Share

Bab 34. Lolos

Author: Anggun_sari
last update Last Updated: 2025-10-10 20:08:48

Zoe membulatkan matanya. Ketukan pada jendela mobil Xavier, sukses membuat jantungnya berhenti. Baik Zoe dan Xavier, keduanya sama-sama menoleh menatap dengan ekspresi berbeda seorang pria dengan tubuh gempal yang berdiri di depan mobil Xavier.

“Pakai celana mu!” ucap Xavier tenang. Tangannya mengambil celana milik Zoe yang tadi dilemparkannya ke belakang lalu memberikan pada Zoe.

Ketukan itu kembali terdengar. Setelah memastikan penampilannya dan Zoe sudah benar-benar rapi, Xavier membuka kaca jendelanya. Tidak ada ekspresi panik atau takut yang ditujukan oleh Xavier. Wajah pria itu datar dan dingin seolah tidak pernah melakukan kesalahan apapun beberapa menit yang lalu.

“Sedang bersenang-senang?” Sebuah pertanyaan bernada sindiran terlontar menyambut Xavier kala pria itu menurunkan kaca mobilnya.

Xavier hanya menyunggingkan senyum miring, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, memberikan pada pria gempal tersebut sebagai uang tutup mulut

“Terima kasih,” ucap si p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 186. Pertanyaan terpendam

    Zoe tertunduk. “Maaf…,” lirihnya.Xavier menghela napasnya. “Kamu tahukan aku tidak akan merubah pendirianku. Jadi percuma kamu memohon padaku.”Zoe mesih tertunduk. Tangannya saling meremat, gelisah. “Aku hanya mencoba membantunya. Aku tahu kamu tidak akan merubah pendirianmu, tapi….”“Tapi apa?" potong Xavier. " Jika kamu tahu kamu harusnya menolak dengan tegas permintaan Adam.”Xavier menatap Zoe. Ada rasa kecewa sekaligus cemburu dalam tatapannya. “Kita sudah bersama lama, Angel. Harusnya kamu tahu bagaimana aku." Ada rasa bersalah dalam diri Zoe. Wajahnya sendu menatap takut-takut Xavier. Pria itu terlihat marah dan juga kecewa.Mungkin ini memang salahnya. Harusnya sejak awal dia tidak menerima permintaan Adam. Sekarang dia dilema sendiri antara memohon atau mengerti keadaan Xavier." Kamu tahu, jika aku datang maka hal itu tidak akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir untuk Aluna. Wanita itu pasti mencari cara untuk membuatku kembali lagi. Apa kamu rela aku terus datang da

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 185. Berhenti menyembunyika sesuatu dariku

    “Aluna…?” lirih Zoe yang berdiri di belakang Adam.Adam menoleh menata Zoe. “Lihatlah, dia begitu mengenaskan bukan. Wajah cantiknya kini hilang entah kemana. Sekarang kakakku hanya bisa menangis dan berteriak. Sesekali bibirnya memanggil nama Pak Xavier.”Zoe menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya hampir menetes melihat kondisi Aluna yang tampak memprihatinkan. Wanita itu benar-benar terlihat seperti orang gila. Sesekali Aluna terlihat tertawa, sesekali wanita itu berteriak kencang.“Aku ingin sekali membawa kakakku berobat, tapi kedua orang tuaku menghalanginya.” Adam menatap Zoe sendu.“Jika Pak Xavier tetap tidak mau bertemu dengan kakakku, mungkin aku akan membawa kakakku ke luar negeri untuk berobat di sana tak ada yang mengenal kami,” terang Adam.“Boleh aku mengambil video kakakmu?" Taya Zoe. "Aku akan menunjukkannya kepada Pak Xavier nanti. Mungkin dengan melihat video yang aku ambil, Pak xavier menjadi iba,” ujar Zoe.Adam mengangguk. Ia mempersilahkan Zoe untuk mengamb

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 184. Tak bisa menolak

    “Aku tidak bisa menjanjikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap Pak Xavier. Dia akan tetap berkata tidak untuk sesuatu yang tidak diinginkannya," jawab Zoe."Aku tahu betul tentang itu, tapi aku mohon sekali ini saja. Kakakku bisa mencelakai dirinya sendiri lama-lam, Zoe.”Adam masih berlutut, memohon sesuatu yang sudah tahu akan bagaimana hasilnya. Namun ia masih mencoba melakukannya. Hatinya benar-benar hancur saat melihat kakaknya terpuruk seperti ini.“Atau kamu mau melihat sendiri bagaimana keadaannya? Mungkin dengan begitu hatimu akan terketuk,” kata Adam masih berusaha memohon pada Zoe.Zoe menggigit bibirnya. Perasaannya mulai bimbang. Dia tahu betul bagaimana keadaan Aluna saat itu. Wanita yang dulu selalu terlihat cantik dan mempesona itu kini sudah berubah menjadi wanita yang tidak lagi memperhatikan dirinya.Zoe menatap mata Adam, jelas sekali terlihat bahwa pria itu sangat putus asa.“Aku mohon….”Goyangan di tangannya membuat Zoe tersadar dari lamunannya. Kepalanya men

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 183. Memohon

    “Hati-hati dijalan. Semoga liburanmu kali ini menyenangkan,” ucap Xavier. Ia memeluk tubuh mamanya sebelum wanita itu benar-benar pergi. Kemarin setelah pergi bertiga dan menikmati waktu bersama, sore harinya Xavier dan Zoe mengantarkan Nora ke bandara. Nora menganguk. “Kalian juga hati-hati, jangan sering bertengkar. Hubungi Tante jika Xavier berani menyakitimu,” kata Nora berpesan.Zoe mengulas senyumnya. Ia bergantian memeluk tubuh Nora. Kali ini Nora ingin berlibur ke Jepang.Hangat, itu yang dirasakan Zoe setiap kali ia berpelukan dengan Nora. Ia bahkan tak ingat lagi bagaimana rasanya pelukan ibunya. Sudah hampir puluhan tahun ibunya pergi tanpa pesan.“Iya Tante. Nanti saya akan langsung menghubungi Tante jika Xavier berani macam-macam.” Canda Zoe. Ia tersenyum lebar meski matanya hampir mengeluarkan air mata.“Jangan menangis, Tante pasti kembali. Tante juga harus menghadiri sidang perceraian Tante kan,” ucap Nora saat melihat air mata Zoe hampir jatuh.Zoe mengangguk. Sekal

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 182. Terima kasih karean sudah mau menerimaku

    “Syarat apa?"Xavier tersenyum licik. " Puaskan aku malam ini," bisik Xavier dengan suara lirih.Alis Zoe semakin menukik, matanya menatap tajam Xavier. Pria itu sungguh tak kenal lelah jika berhubungan dengan hal-hal berbau keintiman."Tidak! Malam ini aku mau tidur nyenyak tanpa diganggu,” balas Zoe. Ia pergi begitu saja, menggandeng tangan Nora.Zoe mengabaikan Xavier, sekali-kali ia ingin menolak ajakan yang selalu membuat tubuhnya remuk redam itu. Xavier memang maniak percintaan. Pria itu tidak akan pernah puas hanya dengan sekali permainan.“Tante mau jalan-jalan kemana dulu? Pantai atau berkeliling ke toko sekitaran sini?” tanya Zoe ketika mereka sudah berjalan keluar dari villa."Bagaimana kalau kita jalan-jalan di pinggiran pantai. Setelah itu baru kita jalan-jalan ke tempat lainya,” saran Nora.“Baiklah,” jawab Zoe dengan riang.Seperti keinginan Nora, mereka jalan-jalan ke pinggiran pantai. Banyak wisatawan yang berkunjung meski tak sepadat jika hari libur.Kaki mereka terk

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 181. Berdebat

    Xavier tersenyum miring. “Tidak, aku hanya akan memberikannya sedikit pelajaran.”Bulu kuduk Zoe merinding. Kata-kata yang diucapkan oleh Xavier seperti sebuah kata keramat yang menakutkan. Xavier memang tersenyum saat mengatakannya, namun Zoe tahu dibalik senyumnya itu ada sesuatu yang menakutkan.“Bagaimana kalau kita turun. Mamamu pasti sudah menunggu,” ucap Zoe mengalihkan pembicaraan.Zoe ingin liburannya kali ini hanya mengingat kenangan manis dan kata-kata indah. Untuk sementara waktu otaknya tidak akan ia isi dengan sesuatu hal yang mengarah ke sesuatu yang buruk.Bisa berlibur dan menikmati waktu bersama dengan Nora adalah sesuatu yang harus ia rayakan. Mengingat bagaimana selama ini wanita itu menentang dengan keras hubungannya dengan Xavier, sempat membuat hatinya kecil. Dan sekarang saat Nora sudah menerimanya, tentu hal itu adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu olehnya.Xavier mengangguk. Sebelum tangan kekar itu menggandengnya, Xavier berjalan menuju lemari pakaian. Ia men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status