FAZER LOGINZeds menangkap pergelangan tangan Miya ketika wanita itu hendak melangkahkan kakinya ke tempat renternir.
Miya yang tidak menyadari ada Zeds sedari tadi, dia hanya bisa terbelalak kaget dengan sosok yang tidak disangka ada di dekatnya itu.
Rahang Zeds mengeras. Pegangan di tangan Miya bukan sekedar pegangan biasa. Namun gestur yang menjelaskan kalau Zeds meminta Miya berhenti melakukan semua itu. Berhenti dengan kekonyolan yang tidak mungkin memberika
‘Zedias Pijaraga memalsukan kematiannya untuk lepas tanggung jawab kepemimpinan Pijaraga Group.’Radeya yang membacakan berita di televisi besar di tengah jalan itu. Dia mendengkus. Bersamaan dengan tawa Dhias yang menanggapi berita tersebut.“Media massa kadang bisa jadi teman atau lawan, tergantung siapa yang membayar paling besar, atau melapor lebih cepat,” komentar Dhias yang punya pengalaman melihat berita-berita serupa yang membuatnya jadi kacau beberapa hari ke belakang.“Aku sih sudah menduga kalau Barra nggak akan tinggal diam begitu kembali dari pulau. Dia pasti melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kuat,” imbuh Radeya.Beda dengan dua temannya, Zeds tidak ikut berkomentar atas berita yang sebagian besar media massa ibukota mengabarkan hal serupa.Dia sedang berpikir kalau hal inilah jawaban dari pertanyaannya pada Gauzan mengenai kenapa mereka tidak tinggal di rumahny
Zeds mengatakan pada yang lainnya kalau dia harus pergi dari pulau itu. Setidaknya ke ibukota tempat semestinya dia berada.Dia sudah memutuskan tidak akan bersembunyi lagi. Biar dunia tahu kalau dia masih hidup. Dia tidak akan takut pada Barra yang akan menghabisinya. Dia sudah jauh lebih siap daripada sebelumnya.Meski begitu, Zeds sudah berjanji kalau ketiga orang di indekos itu akan dia bawa serta. Otomatis dia tidak bisa bergegas saat ini juga.Dhias masih kesakitan dengan kakinya yang patah. Meski sudah disembuhkan oleh ‘bengkel tulang’ kenalan bu Farida, tetap saja Dhias akan kesulitan berjalan dengan benar.Maka mereka memutuskan untuk menunda kepergian ke ibukota.Namun, Gauzan yang akan pergi duluan ke ibukota. Dia disuruhnya mengamati keadaan di sana sebelum dirinya mulai pergi membawa semua orang yang sudah tidak memiliki tempat tinggal di pulau ini.
“Biar kutebak. Kamu ingin aku berada di pihakmu untuk melawan Barra?”Tebakan yang jitu. Namun Zeds tidak mampu berucap setelah itu.“Seperti kataku tadi, aku nggak tertarik.” Paman Dharma menjawabnya dengan dingin.“Selesaikan masalah kalian sendiri. Aku nggak bertanggung jawab dengan apa pun. Meskipun aku paman kalian atau orang tertinggi di kepolisian.”Belum juga mengatakan maksudnya, Zeds sudah pesimis dan harus mengurungkan niat.Zeds memang tidak berharap banyak. Paman Dharma bukan tipe yang mengagungkan keluarga Pijaraga. Dia berdiri sendiri dan menjadikannya kuat dengan itu. Mustahil dia mau terlibat pada konflik keluarga Zeds yang membuatnya pelik.Kalau sudah begini, dia bisa apa. Mau dia meminta sebagaimanapun, kalau Paman Dharma bilang ‘tidak’ maka Zeds tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan.Dengan itu saja Zeds paham
Bersamaan dengan selesainya cerita Gauzan. Barulah Miya datang dari halaman rumah menuju teras tempat Zeds dan Gauzan berada.Zeds yang melihatnya datang. Miya tidak memerhatikan keberadaan Zeds di teras sebab sedari tadi dia menunduk dengan wajahnya yang muram durja.Miya sedih melihat indekosnya. Dia kesana sambil mencari barang-barang yang masih bisa dia selamatkan. Tapi tidak, dia tidak mendapatkan apa pun selain kenyataan kalau indekosnya sudah hancur.Zeds terus membayangi wajah Miya yang datang ke teras sambil menunduk. Sampai Zeds menghalangi langkahnya, Miya tidak sadar kalau dia diperhatikan sedari tadi.“Kamu baik-baik saja?” cemas Zeds karena mendapati wajah Miya yang kelihatan tidak berdaya.Miya menggeleng. Jawaban kalau dia tidak baik-baik saja. Dia sedang bersedih untuk indekosnya. Sesuatu yang paling berharga untuknya. Sekarang indekos itu tidak lagi memiliki ben
Malam hari yang damai.Zeds memutuskan untuk beristirahat di rumah ibu Farida juga bersama yang lainnya. Mateo pulang. Dia bilang akan melakukan sesuatu di rumahnya.Zeds sedang melamun di luar rumah. Gauzan menemaninya sambil sesekali menguap atau menepuk-nepuk pipi untuk menghilangkan kantuk. Meski begitu, dia menolak ketika Zeds memintanya tidur saja. Zeds sedang ingin melamun di sana sebentar saja. Tidak perlu ditemani.“Saya bisa menjaga Aden lebih baik daripada Mateo.”Gauzan jadi posesif hanya karena beberapa hari ini Zeds bersama Mateo. Dan dia bisa menjaga tuannya dengan baik. Untuk urusan berkelahi, Gauzan memang kalah. Tapi untuk urusan lain, Gauzan yakin bisa lebih baik dari Mateo.Zeds biarkan saja Gauzan dengan pikirannya sendiri. Dia bertanya perihal kantong berisikan tiga miliar yang dia simpan di kamarnya tersebut.“Saya mengambilnya. Untungl
“Maafkan aku, Zeds. Semuanya karena aku!” lirih Dhias.Zeds menggeleng. Dia tidak pernah berpikiran sedikit pun kalau dia membenci Dhias. Memang Zeds tidak menyukai keputusan Dhias untuk bertindak seorang diri tanpa memikirkan ke depannya.Namun nasi sudah menjadi bubur. Apapun yang Zeds keluhkan saat ini, tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi.Zeds menepuk pundak Dhias. Dia juga memberikan seringai senyum yang biasa dia berikan pada dua orang yang menjadi penghuni indekos itu. Senyum tanda damai.“Aku nggak pernah marah padamu. Anggap saja kita impas. Aku nggak punya hutang budi lagi padamu.”Dhias tidak tahu kalau Zeds berbesar hati seperti itu. Dia bersungguh-sungguh dalam hatinya, kalau dia akan menjadi pengikut setia kemana pun Zeds pergi. Dia akan membuat banyak sekali kebaikan pada Zeds karena sudah memberikannya kesempatan dengan memaafkan.D







