LOGINSatu jam lebih menunggu, Gisela hampir tak kuasa menahan kantuk karena hanya duduk tanpa melakukan kegiatan apa pun. Beberapa kali ia terlihat menguap. Rasanya ingin sekali terlelap, tetapi entah mengapa, ia merasa tidak nyaman.
Di saat hampir benar-benar terlelap, Gisela dibuat terkejut oleh suara pintu terbuka. Ia menoleh dan melihat Danuarta melangkah masuk. Disusul oleh Feri di belakangnya. “Maaf, aku membuat kamu menunggu lama,” kata Danuarta. Suaranya begitu hangat hingga membuat Gisela terpaku beberapa detik. “Kamu pasti bosan.” “Tidak.” Gisela mengulas senyum. “Kalau begitu, sekarang kita pulang saja. Sudah hampir jam makan siang.” “Tuan, pekerjaan Anda bagaimana?” tanya Gisela menahan langkah Danuarta. “Aku bisa mengerjakan dari rumah. Lagi pula, ada Feri yang bisa diandalkan,” sahut Danuarta. Ekor mata Gisela melirik Feri yang terlihat menahan suara dengusan. Entah mengapa, Gisela merasa kalau Feri tidak terlalu suka dengan kehadirannya. Saat Danuarta menarik tangan Gisela, ia pun tidak bisa menolak lagi. Dengan lembut, Danuarta menuntun Gisela. Tidak peduli meski sekarang ini mereka sudah menjadi pusat perhatian karyawan di perusahaan itu. Setelah masuk mobil, Danuarta segera melajukan mobil tersebut. Ia pulang ke kediaman utama, sedangkan Feri tetap berada di perusahaan untuk menggantikan Danuarta. Khawatir ada hal yang mendesak nantinya. “Kita makan dulu baru setelah itu pulang ke rumah.” “Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Tuan Danuarta.” Danuarta menoleh sekilas. Melirik Gisela yang menunduk malu. “Kamu sudah tahu namaku?” tanyanya penasaran. “Tadi saya membaca papan nama di meja Anda,” sahut Gisela lirih. “Baguslah kalau kamu sudah tahu namaku. Cukup panggil aku Tuan Danu saja.” Gisela mengangguk cepat. Mobil itu berhenti di restoran. Cukup lama keduanya berada di sana. Setelah perut terasa kenyang, Danuarta pun segera membawa Gisela pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Danuarta langsung disambut pelayan. Empat orang perempuan berseragam membungkuk hormat saat Danuarta lewat di depan mereka. Gisela hanya diam melihat pemandangan itu. Namun, ia bisa menangkap wajah-wajah terkejut dari keempat pelayan itu. “Tuntun dia hati-hati,” perintahnya. Mereka mengangguk. Salah satu dari mereka mendekati Gisela dan memapahnya perlahan. Saat baru saja sampai di ruang tamu, mereka langsung disambut oleh Cindy. Wanita itu tampak riang saat melihat kedatangan suaminya. Bahkan, tanpa malu ia memeluk dan mencium pipi Danuarta dengan lembut. Akan tetapi, wajah Cindy tampak berubah saat melihat Gisela yang berdiri menatapnya. Lengan Gisela masih diapit oleh pelayan tadi. “Dia siapa, Mas?” tanya Cindy heran. Danuarta sedikit bergeser hingga akhirnya Cindy bisa melihat seluruh tubuh Gisela dengan jelas. Kepala Gisela semakin tertunduk saat ia melihat pandangan Cindy yang begitu menyelidik. “Aku tidak sengaja menabraknya tadi. Dia terluka.” “Lalu kamu membawanya pulang?” sela Cindy. Suaranya terdengar begitu ketus. Bahkan, tangannya sudah bersedekap erat. Melihat sikap istrinya, Danuarta segera merangkul wanita tersebut. “Dia yatim piatu. Tidak punya tempat tinggal. Jadi, biarkan dia bekerja sebagai pelayan di rumah ini.” “Mas, tapi ....” “Sayang,” panggil Danuarta dengan sedikit penekanan. Mendengar panggilan itu, Cindy hanya mendesah kasar. “Pelayan, antar dia ke kamar belakang.” Pelayan tadi mengangguk cepat. Lalu memapah Gisela menuju ke kamar khusus pelayan di belakang. “Ini kamar kamu.” “Terima kasih,” kata Gisela lembut. Pelayan itu hanya mengangguk lalu bergegas pergi untuk kembali bekerja. Gisela duduk di tepi ranjang. Ekor matanya memindai seluruh penjuru kamar. Tidak terlalu buruk untuk kamar pelayan. Kasur itu bergerak saat Gisela mengangkat kaki ke atasnya. Saat baru saja hendak merebahkan tubuh, terdengar suara pintu dibuka. Gerakannya pun urung, Gisela kembali duduk dan melihat seorang wanita paruh baya berjalan masuk. “Kamu yang dibawa Tuan Danu pulang?” tanyanya. Gisela mengangguk cepat. “Siapa namamu?” “Gisela.” “Baiklah, Gisela. Kamu panggil aku Mbok Minah saja. Aku kepala pelayan di rumah ini,” ujarnya. Ia duduk di samping Gisela dan menatapnya lekat. “Iya, Mbok.” “Tuan Danu bilang, untuk beberapa hari ini, kamu istirahat sampai kaki mu sembuh. Setelah benar-benar sembuh, kamu bisa mulai bekerja,” jelas Mbok Minah. Gisela mengangguk tanpa memudarkan senyuman di bibirnya. “Iya, Mbok. Maaf, kalau nantinya saya banyak merepotkan, Mbok.” “Kamu memang merepotkan!” Suara dari arah pintu mengejutkan keduanya. Mereka memandang ke sana, terlihat Cindy masuk dengan langkah angkuh. “Nyo-Nyonya.” Mbok Minah berdiri menyambut kedatangan sang nyonya. Sementara Gisela langsung menunduk dalam. Meremas ujung baju lusuh itu lagi untuk menghilangkan kegelisahan. “Aku tidak habis pikir kenapa suamiku membawa gadis rendahan sepertimu,” tukas Cindy. Tatapannya yang tajam, membuat nyali Gisela menciut. Kepalanya makin dalam tertunduk. “Aku harap, kamu tidak ada niatan buruk di sini!” “Ma-maaf, Nyonya. Saya sungguh tidak memiliki niat apa pun.” Suara Gisela terdengar bergetar. “Sekarang mungkin tidak! Tapi ingat, aku mengawasi mu!” sentak Cindy. Kakinya menghentak meninggalkan kamar itu. Setelah bayangan Cindy tidak lagi terlihat, Mbok Minah segera duduk di hadapan Gisela. Tangan wanita paruh baya itu, merengkuh telapak Gisela dan menggenggamnya erat. “Jangan diambil hati. Nyonya memang seperti itu. Dia sebenarnya baik,” ujar Mbok Minah. “Iya, Mbok.” Gisela mengangguk sambil menunjukkan senyuman. Menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. “Sekarang kamu istirahat saja. Aku mau bekerja lagi.” Mbok Minah bangkit dan berjalan meninggalkan kamar itu. Setelah pintu benar-benar tertutup rapat, Gisela pun segera merebahkan tubuhnya. Matanya terpejam erat. Namun, tidak dengan pikirannya yang terus berkelana. Di sela keheningan kamar tersebut, Gisela menghela napas panjang dan menghembuskan secara kasar. “Nyonya Cindy Wiguna…,” gumamnya lirih.Kehamilan Gisela ternyata membuat Yoga dan Ayunda semakin dekat. Meski mereka sering bertengkar dan berdebat daripada akurnya. Namun, Yoga merasa bingung pada dirinya sendiri. Setiap ia melihat Ayunda merasa kesal, maka hatinya akan merasa senang karena terhibur. Itulah yang membuatnya selalu menggoda gadis itu agar kesal. "Aku akan memberi kamu uang. Jadilah pacar pura-puraku." Yoga membuatkan mata penuh mendengar ucapan dari Ayunda. Yang benar saja, tidak angin atau hujan tiba-tiba Ayunda mengajukan permintaan aneh padanya. Tentu saja ia tidak langsung menyanggupinya. "Aku bukan pria bayaran." Yoga menyesap kopi dengan santai tidak peduli meski gadis di depannya sudah mendesah kasar."Lalu? Aku butuh pacar pura-pura untuk menemaniku ke acara reuni. Kalau tidak, mantan pacarku pasti akan meledek habis-habisan."Aku tidak butuh uang. Aku sudah banyak uang. Ingat, gajiku bahkan lebih besar daripada gajimu." "Cih! Sombong sekali." Ayunda mencebik. Yoga bukannya kesal justru terkek
Kabar kehamilan Gisela langsung menyebar. Terutama pada lingkungan sekitar dan keluarga yang dekat dengan mereka. Semua bersuka cita atas kabar itu. Banyak yang mendoakan Gisela dan janinnya agar bisa tumbuh sehat sampai persalinan tiba. Hal itu tentu saja membuat Gisela merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka kalau hamil akan sebahagia itu. Namun, di sisi lain ia merasa perbandingan yang terbalik. Kehidupan sehari-harinya tidak sebebas dulu. Selama menjalani kehamilan, Gisela merasa menjadi wanita paling terkekang. Bukan tanpa alasan, William menjadi suami yang over protektif. Bahkan, ia tidak bebas melakukan hal apa pun. Semuanya serba dibatasi apa pun otu. Bahkan, William sampai memanggil ahli gizi ke rumah hanya bertugas memasak untuk Gisela. Terkadang ia merasa gemas sendiri, tetapi jika dipikir lagi, apa yang dilakukan William itu sebagai tanda sayang pria itu kepadanya dan calon buah hati mereka. "Mbok, saya mau ke kantor." Gisela berbicara lembut kepada Mbok Minah.
Hubungan Gisela dan William semakin hari semakin menghangat. Mereka bahkan menikmati waktu selama tinggal di desa itu. William sangat cepat bisa berbaur dengan warga desa. Juga para warga yang antusias, apalagi saat mereka mengetahui kalau William adalah suami dari Gisela. Hubungan mereka semakin dekat saja. Seperti orang yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. "Besok aku harus kembali ke kota. Ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal," kata William. Saat ini, ia sedang berpelukan mesra di atas ranjang setelah selesai melakukan pertempuran panas. Sejak malam pertama itu dilewati, William seperti tidak memberi ampun karena terus membuat Gisela keramas setiap pagi. "Kenapa cepat sekali?" Gisela berbicara merengek seperti anak kecil yang merajuk. "Kamu tidak mengajakku pulang?" "Memangnya kamu mau pulang denganku?" tanya William penuh harap. Gisela hanya diam tidak memberi jawaban sama sekali. "Kalau kamu masih ingin di sini, tidak apa. Aku tidak akan memaksa kamu pulang bers
Pelukan itu terasa hangat bagi Gisela. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu kembali dengan William. Lelaki yang selalu mengisi hari-harinya juga mengisi hatinya. Tubuhnya masih membeku bahkan seperti tidak bisa digerakkan. Ia berdiam diri seperti patung. "Aku merindukanmu." William berbisik di telinga Gisela. Membuat tubuhnya meremang seketika. "Selama ini aku memcarimu." "Ke-Kenapa kamu ada di sini?" Suara Gisela terbata. Ia bahkan harus mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan itu. Sejak tadi, lidahnya merasa kelu. Gisela merasakan ada yang berbeda saat William melepaskan pelukan itu. Ia tidak munafik, bahwa pelukan William memang sangat meneduhkan dan membuat candu. Ia ingin terus dipeluk pria itu."Kenapa kamu pergi sangat jauh. Pantas aku tidak bisa menemukan keberadaan mu sama sekali." Gisela hanya diam saat William sudah mengelus pipinya lembut. "Kalian saling kenal?" tanya Pak Aris mengalihkan perhatian. "Kami sangat saling mengenal, Pak." Gisela hanya menurut sa
Kehidupan William sangat berubah drastis. Pria itu menjadi dingin dan seperti tak tersentuh. Bahkan l, wajahnya sangat kusut karena terlalu banyak pikiran. Sudah hampir sebulan melakukan pencairan tetapi keberadaan Gisela tidak ditemukan sama sekali. Entah ke mana perginya wanita itu. Seperti hilang ditelan bumi. Padahal William sudah mencari ke semua tempat-tempat yang kemungkinan dijamah Gisela. Juga mengecek semua keberangkatan pesawat maupun kereta. Siapa tahu istrinya melarikan diri ke rumah sakit. Namun, hasilnya masih sama. Tidak ada keberadaan Gisela. Wanita itu sama sekali tidak ditemukan. Akhirnya, William pasrah. Ia menghentikan semua pencarian. Hanya pasrah kepada Tuhan. Berharap suatu saat nanti Tuhan masih berbaik hati padanya untuk mempertemukan dengan Gisela. Tapi dalam hati tidak pernah putus berharap semoga Tuhan dan Gisela masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sekarang, ia hanya fokus mengembangkan bisnisnya agar semakin maju pesat. Menjadi
"Tuan, keberadaan Nyonya Muda sama sekali tidak bisa dilacak. Padahal saya sudah mengerahkan semua anak buah. Tapi hasilnya masih nihil." Yoga datang ke rumah dengan wajah pucat. William menghela napas panjang. Lalu menatap Yoga sekilas saja. Sebelum akhirnya ia kembali fokus pada layar ponsel. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Mau bagaimana pun caranya, istriku harus ketemu!" "Saya akan terus berusaha, Tuan. Saya juga sudah mendatangi tempat Ayunda. Hasilnya sama. Dia juga tidak ada. Kemungkinan mereka berdua pergi bersama-sama," tutur Yoga. William membenarkan ucapan pria itu. Mengingat hubungan Gisela dan Ayunda yang sangat dekat, sudah pasti Ayunda tidak akan membiarkan Gisela pergi seorang diri. Dia pasti sedang bersama istrinya. "Kira-kira mereka pergi ke mana?" William frustrasi. Kehilangan Gisela, membuatnya seperti kehilangan semangat hidup. "Saya kurang tahu, Tuan. Saya akan usahakan cepat menemukan mereka." "







