LOGIN"Sayang, ada telepon dari rumah sakit!"Kaisar yang keluar dari kamar mandi, melangkah mendekati istrinya yang berbicara. Tangannya mengambil alih ponsel yang disodorkan Liona padanya. "Halo!" kata Kaisar pada pihak rumah sakit yang berada di ujung telepon. "[....]" "Apa?" Mendengar kabar dari ujung telepon, melotot lebar mata Kaisar. Wajahnya yang semula terlihat segar sehabis mandi, seketika berubah pucat seperti tak dialiri darah. "[....]" "Gak mungkin, semua ini gak mungkin, Dokter. Kemaren malam keadaan kakek saya baik-baik aja. Semua ini gak mungkin...." kata Kaisar dengan suara bergetar, sedangkan sepasang matanya masih saja melotot. Kabar dari seberang telepon yang ia dengar, benar-benar membuatnya syok. "[....]" "Baiklah, saya ke sana sekarang!" Tut, tut! Setelah berbicara dengan pihak rumah sakit, Kaisar memutuskan sambungan telepon tersebut.Tubuh pria itu melemas. Ia memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berusaha mengontr
Tap, tap, tap! Dengan langkahnya yang santai, Kaisar menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dan agak gelap di malam hari itu. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan, pria itu menuju ruangan VIP di mana Tuan Jayden di rawat. Tiba di depan ruangan VIP yang dituju, Kaisar menghentikan langkahnya lantaran mendengar obrolan dari dalam ruangan tersebut. "Kurang baik apa aku selama ini? Anak itu udah ditampung, diberi tempat tinggal dan kehidupan layak! Ingat, Rey, Adam itu anakmu, cucu sah keluarga Prasetya!" Mendengar perkataan Tuan Jayden yang ternyata sudah siuman, Kaisar mendongak, menatap langit-langit rumah sakit itu. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengatur napas dan mengurangi rasa sesak di dadanya. "Ryuga juga anakku dan cucu Papa, dia dan Kai—" "Kamu terlalu berat sebelah, Rey!" tukas Tuan Jayden. "Pokoknya keputusanku udah bulat dan gak bisa diganggu gugat. Aku akan tetap menyerahkan aset perusahaan ke cucuku!" Di dala
"Sayang, kenapa berdiri di sini? Dingin loh, yuk kita masuk!" Kaisar yang berdiri di balkon kamar, menoleh dan menatap Liona yang melangkah mendekat. Namun tatapan hanya sesaat, selanjutnya ia kembali berbalik dan memandangi langit gelap tanpa bintang di malam hari itu. Gelap langit malam itu, tak dapat mengalahkan gelap hatinya yang menyimpan kebencian pada keluarga papanya. Bayangan kematian adik dan ibunya, tak pernah bisa dilupakan. Dia saksi, saksi kematian adiknya yang meninggal karena sakit, juga saksi kematian ibunya yang mengalami depresi. Dan— semua itu terjadi karena papanya, pria egois yang tidak memiliki perasaan. "Sayang, aku tahu kamu pasti lagi mikirin mendiang mama dan adik kamu. Aku gak ngelarang kamu buat nginget mereka, tapi aku mohon jangan abaikan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, gimana sama aku dan calon anak kita?" Liona yang melangkah mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kaisar dan menempelkan kepalanya di punggung sang suami. Ia berbicara pelan,
"Ibumu pelacur, jalang sialan! Kamu dan ibumu adalah penyebab kematian ibu dan adikku! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah memaafkan kalian!" Dihina ibunya oleh Kaisar, Ryuga yang semula berusaha membujuk dan menenangkan, kini menatap tajam. Wajahnya memerah sedangkan kedua tangannya terkepal erat. Pria itu memepet tubuh Kaisar dan mendorongnya dengan kasar. Bruk! Tubuh Kaisar yang masih lemah pasca koma, terdorong dan membentur tembok lorong rumah sakit. "Mas Kai!" kata Liona. Kaget melihat suaminya di dorong oleh Ryuga. "Ibuku bukan pelacur, ibuku bukan perempuan jalang. Kamu boleh benci dan hina aku anak haram, tapi jangan pernah sebut ibuku sebagai pelacur!" kata Ryuga dengan suaranya yang keras dan lantang. Mendengar perkataan Ryuga, Kaisar yang dibantu berdiri oleh Liona itu pun tertawa dengan keras. Menertawakan Ryuga yang sepertinya sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi. "Haha... sampai kapanpun kebenaran gak akan berubah, Ryu. Ibumu tetaplah pelacur dan perempuan j
"Sayang, kamu beneran mau ikut pulang ke rumah papa dan mama?" Liona yang saat ini duduk di kursi, bertanya pada Kaisar yang bersandar di kepala ranjang pasiennya. Ditanya, Kaisar menganggukkan kepalanya. "Kalau orang tua kamu gak keberatan! Kalau mereka keberatan aku tinggal di sana, kita balik ke apartemen aja." Pria yang baru sadar dari koma dan sedang dalam tahap pemulihan itu menimpali perkataan istrinya dengan santai, tetapi bernada serius. Mendengar perkataan Kaisar yang negatif thinking, Liona menghela napas pelan. Sejak bangun dari koma, suaminya itu begitu sensitif dan mudah sekali marah. "Mama dan papa gak mungkin keberatan, Mas. Aku nanya gitu karena takut kamu berubah pikiran," kata Liona dengan pelan. "Aku gak akan berubah pikiran. Tinggal di mana pun bagiku sama aja, yang penting gak tinggal di kediaman keluarga Prasetya," kata Kaisar. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Jika mengingat seperti apa masa lalunya di keluarga Prasetya dan seperti apa penderitaan ibu
"Kenapa? Takut gak bisa melindungi anak sialan dan cucu haram Kakek lagi kalau ingatanku pulih?" Duar! Perkataan yang dilontarkan oleh Kaisar membuat wajah Tuan Reynald memucat, bahkan tubuhnya seketika menegang. Sepertinya, ingatan putranya sudah benar-benar pulih sepenuhnya. Sedangkan Tuan Jayden yang berdiri di samping ranjang pasien itu, menatap sendu pada cucunya. Niatnya menghapuskan ingatan Kaisar di masa lalu bukan semata-mata untuk melindungi Tuan Reynald dan Ryuga, tetapi juga demi kebaikan Kaisar agar tidak hidup di dalam bayang-bayang buruk kematian ibu dan adiknya. "Kenapa, kenapa Kakek diam? Bener kan, Kakek takut ingatanku pulih?" lanjut Kaisar, berbicara dengan nada bicaranya yang mulai rendah. Sedangkan sepasang matanya yang memerah, kini mulai berkaca-kaca. Ditanya oleh cucunya, Tuan Jayden yang diam membisu, menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kakek gak bermaksud begitu, Dam. Kakek melakukan semua itu demi kamu, demi kebaikan mental dan kewarasanmu...." kat
"Baiklah, aku akan bergabung ke perusahaan seperti yang Papa mau. Tapi, apa boleh aku ngambil posisi yang sama kayak Kaisar?"Perkataan yang keluar dari bibir Ryuga, membuat mata tua Tuan Jayden melotot tajam. Bahkan, pria renta itu seketika beranjak dari duduknya. "Apa yang kamu katakan, Ryuga? K
"Kaisar titip pesan ke saya buat kamu, katanya kamu harus bisa nerima kenyataan!"Liona yang duduk bersandar pada kepala ranjang, tampak menitikan air mata saat mengingat perkataan Aryo. Ia tak mengerti, apa maksud Kaisar berpesan seperti itu? Kenyataan apa yang dimaksud? Apakah kenyataan jika mer
Brak! Kaisar yang duduk di kursi kebesarannya, mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sumber suara. Dilihatnya, Tuan Reynald yang datang, menggebrak meja kerjanya dan meletakkan berkas proyek yang sebelumnya ia tolak. "Ada apa?" tanya Kaisar. Suaranya datar dan terdengar santai, sedangkan mata
"Sayang, gimana? Udah belum belanjanya? Kalau gak ada yang cocok, kita cari ke toko lain!" Suara yang terdengar familiar di telinga, membuat Diana langsung menoleh. Matanya membeliak kala melihat Kaisar mendekat ke arahnya dan Liona. Sedangkan Liona yang juga menoleh, memasang senyuman lebar pada







