Share

Bab 2: Penggusuran

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-04 12:20:57

‘Ya Tuhan … aku harus ke mana sekarang?’ batin Anindya gemetar.

“Ayo! Cepat berkemas semuanya! Jangan cuma bengong!” suara Ibu Kos tiba-tiba menggema keras dari ujung lorong. Napasnya memburu, keringat bercucuran meski malam sedang dingin. “Kalau kalian lambat, barang-barang bisa diangkut paksa! Cepat!”

Seorang penghuni pria bersuara lantang. “Bu, katanya masih ada waktu sebulan lagi! Kok sekarang udah digusur?” protesnya.

“Mana aku tahu! Aku juga baru dapat surat sore tadi. Katanya tanah ini sudah harus kosong mulai minggu ini. Mereka nggak mau dengar alasan lagi!” balas Ibu Kos ketus.

Anindya membeku di depan pintu, jantungnya berdegup tak karuan. Dia melirik tas ransel yang lusuh di pojok kamar, tumpukan buku kuliah, dan koper kecil peninggalan ibunya. Semuanya terasa terlalu banyak untuk dibawa sekaligus, tapi dia tidak punya pilihan.

“Anin! Kamu masih bengong? Cepat masukin barangmu, nanti keburu aparat masuk!” Lestari mengguncang lengan gadis itu dengan panik.

Dengan pasrah, Anindya mulai berkemas. Jemarinya gemetar saat meraih koper, memasukkan pakaian dan buku dengan sembarangan. Suara gaduh dari luar makin jelas. Mesin buldoser meraung, logam beradu keras, teriakan aparat bercampur dengan tangis anak-anak yang kebingungan.

‘Kenapa harus sekarang? Kenapa harus malam ini?’ pikirnya. Dada terasa sesak.

Dengan napas terengah, Anindya menyeret koper sambil menggendong ransel lusuh keluar kamar. 

Di luar, jalanan padat oleh kendaraan proyek. Lampu buldoser menyilaukan, truk-truk besar berjajar. Di seberang, papan besar berdiri tegak:

[Nagara Residence–Hunian Modern Sentra Kota]

Anindya menatapnya dengan perih. Jadi benar, tempat tinggal yang menemaninya sejak awal kuliah ini akan hilang begitu saja, diganti bangunan megah.

Saat hendak pergi, pandangan Anindya tertumbuk pada motor bututnya yang masih terparkir di halaman kos. Satu-satunya alat transportasi yang dia miliki. Panik, dia buru-buru mencoba masuk lagi.

“Pak, sebentar! Motor saya masih di dalam!” seru Anindya.

Seorang pria berseragam proyek dengan helm putih langsung menghadangnya. “Mbak, keluar! Area ini sudah ditutup!”

“Tapi motor saya–”

“Keluar saya bilang!” bentak pria itu. Tangannya mendorong bahu Anindya hingga tubuh gadis itu terhuyung.

Koper yang Anindya tarik oleng, hampir terlepas dari genggaman. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan justru punggungnya menabrak dada seseorang. Hangat, keras, membuat langkahnya seketika berhenti.

Anindya buru-buru menengok, jantungnya berpacu liar. Wajah asing? Bukan. Tatapan itu terlalu familiar. Hazel, dingin, berwibawa.

Arvendra. Untuk apa pria itu ada di sini?

“Sejak kapan cara bekerja perusahaan kalian sampai melibatkan kekerasan fisik?” Suara Arvendra berat, tegas, menebas bising mesin di sekitar. Tatapannya menusuk arsitek lapangan yang tadi mendorong Anindya. “Atau memang itu satu-satunya cara kalian mengeksekusi proyek?”

Arsitek itu sontak kaku melihat Arvendra. Namun genggamannya pada map biru mengeras, berusaha menjaga wibawa di depan para pekerja.

“Ini proyek kami, Arvendra. Kamu tidak punya hak ikut campur,” kata si arsitek itu dengan nada tinggi.

Arvendra melangkah maju, tubuhnya menjulang hingga pria itu otomatis mundur setengah langkah. “Kalau yang kalian sebut eksekusi hanya berupa dorongan dan teriakan, itu bukan profesional. Itu pelecehan.”

Anindya berdiri kaku di samping Arvendra, dadanya naik-turun cepat. Dia merasa begitu kecil di antara percakapan dua pria yang jelas punya urusan jauh lebih besar dari dirinya.

“Dan kamu.” Tatapan hazel milik Arvendra kembali menusuk ke arah si arsitek. “Sentuh dia lagi, dan saya pastikan tanganmu tidak akan pernah menggambar proyek seumur hidupmu.”

Arsitek itu mendengus keras, tapi sorot matanya jelas gentar. Dia akhirnya menyingkir dengan wajah kelam, memilih menelan rasa malu di depan para pekerja.

Anindya masih terpaku di tempat. Koper menggantung lemah di tangannya, napasnya kacau, seakan paru-parunya menolak bekerja.

Tatapan Arvendra beralih pada gadis itu. “Kamu masih mau berdiri di sini sampai buldoser menabrakmu?”

Anindya tersentak. “S–saya … tidak, Pak.”

“Kalau begitu, ikut.”

Entah kenapa, kaki Anindya langsung bergerak mengikuti Arvendra, seolah tubuhnya patuh begitu saja. Dia menyeret koper lusuhnya, langkahnya kecil dan ragu, seperti dihipnotis oleh wibawa pria itu.

Begitu tiba di samping Jeep hitam yang terparkir di tepi jalan, Arvendra berbalik. Tatapannya turun, menelisik wajah Anindya yang berantakan.

“Kamu mau ke mana?” tanya Arvendra dengan suara berat, lebih rendah dari sebelumnya, seolah sengaja meredam nada tajamnya.

Anindya menelan ludah. “Belum tahu, Pak,” jawabnya jujur.

Dan memang benar, Anindya sama sekali tak punya tujuan. Menghubungi teman di tengah malam begini terasa tak sopan.

Pulang ke rumah di desa? Mustahil, jaraknya terlalu jauh, sedangkan besok dia masih harus kuliah.

Menginap di hotel? Yang benar saja! Uangnya bahkan tidak cukup untuk satu malam. Lebih baik disimpan untuk biaya kos baru.

Akhirnya Anindya menunduk, jemarinya saling mencengkeram. “Saya … benar-benar tidak tahu harus ke mana.”

Arvendra menatap Anindya lama, seolah menembus setiap lapisan kegelisahan di wajah gadis itu. Lalu perlahan dia membuka pintu mobil.

“Kalau begitu, ikut saya.”

Anindya terperanjat. “K-kemana, Pak?” Lidahnya kelu, bayangan buruk langsung berkelebat. Dia seorang gadis muda, dan pria di depannya lelaki dewasa. Bagaimanapun, dia tetap merasa rawan di hadapannya.

“Rumah saya cukup besar.” Suara berat Arvendra, meluncur tenang seperti milik seseorang yang tahu persis besarnya kuasa yang dia genggam. Senyum samar melintas di bibirnya. “Elvio akan senang kalau kamu ada di sana. Tinggal sementara, sampai kamu menemukan tempat lain.”

Deg.

Jantung Anindya serasa melompat ke tenggorokan. Otaknya menjerit menolak, tapi hatinya sadar, dia tidak punya pilihan lain.

“Jadi bagaimana, Anindya? Mau tidur di pinggir jalan dengan kopermu, atau ikut saya ke rumah yang jelas ada atapnya?”

__

“Terima kasih, Pak. Sudah mau menampung saya,” ucap Anindya setelah duduk di kursi penumpang. 

Anindya tahu ini bukan pilihan ideal, tapi apalagi yang bisa dia lakukan? Lagi pula, setahunya pria ini jarang pulang ke rumah. Kalau begitu, mungkin dia akan lebih leluasa.

Eh, memangnya dia mau tinggal selamanya di sana? Tidak juga, ‘kan?

“Oke.” 

Satu kata singkat, tenang, dan entah kenapa justru membuat keraguan makin menggelayuti benak gadis itu. Apakah pria ini benar-benar ikhlas menolong?

“Saya janji, kalau sudah dapat tempat tinggal baru, saya akan segera pindah,” jelas Anindya buru-buru, seakan ingin menegaskan batas.

“Tidak masalah.” Setelah berkata demikian, Arvendra menyalakan mesin Jeep.

Dengung halus, tapi bertenaga langsung memenuhi kabin yang tertutup rapat. Namun, tidak langsung menjalankannya. Sebab dari sudut mata, pria itu melihat gadis di sampingnya berkutat dengan sabuk pengaman. Jemari mungil itu berkali-kali terpeleset, wajahnya semakin merah, sedangkan bibirnya mengerucut kesal.

“Hh …,” gumam Anindya frustrasi, pelan tapi jelas.

Arvendra menghela napas pelan. Gadis ini bahkan terlihat seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Tanpa banyak pikir, dia condong mendekat.

Anindya langsung menegang. Ketika jarak di antara mereka merapat, napasnya tercekat. Dengan refleks, dia mendorong dada pria itu.

“P-Pak Arven … mau apa?” tanya Anindya gugup.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 180: Hidup Baru

    Arvendra, Elvio, dan Ivelle masuk ke restoran hotel The St. Regis yang tenang dan tertata rapi. Di salah satu meja dekat jendela, seorang pria bule sudah menunggu.Begitu mereka mendekat, pria itu berdiri dan tersenyum ramah.“Halo,” sapanya hangat.Ivelle langsung duduk di samping pria itu, sementara Arvendra dan Elvio mengambil kursi di seberang.“Kenalin, ini Thomas.” Ivelle lalu menoleh ke Arvendra. “Maaf aku ngajak kalian jauh-jauh ke sini. Tapi aku pikir Singapura tempat yang paling netral. Tidak terlalu dekat dengan masa lalu, dan tidak terlalu jauh dari hidup kita sekarang.”“Lagipula,” lanjut Ivelle, “setidaknya Elvio dan Thomas bisa bertemu langsung. Sebelum semuanya resmi.”Arvendra mengangguk pelan. “Nggak apa-apa. Kita sekalian liburan,” katanya, lalu melirik Elvio. “Iya, ‘kan, El?”Elvio mengangguk antusias. “Iya, Papa.”Tidak dipungkiri, jantung Arvendra kini berdebar. Bukan karena marah. Bukan pula karena cemburu. Lebih seperti perasaan terintimidasi yang datang tanpa i

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 179: Tiga Tahun Berselang

    “Mbak Lara, besok mau golf nggak? Katanya di dekat hotel tempat kita nginep ada lapangan golf yang bagus,” tanya pria yang sedang menyetir mobil van itu.Juan, asisten sekaligus sopir Anindya selama dua tahun terakhir, melirik sekilas lewat kaca spion.Anindya yang sejak tadi memandangi jalanan Singapura yang rapi, bersih, dan nyaris tanpa cela, menoleh. “Boleh. Tapi runway untuk besok udah siap semua belum, Juan?”“Santai, Mbak. Udah aman semua.”Mobil melaju mulus, seperti hidup Anindya sekarang, teratur, cepat, dan tampak sempurna dari luar.Tiga tahun.Sudah tiga tahun berlalu sejak hari pembatalan pernikahan itu. Sejak hari ketika dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri, meski harus meninggalkan banyak hal di belakang.Indra pulih lebih cepat dari dugaan dokter. Stroke itu meninggalkan bekas, tentu saja, tapi tidak merenggut ayahnya darinya. Anindya menebus rasa bersalahnya dengan cara paling konkret, yaitu merenovasi rumah Indra di desa, memastikan pria itu tidak lagi hidup da

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 178: Akhirnya Terbebas

    “Silakan lihat sendiri,” ujar Anindya tenang, suaranya datar tapi tajam. Dia menyodorkan ponselnya ke tengah meja. “Hanya orang yang benar-benar menutup mata yang masih mau melanjutkan pernikahan ini setelah melihat apa yang ada di sini.”Ruangan kecil di samping gereja itu terasa pengap. Zafran duduk kaku di kursinya. Darsa beserta istri di sisi berlawanan. Indra dan Nani di ujung meja, wajahnya tegang. Lidya duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan, terlalu tenang untuk seseorang yang sebentar lagi akan terbongkar.Suami Lidya dan anak perempuannya tidak ada di ruangan itu. Anindya sendiri yang meminta mereka menunggu di luar. Bukan apa-apa, ada hal-hal yang tidak pantas disaksikan anak kecil, dan karena dia tidak mau ada distraksi emosional yang bisa dipakai untuk memelintir keadaan.Video itu diputar. Tidak ada sensor. Tidak ada penjelasan tambahan.Zafran dan Lidya. Di kamar hotel. Bukan hanya tubuh, tetapi rencana.Suara mereka terdengar jelas. Tentang warisan. Te

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 177: Pernikahan?

    “Nona, mempelai pria sudah tiba.”Suara penata rias itu menarik Anindya kembali ke tubuhnya sendiri usai Arvendra pergi. Dia menoleh seketika. Air mata di pipinya belum sepenuhnya kering, dan dia tidak berusaha menghapusnya. Biarlah. Kalau hari ini memang harus jadi hari terburuk dalam hidupnya, dia tidak ingin berpura-pura kuat.“Baik,” ucap Anindya pelan. “Boleh bantu saya berdiri?”Penata rias menghampiri, menahan gaun Anindya agar tidak terseret. Langkahnya terasa berat saat pintu ruang rias dibuka. Musik gereja mengalun lembut, terlalu damai untuk dada yang sedang berantakan.Saat Anindya melangkah masuk, Zafran sudah berdiri di depan altar. Rapi, tenang, tersenyum seolah tidak ada dosa yang baru saja dia sembunyikan rapi di balik jasnya.Anindya mengedarkan pandangan. Di barisan keluarga, Lidya ikut tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang sedang menikmati pertunjukan yang dia sutradarai sendiri.Semua orang tampak baik-baik saja. Semua orang tampak bahag

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 176: Dia Datang

    Bohong kalau Anindya tidak berdebar duduk berhadapan begini dengan Arvendra. Bohong kalau hatinya tidak tersayat. Bohong juga kalau dia tidak ingin bilang maaf, bersimpuh, lalu menarik semua keputusannya kembali.Namun, hari ini bukan tentang apa yang dia inginkan.“Kenapa Mas bisa tahu aku nikah hari ini?” Anindya membuka percakapan, suaranya berusaha datar.Mereka duduk berdua di sofa ruang persiapan. Pintu tertutup. Penata rias yang tadi menanganinya sudah dia minta menunggu di luar. Alasan profesional, alasan keamanan, alasan apa pun asal mereka diberi waktu. Untungnya perempuan itu mengerti dan tidak banyak bertanya.Arvendra menyandarkan punggung, menatap Anindya lama sebelum menjawab. Tatapan yang bukan marah meledak, tapi dingin, terukur, dan justru itu yang paling menyakitkan.“Yang penting itu bukan gimana saya tahu,” kata Arvendra akhirnya. “Yang perlu saya tahu, kenapa kamu mau-maunya dipaksa nikah sama orang itu.”Anindya menelan napas.“Dipaksa?” Arvendra mengulang, sudut

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 175: Kebencian yang Padat

    “Kamu nggak cemburu aku nikah sama adik tiri kamu?” tanya Zafran, nadanya ringan, hampir seperti bercanda di sela sarapan.Lidya menoleh. Senyum terbit di bibirnya, tipis dan terlatih, tapi matanya lelah. Mata orang yang terlalu lama menelan banyak kompromi.“Cemburu, lah,” jawab Lidya santai. Dia menarik selimut, menggeser tubuhnya mendekat. “Tapi ini yang terbaik. Kamu nikah, warisan turun. Habis itu, urusan kita jadi gampang.”“Gampang bagaimana?” Zafran melirik sekilas, sudah tahu jawabannya, tapi ingin mendengarnya diucapkan.“Nanti, setelah kamu dapat warisan,” ucap Lidya pelan, terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya berat, “aku urus perceraianku. Kamu urus pernikahanmu.”Zafran tersenyum kecil. Bukan senyum lega, melainkan senyum seseorang yang menikmati rencana yang rapi, bersih di atas kertas.“Sekarang cerai itu kelihatan buruk,” kata Zafran santai, seolah sedang membahas cuaca. “Keluarga aku butuh lihat aku stabil. Menikah. Normal. Kalau aku datang dengan perempuan be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status