LOGINZoe menghela napasnya beberapa kali. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Setelah kejadian di lorong rumah sakit kemarin, Xavier mengantarkannya pulang. Pria itu tak mengatakan apapun padanya. Bahkan sampai pagi ini tidak ada satu pesan pun yang dikirimkan oleh pria itu. Xavier langsung kembali ke rumah sakit setelah mengantarkannya kemarin.Ini tentu bukan salahnya tapi sikap Xavier membuatnya seolah bersalah atas apa yang telah terjadi. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun saat Anthony mengajaknya bicara.“Menyebalkan!” seru Zoe. Ia menatap ponselnya, mengharapkan Xavier menghubunginya atau paling tidak mengirimkannya pesan. “Hai!” sapa Sofia setengah mengageti Zoe.Sofia yang baru datang bermaksud mengajak Zoe bercanda, namun wajah Zoe yang terlihat lesu membuatnya mengerutkan keningnya.“Apa ada masalah?” tanya Sofia perhatian.Zoe menganggukkan kepalanya lemah. Ia menatap Sofia dengan wajah sendunya. Tadi saat di dalam kelas, ia masih bisa menyembunyikan kegel
“Kamu baik-baik saja?” Zoe menggenggam tangan Xavier. Saat ini mereka sedang ada di kantin rumah sakit. Xavier menganggukkan kepalanya. Sejujurnya hatinya masih merasakan kesal. Luka yang dialaminya tidak akan pernah sembuh meski ia berobat ke psikiater. Luka itu dalam dan menggores begitu dalam hingga membuatnya takut akan jatuh cinta. Namun pertemuannya dengan Zoe, mengubah segalanya. Ia mulai bangkit dan belajar arti mencintai.“Mau pulang saja?” tawar Zoe.Xavier menggelengkan kepalanya. Ia membalas genggaman tangan Zoe. “Ini pertama kalinya Anthony ke sini, membiarkannya sendirian bukan ide yang bagus.”Zoe tersenyum. “Ternyata kamu lebih perhatian dari apa yang aku bayangkan,” goda Zoe.“Aku tidak perhatian. Aku hanya tidak ingin dia tersesat dan lebih merepotkanku,” balas Xavier menyangkal semua godaan Zoe.Zoe hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, mengiyakan semua apa yang dikatakan oleh Xavier. Ia cukup tahu bagaimana sifat Xavier setelah tinggal di sisinya cukup
“Siapa dia Eros?”“Kak….”Kening Zoe semakin mengkerut saat pria dengan lesung pipi itu berjalan semakin mendekat. Tatapan Xavier yang tadinya melunak kini kembali mengeras. Tubuhnya bergerak menutupi tubuh Zoe, seolah tengah melindungi wanitanya.“Aku kira kamu tidak akan kembali. Aku sudah resah sejak tadi. Syukurlah kamu kembali, Kak,” ucap pria berambut coklat itu.“Berhenti memanggilku Kakak!” seru Xavier tak suka.Pria berambut coklat itu seolah menulikan telinganya. Pria itu juga terlihat terus tersenyum meski Xavier bersikap dingin kepadanya.“Berhentilah menyuruhku untuk tidak memanggilmu Kakak,” balas Anthony–pria berambut coklat yang sejak tadi terus memanggil Xavier, kakak.Xavier memutar bola matanya jengah. Ia menatap malas pada sosok Anthony yang terus berdiri di depannya tanpa ada rasa takut.“Siapa di belakangmu? Apa dia kekasihmu?” Anthony mencoba mengintip sosok Zoe yang masih berdiri di belakang Xavier.“Calon istriku!”Zoe tersedak ludahnya sendiri. Setelah seolah
“Apa kamu tahu kalau aku mencintaimu?” sambung Adam.Zoe terdiam. Matanya menatap lekat Xavier yang tengah menatapnya dengan tatapan jengah. Tangan pria itu terulur, mengambil alih ponsel Zoe yang masih menempel di telinganya.Jantung Zoe berdebar keras, matanya bergerak gelisah kala Xavier menempelkan ponsel itu di telinganya.“Aku tahu mungkin ini sangat sulit bagimu, tapi untuk terakhir kalinya aku ingin mengetahui apakah kamu tahu bahwa aku mencintaimu?” ulang Adam.Xavier tersenyum sinis. Matanya menyipit semakin tajam. Mata itu menatap lekat dan dalam Zoe, seolah wanita itu adalah target buruannya. Wajah Xavier juga terlihat mengeras. Tidak ada kelembutan di sana. Entah apa yang didengar pria itu. Melihat itu semua, hati Zoe semakin dibuat gelisah.“Jika tahu, memang apa untungnya untukmu. Zoe adalah milikku, sekeras apapun kamu mencoba untuk mendekatinya, usahamu akan berakhir sia-sia!” tegas Xavier. Suaranya dingin dan menusuk.Adam terkejut. Pupilnya melebar saat mendengar su
“Aku….”Zoe langsung mematikan sambungan teleponnya ketika mata indahnya menangkap sosok Xavier yang baru saja masuk ke ruang makan. Pria itu tersenyum saat melihat Zoe. Langkah tegap Xavier mendekati sosok yang sudah mengisi hari-harinya itu. Sebuah kecupan singkat mendarat begitu saja di dahi Zoe.“Kenapa dimatikan? Ku lihat tadi kamu begitu serius saat sedang berbicara di telepon,” tanya Xavier. Ia mengaitkan tangannya dengan tangan Zoe, mengajak wanitanya untuk duduk.Zoe tersenyum tipis. Hatinya berdebar kencang seolah dirinya tertangkap basah tengah berselingkuh, padahal dia hanya menerima panggilan telepon dari Adam–pria yang paling dibenci oleh Xavier.“Sofia menghubungiku dan mengajakku untuk pergi berbelanja,” sahut Zoe berbohong.Debaran jantungnya semakin cepat. Tatapan mata Xavier yang menatapnya dalam dan tajam membuatnya gugup. Ini adalah kebohongan yang dilakukannya secara terang-terangan untuk kali pertama. Entah bagaimana reaksi Xavier jika tahu bahwa yang menghubun
Zoe tertunduk. “Maaf…,” lirihnya.Xavier menghela napasnya. “Kamu tahukan aku tidak akan merubah pendirianku. Jadi percuma kamu memohon padaku.”Zoe mesih tertunduk. Tangannya saling meremat, gelisah. “Aku hanya mencoba membantunya. Aku tahu kamu tidak akan merubah pendirianmu, tapi….”“Tapi apa?" potong Xavier. " Jika kamu tahu kamu harusnya menolak dengan tegas permintaan Adam.”Xavier menatap Zoe. Ada rasa kecewa sekaligus cemburu dalam tatapannya. “Kita sudah bersama lama, Angel. Harusnya kamu tahu bagaimana aku." Ada rasa bersalah dalam diri Zoe. Wajahnya sendu menatap takut-takut Xavier. Pria itu terlihat marah dan juga kecewa.Mungkin ini memang salahnya. Harusnya sejak awal dia tidak menerima permintaan Adam. Sekarang dia dilema sendiri antara memohon atau mengerti keadaan Xavier." Kamu tahu, jika aku datang maka hal itu tidak akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir untuk Aluna. Wanita itu pasti mencari cara untuk membuatku kembali lagi. Apa kamu rela aku terus datang da







