Home / Romansa / Pelampiasan Pria Angkuh / 11. Menahan Sakit

Share

11. Menahan Sakit

Author: Mira Restia
last update publish date: 2021-08-03 01:26:25

Zeva mengelak bahwa dirinya mencintai Vianca. "Savana jauh lebih cantik puluhan kali lipat daripada Vianca. Gak ada alasan buat gua jatuh cinta sama dia."

"Karena cinta itu gak ada logika, Bang Zev. Buktinya, lo nyimpen celana dalam Vianca pake kado, di simpen baik-baik bareng sama baju lo. Itu artinya, logika lo pindah ke dengkul, Bang Zev."

Zeva meraih celana dalam yang dibuang Edrick, kemudian menggulung dan menjejal benda tersebut ke mulut adiknya yang berisik itu, hingga Edrick batuk. "Nih, ambil! Ambil kalau lo mau Vianca, ambil aja sana!"

Edrick, membenarkan posisi duduknya. Wajahnya nampak serius. "Vianca gak seperti yang lo banyangkan. Dia baik, hanya saja kehidupannya sulit. Andai saja Bang Zev tahu, Gua bersalah sudah buat situasi dia makin terpuruk. Dan jika ada kesempatan buat jadi pendampingnya, gua mau, kok."

Zeva bungkam, dirinya mendengarkan tiap kalimat dari mulut Edrick. Bahkan, sudah langsung menyerap ke dalam otaknya. Ada perasaan tak terima untuk kalimat yang terakhir. Namun, saat ini dia meyakini bahwa Savana lah yang terbaik untuknya.

"Edrick! Bukannya kata lo cuma ingin minta maaf aja? Dan lo gak suka sama dia 'kan?"

"Awalnya emang gua cuma mau minta maaf aja, tapi saat udah lihat dia sekarang, dia udah banyak berubah. Dia terlihat sangat cantik di mata gua."

"Itu terserah lo, cuma resikonya bokap gak akan pernah menerima wanita yang tidak jelas asal-usulnya sebagai menantu. Kecuali, niat lo cuma main-main aja kaya gua sama dia dulu. Sumpah, walaupun dia lumayan cantik, ogah banget gua sama dia."

"Gua gak pernah main-main. Gua beda sama lo Bang Zev."

***

Vianca bangun dengan keadaan perut sakit dan dada sesak, asam lambungnya naik. Jika sudah seperti ini, harusnya dia istirahat yang cukup lalu ijin tidak masuk kerja. Namun, dirinya masih dalam masa training. Syarat dari karyawan training adalah, jangan sampai bolong kerja selama satu bulan. Sementara, dirinya baru lima hari kerja. Vianca tak ingin usahanya sia-sia, dia memaksakan diri untuk melangkah untuk mandi. Setelah itu, merapikan perlengkapan kerjanya.

Sepanjang perjalanan, dirinya meringis menahan sakit. Obat yang dia minum belum ada reaksi. Terlebih, dirinya hanya punya stock obat warung biasa.

Sesampainya di tempat kerja, tidak ada yang berubah. Perutnya tetap sakit, dan dia enggan untuk sarapan. Sungguh hari yang konyol, dia bahkan membenci dirinya sendiri kenapa memiliki penyakit merepotkan ini. Kenapa harus kambuh di saat dirinya masih dalam masa pengawasan. 

Vianca mengacak rambutnya, menyalahkan diri sendiri di dalam hati. Dia tak sadar, ada seorang pria yang datang lebih awal, melihat kelakuannya.

"Selamat pagi Vianca!" sapa Zeva.

"Pagi Pak Zeva!" Vianca buru-buru merapikan rambutnya kembali.

Zeva berdiri, meneliti tubuh Vianca dari atas sampai bawah. Dia muak saat melihat tampilan Vianca yang seperti itu. Lalu dia menunjuk rambut Vianca dengan jarinya. "Vi, kamu acak-acakan dan kumal. Pergi ke kamar mandi sana! Nanti di sana, lihat wajahmu di cermin! Benar-benar Seperti orang bodoh. Cuci mukamu sekarang!"

Vianca melihat tangan Zeva mengibas-ngibas seperti tukang parkir. Tentu saja Zeva bukan sedang bantu parkir mobil, dia melakukan itu untuk mengusir Vianca dari hadapannya, supaya segera masuk kamar mandi.

Vianca mengangguk, sambil perlahan mulai melangkah ke kamar mandi. Dia masih menahan segala sakit saat berjalan. Dan dia harus bisa menahannya sampai pulang kerja nanti.

Zeva mematung, sambil menatap punggung Vianca yang ringkih, wanita itu melangkah dengan susah payah. Zeva mengikuti langkah Vianca dengan ragu-ragu. Namun niatnya batal, karena akhirnya tersadar merasa tak perlu sampai khawatir seperti ini.

***

Vianca berhasil bertahan menyembunyikan rasa sakit sampai sore, saat pulang kerja. Walaupun resikonya, tubuhnya semakin melemah. Dia menaiki kendaraan umum ke arah klinik terdekat. Sebenarnya, bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi kakinya sudah lemah untuk melangkah. 

Vianca berdiri di depan pintu klinik. Tersenyum, karena rupanya dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Vianca melangkah dengan lemah, terhenti sejenak karena pandangannya mulai kabur. Detik kemudian, dia sudah benar-benar tumbang, dan terjatuh.

Seorang pria bodoh yang dari tadi mengikuti Vianca, terlambat untuk sekadar menopang badan Vianca. Dia malah baru meraih tubuh Vianca setelah wanita itu tergeletak di lantai.

"Vi ... Vianca! Sadar, Vi!" Zeva mengangkat tubuh Vianca ke dalam klinik, security yang berjaga saat itu, membantu membukakan pintu dengan sigap.

Bukan hanya Zeva, Edrick pun rupanya mengikuti Vianca. Namun, dirinya sedikit terlambat karena belum dapat tempat parkir mobilnya. Edrick berjalan tergesa-gesa saat melihat kakaknya mengangkat tubuh Vianca. Dia masuk ke dalam, dan sudah melihat Vianca berbaring, ditangani oleh Dokter yang ada di Klinik itu.

Edrick menghampiri Zeva. "Bang Zev, lo ngikutin Vianca?"

Zeva terbelalak saat sadar Edrick sudah ada di belakang. "Bukan urusan lo! Lo juga ngikutin Vianca 'kan?"

"Bang Zev, sorry gua cuma ngingetin. Hari ini lo ada janji sama Mbak Savana 'kan? Melanjutkan obrolan rencana pertunangan kalian. Saran gua, lo temui dia aja sekarang."

Zeva mengerutkan dahi, dia nampak berpikir dengan keras. Apakah memilih menemui calon tunangannya. Atau, menemani hingga mengantarkan  pulang Vianca, wanita yang sering membuat dia khawatir meskipun tak terucapkan oleh Zeva.

"Vianca, biar gua aja yang temani. Gua akan pastikan dia pulang dengan selamat setelah berobat dari sini."

Zeva melirik. "Gak! Biar gua aja!"

"Ah, tidak, Bang. Lo harus temui Mbak Savana! Karena bisa saja, lo kehilangan kesempatan untuk tunangan dengan wanita itu, kalau sampai lo batalin janji kalian. Tahu sendiri 'kan dia orangnya ngambekan."

Zeva mendengkus. "Ya, udah. Nanti anterin Vianca balik! Jangan diapa-apain."

Edric terkekeh dengan pernyataan Zeva. "Makannya, pulangnya harus sama gua biar aman. Karena kalau dia pulang sama lo, malah jadi bahaya."

Zeva melangkah ke luar dengan muram. Dia paham sindiran adiknya, karena bisa saja Zeva meminta hal macam-macam walaupun Vianca sedang sakit. Tentu saja, itu pendapat yang berlebihan. Zeva masih waras untuk tidak meminta hal yang macam-macam pada wanita yang sedang sakit.

Vianca membuka mata, dia kaget saat pertama kali membuka mata dan orang yang pertama kali dia lihat adalah Edrick. Vianca masih lemas, tak bergairah bertanya mengapa Edrick bisa ada di sini. Namun, dirinya terus-menerus menatap ke arah Edrick, berharap pria itu menjelaskan semuanya tanpa harus ditanya.

Edrick tersenyum melihat Vianca sudah sadar. Dia sedikit mengusap puncak kepala Vianca. Namun, dengan sisa tenaga yang dimiliki Vianca, wanita itu menepis tangan Edrick. Hal itu membuat Edrick menarik tangannya kembali. Paham, bahwa Vianca merasa risi atas tindakannya.

"Maaf Via!"

***

Zeva berjalan tergesa-gesa, sesudah dirinya memarkirkan mobil. Saat di depan restoran dia mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang dia pesan bersama Savana. Tersenyum, karena gadisnya masih ada di sana walau sudah menunggu cukup lama. Zeva pun menghampiri Savana.

"Vana! Sorry banget, aku telat. Kamu udah dari tadi di sini?"

Savana merapikan rambut saat sadar Zeva sudah tiba. "Lumayan lama juga aku nungguin kamu, Zev. Kemana aja 'sih? Nyebelin!"

"Maaf sayang! Aku ada urusan mendadak, tadi." Zeva sedikit mengelus pipi Savana sebelum dirinya duduk. 

Savana tidak menyambut Zeva dengan senyuman. Meskipun begitu, Zeva tetap bahagia.

"Udah pesan makanan duluan 'kan?"

"Udah lah, aku udah lapar dari tadi. Punya kamu juga udah aku pesenin, kok."

Pelayan mengantarkan makanan, Zeva tak harus menunggu lama, karena Savana sudah memesan dari awal. Dia langsung menyantap steak di depannya. Namun sialnya, dia kehilangan selera makan karena bayangan Vianca melintas di benaknya. Zeva butuh informasi keadaan terbaru Vianca.

"Kamu kenapa? Ada masalah, Zev?"

"Gak ada."

"Gak suka sama makanannya, kok gak kaya biasanya?"

"Em ... suka, kok. Enak!."

Diam-diam, Zeva mengeluarkan ponsel. Mencari kontak Edrick dan mengirimkan pesan WA. "Vianca udah sadar? Harus dirawat atau boleh pulang sekarang?"

"Zeva! Lagi makan kenapa main hape? Nge-chat siapa, sih? Serius amat! Bahkan, kita belum ngobrol sama sekali, tapi pikiran kamu ada di tempat lain. Aku gak suka, ya!"

Zeva meletakan ponsel. "Oke, sorry, Vana."

"Kalau kamu gak prioritaskan aku saat kita lagi bersama. Jangan harap pertunangan kita akan berlanjut. Jangan bikin aku bete, paham? Udah telat, malah main hape lagi. Nyebelin!"

Zeva mengangguk, menyesap lemon tea sambil menatap lekat ke arah Savana. Pacar pertamanya ini, kini sudah jauh berbeda dari yang dulu dia kenal. Sebelum Zeva masuk penjara, Savana tidak sebawel ini, selalu menghargai Zeva sebagai seorang pria. 

Seolah bagi Savana, satu kesalahan Zeva di masa lalu yang pernah masuk tahanan, membuat Zeva sudah tak berarti lagi di matanya. Sementara, Zeva tak suka saat wanita tidak menghargainya. 

Hingga akhirnya, Zeva mendadak ingat Vianca kembali. Wanita itu malah yang bisa menemaninya saat keadaanya terpuruk sekali pun. Zeva ingin menemui Vianca malam ini walau sebentar. Sekadar menuntaskan rasa penasaran atas kondisi Vianca yang tak berdaya saat bekerja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelampiasan Pria Angkuh   100. Tamat

    Enam bulan setelah Zalea ulang tahun yang pertama, rumah Zeva kembali sibuk.Tapi kali ini bukan karena popok Zalea yang habis, bukan karena Rafael rewel minta mainan baru, dan bukan karena ASI Vianca yang seret. Kali ini sibuk karena ada hajat besar.Hari ini adalah hari lamaran Edrick dan Bu Guru Kirana.Sejak jam 5 pagi, rumah sudah seperti pasar. Mamah sudah datang dari Bandung sejak 3 hari lalu dan langsung mengambil alih dapur. Tidak ada yang boleh menolak masakan Mamah."Vianca, sini tolong Mamah icipin rendangnya. Kurang garam nggak?" Mamah berteriak dari dapur sambil mengaduk rendang 5 kilo di wajan besar.Vianca yang sedang menggendong Zalea yang baru bangun tidur langsung datang sambil tertawa. Zalea yang sekarang sudah berusia 1 tahun 6 bulan, rambutnya sudah agak lebat dan sudah bisa jalan tertatih-tatih kemana-mana sambil memanggil "Mama... Papa... Oma..."."Enak banget Mah, sudah pas. Mamah masak segini banyak mau

  • Pelampiasan Pria Angkuh   99. Edrick dan Kirana

    Seminggu setelah ulang tahun Zalea, ada yang aneh dengan Edrick di kantor.Edrick adalah Manager Operasional di perusahaan Zeva. Yang biasanya paling on-time, paling tegas, dan paling anti telat. Jam 7 pagi sudah di kantor, baju selalu rapi. Tapi minggu ini, setiap jam 4 sore, dia selalu izin pulang cepat."Pak Zeva, saya izin pulang jam 4 ya, ada urusan keluarga," katanya dengan wajah serius sambil bawa laptop.Zeva yang tahu persis "urusan keluarga" itu apa cuma senyum-senyum saja. "Oke, gas. Jangan lupa absen."Urusan keluarga itu adalah: Les privat Rafael.Edrick memang sengaja mengatur jadwal les Rafael dengan Bu Guru Kirana tiap Senin & Kamis jam 4 sore di rumah Zeva. Jadi dia punya alasan resmi untuk pulang cepat dan bisa ketemu Bu Kirana tanpa kelihatan modus."Rafael, sini Om bisikin," Edrick memanggil Rafael sepulang sekolah di ruang kerja Zeva di rumah."Apa Om?""Kamu mau les tambahan biar pinter kan

  • Pelampiasan Pria Angkuh   98. Zalea 1 Tahun

    Hari ini rumah Zeva seperti disulap jadi taman bermain balon.Bukan pesta mewah di hotel bintang lima seperti yang ditawarkan WO langganan Zeva. Vianca menolak. "Mas, Zalea baru 1 tahun, dia nggak butuh panggung megah. Dia butuh rumah yang penuh cinta," kata Vianca waktu itu.Jadi pesta ulang tahun pertama Zalea digelar sederhana saja di halaman belakang rumah. Temanya: "One-derful Zalea" dengan warna pastel pink dan putih. Balon-balon berterbangan, rumput sintetis digelar, dan ada mini playground untuk anak-anak komplek.Sejak jam 7 pagi, dua orang panitia paling sibuk adalah Rafael dan Edrick."Ih, Om Edrick, balonnya jangan di situ! Adik Zalea nggak kelihatan nanti kalau foto! Taruh di atas sini, nih, yang tinggi!" Rafael yang sekarang sudah kelas 2 SD, gayanya sudah seperti mandor proyek, berdiri di atas kursi sambil menunjuk-nunjuk.Edrick, adiknya Zeva yang selama ini dikenal paling cuek, paling dingin, dan paling anti rib

  • Pelampiasan Pria Angkuh   97. Pahlawan Asi

    Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?

  • Pelampiasan Pria Angkuh   96. Silvi dan Reno

    Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Zalea

    Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem

  • Pelampiasan Pria Angkuh   10. Celana Dalam Siapa?

    Zeva menghempaskan diri pada kasurnya. Kemudian mengatur posisi yang baik untuk meluruskan kaki. Dia kelelahan, setelah pulang bekerja harus bersusah payah membujuk Savana untuk balikan padanya. Usahanya tak sia-sia, wanita itu memberi kesempatan ke dua dengan syarat Zeva harus memperbaiki imagen

  • Pelampiasan Pria Angkuh   14. Vianca ke Apartemen Zeva

    Vianca mendengar suara mesin mobil dari dalam kamar. Dia terperanjat, saat sadar bahwa Zeva sudah pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya. Dia menghampiri Melvin yang masih berada di ruang tengah. Wanita itu terkejut, lantaran Melvin sedang asik menghitung uang ratusan ribu yang cukup banyak.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   13. Dipaksa Menikah

    Vianca perlahan memejamkan mata, efek obat dari dokter yang barusan dia minum, membuat dirinya cepat mengantuk.Zeva masih ada di situ, menatap lekat pada Vianca. Dia mengabaikan dering telepon yang berbunyi berkali-kali dari Savana. Karena dia khawatir, Savana bertanya keberadaan di

  • Pelampiasan Pria Angkuh   12. Pria Itu Memaksa Menginap

    Edrick mengantarkan Vianca pulang. Dia memperlakukan wanita itu layaknya tuan putri yang harus dilindungi.Bagi Vianca, sesuatu hal yang aneh ada pria yang membukakan pintu mobil untuknya. Wanita yang mempunyai sejarah yang kelam seperti dirinya, jarang mendapatkan perlakuan seperti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status