Home / Romansa / Pelampiasan Pria Angkuh / 92. Surat dari Penjara

Share

92. Surat dari Penjara

Author: Mira Restia
last update publish date: 2026-09-26 15:14:20

Sudah seminggu Vianca diizinkan pulang dari rumah sakit. Rumah besar itu kini berubah total. Jika dulu teras depan adalah tempat favorit Vianca untuk membaca buku sambil menikmati teh hangat, kini teras itu dipasangi pagar besi tambahan setinggi dua meter dan CCTV yang menyorot ke segala arah. Zeva benar-benar menepati janjinya.

Vianca kini menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tidur utama di lantai satu — kamar yang sengaja dipindahkan Zeva dari lantai dua agar Vianca tidak perlu naik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelampiasan Pria Angkuh   97. Pahlawan Asi

    Hari ke-10 kelahiran Zalea adalah hari paling kacau di rumah Zeva.Sejak jam 2 dini hari, Zalea tidak berhenti menangis. Bukan tangis ngantuk, bukan tangis popok basah. Tangis lapar yang melengking dan tidak ada jedanya."Mas, dia masih lapar... kayaknya ASI ku nggak keluar lagi deh, Mas..." Vianca panik, wajahnya sudah pucat dan berkeringat. Ia sudah mencoba menyusui berganti-ganti posisi, tapi Zalea mengisap sebentar lalu menangis lagi karena tidak ada yang keluar. Payudaranya bengkak dan nyeri.Zeva yang sejak tadi menggendong Zalea mondar-mandir dari ujung kamar ke ujung kamar juga ikut panik. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya menangis selama itu."Sayang, jangan panik dulu. Tarik napas. Mungkin kamu kecapekan," Zeva mencoba menenangkan, tapi suaranya sendiri bergetar.Rafael yang terbangun karena suara tangisan adiknya, keluar dari kamar dengan mata sembab sambil memeluk guling dinosaurusnya."Mamah kenapa nangis lagi?

  • Pelampiasan Pria Angkuh   96. Silvi dan Reno

    Zalea Vianca Zeva sudah berusia 7 hari.Tujuh hari yang mengubah total isi rumah Zeva. Jika dulu rumah itu identik dengan sepi, tegang, dan bau obat, sekarang dari pagi sampai malam isinya cuma tiga suara: tangisan Zalea, tawa Rafael, dan omelan manja Vianca yang melarang Zeva gendong bayi sambil berdiri satu kaki.Vianca sendiri sudah jauh lebih sehat. Jahitan pasca lahirannya sudah mulai kering. Ia sudah bisa duduk bersila di kasur, menyusui, meski masih belum boleh banyak jalan. Wajahnya yang dulu pucat karena bedrest berbulan-bulan, kini sudah kembali bersinar.Pagi itu jam 10, saat Vianca sedang menyusui Zalea di kamar, Edrick mengetuk pintu dengan wajah panik bahagia."Bu, Pak... ada tamu... tamu spesial!"Zeva yang sedang melipat popok di lantai langsung berdiri. "Siapa?"Belum sempat Edrick jawab, dari depan sudah terdengar suara cewek yang super heboh dan tidak asing lagi bagi Vianca."VIANCA MANA? TEMEN GUE MANA? YANG BARU LAHIRAN MANA? GUE BAWA RENDANG 2 KILO NIH!"Vianca l

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Zalea

    Minggu ke-38. Dua bulan sejak kejadian pendarahan dan pertemuan di penjara itu terlewati dengan sangat hati-hati.Rumah kini benar-benar menjadi istana steril. Zeva bahkan membangun sebuah kamar bersalin mini di dalam kamar utama, lengkap dengan tabung oksigen dan tim bidan siaga yang standby 24 jam di paviliun belakang rumah. Dokter Anita bilang, ini adalah kehamilan yang harus dijaga sampai detik terakhir.Pagi itu, jam 04:17 dini hari.Vianca terbangun karena merasakan cairan hangat merembes di antara kedua kakinya. Bukan ngompol. Ia hafal rasanya. Ketubannya pecah."Mas... Mas Zeva..." Vianca mengguncang lengan suaminya yang tertidur di sampingnya sambil memeluk perutnya.Zeva yang tidurnya super waspada langsung terbangun seperti kesetrum listrik. "Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi?""Ketubanku pecah, Mas..." bisik Vianca dengan napas terengah-engah, wajahnya menahan nyeri pertama.Hanya butuh tiga detik bagi Zeva untuk berubah menjadi mode panik total. Ia berteriak memanggil sem

  • Pelampiasan Pria Angkuh   95. Pertemuan di Penjara

    Dua minggu telah berlalu. Kandungan Vianca sudah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya semakin besar, gerakan janinnya semakin aktif. Dokter sudah mengizinkan Vianca untuk duduk di kursi roda dan dijemur di taman belakang selama 15 menit setiap pagi, asal tidak berdiri terlalu lama.Pagi itu, Zeva masuk ke kamar dengan wajah ragu-ragu. Di tangannya ada dua surat izin besuk dari Lapas Wanita."Sayang," Zeva memulai dengan hati-hati, duduk di samping Vianca yang sedang mengusap minyak di perutnya. "Kepala lapas tadi telepon. Ratna... dia sakit. Tipis di penjara. Dia minta bertemu kamu."Vianca terdiam. Tangannya berhenti mengelus."Dan Savana juga. Dia titip pesan lewat petugas, dia ingin mengembalikan kalung yang dulu pernah dia ambil dari laci kamu. Kalung pemberian almarhum Ibu kamu."Kalung itu. Vianca ingat. Kalung mutiara kecil yang hilang dua tahun lalu. Ia pikir jatuh di selokan saat cuci piring, ternyata...Zeva melanjutkan, "Dokter Anita bilang kamu sudah cukup kuat untuk perjal

  • Pelampiasan Pria Angkuh   94. Rafael

    Sejak Vianca bedrest total, Rafael berubah.Anak laki-laki berusia tujuh tahun yang biasanya super ceria, yang hobinya main bola sampai bajunya kotor dan berisik minta es krim, kini menjadi pendiam. Ia menolak pergi ke sekolah selama tiga hari."Papa, Rafael nggak mau sekolah," ucapnya pagi itu sambil memeluk erat perut Vianca yang sedang berbaring. "Rafael mau di rumah aja jagain Mamah sama Adik."Zeva yang sudah memakai jas kerja dan siap berangkat ke kantor, berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan putranya."Rafael sayang, Mamah di sini sudah dijaga Papa, dijaga Om Edrick, dijaga Oma. Kamu kalau di rumah terus, nanti pelajaran kamu ketinggalan lho.""Tapi kalau Rafael pergi, nanti ada orang jahat datang lagi gimana? Kemarin kan pas Rafael sekolah, Mamah disakitin Tante jahat itu," balas Rafael dengan mata berkaca-kaca. Logika anak kecilnya begitu sederhana tapi menusuk.Vianca yang mendengar itu langsung memeluk Rafael. Hatinya sakit melihat anak sekecil ini harus memikul rasa

  • Pelampiasan Pria Angkuh   93. Retaknya Sebuah Rumah

    Rumah petak di pinggiran kota itu terasa seperti neraka bagi Riko selama seminggu terakhir.Sejak malam penggerebekan polisi yang menyeret Ratna dari gudang belakang rumahnya, Siska tidak berbicara sepatah kata pun padanya. Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada piring makan yang disiapkan, tidak ada senyum. Hanya pintu kamar yang dibanting dan punggung yang sengaja membelakangi setiap kali Riko mencoba mendekat."Sayang, makan dulu yuk. Aku udah beliin ayam geprek kesukaan kamu," ujar Riko sore itu, mencoba mencairkan suasana dengan meletakkan bungkusan makanan di atas meja.Siska yang sedang melipat baju tidak menoleh sama sekali. "Aku kenyang.""Kamu dari pagi belum makan apa-apa, Siska. Jangan gini terus.""Aku bilang aku kenyang, Riko! Kamu tuli ya?" Siska akhirnya meledak, melempar baju yang ia lipat ke lantai. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.Riko menarik napas panjang. Ia sudah mencoba sabar. Ia tahu ia salah. Menyembu

  • Pelampiasan Pria Angkuh   2. Bersama Wanita Malam

    Vianca menatap jam di dinding, resah karena sebentar lagi dia harus menemui Zeva. Dia meregangkan badan dengan durasi yang lama, mengulur waktu menuju meja rias di kamarnya. Hatinya tidak bisa tenang, walau demikian dia tetap membuka lemari memilih beberapa pakaian terkutuk yang sudah beberapa bu

  • Pelampiasan Pria Angkuh   14. Vianca ke Apartemen Zeva

    Vianca mendengar suara mesin mobil dari dalam kamar. Dia terperanjat, saat sadar bahwa Zeva sudah pulang tanpa pamit terlebih dulu padanya. Dia menghampiri Melvin yang masih berada di ruang tengah. Wanita itu terkejut, lantaran Melvin sedang asik menghitung uang ratusan ribu yang cukup banyak.

  • Pelampiasan Pria Angkuh   13. Dipaksa Menikah

    Vianca perlahan memejamkan mata, efek obat dari dokter yang barusan dia minum, membuat dirinya cepat mengantuk.Zeva masih ada di situ, menatap lekat pada Vianca. Dia mengabaikan dering telepon yang berbunyi berkali-kali dari Savana. Karena dia khawatir, Savana bertanya keberadaan di

  • Pelampiasan Pria Angkuh   1. Mantan Narapidana

    Zeva meraup udara di sekitar. Dia mengedarkan pandangan, merasa mimpi dirinya bisa terbebas dari jeruji besi yang mengekang hidupnya selama ini. Hal pertama yang dia ingin lakukan selepas dari tahanan adalah, memeluk seorang wanita. Lima tahun dipenjara membuat dia kehilangan kesempatan itu. 

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status