Home / Romansa / Pelampiasan Pria Angkuh / 10. Celana Dalam Siapa?

Share

10. Celana Dalam Siapa?

Author: Mira Restia
last update Petsa ng paglalathala: 2021-08-01 19:32:54

Zeva menghempaskan diri pada kasurnya. Kemudian mengatur posisi yang baik untuk meluruskan kaki. Dia kelelahan, setelah pulang bekerja harus bersusah payah membujuk Savana untuk balikan padanya. Usahanya tak sia-sia, wanita itu memberi kesempatan ke dua dengan syarat Zeva harus memperbaiki imagenya yang buruk dan Zeva pun diminta untuk berusaha supaya naik jabatan. Atau bahkan, membuat Perusahan sendiri.

Savana adalah motivasi hidupnya. Tentu saja sebagai laki-laki dia harus berusaha memenuhi yang Savana mau. Terlebih, Savana minta uang mahar yang tinggi jika mereka sampai maju ke pelaminan.

Bel pintu berbunyi. Zeva mengumpat. Baru saja dia berhasil istirahat melepas aktivitas yang menguras energi. Akan tetapi malah ada tamu tak diundang malam-malam begini. 

"Tamu laknat dari mana yang ganggu istirahat gua?" Zeva yang bertelanjang dada memakai T-shirt, sebelum membuka pintu apartemen.

Pintu dibuka. Dia melihat sosok pria tegap nyengir ke arahnya. Tak lama, pria itu merangkul sampai Zeva merasa sesak karena terlalu kencang rangkulannya. "Bang Zev!"

"Eh, Edrick! Ayo masuk!" Zeva mengacak rambut adiknya, lalu menarik leher Edrick dengan lengan kekarnya, membuat Edrick tertatih menyesuaikan langkah Zeva.

Edrick meringis saat tubuhnya diseret oleh Zeva. Sungguh sambutan yang membuat badan terasa sakit. Leher Edrick terasa pegal dibuatnya. "Gua ini adik lo, Bang Zev. Bukan hewan ternak yang mau dikurbankan."

Zeva hanya tertawa saat Edrick protes. Mereka dari dulu kelakuannya lebih bar-bar dari ini jika bertemu. Maklum saja, sejak kecil Edrick satu kamar dengan Zeva. Terpaut usia 8 tahun, membuat Edrick kecil sering digendong oleh Zeva saat kelelahan bermain sore hari.

"Lo kenapa gak bilang kalau mau ke sini?"

"Bang Zev adalah Abang gua, kenapa gua harus repot-repot kasih laporan kalau mau maen ke sini. Lagian, setelah lo keluar di penjara, malah jarang nengokin gua."

"Bukan gitu, gua bisa stock makanan yang banyak kalau tahu lo nginep di sini. Gua tahu porsi makan lo kaya orang yang lagi mukbang. Gak ada kenyangnya. Iya 'kan?"

Edrick tersenyum sambil mengiyakan dalam hati. Meskipun di depan para wanita Edrick sosok yang dingin tak tersentuh. Namun di depan Zeva, Edrick lebih bebas dan gokil dari yang orang lain lihat.

Mereka akhirnya mengobrol banyak hal sampai larut malam. Edrick berhenti mengobrol saat melihat mata Zeva mulai meredup tanda mengantuk. Akhirnya, Edrick pun memutuskan untuk mengajak kakaknya istirahat.

"Pinjem celana pendek dong Bang, Zev. Gua mau tidur, nih."

Zeva menggelengkan kepala. "Lo kebiasaan banget, sih. Bukannya bawa sendiri."

"Hahaha ... Kenapa, sih, Bang? Bukannya dari dulu kita biasa satu pakai?"

Zeva merotasi bola mata. " Ya udah, ambil sana! Ambil satu jangan dua."

"Gua masih waras, mana mau pakai celana dua lapis saat tidur." Edrick berkata sambil melangkah ke kamar Zeva.

Edrick menghentikan langkah di depan lemari, mencoba menebak letak lipatan celana pendek. Saat dia membuka lemari, dan benar saja letaknya di situ. Namun, dia kaget saat menemukan kotak kado yang terbuka, sehingga dia tahu isinya adalah pakaian dalam wanita. 

Edrick terkekeh, berlari menghampiri Zeva sambil mengangkat benda itu. "Bang! Ini punya lo? Hahaha ... Ayah akan bunuh lo, kalau lo sampai nekad jadi transgender."

Zeva terbelalak, mengejar Edrick yang sudah kabur duluan sambil mengacung-acungkan benda keramat itu, layaknya bendera.

"Kembalikan benda itu!"

"Jawab dulu! Ini untuk apa? Apa lo pakai ini buat pesugihan?"

"Sembarangan!" Zeva menerkam adiknya hingga mereka terjatuh di kasur Zeva. Mereka rebutan celana dalam wanita hingga tarik-tarikan. "Edrick! Awas jangan sampai robek! Benda ini punya kisah tersendiri buat gua."

"Mbak Savana pasti membatalkan pertunangan, kalau sampai dia tahu ada celana dalam wanita lain di apartemen lo, Bang!"

"Makannya, lo jangan bilang siapa-siapa, apalagi Savana. Kalau lo buka mulut, celana dalam ini gua jejalin ke mulut lo."

Zeva melonggarkan tangannya, teringat pada Savana. Jika dia ingin menikah, maka harus siap melepas kenangan apa pun dengan wanita lain. Zeva mendengkus dan berkata, "Ya udah! Ambil aja kalau lo suka!"

Edrick mendadak ingin muntah mendengar ucapan Zeva lalu melempar benda itu ke sembarang tempat. "Amit-amit."

Zeva tersenyum sambil menatap Edrick. "Lagipula, ini milik wanita kesayangan lo. Balikin aja sama lo sana!"

Edrick mengerutkan dahi, kebingungan atas pernyataan Zeva. Edrick mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala pada Zeva. "Maksud Bang Zev?"

"Tadi pulang dari kantor, lo ketemuan 'kan sama cewek di gang sepi? Nah, ini milik cewek itu."

Jantung Edrick berpacu tak beraturan. Hanya satu wanita yang dia temui yaitu Vianca. Butuh waktu beberapa menit untuk Edrick memahami bahwa Zeva dan Vianca pernah bermalam bersama. Edrick hanya ingin meminta maaf pada Vianca, tapi malah mendapat kenyataan yang di luar dugaannya.

Zeva berkata kembali, "Tenang aja! Gua gak akan bilang sama bokap, kalau lo pernah ketemu sama PSK. Selama lo jaga rahasia gua, gua bisa jaga rahasia lo."

Ah tidak, perkataan itu membuat Edrick ingin memaki dirinya sendiri. Setidaknya, dia ikut andil dalam terpuruknya kisah hidup Vianca. Namun lebih dari pada itu, saat tahu hidup Vianca dalam kesulitan dia ingin kembali sebagai sosok yang baru. Bukan sebagai pengganggu seperti dulu, tapi sebagai pelindung Vianca.

"Kenapa lo diem?" tanya Zeva saat melihat Edrick diam.

Edrick yang menunduk akhirnya mengangkat kepala menatap Zeva. "Gua kaget, kenapa lo bisa kenal sama Vianca, Bang?"

"Gua juga sama kaget, saat tahu lo bisa kenal sama dia. Jadi, kita sama-sama kaget."

"Tapi gua nemui dia cuma untuk minta maaf!"

Zeva tersenyum. "Mustahil! Gua mergok lo nyeret tubuh wanita itu ke gang sepi, gak mungkin cuma buat minta maaf. Pasti kalian ciuman 'kan?"

Edrick mendengkus. "Tolonglah, Bang Zev! Gua bukan pria mesum macam lo. Banyak alasan lain kenapa gua bertemu dia, selain ciuman."

Zeva menatap lekat ke arah Edrick. "Alasan lain apa yang bikin lo harus sampai minta maaf di gang sepi kaya gitu?"

"Gua gak bisa cerita, itu privasi. Yang jelas, gua punya satu kesalahan yang besar pada Vianca."

Zeva terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa dirinya sangat penasaran tentang hal apa yang terjadi antara Edrick dan Vianca. Lagipula, dia harus mulai fokus menjalani hidup dengan Savana dan berhenti ikut campur urusan Vianca.

Namun, Zeva merasa harus bertanya satu hal pada adiknya ini. "Edrick! Lo suka sama Vianca? Wanita itu gak mungkin bisa masuk dalam keluarga kita. Ayah dan Ibu gak akan setuju dengan latar belakang keluarganya yang gak jelas."

"Enggak, gua hanya ingin minta maaf. Sekalian menebus kesalahan. Justru, gua yang harus tanya sama lo, Bang Zev. Lo cinta banget sama dia sampe-sampe benda pribadi milik dia dijadikan kenangan kaya gitu?"

Zeva bungkam, wajahnya pucat kembali.

Edrick melanjutkan ucapan. "Bahkan celana dalam itu di simpan di kotak kado. Benar-benar konyol, bucin yang meresahkan."

Mira Restia

Team Zeva - Vianca atau Team Edrick - Vianca ?? (•‿•)

| 1
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dan Sinaru
sangat bagus
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelampiasan Pria Angkuh   100. Tamat

    Enam bulan setelah Zalea ulang tahun yang pertama, rumah Zeva kembali sibuk.Tapi kali ini bukan karena popok Zalea yang habis, bukan karena Rafael rewel minta mainan baru, dan bukan karena ASI Vianca yang seret. Kali ini sibuk karena ada hajat besar.Hari ini adalah hari lamaran Edrick dan Bu Guru Kirana.Sejak jam 5 pagi, rumah sudah seperti pasar. Mamah sudah datang dari Bandung sejak 3 hari lalu dan langsung mengambil alih dapur. Tidak ada yang boleh menolak masakan Mamah."Vianca, sini tolong Mamah icipin rendangnya. Kurang garam nggak?" Mamah berteriak dari dapur sambil mengaduk rendang 5 kilo di wajan besar.Vianca yang sedang menggendong Zalea yang baru bangun tidur langsung datang sambil tertawa. Zalea yang sekarang sudah berusia 1 tahun 6 bulan, rambutnya sudah agak lebat dan sudah bisa jalan tertatih-tatih kemana-mana sambil memanggil "Mama... Papa... Oma..."."Enak banget Mah, sudah pas. Mamah masak segini banyak mau

  • Pelampiasan Pria Angkuh   99. Edrick dan Kirana

    Seminggu setelah ulang tahun Zalea, ada yang aneh dengan Edrick di kantor.Edrick adalah Manager Operasional di perusahaan Zeva. Yang biasanya paling on-time, paling tegas, dan paling anti telat. Jam 7 pagi sudah di kantor, baju selalu rapi. Tapi minggu ini, setiap jam 4 sore, dia selalu izin pulang cepat."Pak Zeva, saya izin pulang jam 4 ya, ada urusan keluarga," katanya dengan wajah serius sambil bawa laptop.Zeva yang tahu persis "urusan keluarga" itu apa cuma senyum-senyum saja. "Oke, gas. Jangan lupa absen."Urusan keluarga itu adalah: Les privat Rafael.Edrick memang sengaja mengatur jadwal les Rafael dengan Bu Guru Kirana tiap Senin & Kamis jam 4 sore di rumah Zeva. Jadi dia punya alasan resmi untuk pulang cepat dan bisa ketemu Bu Kirana tanpa kelihatan modus."Rafael, sini Om bisikin," Edrick memanggil Rafael sepulang sekolah di ruang kerja Zeva di rumah."Apa Om?""Kamu mau les tambahan biar pinter kan

  • Pelampiasan Pria Angkuh   98. Zalea 1 Tahun

    Hari ini rumah Zeva seperti disulap jadi taman bermain balon.Bukan pesta mewah di hotel bintang lima seperti yang ditawarkan WO langganan Zeva. Vianca menolak. "Mas, Zalea baru 1 tahun, dia nggak butuh panggung megah. Dia butuh rumah yang penuh cinta," kata Vianca waktu itu.Jadi pesta ulang tahun pertama Zalea digelar sederhana saja di halaman belakang rumah. Temanya: "One-derful Zalea" dengan warna pastel pink dan putih. Balon-balon berterbangan, rumput sintetis digelar, dan ada mini playground untuk anak-anak komplek.Sejak jam 7 pagi, dua orang panitia paling sibuk adalah Rafael dan Edrick."Ih, Om Edrick, balonnya jangan di situ! Adik Zalea nggak kelihatan nanti kalau foto! Taruh di atas sini, nih, yang tinggi!" Rafael yang sekarang sudah kelas 2 SD, gayanya sudah seperti mandor proyek, berdiri di atas kursi sambil menunjuk-nunjuk.Edrick, adiknya Zeva yang selama ini dikenal paling cuek, paling dingin, dan paling anti rib

  • Pelampiasan Pria Angkuh   97. Pahlawan Asi

    Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?

  • Pelampiasan Pria Angkuh   96. Silvi dan Reno

    Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Zalea

    Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem

  • Pelampiasan Pria Angkuh   9. Pria Lain

    Bukan hal yang mudah bagi Vianca berpura-pura tidak mengenal Zeva. Setelah beberapa malam dilewati bersama, tapi Zeva malah menyuruh wanita itu melupakan segala kenangan tentang mereka. Vianca bekerja ditempatkan di bagian resepsionis, dan mau tidak mau dia harus melihat Zeva berjalan tanpa melih

  • Pelampiasan Pria Angkuh   8. Terluka

    Vianca sudah memakai pakaian putih-hitam karena hari ini ada panggilan kerja. Namun, walaupun masih pagi, dia diresahkan oleh kehadiran Melvin di depan rumahnya. Kakaknya itu, nampak kumal, serta belum mengganti pakaian hang out. Sepertinya, Melvin semalaman habis party bersama teman-temannya.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   7. Mantan Pacar Zeva

    Setelah satu bulan lamanya, Vianca sudah tak mendengar kabar laki-laki itu lagi. Terakhir mereka bertemu, Zeva membantu menyiapkan lamaran pekerjaan. Hal kecil itu membuat kesan tersendiri bagi seorang Vianca, yang sangat jarang berinteraksi dengan orang sekitar. Saat Zeva tidak hadir, maka hari-

  • Pelampiasan Pria Angkuh   6. Wanita yang Tak Layak

    Sudah kesekian kalinya Zeva dan Vianca bertemu. Sekadar berkeluh kesah layaknya teman yang saling mendukung. Namun, baru kali ini Vianca diajak ke kontrakan milik Zeva. Kontrakan yang lebih mirip persembunyian teroris karena letaknya yang jauh dari jalan utama. Serta, stiker logo death metal mene

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status