INICIAR SESIÓNSuasana di ruangan Danuarta mendadak hening dan menegang. Tidak ada yang membuka suara. Kegugupan memenuhi wajah Danuarta, sedangkan Feri berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang susah dijelaskan. Antara terkejut dan tidak percaya begitu susah dijelaskan. “Tuan, apakah saya mengganggu Anda?” Kalimat yang terlontar dari bibir Feri, bukan seperti sebuah pertanyaan. Melainkan lebih ke sebuah sindiran yang dikemas halus. “Tidak. Jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” sanggah Danuarta. Dia bukanlah orang bodoh yang tidak paham maksud ucapan Feri. Ia tahu kejadian tadi, bisa saja memicu kesalahpahaman. Dengan langkah tegas dan wibawa. Danuarta melangkah keluar meninggalkan ruangan. Ketika melewati Feri pun, pria itu terlihat tanpa ekspresi apa pun. Melihat sang majikan sudah pergi, Gisela segera menyusul di belakang. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat berdiri berhadapan dengan Feri. Ia bisa melihat sorot mata pria itu penuh dengan kilatan amarah. Seperti petir
“Tuan Danu.” Suara wanita itu bergetar saat memanggil sang atasan. Keberanian tadi saat melawan dan menghina Gisela seolah lenyap dalam sekejap. “Bangunlah,” perintah Danuarta. Suaranya terdengar hangat. Gisela mendongak hingga tatapan matanya bertemu dengan sorot mata teduh dari pria itu. Saat hendak bangkit, Gisela melihat uluran tangan Danuarta tepat di depan wajahnya. Ia pun tidak menyiakan kesempatan itu. Dengan cepat, Gisela meraih tangan pria itu dan bangkit berdiri.Ketika Gisela sudah berdiri tegak, Danuarta segera melepaskannya. Menatap khawatir sesaat sebelum akhirnya menoleh dan melayangkan tatapan tajam ke arah resepsionis tadi. Sorot matanya begitu mengintimidasi hingga membuat nyali yang ditatapnya menciut. “Tuan, pelayan ini ....” “Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?!” Suara Danuarta meninggi. Pria itu tampak melihat rantang yang sudah tergeletak di lantai. Bahkan, bubur di dalamnya pun sebagian tumpah mengotori lantai. “Maaf, Tuan. Ini bukan salah saya. Saya t
Setelah mendapat tatapan tajam, Gisela justru berbalik dan hendak keluar kamar tanpa rasa berdosa. Tidak peduli meski Danuarta dan Cindy akan bertengkar. Ia yakin bahwa suaranya tadi, bisa didengar oleh Cindy.“Tunggu!” Suara bariton Danuarta menggema di kamar. Menghentikan langkah Gisela yang sudah satu langkah keluar dari pintu. Ia berbalik, menatap majikannya penuh tanya. Langkah tegas Danuarta terdengar mendekat. “Lain kali, kalau aku sedang telepon. Jangan pernah berbicara,” kata Danuarta tanpa ekspresi. “Iya, Tuan. Maaf.” Gisela setengah membungkuk. “Ya.” Danuarta melangkah melewati Gisela. Setelah sang majikan mulai menuruni tangga, ia segera menutup pintu kamar dan menyusul turun ke bawah. Dengan telaten, Gisela mengambilkan sarapan untuk majikannya. Di saat sedang menikmati sarapan, Feri masuk rumah itu dan berdiri di samping Gisela. Tidak ada sapaan, apalagi sekedar senyuman manis. “Anda mau sarapan?” tanya Gisela ramah. “Tidak perlu.” Justru mendapat jawaban ketus d
“Ma ... Pa ...” Tubuh Gisela bergerak gelisah. Matanya masih terpejam rapat, tetapi bibirnya terus menyerukan panggilan untuk kedua orang tuanya. “Ma ... Pa ...” Ia semakin belingsatan tak karuan. Seiring keringat yang membanjir membasahi dahi. Bahkan, sebagian menetes sampai ke leher dan dagu. “Jangan tinggalin Gisela, Pa. Ma ... Gisela tidak mau sendirian. Arggghhh!” Gisela terduduk dengan keringat yang semakin mengalir deras. Napasnya tersengal, paru-parunya memompa dengan kekuatan penuh. Bahkan, kedua matanya langsung terbuka sempurna. Pandangan Gisela mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang remang-remang. Hanya lampu tidur yang menyala temaram. Ia tidak melihat siapa pun di sana. Tidak ada kedua orang tuanya. Tidak ada sang mama maupun papanya. Ia benar-benar sendirian. “Ya Tuhan, aku mimpi buruk lagi.” Ia mengusap wajah secara kasar. Menghapus bekas keringat yang terasa begitu lengket. Bayangan kedua orang tuanya tadi terasa seperti nyata. Namun, semua hanya lah ilu
Malam sudah menunjuk pukul sembilan. Beberapa pelayan sudah beristirahat di kamar. Namun, tidak dengan Gisela dan Mbok Minah. Kedua perempuan itu masih berjaga di dapur karena majikan mereka sedang mengobrol di ruang tengah. Gisela merasa jengah. Namun, ia tidak tega menolak saat Mbok Minah meminta tetap berjaga. Khawatir Danuarta merasa lapar dan meminta dimasakkan makanan. “Antarkan teh panas ini ke depan,” perintah Mbok Minah tanpa menghentikan kegiatannya membuat camilan. Gisela mengangguk. Mengambil nampan berisi dua cangkir teh hangat itu menuju ke ruang tengah. Dari belakang, Gisela bisa melihat Cindy yang sedang bergelayut manja di pundak suaminya. “Mas, besok pagi aku berangkat. Kamu harus janji kalau tidak akan macam-macam,” kata Cindy. Langkah Gisela terhenti sekitar satu meter di belakang majikannya. Sehingga ia bisa mendengar pembicaraan keduanya. “Jangan khawatir. Kamu sudah sering meninggalkan aku sendirian. Kenapa secemas itu, hm?” “Entah, Mas. Akhir-akhir ini a
“Mbok! Mbok Minah!” Suara Cindy begitu melengking memenuhi penjuru ruangan. Setiap pelayan yang mendengar segera menghentikan kegiatan mereka. Lalu melangkah mendekati sang nyonya rumah untuk melihat ada apakah gerangan. Begitu juga dengan Gisela. Walaupun teriakan Cindy tidak membuatnya penasaran, tetapi kakinya tetap melangkah mendekat mengikuti yang lainnya. “Ada apa, Nyonya?” tanya Mbok Minah. Tatapannya terlihat begitu menelisik sang majikan. “Loh, kok ke sini semua? Sudah sana kalian kembali kerja,” perintah Cindy. Membubarkan para pelayan itu. Termasuk Gisela. Walaupun berbalik, Gisela justru bersembunyi di balik tembok untuk mendengar pembicaraan Cindy dengan Mbok Minah.“Tuan sudah berangkat?” tanya Cindy. “Sudah, Nyonya. Sekitar lima belas menit yang lalu.” “Dia tidak membangunkanku.” Suara Cindy terdengar manja saat di depan Mbok Minah seorang. Berbeda jauh saat ia sedang berhadapan dengan pelayan lain. Wanita itu akan terlihat galak dan menyeramkan. “Apa dia sarapan?







