LOGINSetelah mendapat pemeriksaan dari dokter dan meminum obat, tanpa sadar Gisela akhirnya tertidur lelap. Hampir satu jam lamanya. Perlahan Gisela membuka kelopak mata. Sudah tidak berputar parah seperti tadi, tapi menyisakan rasa pusing yang cukup membuatnya merasa sedikit mual. Saat kedua matanya sudah benar-benar terbuka, Gisela memindai ruangan. Keningnya mengerut dalam. Merasa heran karena Danuarta ada di dalam sana. Di kamarnya. Pria itu tampak tertidur lelap di kursi yang entah sejak kapan berada di sana. Padahal tadi pagi di kamarnya tidak ada kursi sama sekali. “Kamu sudah bangun?” Suara Mbok Minah dari ambang pintu yang tiba-tiba mengejutkan Gisela, juga Danuarta yang langsung terbangun dari tidurnya. "Maaf, Tuan. Saya mengganggu Anda?" "Tidak apa, Mbok. Aku ketiduran." Pria itu bangkit dan menatap arloji di tangan. "Aku harus pergi sekarang karena ada urusan." Gisela menatap tanpa lepas Danuarta yang sedang melangkah mendekatinya. Dirinya mendadak gugup saat Danuarta sudah
Genggaman itu masih saja erat hingga cukup lama. Danuarta terlihat hendak melepaskannya, tetapi Gisela justru tetap menahan. Menggenggamnya erat seolah tidak ingin melepaskan. Saat Danuarta berbalik, Gisela segera menatap pria itu dengan memelas. Menunjukkan wajah kasihan dan menghilangkan senyum dari bibir manisnya. Merubahnya menjadi wajah yang sendu dan penuh kasihan. "Tuan, saya minta tolong. Jangan pernah bilang sama Nyonya Cindy kalau saya memakai kalungnya. Saya takut Nyonya Cindy akan memukul saya atau bahkan mengusir saya dari sini," ujar Gisela lirih. Tubuhnya sedikit gemetar membayangkan amukan Cindy jika tahu apa yang ia lakukan. Tatapan mata yang sendu itu, berhasil menarik simpati Danuarta. Tampak pria tersebut menghela napas panjang beberapa kali. Tidak ada kemarahan terlihat dari sorot matanya. "Aku tidak akan mengatakan kepada Cindy, tapi lepaskan ini." Danuarta mengangkat genggaman tangan mereka. Menunjukkan genggaman tangan yang masih erat itu. Danuarta sama seka
“Gisela, setelah Tuan berangkat ke kantor nanti. Tolong, kamu bersihkan kamar Tuan Danu sama kamar mandinya sekalian,” perintah Mbok Minah. Gisela mengangguk mengiyakan. Walaupun sebenarnya itu bukanlah tugasnya karena pelayan yang biasa membersihkan kamar utama belum juga berangkat kerja. Dengan telaten ia meladeni Danuarta seperti biasa. Menyiapkan sarapan, sambil menunggu Gisela akan berdiri di belakang pria itu. Berjaga-jaga jika sang majikan membutuhkan sesuatu. Saat Danuarta telah selesai sarapan, Gisela segera membersihkan meja makan. Mencuci piring kotor. Lalu berjalan menuju ke lantai dua. Lebih tepatnya di kamar utama sang majikan. Tubuhnya bergeming di depan pintu. Menatapnya dengan sangat lekat sebelum akhirnya menarik gagang pintu tersebut. Ketika pintu ruangan terbuka, pandangan Gisela langsung menuju ke laci. Di mana kalung berkilau yang ia lihat tempo hari, begitu mengusik pikiran. Langkahnya pelan, tapi tegas. Menuju ke samping nakas dan membukanya. Kotak itu masi
Malam sudah hampir larut. Mata Gisela tidak mau terpejam karena memikirkan ucapan Mbok Minah. Soal ruangan privasi Cindy di belakang. Ia benar-benar penasaran, sebenarnya ada apakah gerangan di dalamnya. Kenapa Cindy begitu merahasiakan. Sampai dirinya benar-benar tidak boleh ke sana. “Sebenarnya apa isi ruangan itu? Dan di mana?” Gisela mengetuk pelipis perlahan. Memikirkan wilayah mana yang belum ia jamah. Terutama bagian belakang. Untuk menghilangkan rasa penasaran, Gisela segera turun dari ranjang dan melangkah pelan keluar kamar. Tidak ingin kepergiannya diketahui oleh pelayan lain. Langkahnya pun mengendap-endap seperti maling. Suasana di belakang hanya temaram. Remang-remang. Namun, Gisela tidak merasa takut sama sekali. Ia terus melangkah menuju ke wilayah belakang. Mencari ruangan yang disembunyikan oleh Cindy. “Astaga,” keluh Gisela. “Aku sudah memutari semua daerah ini, tapi kenapa aku tidak melihat ada ruangan kosong sama sekali.”Helaan napas panjang Gisela memecah k
Suasana di ruangan Danuarta mendadak hening dan menegang. Tidak ada yang membuka suara. Kegugupan memenuhi wajah Danuarta, sedangkan Feri berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang susah dijelaskan. Antara terkejut dan tidak percaya begitu susah dijelaskan. “Tuan, apakah saya mengganggu Anda?” Kalimat yang terlontar dari bibir Feri, bukan seperti sebuah pertanyaan. Melainkan lebih ke sebuah sindiran yang dikemas halus. “Tidak. Jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” sanggah Danuarta. Dia bukanlah orang bodoh yang tidak paham maksud ucapan Feri. Ia tahu kejadian tadi, bisa saja memicu kesalahpahaman. Dengan langkah tegas dan wibawa. Danuarta melangkah keluar meninggalkan ruangan. Ketika melewati Feri pun, pria itu terlihat tanpa ekspresi apa pun. Melihat sang majikan sudah pergi, Gisela segera menyusul di belakang. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat berdiri berhadapan dengan Feri. Ia bisa melihat sorot mata pria itu penuh dengan kilatan amarah. Seperti petir
“Tuan Danu.” Suara wanita itu bergetar saat memanggil sang atasan. Keberanian tadi saat melawan dan menghina Gisela seolah lenyap dalam sekejap. “Bangunlah,” perintah Danuarta. Suaranya terdengar hangat. Gisela mendongak hingga tatapan matanya bertemu dengan sorot mata teduh dari pria itu. Saat hendak bangkit, Gisela melihat uluran tangan Danuarta tepat di depan wajahnya. Ia pun tidak menyiakan kesempatan itu. Dengan cepat, Gisela meraih tangan pria itu dan bangkit berdiri.Ketika Gisela sudah berdiri tegak, Danuarta segera melepaskannya. Menatap khawatir sesaat sebelum akhirnya menoleh dan melayangkan tatapan tajam ke arah resepsionis tadi. Sorot matanya begitu mengintimidasi hingga membuat nyali yang ditatapnya menciut. “Tuan, pelayan ini ....” “Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?!” Suara Danuarta meninggi. Pria itu tampak melihat rantang yang sudah tergeletak di lantai. Bahkan, bubur di dalamnya pun sebagian tumpah mengotori lantai. “Maaf, Tuan. Ini bukan salah saya. Saya t







