LOGIN“Ha ha ha… Pax Xavier.” Zoe mengusap belakang kepalanya. Kali ini dia benar-benar mencari masalah.
“Kok Bapak, ada di luar. Bukankah seharusnya Bapak menunggu di dalam? ” Xavier menatap lurus Zoe. Tidak ada ekspresi yang dapat dibaca dari wajah tampannya. Matanya yang tajam serta alisnya yang mengkerut, cukup membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi. “Memangnya kenapa kalau saya di luar? Bukankah ini kampus tempatku mengajar. Dimanapun aku berada, itu bukan urusanmu!” sahut Xavier menusuk. “Atau jangan-jangan kamu tidak ingin saya keluar dari ruangan saya, agar saya tidak bisa mendengar umpatan-umpatan yang kamu tunjukkan untuk saya?!” lanjut Xavier terlihat kesal. “Pria tua? Lalu apa lagi?” “Ha ha ha… Bapak terlalu sensitif. Saya sama sekali tidak mengumpat pada Bapak tadi,” sahut Zoe. “Benarkah? Apa kamu yakin?” Zoe mengangguk dengan cepat menjawab pertanyaan Xavier. Meski kenyataannya benar, tentu dia tidak boleh berkata jujur. Hidupnya akan benar-benar berakhir jika pria itu tahu. “Tapi kenapa saya merasa kalau kata-kata itu memang kamu tunjukkan untuk saya. ” Zoe melambaikan tangannya. “Tidak! Saya benar-benar tidak mengumpat Bapak.” “Bagaimana kalau kita beralih ke topik lain. Kenapa Bapak memanggil saya?” tanya Zoe akhirnya. Xavier berdehem. Lalu berkata, “Masuk!” Xavier membuka pintu ruangannya, berjalan menuju kursi kebesarannya meninggalkan Zoe di belakang. Matanya menatap lurus Zoe, mengamati gadis itu saat dia berdiri depan meja kerjanya. Dia sedang memikirkan cara untuk bisa melihat tato di pinggang Zoe. “Tolong bantu saya,” ucap Xavier. “Ba–bantu? Bantu apa, Pak?” tanya Zoe sedikit tergagap. Dia tentu terkejut dengan permintaan tolong Xavier. “Apa dengan bantuan yang saya berikan, Bapak akan memberikan sedikit nilai pada mata kuliah saya kemarin yang Bapak, tidak beri nilai? ” cerocos Zoe bersemangat. “Akan saya pikirkan, nanti!” dehem Xavier. “Sekarang tolong ambilkan buku di rak tengah itu!” perintah Xavier dengan wajah dingin dan datarnya. “Huh…?” Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali. Rak buku itu ada tepat di belakang Xavier, dan yang terpenting Xavier memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi ketimbang dirinya. Menyuruhnya untuk mengambilkan buku di rak buku tersebut, bukankah itu sangat keterlaluan. “Mengambil buku?” ulang Zoe memastikan. Xavier menganggukkan kepala sementara tangannya bergerak membuka tumpukan kertas yang ada di depannya. “Ba–baiklah!” jawab Zoe akhirnya. Zoe berjalan ke arah rak buku. Kepalanya menoleh menatap Xavier yang masih membolak-balikkan kertas. “Dasar aneh!” batin Zoe. “Bapak mau diambilin buku yang mana?” tanya Zoe kemudian. Xavier menutup keras yang sejak tadi hanya dibolak-balik olehnya. Matanya menatap Zoe yang sudah berdiri di depan rak buku. “Tolong ambilkan buku bersampul biru di rak ke dua!” perintah Xavier. Melihat Zoe yang tidak memiliki tinggi tubuh yang tidak terlalu tinggi, tentu hal itu bisa membuat baju yang dipakainya terangkat dan memperlihatkan tato di pinggangnya. “Ini…?” tanya Zoe. Xavier menatap lurus pada pinggang Zoe, tanpa berkedip seolah pinggang Zoe adalah santap yang terlihat nikmat. “Sama tolong ambilkan buku di rak bagian atas. Buku bersampul hijau itu, saya juga membutuhkannya.” “Huh…?” Zoe menolehkan kepalanya. Bibirnya mengerucut menatap Xavier. Bagaimana bisa di mengambi di rak atas. “Bapak serius? Masalahnya saya—” “Tidak mau?” potong Xavier. “Ha ha ha… tidak kok, Pak. Saya mau, beneran deh!” balas Zoe menahan kesalnya. Xavier tersenyum samar melihat Zoe yang bersusah payah mengambil buku di rak atas. Tangan dan juga tinggi tubuh Zoe yang tak lebih dari seratus enam puluh tujuh sentimeter itu membuat, baju Zoe tersingkap ke atas. Memperlihatkan tato bulan sabit dengan bunga lily yang ada di pinggangnya. “Ini!” kata Zoe menyerahkan dua buku yang diinginkan Xavier. “Terima kasih,” balas Xavier dengan senyum anehnya. “Kamu bisa keluar!” kata Xavier selanjutnya. Zoe mengangga, dia hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Laki-laki itu hanya memintanya untuk mengambil buku yang pasti bisa diambil, lalu menyuruhnya pergi. Apa saat ini Xavier sedang mengerjainya? “Pergi, Pak?” tanya Zoe memastikan. Xavier menarik napas panjang. Jari telunjuknya, mencoba membenarkan posisi kacamata baca yang dipakainya. “Kenapa? Tidak mau pergi?” Zoe melambai-lambaikan tangannya. “Tidak, bukan seperti itu. Kalau begitu saya permisi, Pak!” ucap Zoe segera pergi dari ruang Xavier. Mata Zoe menyipit menatap pintu ruang kerja Xavier yang tertutup. Bibirnya terus bergumam mengeluarkan sumpah serapahnya. Dosen killer sekaligus menyebalkan itu seperti tengah mengerjainya saja. Dia harus berlari dan meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Xavier, tapi yang ada pria itu mengerjainya. Sekali lagi mengerjainya! “Dasar pria tua menyebalkan!” omel Zoe. “Jika saja kamu bukan dosen ku, sudah aku pastikan kalau wajahmu tidak akan terlihat tampan lagi!” lanjutnya masih tidak terima. Zoe menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Mengambil buku di rak paling atas membuat tangannya sedikit sakit. Dia harus berjinjit dan mengerahkan kekuatan pada tangganya untuk bisa mengambil buku yang diminta oleh Xavier. “Menyebalkan! Dasar dosen gila!” omel Zoe masih berdiri di depan ruang kerja Xavier. “Apa dengan sifatnya yang seperti itu dia bisa mendapatkan pendamping hidup. Hanya mengandalkan ketampanannya, tidak akan membuat wanita tergila-gila padanya!” “Hanya wanita bodoh yang mau berpacaran dengan pria menyebalkan seperti dia!” “Pria menyebalkan?” “Pa–Pak Xavier…?” Zoe merutuki kebodohannya, untuk kedua kalinya dia ketahuan sedang mengumpat dan menyumpahi Xavier. “Kok, Bapak….” “Kenapa? Takut karena ketahuan telah menghinaku lagi?” potong Xavier matanya yang tajam, menyipit menatap Zoe. “Ha ha ha… tidak, bukan seperti itu,” sahut Zoe salah tingkah. “Eum… Pak, Bapak tidak akan memberikan nilai minus pada saya kan?” tanya Zoe harap-harap cemas. Xavier adalah orang yang terkenal tidak mudah diajak berkompromi. Laki-laki itu sangat tegas dan teguh dalam memegang keyakinannya. Xavier tersenyum miring. “Itu semua tergantung pada performa mu.” “Huh…?” Zoe mengerjapkan matanya, melihat punggung Xavier yang sudah menjauh dari hadapannya. Kata-kata yang diucapkan oleh Xavier sungguh terasa ambigu. Performa? Performa apa?Zoe tertunduk. “Maaf…,” lirihnya.Xavier menghela napasnya. “Kamu tahukan aku tidak akan merubah pendirianku. Jadi percuma kamu memohon padaku.”Zoe mesih tertunduk. Tangannya saling meremat, gelisah. “Aku hanya mencoba membantunya. Aku tahu kamu tidak akan merubah pendirianmu, tapi….”“Tapi apa?" potong Xavier. " Jika kamu tahu kamu harusnya menolak dengan tegas permintaan Adam.”Xavier menatap Zoe. Ada rasa kecewa sekaligus cemburu dalam tatapannya. “Kita sudah bersama lama, Angel. Harusnya kamu tahu bagaimana aku." Ada rasa bersalah dalam diri Zoe. Wajahnya sendu menatap takut-takut Xavier. Pria itu terlihat marah dan juga kecewa.Mungkin ini memang salahnya. Harusnya sejak awal dia tidak menerima permintaan Adam. Sekarang dia dilema sendiri antara memohon atau mengerti keadaan Xavier." Kamu tahu, jika aku datang maka hal itu tidak akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir untuk Aluna. Wanita itu pasti mencari cara untuk membuatku kembali lagi. Apa kamu rela aku terus datang da
“Aluna…?” lirih Zoe yang berdiri di belakang Adam.Adam menoleh menata Zoe. “Lihatlah, dia begitu mengenaskan bukan. Wajah cantiknya kini hilang entah kemana. Sekarang kakakku hanya bisa menangis dan berteriak. Sesekali bibirnya memanggil nama Pak Xavier.”Zoe menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya hampir menetes melihat kondisi Aluna yang tampak memprihatinkan. Wanita itu benar-benar terlihat seperti orang gila. Sesekali Aluna terlihat tertawa, sesekali wanita itu berteriak kencang.“Aku ingin sekali membawa kakakku berobat, tapi kedua orang tuaku menghalanginya.” Adam menatap Zoe sendu.“Jika Pak Xavier tetap tidak mau bertemu dengan kakakku, mungkin aku akan membawa kakakku ke luar negeri untuk berobat di sana tak ada yang mengenal kami,” terang Adam.“Boleh aku mengambil video kakakmu?" Taya Zoe. "Aku akan menunjukkannya kepada Pak Xavier nanti. Mungkin dengan melihat video yang aku ambil, Pak xavier menjadi iba,” ujar Zoe.Adam mengangguk. Ia mempersilahkan Zoe untuk mengamb
“Aku tidak bisa menjanjikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap Pak Xavier. Dia akan tetap berkata tidak untuk sesuatu yang tidak diinginkannya," jawab Zoe."Aku tahu betul tentang itu, tapi aku mohon sekali ini saja. Kakakku bisa mencelakai dirinya sendiri lama-lam, Zoe.”Adam masih berlutut, memohon sesuatu yang sudah tahu akan bagaimana hasilnya. Namun ia masih mencoba melakukannya. Hatinya benar-benar hancur saat melihat kakaknya terpuruk seperti ini.“Atau kamu mau melihat sendiri bagaimana keadaannya? Mungkin dengan begitu hatimu akan terketuk,” kata Adam masih berusaha memohon pada Zoe.Zoe menggigit bibirnya. Perasaannya mulai bimbang. Dia tahu betul bagaimana keadaan Aluna saat itu. Wanita yang dulu selalu terlihat cantik dan mempesona itu kini sudah berubah menjadi wanita yang tidak lagi memperhatikan dirinya.Zoe menatap mata Adam, jelas sekali terlihat bahwa pria itu sangat putus asa.“Aku mohon….”Goyangan di tangannya membuat Zoe tersadar dari lamunannya. Kepalanya men
“Hati-hati dijalan. Semoga liburanmu kali ini menyenangkan,” ucap Xavier. Ia memeluk tubuh mamanya sebelum wanita itu benar-benar pergi. Kemarin setelah pergi bertiga dan menikmati waktu bersama, sore harinya Xavier dan Zoe mengantarkan Nora ke bandara. Nora menganguk. “Kalian juga hati-hati, jangan sering bertengkar. Hubungi Tante jika Xavier berani menyakitimu,” kata Nora berpesan.Zoe mengulas senyumnya. Ia bergantian memeluk tubuh Nora. Kali ini Nora ingin berlibur ke Jepang.Hangat, itu yang dirasakan Zoe setiap kali ia berpelukan dengan Nora. Ia bahkan tak ingat lagi bagaimana rasanya pelukan ibunya. Sudah hampir puluhan tahun ibunya pergi tanpa pesan.“Iya Tante. Nanti saya akan langsung menghubungi Tante jika Xavier berani macam-macam.” Canda Zoe. Ia tersenyum lebar meski matanya hampir mengeluarkan air mata.“Jangan menangis, Tante pasti kembali. Tante juga harus menghadiri sidang perceraian Tante kan,” ucap Nora saat melihat air mata Zoe hampir jatuh.Zoe mengangguk. Sekal
“Syarat apa?"Xavier tersenyum licik. " Puaskan aku malam ini," bisik Xavier dengan suara lirih.Alis Zoe semakin menukik, matanya menatap tajam Xavier. Pria itu sungguh tak kenal lelah jika berhubungan dengan hal-hal berbau keintiman."Tidak! Malam ini aku mau tidur nyenyak tanpa diganggu,” balas Zoe. Ia pergi begitu saja, menggandeng tangan Nora.Zoe mengabaikan Xavier, sekali-kali ia ingin menolak ajakan yang selalu membuat tubuhnya remuk redam itu. Xavier memang maniak percintaan. Pria itu tidak akan pernah puas hanya dengan sekali permainan.“Tante mau jalan-jalan kemana dulu? Pantai atau berkeliling ke toko sekitaran sini?” tanya Zoe ketika mereka sudah berjalan keluar dari villa."Bagaimana kalau kita jalan-jalan di pinggiran pantai. Setelah itu baru kita jalan-jalan ke tempat lainya,” saran Nora.“Baiklah,” jawab Zoe dengan riang.Seperti keinginan Nora, mereka jalan-jalan ke pinggiran pantai. Banyak wisatawan yang berkunjung meski tak sepadat jika hari libur.Kaki mereka terk
Xavier tersenyum miring. “Tidak, aku hanya akan memberikannya sedikit pelajaran.”Bulu kuduk Zoe merinding. Kata-kata yang diucapkan oleh Xavier seperti sebuah kata keramat yang menakutkan. Xavier memang tersenyum saat mengatakannya, namun Zoe tahu dibalik senyumnya itu ada sesuatu yang menakutkan.“Bagaimana kalau kita turun. Mamamu pasti sudah menunggu,” ucap Zoe mengalihkan pembicaraan.Zoe ingin liburannya kali ini hanya mengingat kenangan manis dan kata-kata indah. Untuk sementara waktu otaknya tidak akan ia isi dengan sesuatu hal yang mengarah ke sesuatu yang buruk.Bisa berlibur dan menikmati waktu bersama dengan Nora adalah sesuatu yang harus ia rayakan. Mengingat bagaimana selama ini wanita itu menentang dengan keras hubungannya dengan Xavier, sempat membuat hatinya kecil. Dan sekarang saat Nora sudah menerimanya, tentu hal itu adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu olehnya.Xavier mengangguk. Sebelum tangan kekar itu menggandengnya, Xavier berjalan menuju lemari pakaian. Ia men







