LOGIN“Tolong Dhias, pinjamkan dia tiga puluh juta,” lanjut Radeya lagi masih dengan berbisik.
Zeds jadi bisa mencerna masalah yang dihadapi Dhias hanya dari kalimat itu. Dia tidak perlu cerita lengkapnya. Masalah uang selalu mudah ditebak.
“Kenapa aku harus menolongnya?” jawab Zeds mencoba menggunakan nada sedingin mungkin.
“Dhias hanya perlu membayarkan uang untuk dia bisa mencapai mimpinya lebih mudah. Bagimu, itu jumlah yang kecil,
“Tolong Dhias, pinjamkan dia tiga puluh juta,” lanjut Radeya lagi masih dengan berbisik.Zeds jadi bisa mencerna masalah yang dihadapi Dhias hanya dari kalimat itu. Dia tidak perlu cerita lengkapnya. Masalah uang selalu mudah ditebak.“Kenapa aku harus menolongnya?” jawab Zeds mencoba menggunakan nada sedingin mungkin.“Dhias hanya perlu membayarkan uang untuk dia bisa mencapai mimpinya lebih mudah. Bagimu, itu jumlah yang kecil, bukan?”Zeds tidak menyukai pemilihan kata yang digunakan Radeya.Ya, Zeds memang kaya, dia memang punya uang sejumlah yang dibutuhkan Dhias. Zeds bisa meminjamnya lagi dari Gauzan untuk menolong Dhias dari masalah peliknya. Tapi..., Zeds tersinggung dengan ucapan Radeya.Apakah karena dia tahu identitasnya, maka dia akan terus memeras Zeds untuk mengeluarkan uangnya terus menerus. Untuk orang-orang yang tidak begitu berharga bagi Ze
Zeds tidak pernah ikut acara bakar-bakaran semacam ini. Pernah sekali ada pesta barbeque di perusahaannya, tapi tentu saja Zeds tidak terlibat dengan api dan pemanggangan.Kali ini dia begitu dekat dengan api, bahkan semua orang mengelilingi api seperti itulah satu-satunya sumber kehangatan mereka. Malam itu memang dingin. Angin menelusup kulit yang buat siapa pun angkat kaki untuk berlama-lama di sana tanpa baju penghangat.Zeds diperhatikan oleh Gauzan. Diberikannya jaket tebal saat tuan mudanya itu ikut duduk melingkar bersama penghuni indekos yang lainnya.Pesta bakar-bakaran itu punya formasi khusus dimana Radeya yang membakar jagung dan bahan lainnya. Miya yang menyiapkan sesuatu yang berada di atas tikar. Termasuk yang menghidangkan hasil bakar-bakaran nanti ke piring untuk dinikmati bersama. Sedangkan Dhias, dia hanya melamun sambil menatap api tanpa ada gairah sama sekali.Malam ini ada dua
Dhias datang dengan lesu, dan menjatuhkan bola yang dipegangnya nampak tak bertenaga. Dhias biarkan bola itu menggelinding ke halaman indekos.Sungguh hal yang tidak biasa terjadi sebab dia biasanya menggenggam erat bola tersebut, seperti hidupnya berada di dalam bola itu. Bola itu tidak pernah lepas dari dirinya yang sangat mencintai basket tersebut.Dhias tidak melihat kemana bolanya jatuh. Dia tinggalkan saja di belakang sampai dirinya masuk ke kamar masih dengan tatapan sendu dan lesu.Bukan Zeds saja yang melihat hal ini, tapi Radeya juga. Dia kebetulan sedang menjemur handuknya yang basah sebelum pergi ke sekolah. Kemarin malam mereka baru saja ditaktir makan enak oleh Miya, hal itu untuk merayakan Dhias yang akan pergi ke ibukota dan memenuhi panggilan tes ke tim nasional.Tapi sepagi ini Dhias malah kembali lagi ke indekos dengan wajah muram dan tidak ada semangat hidup. Melihatnya begitu, su
Miya menjadi sangat dingin pada Zeds. Tatapannya sengaja dia palingkan dari Zeds ketika mereka bertemu tatap. Ataupun sengaja mengabaikan Zeds yang kali itu ada di hadapannya, malah sengaja memanggil Dhias yang sedang berada di kamar.“Dhias, kapan kamu berangkat ke ibukota untuk tes tim nasional?”“Um, besok!”“Sebelum kamu pergi, aku akan mentraktirmu makan enak. Aku baru saja dapat upah dari mengantarkan pindahan dengan pick-up. Jangan lupa ajak Radeya juga ya.”Miya pasti sengaja melakukan itu di depan Zeds. Zeds tahu tentang upah yang dimaksud, Miya juga sempat janji akan mentraktir Zeds juga, tapi berubah pikiran hanya karena insiden siang tadi yang sebenarnya Zeds tidak begitu salah.Lagipula, dia baru saja membayarkan segepok uang pada debt collector. Apakah baik sekarang menghambur-hamburkan uang untuk mentraktir Dhias yang akan menghadapi tes ke tim nasionalnya.
“Miya berhutang pada orang kaya, sangat kaya. Dia orang terpicik sedunia yang aku kenal. Miya berhutang banyak sekali. Bahkan menyebutkan angkanya saja membuatku ingin pingsan.”“Berapa?”“Tiga miliar.”“Untuk apa dia pinjam uang pada orang kaya sebanyak itu?”Dhias mengendikkan bahu. “Aku nggak tahu. Miya sudah berhutang jauh sebelum aku datang ke tempatnya. Dan Miya nggak pernah mau mengatakan alasan dan cerita lengkapnya tentang hutang-hutang itu. Kurasa Miya nggak mau kami jadi ikut memikirkan hutang-hutangnya. Tapi mau nggak mau aku dan Radeya pasti memikirkannya juga.”Masuk akal. Saat seseorang diminta untuk tidak memikirkan, saat itulah otak akan bekerja sebaliknya. Terlebih hal itu mengenai orang yang penting bagi Dhias dan Radeya. Tanpa diketahui Miya, dua lelaki yang sudah lama hidup bersama dirinya tentulah ikut memikirkan bagaimana melunasi hutang Miya.
Keduanya saling menatap dan salah tingkah. Zeds menghirup kembali aroma bedak bayi bercampur lavender dari tubuh Miya. Aroma yang sama dengan yang dia dapatkan tempo hari ketika Miya melepaskan perban di wajahnya.Padahal Zeds yakin Miya menghabiskan hari ini dengan berkeringat, bagaimana mungkin dia tetap wangi meski sudah melakukan banyak hal.Lain dengan yang Zeds terpana pada aroma yang dihirup hidungnya, Miya mematung karena lagi-lagi dia terpana dengan ketampanan Zeds. Dari dekat sini kelihatan jelas bagaimana mulusnya wajah Zeds. Berkilaunya mata cokelat nan dalam itu. Bagi Miya, itu terlalu indah.Singkatnya, dua orang itu saling menghipnotis satu sama lain. Kalau saja seekor burung tidak terbang di atas langit yang gelap, mungkin selamanya mereka akan menghabiskan waktu dengan saling bertatapan.Mendengar kegaduhan dari burung gereja yang keluar dari sarang, membuat keduanya tersadarkan dan







