Home / Urban / Pejantan Tangguh / Bab 3 : Tawaran Satu Miliar

Share

Bab 3 : Tawaran Satu Miliar

Author: Mooncrest
last update publish date: 2026-09-08 12:10:32

“Mana uang yang kamu janjikan?!”

Dewa mengembuskan napas kasar. Pagi-pagi begini penagih utang sudah datang ke rumahnya. Dewa segera mengambil tas lalu mengeluarkan uang dari dalamnya. Dia merapikan dulu uang tersebut.

Dari hasil saweran Elisa dan teman-temannya, Dewa berhasil mendapatkan uang sebanyak dua juta lebih. Cukup untuk membayar tagihan hari ini. Bergegas pria itu keluar dari kamarnya. Dia langsung menemui tiga orang penagih yang menunggu di depan rumah.

Tubuh Nela menegang ketika melihat anaknya keluar. Dia takut para penagih akan memukuli Dewa jika anaknya tidak bisa memberikan uang yang dijanjikan.

“Bayarkan utang yang tertunggak beserta bunga dan biaya keterlambatannya. Total semua satu juta sembilan ratus lima puluh ribu!” seru pria bertubuh gempal pada Dewa.

Tanpa mengatakan apa pun, Dewa langsung menyerahkan uang di tangannya.

Pria bertubuh gempal itu segera menghitung uang dalam amplop. Jumlahnya pas seperti yang disebutkan tadi. Dia tersenyum puas lalu mengajak anak buahnya yang lain meninggalkan kediaman Dewa.

Ketegangan yang tadi sempat terasa, menghilang seiring dengan kepergian para penagih itu. Nela langsung mendekati anaknya. “Dari mana kamu dapat uang itu, Wa?” tanya Nela.

“Kan sudah kubilang kemarin, aku diminta mengerjakan tugas kuliah temanku. Dan bayarannya cukup besar. Ini, sisanya buat Ibu. Pakai saja buat belanja,” Dewa memberikan sisa uangnya pada Nela, lalu berangkat kerja.

***

Dewa langsung bekerja melayani pelanggan begitu kedai kopi dibuka. Kedai kopi ini juga menyediakan menu sarapan ringan. Karena lokasinya yang berdekatan dengan gedung perkantoran dan kampus, tempat ini selalu ramai di pagi hari.

Sejak datang, Dewa terus bekerja mengantarkan pesanan dari satu meja ke meja lainnya. Tak terasa waktu sudah beranjak siang dan jam kerja Dewa sudah berakhir. Pria itu bersiap menuju kampus.

Setelah berganti pakaian, Dewa bergegas keluar dari pintu belakang. Saat dia hendak meninggalkan Urban Brew, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Dari dalamnya keluar Silvia, wanita yang kemarin berpapasan dengannya di kampus.

Sambil melepas kacamata hitamnya, Silvia mendekati Dewa.

Dewa menahan napas saat Silvia semakin mendekatinya. Harum aroma parfum yang manis langsung menyapa indra penciumannya.

“Kamu butuh uang, kan?” tanya Silvia tanpa basa-basi, membuat Dewa terkejut. “Aku ada satu miliar buat kamu, tapi kamu harus temani aku makan siang. Aku akan ceritakan semuanya…”

Tanpa sadar, Dewa mengangguk singkat. Pria itu berjalan mengikuti Silvia yang berjalan menuju kafe yang letaknya ada di samping Urban Brew.

Dewa terus memandangi Silvia yang sedang memesan makanan untuk mereka. Secara fisik, Silvia tidak kalah cantik dari Elisa. Meski usianya lebih tua, tetapi wanita itu tidak  kalah memesona. Wajah cantik Silvia ditunjang oleh hidung mancung dan  bibirnya yang penuh. Belahan di bagian tengah bibirnya membuat wanita itu terlihat seksi.

Pandangan Dewa kemudian turun ke bawah. Blouse dengan model off shoulder yang dikenakan Silvia membuat Dewa bisa tak bisa mengalihkan pandangannya.

 “Apa yang Ibu mau bicarakan?” tanya Dewa untuk mengalihkan pikiran kotornya.

“Tujuanku mengajakmu bertemu karena ingin menawarkan kesepakatan denganmu. Kalau kamu bersedia menjadi pendonor sperma pada pasangan suami istri yang menginginkan keturunan, kamu akan mendapat bayaran besar.”

“A-Apa?” Mata Dewa membulat mendengar ucapan Silvia.  Seumur hidup, baru kali ini Dewa mendengar istilah donor sperma.

“Aku sudah menyeleksi beberapa orang, tapi nggak ada yang memenuhi kualifikasi.  Sampai akhirnya aku menemukanmu. Menurutku, kamu kandidat yang tepat untuk donor sperma.”

“M-Maaf, apa maksudnya dengan donor sperma? Apa aku harus melakukan hubungan—“

“Tidak ada transaksi apapun. Intinya, akan kujelaskan saat kita bertemu lagi!” Tawa Silvia seketika menghentikan ucapan Dewa. Wanita itu tidak bisa menahan tawanya melihat wajah polos Dewa yang terlihat panik.

***

Selesai makan siang, Dewa bergegas ke kampus. Pria itu langsung menuju kelasnya karena perkuliahan sebentar lagi akan dimulai.

Begitu masuk ke dalam kelas, semua temannya yang sudah datang langsung melihat padanya.  Mereka melihatnya dengan tatapan aneh. Ada yang tertawa, ada yang bersikap sinis, ada yang meledek.

Dewa mencoba mengabaikan tatapan teman-temannya. Dia segera menuju meja bagian depan yang biasa ditempatinya.

Jantung Dewa seakan berhenti berdetak saat matanya tanpa sengaja melihat ke layar ponsel yang dipegang temannya. Temannya itu sedang melihat rekaman videonya yang sedang menari kemarin malam.

Dewa menundukkan kepalanya begitu menduduki kursinya. Wajahnya memerah menahan malu. Dia berusaha mengabaikan tatapan teman-teman sekelasnya. Kedua  tangannya perlahan mengepal erat. Perasaan marah dan malu menghantamnya bersamaan.

Kali ini Eliza tidak hanya menghinanya, tetapi sudah membuat harga dirinya hancur. Apalagi ketika dia mendengar celetukan teman-temannya.

“Nggak nyangka, kamu jago nari juga ya,” celetuk salah satu teman dekat Elisa sambil tertawa.

“Gayanya mirip penari striptease!” timpal yang lain dan sukses mengundang tawa yang lain.

“Sumpah, gue sang* pas lihat dia nari!” seru Manda, teman Elisa yang ikut berpesta semalam.

“Coba nari di depan kelas sekarang. Gue bakal sawer lagi,”  Elisa mengeluarkan beberapa lembaran berwarna merah sambil mengibaskannya ke depan wajah Dewa.

“Hahaha!” tawa keras mereka membuat telinga Dewa semakin memerah.

Diam-diam dia melirik ke arah meja yang ditempati Eliza. Wanita itu tampak tertawa puas. Dewa mengetatkan rahangnya. Berusaha menekan emosi yang hendak meledak.

“Kalau up di sosmed, pasti banyak yang like tuh,” celetuk Manda.

Dewa memejamkan matanya. Dia berusaha mengabaikan perkataan temannya itu. Sepertinya malam nanti dia harus begadang. Jika video menarinya benar-benar disebar ke media sosial, dia harus mencari sumbernya dan berusaha menghapusnya sebelum semakin banyak orang melihat.

Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, Dewa paham betul bagaimana sistem komputer bekerja. Diam-diam dia mempelajari keamanan jaringan. Selain memiliki kemampuan pemrograman di atas rata-rata, Dewa juga bisa melakukan peretasan.

Suasana kelas seketika menjadi hening saat dosen yang mengajar memasuki kelas. Dewa mengeluarkan buku paket dan laptopnya. Bersiap untuk mengikuti jalannya perkuliahan.

Setelah dua jam lebih mengikuti perkuliahan, akhirnya perkuliahan berakhir. Begitu sang dosen keluar kelas, suara-suara cemoohan pada Dewa kembali terdengar. Dengan cepat Dewa memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas.

Ketika dia hendak keluar dari kelas, Elisa menghadangnya. Wanita itu berdiri tepat di depan pintu keluar. Otomatis Dewa menghentikan langkahnya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Elisa menahan langkah Dewa. Wanita itu menghalangi Dewa sampai tubuhnya terpojok ke dinding di belakangnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pejantan Tangguh   Bab 8 : Cemburu

    “Jangan lupa buah dan camilannya dimakan,” ucapan Lidya membuyarkan lamunan Dewa. Pria itu menggeleng pelan. Tidak percaya bahwa tadi dia membayangkan hal mesum bersama Lidya.Tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Lidya keluar dari kamar pria itu. Sepeninggal Lidya, Dewa menghempaskan bokongnya di kasur. Dia mengusap wajahnya kasar. Mengapa setiap berdekatan dengan Lidya dan Silvia, otak kotornya langsung bekerja?Apakah ini karena dirinya terlalu lama menjomblo?Untuk mengusir pikiran buruknya, Dewa melanjutkan pekerjaannya tadi sambil menikmati makanan yang disediakan wanita itu.Tak terasa, dua jam berlalu. Dewa menghentikan pekerjaannya lalu bersiap untuk ke kampus. Hari ini dia masih harus mengikuti ujian akhir di kampusnya.Dengan tergesa, Dewa menuruni tangga dengan tas ransel tersampir di bahunya. Di ruang tengah, dia berpapasan dengan Lidya. “Kamu mau ke mana?” tanya Lidya begitu melihat Dewa.“Aku mau ke kampus. Hari ini masih ada ujian.”“Kalau gitu biar diantar Pak Wawan,” uja

  • Pejantan Tangguh   Bab 7 : Peluang Tak Terduga

    Belum hilang rasa terkejut Dewa karena Silvia muncul tiba-tiba, sekarang wanita itu sudah menempelkan bibirnya di bibir Dewa. Bibir kenyal Silvia mulai memagutnya dengan lembut.Untuk sesaat tubuh Dewa membeku. Dia masih tidak tahu harus melakukan apa. Namun, hebatnya permainan bibir Silvia tak ayal membuat Dewa membalas ciuman wanita itu. Karena Dewa membalas ciumannya, Silvia semakin memperdalam ciumannya.Tangan Dewa mulai bergerak dan berhenti di bokong Silvia. Dia meremas bokong itu layaknya squishy.Sadar bahwa apa yang mereka lakukan bisa berakhir di atas ranjang, Silvia segera mengakhiri ciumannya. Dia memeluk leher Dewa, kemudian berbisik pelan di telinga pria itu.“Aku sangat ingin membawamu ke ranjang. Tapi sampai kamu menjadi pendonor, kita tidak bisa melakukan itu. Aku akan menunggumu.”Silvia menggigit kecil telinga Dewa, membuat tubuh Dewa meremang.Setelah itu, Silvia berenang menuju tepian. Wanita itu segera keluar dari kolam. Dewa yang masih berada di tempatnya, mema

  • Pejantan Tangguh   Bab 6 : Godaan Berdatangan

    “Apa hasil tesku sudah keluar?” tanya Dewa tak sabar.“Sudah. Sesuai prediksi, hasil tesmu baik. Kamu sehat dan tidak terdeteksi mengidap penyakit berbahaya.”“Syukurlah,” jawab Dewa senang. Setelah menjalani dua pemeriksaan, akhirnya Dewa bisa menjadi pendonor sperma.Sama seperti Dewa, Silvia juga senang mendengar hasil tesnya tidak mengecewakan. Bukan hanya Dewa yang akan mendapat bayaran sebagai pendonor sperma, Silvia juga akan mendapat bayaran yang cukup besar.“Kamu akan langsung tinggal di rumah Pak Hendri mulai hari ini,” ujar Silvia membuyarkan lamunan Dewa. “Sampai waktu inseminasi buatan terjadi, kamu akan tinggal di rumahnya. Dia ingin memastikan sendiri asupan gizimu terpenuhi dengan baik.”“Apa tidak masalah kalau aku tinggal di rumahnya? Bagaimana kalau para tetangga tahu?”Silvia tidak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Dewa. “Kamu pikir tempat tinggal Pak Hendri sama seperti tempat tinggalmu? Nggak usah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”Dewa melem

  • Pejantan Tangguh   Bab 5 : Ciuman yang Dicuri

    Tepat pukul tujuh pagi Dewa sudah berada di halte dekat gang rumahnya. Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Silvia berhenti di depan halte. Tanpa disuruh, Dewa segera masuk ke dalam mobil.Dari kursi samping, Dewa terus memperhatikan cara Silvia menyetir. Diam-diam Dewa mengagumi Silvia. Bukan hanya cantik, tapi Silvia juga perempuan yang pintar, berwawasan luas, dan mandiri. Wanita itu terlihat semakin keren saat mengemudikan mobilnya.Perjalanan menuju rumah sakit, diisi dengan perbincangan ringan. Dewa akhirnya tahu bahwa Silvia bekerja sebagai konsultan bisnis secara independen. Dia banyak mengenal orang penting di kota ini. Salah satunya adalah klien yang membutuhkan donor sperma dari Dewa.Di usianya yang sudah mencapai 30 tahun, Silvia masih betah hidup melajang. Dia tidak percaya dengan pernikahan karena kedua orang tuanya bercerai saat dirinya masih kecil. Setelah itu, kedua orang tuanya kembali menikah, tetapi bercerai lagi.Pengalaman pahit kedua orang tuanya memb

  • Pejantan Tangguh   Bab 4 : Ditusuk Dari Belakang

    Untuk sesaat, Dewa tidak fokus. Aroma parfum Elisa bulatan kenyalnya yang menempel ke dadanya membuat pria itu terdiam sesaat. Namun dia berhasil menguasai dirinya lagi.“Pulang,” jawab Dewa cepat. Mengingat kejadian semalam, Dewa enggan berurusan lagi dengan Elisa. Apalagi wanita itu bermaksud menyebarkan video semalam ke media sosial.“Malam ini ada pesta lagi. Lo datang ya!” Elisa sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh yang lain.“Maaf, aku nggak bisa,” tolak Dewa tanpa basa-basi.“Sok nolak lagi? Yakin? Nanti ujung-ujungnya lo telepon gue lagi dan terima tawaran gue,” jawab Elisa dengan tatapan meledek.Tanpa sengaja, Dewa melihat salah satu dosennya melintas. Secepatnya dia keluar dari kelas. Pria itu mendorong tubuh Elisa dengan bahunya dan hampir membuatnya terjatuh. “Dewa!” sentak Elisa. Namun diabaikan begitu saja oleh Dewa. Dengan langkah tergesa, dia menyusul Bisma.“Brengsek!” maki Elisa sambil mengepalkan kedua tangannya.Dewa terus berjalan berusaha menyusul

  • Pejantan Tangguh   Bab 3 : Tawaran Satu Miliar

    “Mana uang yang kamujanjikan?!”Dewa mengembuskannapas kasar. Pagi-pagi begini penagih utang sudah datang ke rumahnya. Dewasegera mengambil tas lalu mengeluarkan uang dari dalamnya. Dia merapikan duluuang tersebut.Dari hasil saweranElisa dan teman-temannya, Dewa berhasil mendapatkan uang sebanyak dua jutalebih. Cukup untuk membayar tagihan hari ini. Bergegas pria itu keluar darikamarnya. Dia langsung menemui tiga orang penagih yang menunggu di depan rumah.Tubuh Nela menegangketika melihat anaknya keluar. Dia takut para penagih akan memukuli Dewa jikaanaknya tidak bisa memberikan uang yang dijanjikan.“Bayarkan utang yangtertunggak beserta bunga dan biaya keterlambatannya. Total semua satu jutasembilan ratus lima puluh ribu!” seru pria bertubuh gempal pada Dewa.Tanpa mengatakan apapun, Dewa langsung menyerahkan uang di tangannya.Pria bertubuh gempalitu segera menghitung uang dalam amplop. Jumlahnya pas seperti yang disebutkantadi. Dia tersenyum puas lalu mengajak anak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status