Mag-log inAlis Arvendra sedikit berkerut. “Sabuk pengaman.”
Tangan besar itu terulur perlahan, menyelip melewati sisi tubuh Anindya. Dalam satu gerakan pasti, dia meraih sabuk pengaman dan menariknya begitu saja. Bahu Anindya otomatis menegang saat kain sabuk itu melintasi tubuhnya.
Klik.
Suara kunci seat belt terdengar jelas di antara mereka.
“Sudah.” Arvendra kembali bersandar, pandangannya lurus ke jalan, seolah hal itu sama sekali bukan perkara besar.
Anindya mematung, pipinya panas terbakar. Dalam hati dia berteriak, ‘Astaga, Anin … kamu kira dia mau apa barusan?!’ Malu sendiri, dia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela.
Arvendra sempat melirik sekilas. Ekspresi gadis itu jelas kacau, meski dia berusaha keras menutupinya. Sudut bibir pria itu terangkat samar. Sekilas saja, cukup untuk dirinya sendiri.
Mobil mulai melaju pelan. Hening sesaat, hanya suara mesin yang terdengar.
Namun, Anindya berkali-kali melirik ke arah Arvendra. Bukan untuk mencari perhatian, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi.
“Pak Arven.” Akhirnya Anindya memberanikan diri bicara, meski ragu. “Motor saya masih di kosan. Kalau sampai ditarik orang proyek, saya … saya nggak punya apa-apa lagi.”
Arvendra menoleh sekilas. “Nanti saya suruh orang ambilkan.”
“Tapi kuncinya ada di saya,” sahut Anindya cepat, takut kalau pria itu tidak mengerti maksudnya.
“Diangkut saja pakai pick-up.” Arvendra menjawab singkat, penuh kepastian, seakan masalah itu remeh.
“Tapi–”
Tatapan Arvendra kembali menyapu wajah gadis itu. Hanya sekilas, tapi cukup membuat Anindya diam. “Kalau kamu percaya mengendarai motor lebih aman di jalanan malam ini, silakan turun dan urus sendiri. Tapi kalau kamu masih ingin selamat, biarkan saya yang atur.”
Hening. Anindya menunduk, bibirnya terkatup rapat. Kata-kata itu keras, tapi sulit dibantah. Mengendarai motor seorang diri di tengah malam memang berbahaya, apalagi untuk gadis sepertinya. Jemarinya refleks mencengkeram tali tas di pangkuan.
Perbedaan usia mereka terasa mencolok. Arvendra tampak terlalu dewasa, penuh kendali, sementara dirinya hanya bisa menunduk patuh. Untuk sesaat, Anindya benar-benar merasa seperti anak kecil yang sedang ditegur ayahnya.
Selang tiga puluh menit, Jeep hitam itu akhirnya memasuki pekarangan rumah bergaya modern-minimalis. Sepi. Tentu saja. Ini sudah lewat tengah malam.
Arvendra turun lebih dulu, lalu tanpa banyak kata menunggu di sisi pintu penumpang. Tatapannya hanya memberi satu isyarat: ikut.
Begitu masuk, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut. Arvendra membimbingnya menuju kamar tamu di lantai bawah. Pintu dibuka, memperlihatkan ruangan yang jauh lebih luas daripada kamar kos Anindya. Ada ranjang queen, lemari tinggi, meja kerja, bahkan kamar mandi dalam.
“Tenang saja, Anin. Saya tidak akan menagih biaya sewa,” ucap Arvendra akhirnya, suaranya datar, tapi dengan nada samar menyerupai seloroh.
Anindya tertegun. Sekejap, dia hanya bisa menatap pria itu, mencoba memastikan barusan dia tidak salah dengar. Jadi … pria matang, dingin, dan terlihat menakutkan ini, bisa bercanda juga?
“Ah … iya, Pak. Terima kasih.” Anindya buru-buru menunduk.
Arvendra tidak menanggapi lebih jauh. Hanya satu anggukan tipis, lalu pria itu melangkah pergi menuju kamarnya.
Anindya berdiri kaku beberapa detik, baru kemudian menutup pintu kamar tamu.
__
Dor! Dor! Dor!
Pintu kamar digedor keras dari luar keesokan paginya.
Anindya yang sedang sibuk mengenakan celana langsung terlonjak. Hampir saja dia terjatuh gara-gara resleting yang tersangkut.
“Sebentar!” seru Anindya panik. Dia buru-buru merapikan blus kusut, menyibakkan rambut yang acak-acakan, lalu membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, senyum manis langsung menyambutnya. Elvio berdiri di ambang pintu dengan piyama biru bergambar dinosaurus, mata abu-abu pucatnya berbinar penuh semangat.
“Kak Anin! Kak Anin tinggal di rumah El sekarang?” tanya Elvio riang.
Anindya membeku, pipinya memanas. Anak ini seolah menyambutnya seperti putri raja yang baru pulang.
“Kak Anin cuma numpang sebentar, El,” jawab Anindya kikuk.
“Tapi itu artinya Kak Anin akan sering ketemu El, ‘kan?” Elvio bersorak kecil, lalu tanpa basa-basi menggenggam tangan Anindya. Jemari mungil itu hangat, penuh tenaga, menyeretnya keluar kamar. “Cepat! Papa udah nunggu di meja makan.”
Ketika sampai, Anindya sontak berhenti di ambang ruang makan. Di ujung meja panjang, Arvendra sudah duduk dengan kemeja santai abu-abu, lengan digulung, secangkir kopi mengepul di dekat tangan.
‘Aduh … semalam aja aku udah salah tingkah. Sekarang harus sarapan bareng? Wajahku harus ditaruh di mana?’ batin Anindya panik.
Elvio langsung menarik kursi di sebelahnya. “Kak Anin duduk sini!” serunya riang.
Begitu Anindya duduk, bocah itu menatap Anindya penuh kekaguman. “Papa, Kak Anin cantik ya? Aku pernah bilang, kalau nanti aku sudah besar mau punya pacar seperti Kak Anin.”
“E-Elvio …” Anindya nyaris terbatuk, pipinya seketika panas membara.
Arvendra hanya mengangkat alis tipis, menyesap kopinya tanpa komentar. Tatapannya sempat menyapu wajah Anindya, tapi cepat kembali ke tablet di tangannya.
Elvio cengengesan puas melihat reaksi kedua manusia dewasa itu, lalu meraih gelas susu di depannya. Tangannya terlalu bersemangat sampai–bruk! Gelas itu terguling, susu tumpah ke meja, bahkan sedikit mengenai lengan Anindya.
“Astaga!” Anindya refleks berdiri, tangannya buru-buru hendak meraih kotak tisu. Namun hampir bersamaan, tangan besar itu juga sampai di sana. Jemari mereka nyaris bersentuhan, hanya terpisah selembar kertas putih.
Anindya buru-buru mendongak, dan tepat saat itu, tatapan hazel Arvendra bertemu dengan mata hitamnya.
“A-anu … saya–” suara Anindya tercekat. Dia cepat-cepat menarik tangannya, wajahnya memanas sampai telinganya ikut merah.
Arvendra tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengambil beberapa lembar tisu, lalu mengulurkan ke arah gadis yang sedang panik itu. “Untuk lenganmu,” ucapnya singkat.
Anindya menerima tisu itu dengan jemari gemetar, lalu duduk kembali sambil menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang merah padam.
Suasana yang tadinya hening langsung pecah ketika Elvio terkekeh keras.
“Papa sama Kak Anin kayak pasangan di drama!” celetuk Elvio polos.
Anindya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
‘Ini semua gara-gara kamu, Bocah,’ rutuknya dalam hati.
Arvendra yang baru membersihkan tumpahan susu, akhirnya bersuara, “Kalau drama, biasanya ada adegan lanjutannya.”
Dia menatap Anindya singkat, tapi cukup untuk membuat gadis itu membeku.
‘Adegan lanjutan apa maksudnya?!’ batin Anindya bingung.
Makasih banget buat kalian yang udah bertahan sampai halaman terakhir. Serius, kalian kuat. Soalnya plotnya kadang beloknya lebih tajam dari tikungan sinetron azab. Tapi kalian tetap di sini, tetap baca, tetap sabar. Jadi, kalau ada penghargaan pembaca paling tabah, itu harusnya kalian yang menang sih!Dan makasih sudah nemenin perjalanan Mas Duda (yang sekarang udah nggak duda lagi) dan Anin sampai akhirnya mereka benar-benar pulang satu sama lain.Jangan lupa baca karya aku yang terbaru judulnya “Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun”.Boleh juga follow medsos aku @me.duvessa atau Tt @duskovduvessa kita ngobrol-ngobrol di sana ya :)
“Samudra bersama Mami saja ya? Kita main sama Rose,” bujuk Ivelle lembut, berlutut agar sejajar dengan tinggi Samudra. Dia menunjuk ke arah Rose yang sedang duduk di karpet ruang tamu, sibuk mengatur boneka Barbie dengan aksen Inggris kecil yang lucu.Samudra melirik ke arah Anindya dan Arvendra bergantian. “Papa sama Miya mau ke mana?”“Keliling sebentar,” jawab Anindya, berusaha terdengar santai padahal jantungnya berdebar aneh. Entah kenapa, pergi berdua seperti ini terasa lama tidak dilakukan.Thomas ikut mendekat, menepuk bahu kecil Samudra. “Papa sama Miya mau kencan dulu sebelum pulang ke Indonesia.”Anindya langsung melirik suaminya. “Kencan katanya.”Arvendra mengangkat alis tipis. “Mas nggak nolak.”Samudra masih berdiri di tempat, wajahnya penuh kecurigaan kecil. “Kencan itu lama nggak?”“Nggak lama,” jawab Anindya cepat.Thomas menambahkan dengan nada konspiratif, “Paling cuma jalan, makan, terus pulang. Kamu malah dapat teman main baru.”Rose berlari kecil mendekat. “Sam,
“Selamat datang di London,” sambut wanita bermata biru itu hangat sambil membuka pintu rumahnya lebar.Ivelle berdiri di ambang pintu. Rambut pirangnya digerai rapi, mata birunya tetap seterang dulu. Di tangannya tergenggam tangan seorang anak perempuan berambut cokelat terang, mungkin tujuh atau delapan tahun usianya. Wajahnya campuran Eropa yang lembut. Di belakang mereka berdiri Thomas, tinggi, rapi, dengan senyum yang lebih matang dari terakhir kali mereka bertemu.Perjalanan tujuh belas jam di udara akhirnya terbayar begitu udara dingin London menyentuh kulit. Kelelahan masih menempel di tubuh, tetapi suasana di depan pintu itu membuat semuanya terasa lebih ringan.“Mbak Ive, apa kabar?” sapa Anindya duluan dengan senyum hangat.“Baik,” jawab Ivelle sambil mendekat dan memeluk Anindya singkat. “Kamu makin cantik aja.”Anindya terkekeh kecil. “Mungkin karena ada donatur, Mbak. Kalau nggak ada, aku nggak bisa perawatan.”Arvendra yang berdiri di belakang Anindya mendengus pelan. “
“El, beneran mau kuliah di London?”Pertanyaan itu sudah Anindya ulang berkali-kali sejak seminggu terakhir, tapi tetap saja rasanya belum siap menerima jawaban yang sama.Di hadapannya sekarang duduk seorang pemuda tujuh belas tahun dengan bahu lebar dan sorot mata tenang. Anak yang dulu dia ajarkan matematika sambil ngambek karena salah hitung, sekarang sudah bicara soal visa, kampus, dan masa depan.Waktu memang tidak pernah pelan. Waktu selalu berlari, meninggalkan ibu-ibu yang belum selesai memeluk anaknya.Padahal sejak bulan lalu Elvio sudah resmi diterima di Brunel University London. Bahkan sudah mendaftar sekolah balap untuk mengejar mimpi lamanya, yaitu Formula 1. Mimpi yang dulu pernah Arvendra tolak mentah-mentah, lalu diam-diam dia dukung dari belakang.Tetap saja, mengetahui besok pagi anak itu benar-benar akan pergi, rasanya seperti ada bagian kecil di dada Anindya yang ikut dibawa.“Miya,” jawab Elvio sabar, nada suaranya sekarang jauh lebih dalam daripada dulu, “aku u
Tangan Arvendra sudah sampai di punggung Anindya. Jemarinya menemukan kaitan bra itu tanpa kesulitan, seolah hafal letaknya bahkan tanpa melihat.Anindya menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.Klik. Kaitan itu terlepas hanya dengan satu tangan. Terlalu mudah, terlalu terbiasa.“Kalau nggak nyaman, bilang,” bisik Arvendra dekat sekali, bibirnya hampir menyentuh telinga istrinya.Anindya tersenyum kecil. “Aku lagi sama kamu, Mas. Nggak ada yang nggak nyaman.”Kalimat itu cukup untuk menjatuhkan sisa kendali. Ciuman mereka kembali bertaut. Lebih dalam, lebih rakus. Tangan Arvendra turun tanpa ragu, menjelajah lekuk tubuh istrinya dengan sentuhan yang sudah terlalu lama dia tahan. Telapak tangannya mencengkeram, mengusap, menegaskan rasa rindu yang selama ini hanya dia simpan di kepala.Seolah tubuh Anindya adalah jawaban atas semua penantian itu. Dan detik itu juga posisi mereka berbalik.Yang tadi menggodanya, kini justru terengah.“Mas …” Napas Anindya pecah saat ciuman terle
Dengan kemeja longgar dan celana pendek selutut, Arvendra duduk di sofa kamar sambil menatap tablet kerjanya. Stylus di tangannya bergerak, garis demi garis bangunan terbentuk rapi, presisi, terkendali.Samudra yang kini sudah berumur tiga bulan, telah tertidur di kamarnya. Begitu pula Elvio. Malam sudah cukup larut untuk membuat rumah itu akhirnya hening.Sejak Anindya melahirkan, hidup mereka berubah. Bukan rasa. Bukan pula kedekatan, tapi ritmenya. Yang dulu selalu berdua sekarang sering sengaja berjarak. Yang dulu terbiasa saling menyentuh sekarang harus saling menahan.Bukan karena tidak mau. Justru karena terlalu mau.Larangan Aryasena itu jelas. Arvendra bukan pria bodoh yang menukar kesehatan istrinya dengan keinginannya sendiri. Dia terbiasa menunggu. Masalahnya, tubuh tidak pernah diajari bersabar.Dan sialnya, setelah melahirkan, Anindya bukannya berubah biasa saja. Wanita itu makin menggoda.Setiap kali Anindya lewat, sesuatu di dalam dirinya langsung bangun. Naluri laki-l







