Share

Bab 6. Sleep Call

Auteur: Anggun_sari
last update Dernière mise à jour: 2025-09-30 09:39:16

Zoe merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lima belas menit lagi dia harus memulai livenya, tapi entah kenapa rasanya dia malas melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaannya itu. Andai penghasilan yang didapatkannya selama ini tidak terus habis, pasti dia akan selalu bersemangat setiap kali memulai livenya.

“Eros…?”

Tubuh Zoe meremang. Panggilan suara dari Eros, membuatnya kelimpungan. Laki-laki itu tahu dia akan memulai livenya sebentar lagi, tapi dia justru menghubunginya. Selain itu, dia juga belum siap jika Eros menagih janjinya–menghabiskan malam bersama.

“Sedang bersiap-siap?”

Sapaan suara berat dari Eros, membuat Zoe menggigit bibirnya. Jantungnya berdebar kencang bahkan sebelum Eros mengatakan maksudnya melakukan panggilan telepon.

“Heem…,” jawab Zoe.

“Boleh jika malam ini kamu tidak melakukannya?” Pinta Eros.

Zoe yang awalnya berbaring di kasur, seketika duduk bersila. Permintaan Eros itu terdengar seperti permintaan seorang kekasih yang tidak mau melihat kekasihnya pergi menghibur orang lain.

“Tapi aku sudah terbiasa melakukannya. Para penggemar ku pasti akan kecewa jika aku tidak live,” kata Zoe beralasan. Dia tidak bisa jika harus kehilangan sehari saja pendapat tetapnya ini.

“Takut penggemarmu kecewa atau pendapatanmu hilang?” komentar Eros.

Suasana hening sesaat. Zoe tidak menjawab pertanyaan Eros. Sebenarnya dia lebih ke takut pendapatnya hilang. Uang yang didapatkannya setiap malam selalu habis. Bahkan uang dua ratus juta yang telah diberikan oleh Eros kemarin, akan jatuh ke tangan orang lain esok pagi.

“Aku akan membayarmu untuk ini jika kamu takut pendapatmu hilang,” ujar Eros.

“Tidak perlu!” sahut Zoe dengan nada setengah terkejut.

“Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar sebelum jam live ku dimulai. Dan kita bisa mengobrol lagi setelah live, jika kamu kamu?” tawar Zoe, mengambil jalan tengah.

Dia tidak ingin menerima uang cuma-cuma dari Eros, semalam pria itu telah memberinya dua ratus juta. Lalu sekarang pria itu akan memberikan uang lagi untuknya. Entah seberapa kaya pria itu. Uang seolah tidak memiliki harga diri di depannya. Berbeda sekali dengannya. Ia selalu harus menghitung setiap pengeluarannya. Bahkan untuk makan, ia juga harus berhemat.

“Kenapa? Bukankah wanita sangat menyukai uang? Kamu juga menyukai uang kan, karena itu kamu tidak ingin meninggalkan live mu.”

Zoe tersenyum kecut. Dia bukan menyukai uang, lebih tepatnya membutuhkan uang. Jika bisa dia lebih memilih bekerja dengan gaji cukup, asal hidupnya tenang. Sayang lagi-lagi semua itu hanya ada dalam mimpinya saja. Selama hutang-hutang ayahnya masih menumpuk, hidupnya tidak akan pernah tenang. Akan selalu saja ada orang yang menagih hutang kepadanya.

“Apa kata-kataku menyinggungmu?” tanya Eros saat Zoe diam.

“Tidak,” jawab Zoe sembari menghembuskan napas panjang.

Hening. Tidak ada yang berbicara. Keadaan tiba-tiba menjadi kikuk usai percakapan yang sebenarnya tidak terlalu sensitif itu. Zoe menatap jarum jam yang terus berputar tak kenal lelah.

“Apa kamu tidak penasaran dengan wajahku?” tanya Eros setelah keheningan menyapa mereka.

“Huh…?”

“Aku sangat penasaran denganmu. Kamu pasti sangat cantik,” ucap Eros memuji.

Zoe tersipu malu. “Aku sama sekali tidak cantik. Aku hanya wanita yang memiliki wajah biasa-biasa saja,” balas Zoe.

“Benarkah?” sahut Eros setengah tak percaya. “Tapi suaramu terdengar merdu,” lanjutnya.

“Kalau begitu kamu juga pasti sangat tampan,” celetuk Zoe.

“Tampan? Wajahku bahkan jauh dari kata itu,” balas Eros.

“Benarkah? Tapi suaramu seperti suara-suara CEO kaya raya atau sugar daddy!”

“Memangnya kamu sudah pernah melihat CEO kaya raya, hingga bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya Eros.

“Tidak! Bagaimana mungkin rakyat biasa seperti aku bisa berkenalan dengan CEO.”

Zoe yang tadinya duduk kembali merebahkan tubuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat, malam ini dia benar-benar tidak melakukan live dan hanya menemani Eros mengobrol melalui sambungan telepon.

“Jika bisa aku juga ingin bertemu dengan seorang CEO tampan kaya raya. Pasti hidupku seperti di dongeng-dongeng. Bertemu CEO kaya raya, lalu diberi cek dengan nilai ratusan miliar oleh orang tuanya yang menentang hubungan kami.” Zoe menarik napas panjang. Mulai membayangkan hal yang tidak-tidak.

“Ah… jadi kamu menyukai tipe CEO kaya raya dan tampan,” komentar Eros.

“Berarti kamu tidak akan senang jika bertemu denganku nanti,” lanjut Eros.

Zoe mengernyitkan kening. “Kenapa aku bisa tidak senang? Apa milikmu tidak berfungsi, hingga kamu bisa mengatakan kalau aku tidak senang saat bertemu mu nanti?” timpal Zoe sedikit bercanda.

“Cih… apa kamu meragukan kemampuanku. Bukankah setiap malam kamu memanjakannya dengan caramu.”

Blus….

Pipi Zoe memerah. Kata-kata yang keluar dari mulut Eros sukses membuatnya malu. Dia cukup tahu jika selama ini dia telah membangkitkan pikiran liar para penontonnya hanya dengan gerakan yang dilakukannya. Tapi dia sama sekali tidak sampai berpikir bahwa mereka sampai melakukan permainan solo untuk mendapatkan kenikmatan.

“Mau membuktikannya sekarang?” celetuk Eros.

“Huh…? Membuktikannya sekarang? Maksudmu bertemu?” sahut Zoe gelagapan.

“Iya, ayo kita bertemu.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Mita Yoo
hayooo Zoe kena ulti
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bqb 209. Aku akan menikah

    “Kamu yakin tidak ingin aku antarkan?” Xavier masih betah berbaring di atas kasur. Semalam mereka melakukan olahraga malam hingga pagi hampir menjelang. “Tidak. Aku ingin berbicara berdua dengan adikku. Tidak apa-apa kan?” balas Zoe. ia sedang menyisir rambutnya. Pagi ini rencananya dia akan pergi berkunjung ke Arabella dan mengatakan pada adiknya bahwa dia akan segera menikah dengan Xavier.“Jadi kamu akan meninggalkanku seharian hari ini?” keluh Xavier.Zoe tersenyum. Ia berjalan mendekat dan duduk di ujung kasur. “Bagaimana kalau kamu pergi keluar dengan Reyhan?”“Dia sedang sibuk,” jawab Xavier.Zoe kembali tersenyum manis. Ia mengusap lengan Xavier dan mengecup singkat bibir pria itu. “Kalau begitu aku akan pulang cepat nanti,” kata Zoe berjanji.Xavier mengangguk. Ia mengacak gemas pucuk kepala Zoe. “Pergilah, hati-hati di jalan. Aku menunggumu di rumah.”“Oh ya, apa hari ini aku juga boleh mengajak jalan-jalan Arabella?” tanya Zoe ketika hendak pergi.Xavier menganggukkan kep

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 207. Kabar mengejutkan

    Zoe mengernyitkan keningnya saat menuruni anak tangga. Bunyi suara panci berdenting di dapur membuatnya penasaran. Seingatnya, Xavier mengatakan jika dia memberikan jatah libur untuk LIliana.“Anthony…?” Anthony tersenyum lebar. Tangan kanannya masih memegang spatula saat membalas sapaan Zoe. “Good morning.”“Apa kakakku masih tidur, cepat bangunkan dia dan kita sarapan bersama,” ucap Anthony. Ia memindahkan masakan terakhirnya ke dalam piring sebelum menatanya di meja makan.“Kamu…bisa memasak?” tanya Zoe hampir tak percaya. Ia rasa semua keluarga Xavier bisa melakukan pekerjaan dapur.“Tentu saja. Apa kamu tidak bisa memasak?” sahut Anthony. “Meski tinggal bersama mamaku, aku masih sering memasak,” imbuhnya.Xavier tersenyum miring saat mendengar ucapan Anthony. Ia berdiri di sisi Zoe, memeluk posesif pinggang wanita itu. “Kenapa tidak membangunkanku?” protes Xavier.Zoe tersenyum manis. Ia menghadap Xavier sepenuhnya. “Kamu kelihatan lelah, jadi aku membiarkanmu tidur lebih lama l

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 206. Gagal bercinta

    “Membuat anak. Kapan kita bisa melakukannya?”“Me–membuat anak?” gagap Zoe. “Iya, aku ingin segera menimang anak Angel. Aku ingin melihatmu hamil. Kata orang bentuk tubuh ibu hamil sangat seksi,” ucap Xavier.Zoe tertawa kaku. Ia tak bisa berkata apa-apa. Entah kemasukan apa Xavier hingga dalam waktu singkat pria itu seolah berubah seratus delapan puluh derajat.“Kenapa, apa kamu tidak ingin memiliki anak dariku?” tanya Xavier.“Tidak bukan begitu. Aku hanya merasa ini terlalu cepat. Lagipula kita belum menikah Eros. memiliki anak sebelum kita resmi menikah akan terlihat buruk,” jawab Zoe.Xavier membalikkan badan Zoe. Ia menatap kedua manik mata Zoe dalam dan tak berkedip. “Tapi aku sama sekali tidak peduli ucapan orang. Yang menjalani rumah tangga ini adalah kita, bukan mereka.”Zoe menggigit bibirnya. Ia akan selalu kalah jika berdebat dengan Xavier. Pria itu selalu memiliki cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.“Jangan menggodaku Angel,”kata Xavier, tangannya membingkai

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 205. Ayo kita membuat anak

    “Biar aku bantu,” kata Zoe.Sore ini selepas pulang mengajar, Xavier sengaja memasak untuk Zoe. Liliana, ia bebas tugaskan.“Duduk saja, hari ini biar aku yang memasak untukmu,” jawab Xavier. Xavier membawa Zoe kembali duduk di tempatnya.Zoe hanya tersenyum. Ia menopang dagu, melihat Xavier yang tengah sibuk memasak untuk makan malam mereka. “Sudah menemukan solusi untuk persiapan pernikahan kita?” tanya Xavier di sela-sela kegiatan memasaknya.“Ah itu….” Zoe menghentikan kalimatnya, telepon masuk dari ayahnya membuat Zoe menghela napas panjang dan berat.“Berikan aku uang!”Zoe memutar bola matanya. Baru diangkat, ia sudah mendapat kalimat sambutan yang paling dibencinya. Raut wajahnya yang berubah masam agaknya menarik perhatian Xavier. Ia menggelengkan kepala saat Xavier bertanya siapa yang menghubunginya. “Aku tidak punya uang!” balas Zoe. nadanya tak kalah tingginya dengan Baskoro.Baskoro mendengus kesal. “Tidak punya?! Bukankah Ayah sudah mengatakan bahwa Ayah membutuhkan u

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 204. Bimbang

    “Angel, maukah kamu menikah denganku?” Zoe terdiam. Ia tak mampu berkata apa-apa, otaknya masih mencoba mencerna apa yang terjadi padanya saat ini. Matanya menatap lurus Xavier yang tengah bersimpuh di depannya. Cincin dengan permata yang terlihat mengkilat dipadukan dengan apa yang dilakukan Xavier membuat air matanya ingin terjun bebas. Ia masih mengingat beberapa menit yang lalu Xavier mengatakan tidak ingin atau belum ingin menikahinya, tapi sekarang…pria itu justru melamarnya.“Eros, ini….”“Iya Angel, aku sedang melamarmu. Jadi maukah kamu menikah denganku?” tanya Xavier kembali.Zoe menganggukkan kepalanya. Air mata yang tadi ditahannya kini terjun bebas membasahi pipi mulusnya.“Hay, kenapa menangis. Bukankah ini sesuatu yang membahagiakan?” kata Xavier mengusap air mata yang membasahi pipi Zoe.Zoe menganggukkan kepalanya. Ia masih mencoba untuk menerima kenyataan ini. Baginya ini seperti mimpi. Dilamar dan dinikahi Xavier, sama sekali tidak ada dipikirannya. Pria itu tidak

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 203. Maukah kamu menikah denganku?

    “Tuan Xavier menunggu anda di atas, Nona.”Zoe menganggukkan kepalanya, ia naik ke atas sesuai instruksi pelayan restoran. Di atas suasananya terlihat lebih intim. Lamu termamam dan alunan musik merdu menyambut kedatangannya.Zoe tersenyum manis kala Xavier berdiri dari duduknya dan berjalan menghampirinya. Malam ini pria itu terlihat seperti biasanya tampan dan mempesona.“Kamu berdandan?” tanya Xavier lembut.Zoe menganggukkan kepalanya. “Hanya untuk berjaga-jaga. Aku pikir kamu akan mengajakku ke suatu pertemuan,” jawab Zoe.Xavier mengulum senyumnya. Ia menggandeng tangan Zoe, mengajak wanita itu untuk duduk di kursi yang sudah dipesannya.“Kamu membooking tempat ini?” tanya Zoe penasaran. Sejak ia masuk hingga sekarang tidak ada satu pun orang yang datang ke tempat ini.“Hem,” jawab Xavier.“Ck…apa uangmu sebanyak itu hingga kamu menghambur-hamurkannya,” komentar Zoe. “jika uangmu memang sebanyak itu maka berikan saja padaku. Aku akan menggunakannya dengan baik,” komentar Zoe.Xa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status