“Kamu mau ke mana, Wa?” tanya Nela saat melihat anaknya sudah rapi.

“Aku mau ke rumah teman, Bu. Ada yang minta dikerjakan tugasnya. Lumayan uangnya siapa tahu bisa buat nambah-nambah bayar tagihan besok,” bohong Dewa.  “Aku pergi dulu, Pak, Bu.”

Dewa mencium punggung tangan kedua orang tuanya, lalu keluar rumah. Untuk menuju halte tujuan, Dewa menaiki bus yang memang melewati halte tersebut.

Tidak lama tiba di halte, sebuah sedan mewah berhenti di depan halte. Perlahan kaca mobil turun dan  dari baliknya tampak wajah Elisa. “Masuk!” teriaknya.

Dewa bergegas masuk ke dalam mobil. Baru saja dia memasang sabuk pengaman, Elisa langsung melajukan mobilnya.

“Pekerjaan apa yang harus kulakukan?” tanya Dewa.

“Nggak usah banyak tanya!” hardik Elisa sambil melajukan mobilnya.

Dewa yang  duduk di samping Elisa, tampak gugup. Sesekali dia melirik wanita cantik di sampingnya. Dres pendek yang dikenakan Elisa sedikit terangkat memperlihatkan paha mulusnya. Mata Dewa terasa sulit teralihkan dari paha mulus itu.

Begitu tiba di kediaman Elisa, kedatangan mereka langsung disambut teman-teman Elisa yang sudah menunggu.

“Hei, kenapa baru datang?” tegur Danti, teman Elisa.

Perasaan malu menyergap Dewa saat tahu bahwa ada Danti dan Manda  yang merupakan teman sekelasnya. Selain perasaan malu, Dewa juga dibuat terkejut melihat penampilan para wanita. Semuanya mengenakan pakaian kekurangan bahan, hingga dia bisa melihat lekuk tubuh mereka.

Pesta kecil-kecilan yang diadakan Elisa langsung dimulai. Irama musik terdengar memenuhi ruangan. Kelima wanita itu asyik berjoget di tengah ruangan sambil sesekali meneguk minuman.

Dari sudut ruangan Dewa hanya bisa memperhatikan tingkah kelima orang itu yang tengah menikmati minuman sambil bergoyang mengikuti irama lagu.

Dewa menelan ludahnya susah payah. Sebagai pria normal, melihat wanita cantik mengenakan pakaian seksi, tak ayal membuat hasrat Dewa terpancing juga. Apalagi ketika dia melihat Elisa. Dres tanpa lengan yang membalut tubuhnya membuat wanita itu terlihat seksi dan menggairahkan.

 Jakun Dewa bergerak naik turun saat melihat Elisa meneguk minumannya. Seakan-akan dia juga sedang meneguk cairan beralkohol tersebut.

“Dewa!” Elisa berteriak memanggilnya. Bergegas Dewa mendatangi wanita itu. “Ayo joget!” perintah Elisa seraya menepuk bokong Dewa.

“A-Aku nggak bisa nari,” jawab Dewa gugup. Seumur hidupnya dia memang tidak pernah menari.

Elisa mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu. “Ikutin gue!” perintah Elisa.

Dewa yang masih bingung, hanya diam terpaku. Sekarang di sekelilingnya sudah berdiri teman-teman Elisa. Belum apa-apa tubuh Dewa sudah berkeringat saking gugupnya.

Elisa menarik Dewa ke dekatnya. Dia memeluk leher Dewa sambil berbisik pelan. “Kalau lo joget, gue kasih saweran.”

Mendengar kata saweran, Dewa mulai menggerakkan tubuhnya. Gerakan Dewa sangat kaku, sepintas gerakannya mirip robot. Namun pria itu tetap memaksakan diri demi uang saweran.

“Buka baju!” Elisa menarik kaos Dewa ke atas. Buru-buru Dewa menahannya. “Eh … J-Jangan!”

“Gue bayar!” Elisa menoleh ke arah teman-temannya. “Kalian harus nyawer kalau dia buka baju. Setuju?”

“Setuju!” jawab teman Elisa kompak.

Dewa hanya terpaku di tempatnya. Harus menari di depan orang-orang bahkan tanpa mengenakan baju, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun saat Elisa mengeluarkan segepok lembaran merah dari dalam tasnya, pria itu berubah pikiran.

Dewa menyingkirkan  rasa malunya. Demi uang, dia akan melakukan apa pun. Pelan-pelan pria itu melepaskan kaos yang dikenakannya. Sorak sorai teman-teman Elisa yang semuanya wanita langsung memenuhi ruangan.

Dengan gerakan seperti robot, Dewa terus memaksakan diri untuk menari. Pria itu membuang rasa malunya jauh-jauh. Kalau dengan menari bisa mendapatkan uang untuk membayar utang besok, maka dia akan melakukannya.

Empat teman Elisa langsung mendekatinya, mengelilinginya sambil sesekali meraba dadanya yang tidak tertutup apa pun. Danti mendekati Dewa seraya memeluk leher pria itu. Dia sengaja menggesek-gesekkan melon kembarnya ke dada Dewa. Jantung Dewa langsung berdegup tak karuan.

Sementara Elisa masih berada di tempatnya. Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Gadis itu mulai merekam penampilan Dewa dan teman-temannya.

Puas merekam Dewa yang sedang menari, Elisa kembali ke sofa. Kali ini mengambil satu gepok uang berwarna merah. Dia kembali ke dekat Dewa. Sambil terus merekam, wanita itu melemparkan beberapa lembar uang kepada Dewa. 

Lembaran uang itu berjatuhan ke lantai. Sambil menari, Dewa melirik ke lantai. Dia sempat menghitung uang yang ada di dekat kakinya. Jumlahnya ada lima lembar. Perhatian pria itu teralihkan saat mendengar suara Elisa.

“Gaes, kalian nggak ada yang mau nyawer Dewa gitu?”

Mendengar itu, semua teman-teman Elisa meninggalkan Dewa sejenak. Mereka mengambil dulu uang di tas masing-masing, kemudian kembali ke dekat Dewa. Sambil menari mereka melempar lembaran uang pada Dewa.

Lembaran merah muda dan biru berserakan di lantai.

“Narinya lebih seksi lagi!” teriak Elisa.

Salah seorang temannya mendekati Dewa lalu menari di dekat pria itu. Dia berdiri membelakangi Dewa. Sementara dua tangannya dikalungkan di leher Dewa. Gadis itu sengaja menggerakkan pinggul dan  bokongnya, menepelkannya ke tubuh Dewa.

“Buka celananya!” teriak Elisa.

“A-Apa?” wajah Dewa tampak terkejut. Hal seperti ini tidak pernah terlintas di benaknya.

“Ayo, buka celananya!” perintah Elisa lagi yang langsung disambut tepuk tangan dan suara tawa teman-teman wanita itu.

Dewa mematung di tempatnya.

Melihat Dewa yang hanya diam, salah seorang teman Elisa mendekat. dia berjongkok di depan Dewa dan mulai membuka sabuk di celana Dewa.

Wajah Dewa memerah saat teman Elisa mulai menurunkan celana yang dikenakannya.

“Wah, bandulannya gedong juga!” pekik teman Elisa sambil terus melihat pada senjata pusaka Dewa.

Refleks Dewa langsung berbalik. Dia hendak menarik celananya yang sudah turun sampai sebatas paha. Namun Elisa buru-buru menahannya.

“Nggak usah sok alim. Cepat buka celananya. Katanya lo mau lakuin apa kata gue!”

Sesaat Dewa hanya terdiam. Batinnya kembali mengalami pergolakan. Kemudian bayangan ibunya yang tengah dibentak debt collector berkelebat di depan matanya. Dewa pun memantapkan hatinya. Perlahan dia menurunkan kembali celananya lalu melepaskannya.

Elisa tersenyum senang melihatnya. Wanita it uterus merekam apa yang dilakukan  Dewa. Ini adalah pembalasan sempurnya darinya akibat penolakan yang dilakukan Dewa sebelumnya.

Setelah melepas celananya, Dewa kembali menari. Kali ini teman-teman Elisa semakin bersemangat menari. Mereka terus menyentuh tubuh Dewa yang untuk ukuran mahasiswa bisa dibilang tegap. Meski tak nyaman, Dewa berusaha menikmati apa yang dilakukannya. Semuanya demi uang.

Cukup lama mereka menari. Lagu yang dimainkan sudah tiga kali ganti. Keringat juga mulai membasahi kening Dewa. Namun pria itu belum berani berhenti sebelum Elisa memerintahkannya.

Rasa  letih mulai menghinggapi teman-teman Elisa, apalagi mereka semua sudah dalam keadaan mabuk. Satu per satu mereka kembali ke sofa. Terakhir Elisa menjatuhkan tubuhnya di sofa.

Karena Elisa dan  teman-temannya sudah kembali ke sofa, Dewa pun menghentikan tariannya.

“Dewa! Tuh duit ambil aja. Semuanya buat elo!” teriak Elisa. Wanita itu mengambil dompetnya lalu mengambil lembaran uang dari dalamnya. dia melemparkan uang itu ke arah Dewa. “Nih bonusnya!”

Dewa langsung berjongkok lalu memunguti lembaran uang itu satu per satu. Elisa masih tetap merekam apa yang dilakukan pria itu dari sofa. Dia sangat puas berhasil mengerjai pria itu malam ini.

Hati Dewa terasa perih saat memunguti uang di lantai. Harga dirinya sudah benar-benar dihancurkan oleh Elisa. Dengan  menyingkirkan rasa sakit di hatinya, Dewa terus memungut sampai lembar terakhir.

“Ini bonus dariku!” seru Danti. Dia menyelipkan beberapa lembar uang di dresnya. Jarinya bergerak meminta Dewa mendekat.

Dengan tangan bergetar, Dewa mengambil uang yang terselip di dres Danti, tepat di belahannya. Dia terkejut ketika tiba-tiba Danti menarik tangannya lalu mengarahkan ke msana. Secepatnya Dewa menarik tangannya sebelum sempat menyentuhnya.

Setelahnya mendapatkan semua uang saweran, Dewa mengenakan kembali pakaiannya.

“Apa aku boleh pulang sekarang?” tanya Dewa.

“Sana!” Elisa mengibaskan tangannya seperti sedang mengusir anjing.

Dewa memasukkan lembaran uang di tangannya ke dalam tas ranselnya, lalu pria itu meninggalkan rumah mewah itu.

Dewa duduk termenung di halte, menunggu bus yang tak kunjung tiba. Kemudian pria itu tersadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah tidak ada lagi bus yang beroperasi. Dewa pun mengeluarkan ponselnya. Dia hendak memesan ojek online untuk pulang ke rumah.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Pejantan Tangguh   Bab 32 : Koki Dadakan

    “Mending sambil masak, Ra, aku ceritain. Dia udah kelamaan nunggu,” jawab Dewa.Sarah meletakkan dulu tas yang dibawanya, baru kemudian melihat bahan apa saja yang sudah disiapkan Dewa.“Ini ayamnya udah dicuci?” tanya Sarah sambil menunjuk wadah berisi ayam.“Udah. Udah aku kasih perasan jeruk nipis dan garam juga,” jawab Dewa cepat.Sarah hanya mengangguk. Dia segera mengambil wajan, kemudian mengisinya dengan minyak panas. Sambil menunggu minyak panas, Sarah mengupas bawang terlebih dahulu.Setelah minyak panas, Sarah mengecilkan api kompor, baru kemudian menggoreng ayam yang sudah dicuci kembali. Suara mendesis terdengar saat Sarah memasukkan potongan ayam ke dalam wajan. Dewa langsung menjauh karena takut terkena cipratan minyak.“Jadi, gimana ceritanya sampai kamu yang diminta masak sama Bu Lidya?” tanya Sarah, melanjutkan pertanyaan yang tadi belum dijawab Dewa.“Pak Hendri lagi ada urusan bisnis ke London. Nah, kebetulan Bu Lidya pengen dimasakin suaminya. Karena Pak Hendri n

  • Pejantan Tangguh   Bab 31 : Mencari Bala Bantuan

    “Hah?” Dewa hanya terbengong-bengong mendengar nama makanan yang disebutkan Lidya. Dewa tahu makanan seperti apa itu. Namun, dia tidak tahu cara membuatnya. Pria itu hanya tahu cara memakannya saja.“Semua bahannya ada di kulkas. Jangan lama-lama, ya,” ujar Lidya dengan enteng, lalu meninggalkan Dewa begitu saja.“Kamu tahu makanan itu, Wa?” tanya Silvia.“Tahu. Tapi aku nggak tahu gimana cara buatnya,” jawab Dewa frustrasi.Keduanya kemudian duduk di kursi yang ada di dapur. Dewa segera mencari cara membuat masakan yang diinginkan Lidya melalui kanal YouTube. Dia mengetuk salah satu akun untuk melihat proses pembuatannya.“Ini kayaknya gampang,” ujar Silvia.“Gampang kalau lihat doang. Tapi, bikinnya belum tentu bisa.”“Kita ikuti caranya step by step, gimana?” usul Silvia.Dewa mengangguk tanda menyetujui usulan Silvia. Pria itu menuju kulkas, lalu mengeluarkan ayam yang sudah dipotong-potong, kangkung, dan jagung manis. Sementara itu, di meja dapur sudah tersedia bumbu untuk membu

  • Pejantan Tangguh   Bab 30 : Akhirnya Datang Juga

    “Julian nawarin kamu lokasi penelitian? Jangan bilang kalau itu di PT Nirmala?” tanya Dewa.“Iya, kok kamu tahu?” tanya Sarah terkejut.“Apa dia minta kamu buatin sistem inventaris?” Mata Dewa memicing saat menanyakan itu. Sarah itu pintar. Meski tidak sekelas, Dewa tahu bahwa temannya itu termasuk salah satu mahasiswi cerdas di angkatannya.“Kok tahu lagi? Kamu tuh udah kayak dukun aja,” jawab Sarah sambil tertawa.Dewa hanya tersenyum sinis. Rupanya kali ini Julian memanfaatkan Sarah demi menyelamatkan posisinya. Dewa menjadi heran, kenapa pria itu tidak kompeten sama sekali? Berbanding terbalik dengan citranya di kampus selama ini.Banyak yang mengatakan bahwa Julian adalah salah satu mahasiswa yang cerdas di angkatannya. Bahkan, IPK-nya di atas 3,5. Sebuah prestasi yang cukup bagus. Dewa mulai curiga, jangan-jangan semua itu didapat dengan cara memanfaatkan teman-temannya juga.“Kenapa, Wa?” tanya Sarah yang melihat Dewa tampak termenung.“Nggak apa-apa. Kamu harus hati-hati aja

  • Pejantan Tangguh   Bab 29 : Balasan Dewa

    Cukup lama Eliza terdiam di dalam kamar. Dia masih kesal karena Dewa justru membelikan daster untuknya. Namun, karena tidak punya pilihan, wanita itu mau tidak mau mengenakannya juga.Begitu keluar dari kamar, Eliza melihat senyum di wajah Dewa. Dia tahu betul arti senyuman di wajah pria itu. Dengan wajah masam, Eliza mendekatinya.“Kak, kok pake daster?” tanya Bumi sambil menahan tawanya. Penampilan Eliza berubah drastis. Dari wanita modis dengan dandanan cetar bak artis, sekarang dia berubah menjadi wanita rumahan.“Tanya sama kakak kamu!” gerutu Eliza sambil melipat kedua tangannya.“Abang tega banget. Masa Kak Eliza dibelikan daster sih? Emang nggak ada yang bagusan gitu?” tanya Bumi sambil tertawa.“Ada, tapi kebanyakan baju ibu hamil. Emangnya dia mau?” jawab Dewa santai.Nela hanya tersenyum mendengar percakapan kedua anaknya. Sepertinya Dewa senang sekali mengerjai Eliza. Wanita itu hanya menganggap wajar apa yang dilakukan Dewa tanpa tahu apa yang menyebabkan Dewa melakukan i

  • Pejantan Tangguh   Bab 28 : Pembalasan yang Manis

    Dewa langsung menoleh saat mendengar suara seperti orang terjatuh. Pandangannya tertuju pada Eliza yang sedang terduduk di sawah. Pakaian yang dikenakannya kotor oleh lumpur. Begitu juga dengan beberapa bagian tubuhnya.“Hahaha!” Dewa tak bisa menahan tawa melihat keadaan Eliza.Wanita yang selalu terlihat modis, sekarang justru dipenuhi lumpur. Tawa Dewa yang keras sampai menarik perhatian Ridwan dan Bumi. Kedua pria itu langsung mendekati Dewa.Sama seperti Dewa, mereka juga tak bisa menahan tawanya begitu melihat Eliza yang masih terduduk di sawah yang baru selesai dibajak.Mang Karna bergegas mendekati Eliza, kemudian membantunya berdiri. Karena sandalnya licin, Eliza kembali kehilangan keseimbangan. Dia kembali terjatuh dan kali ini Mang Karna ikut jatuh bersamanya. Tubuh Mang Karna menindih Eliza.Sekarang, bukan hanya tubuhnya, tetapi rambut Eliza juga sudah kotor oleh lumpur.“M-Maaf, Neng,” ujar Mang Karna sambil buru-buru bangun. Saat terjatuh, tangannya tanpa sengaja mendar

  • Pejantan Tangguh   Bab 27 : Apes

    “Emangnya kenapa?” tanya Eliza polos.Dewa hanya menggeleng. Entah Eliza ini polos atau bodoh, sepertinya batasannya sangat tipis. Pria itu kemudian mencari sandal yang bisa digunakan Eliza. Tak lama kemudian dia kembali sambil menenteng sandal jepit.“Kamu pakai ini aja,” ujar Dewa sambil meletakkan sandal di dekat Eliza.“Gue harus pakai ini?” tanya Eliza terkejut. Sandal yang dibawa Dewa sudah seperti sandal kutukan. Sandal putih itu sudah ditutupi titik-titik hitam. “Gue nggak mau. Ieuw … jelek banget sandalnya,” jawab Eliza sambil menendang sandal tersebut.“Kalau nggak mau, nyeker aja,” jawab Dewa santai sambil meninggalkan Eliza.“Dewa, tunggu!” Melihat Dewa sudah meninggalkannya, mau tidak mau, Eliza melepas high heelsnya, lalu mengenakan sandal tersebut.Eliza menyusul Dewa sambil berlari. Dia langsung memeluk lengan pria itu.“Nggak usah pegang-pegang. Ini di desa, nggak pantas kalau dilihat orang,” ujar Dewa sambil melepaskan pelukan Eliza.Jawaban Dewa membuat Eliza kesal.

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status