Share

Pertemuan

Author: Rita Tatha
last update publish date: 2025-10-28 15:01:25

15 tahun kemudian.

Suara roda mobil berdecit mengagetkan orang-orang yang saat itu tengah melintas. Sementara itu, Gisela terduduk di atas jalanan, beberapa bagian tubuhnya terasa nyeri. Tak lama, seseorang keluar dari kursi pengemudi.

“Maaf, Nona! Saya tidak melihat!”

Belum sempat Gisela menjawab, seseorang lainnya sudah muncul dari pintu belakang. Pria itu berbahu lebar, pakaiannya rapi, dan tatapan matanya hangat.

“Maaf, sopirku tidak sengaja,” katanya. “Apa kamu terluka?”

Gisela menatap pria itu. “Tidak apa-apa, Tuan. Tadi, saya juga tidak hati-hati ketika menyebrang. Saya tidak terluka.”

Namun, nyeri di tubuh Gisela tidak kunjung hilang. Ketika ia melirik, ada bagian kakinya yang mengeluarkan darah.

“Kakimu berdarah. Sebaiknya kamu pergi ke klinik. Aku akan mengantarmu.”

Mendengar tawaran itu, Gisela menggeleng lemah. “Tidak perlu, Tuan. Saya baik saja. Ini hanyalah luka kecil,” sahutnya pelan.

“Biarpun luka kecil, harus tetap diobati.”

“Tuan, sudah jam ....” pria yang berada dari kursi pengemudi tadi mengingatkan tuannya.

“Kita antar dia ke klinik dulu baru ke kantor,” perintah sang majikan.

“Tidak usah, Tuan. Saya baik-baik saja.” Gisela masih menolak. Ia bisa melihat kegelisahan dari raut wajah pria itu.

Gisela tahu, ini adalah jam kerja. Menilik dari penampilannya, pria itu bukan pekerja biasa. Apalagi melihat pria satunya, sepertinya mereka sedang terburu-buru.

“Saya tetap akan mengantarmu ke klinik. Bagaimanapun juga, kamu terluka karena terserempet mobilku,” desaknya.

Dengan lembut, pria itu membantu Gisela bangun. Lalu memapahnya ke mobil. Gisela hanya menurut. Tidak mampu untuk menolak lagi.

Selama berada di dalam mobil, Gisela hanya menunduk dalam. Merasa canggung berada dalam situasi saat itu. Apalagi Gisela menyadari bahwa sejak tadi, pria tersebut terus menatapnya.

“Tuan, maaf. Kalau saya mengotori mobil Anda.” Gisela berbicara lirih, hampir tidak terdengar.

Ia meremas ujung baju lusuh yang dikenakan. Bahkan, untuk mengangkat kepala saja, Gisela tidak berani melakukannya. Membuat suasana di dalam mobil semakin canggung.

“Jangan sungkan seperti itu.”

Gisela tidak menyahut lagi. Sampai akhirnya mobil mewah berwarna hitam mengkilap itu, berhenti di depan sebuah klinik.

Pengemudi mobil keluar, lalu membuka pintu untuk tuannya. Sementara Gisela masih duduk di tempat. Ia melihat pria di sampingnya tadi, melangkah memutar dan membantu Gisela membuka pintu.

“Aku bantu jalan,” tawarnya lembut.

Gisela mengangguk. Ia memang butuh dipapah karena kakinya terasa nyeri saat digunakan melangkah. Dengan perlahan, pria itu mengantar Gisela sampai ke ruang pemeriksaan. Menunggu dengan sabar di meja dokter.

“Bagaimana?” tanyanya saat dokter itu selesai memeriksa.

“Hanya luka biasa. Saya beri obat agar cepat kering,” sahut dokter itu.

Setelah menyelesaikan administrasi, pria itu kembali menuntun Gisela masuk ke mobil.

“Aku antar kamu pulang,” ujarnya. Namun, Gisela menggeleng cepat. “Kenapa?”

“Saya tidak punya rumah.”

Kening pria itu terlihat mengerut. “Lalu? Selama ini kamu ...”

“Saya tinggal di jalanan. “ Gisela menjawab cepat. Seolah paham apa yang akan ditanyakan oleh pria itu.

Gisela mengangkat sedikit kepalanya, lalu menunjukkan senyuman ketika mereka saling bertukar pandang.

“Saya yatim piatu. Tidak punya saudara. Rumah peninggalan orang tua saya sudah tidak ada.” Gisela berbicara lirih.

Wajah pria itu mendadak pias. Mendengar jawaban Gisela seketika membuat hatinya merasa iba.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku saja.”

Gisela mendongak. Menatap tidak percaya. Namun, pria itu justru menunjukkan senyuman tipis. Berbeda dengan pria di depan yang tampak mengerutkan kening mendengar ucapan tuannya.

“Tidak, terima kasih. Saya tidak mau merepotkan siapa pun.”

“Aku tidak merasa direpotkan. Anggap saja, ini sebagai tanggung jawabku karena sudah membuat kamu terluka,” sahutnya mantap.

Gisela lagi-lagi menggeleng. Ia tidak bisa menerima penawaran itu dengan cepat.

“Membawa saya ke klinik, itu sudah termasuk tanggung jawab, Tuan. Sudah lebih dari cukup.” Gisela masih menolak.

“Bagaimana kalau kamu bekerja sebagai pelayan di rumahku saja? Jadi, selain memiliki pemasukan, kamu juga bisa memiliki tempat tinggal yang layak,” desaknya.

Gisela diam sesaat. Ekor matanya melirik pria di sampingnya yang tampak menatap penuh harap. Setelah mengambil napas dalam, Gisela akhirnya mengangguk lemah.

“Feri, kita kembali ke rumah,” perintahnya pada sang bawahan.

“Tuan, kita sudah hampir sampai di kantor. Terlebih lagi, Anda sudah ditunggu di ruang rapat.”

“Kita antar dia dulu, lalu ....” Ucapannya terhenti saat Gisela sudah menyentuh lengannya.

“Saya tidak mau mengganggu pekerjaan Anda. Saya akan menunggu di depan kantor sampai selesai jam kerja,” kata Gisela yakin.

“Kamu tunggu di ruangan ku saja. Setelah selesai rapat, aku akan mengajakmu pulang,” pungkasnya. Gisela hanya mengangguk mengiyakan.

***

Setibanya di kantor, Feri mengajak Gisela masuk ke ruangan direktur utama. Sementara pria tadi langsung pergi ke ruang rapat.

“Tunggu di sini dan jangan melakukan apa pun. Ada kamera pengawas di ruangan ini. Kalau sampai kamu berbuat macam-macam, maka hukum akan bicara,” ujar Feri mengintimidasi.

Gisela mengangguk cepat tanda paham. Setelahnya pintu ruangan itu pun tertutup rapat. Tatapan Gisela menyapu seluruh penjuru ruangan dengan kagum. Desain yang simpel dan elegan begitu memikat.

Dengan langkah perlahan, Gisela menyusuri setiap sudut ruangan itu. Lalu berhenti di depan meja kerja yang begitu bersih tanpa debu sedikit pun.

Manik matanya menatap papan nama yang terpajang rapi di bagian sudut kanan.

“Direktur Utama. Danuarta.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 111

    Kehamilan Gisela ternyata membuat Yoga dan Ayunda semakin dekat. Meski mereka sering bertengkar dan berdebat daripada akurnya. Namun, Yoga merasa bingung pada dirinya sendiri. Setiap ia melihat Ayunda merasa kesal, maka hatinya akan merasa senang karena terhibur. Itulah yang membuatnya selalu menggoda gadis itu agar kesal. "Aku akan memberi kamu uang. Jadilah pacar pura-puraku." Yoga membuatkan mata penuh mendengar ucapan dari Ayunda. Yang benar saja, tidak angin atau hujan tiba-tiba Ayunda mengajukan permintaan aneh padanya. Tentu saja ia tidak langsung menyanggupinya. "Aku bukan pria bayaran." Yoga menyesap kopi dengan santai tidak peduli meski gadis di depannya sudah mendesah kasar."Lalu? Aku butuh pacar pura-pura untuk menemaniku ke acara reuni. Kalau tidak, mantan pacarku pasti akan meledek habis-habisan."Aku tidak butuh uang. Aku sudah banyak uang. Ingat, gajiku bahkan lebih besar daripada gajimu." "Cih! Sombong sekali." Ayunda mencebik. Yoga bukannya kesal justru terkek

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 110

    Kabar kehamilan Gisela langsung menyebar. Terutama pada lingkungan sekitar dan keluarga yang dekat dengan mereka. Semua bersuka cita atas kabar itu. Banyak yang mendoakan Gisela dan janinnya agar bisa tumbuh sehat sampai persalinan tiba. Hal itu tentu saja membuat Gisela merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka kalau hamil akan sebahagia itu. Namun, di sisi lain ia merasa perbandingan yang terbalik. Kehidupan sehari-harinya tidak sebebas dulu. Selama menjalani kehamilan, Gisela merasa menjadi wanita paling terkekang. Bukan tanpa alasan, William menjadi suami yang over protektif. Bahkan, ia tidak bebas melakukan hal apa pun. Semuanya serba dibatasi apa pun otu. Bahkan, William sampai memanggil ahli gizi ke rumah hanya bertugas memasak untuk Gisela. Terkadang ia merasa gemas sendiri, tetapi jika dipikir lagi, apa yang dilakukan William itu sebagai tanda sayang pria itu kepadanya dan calon buah hati mereka. "Mbok, saya mau ke kantor." Gisela berbicara lembut kepada Mbok Minah.

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 109

    Hubungan Gisela dan William semakin hari semakin menghangat. Mereka bahkan menikmati waktu selama tinggal di desa itu. William sangat cepat bisa berbaur dengan warga desa. Juga para warga yang antusias, apalagi saat mereka mengetahui kalau William adalah suami dari Gisela. Hubungan mereka semakin dekat saja. Seperti orang yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. "Besok aku harus kembali ke kota. Ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal," kata William. Saat ini, ia sedang berpelukan mesra di atas ranjang setelah selesai melakukan pertempuran panas. Sejak malam pertama itu dilewati, William seperti tidak memberi ampun karena terus membuat Gisela keramas setiap pagi. "Kenapa cepat sekali?" Gisela berbicara merengek seperti anak kecil yang merajuk. "Kamu tidak mengajakku pulang?" "Memangnya kamu mau pulang denganku?" tanya William penuh harap. Gisela hanya diam tidak memberi jawaban sama sekali. "Kalau kamu masih ingin di sini, tidak apa. Aku tidak akan memaksa kamu pulang bers

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 108

    Pelukan itu terasa hangat bagi Gisela. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu kembali dengan William. Lelaki yang selalu mengisi hari-harinya juga mengisi hatinya. Tubuhnya masih membeku bahkan seperti tidak bisa digerakkan. Ia berdiam diri seperti patung. "Aku merindukanmu." William berbisik di telinga Gisela. Membuat tubuhnya meremang seketika. "Selama ini aku memcarimu." "Ke-Kenapa kamu ada di sini?" Suara Gisela terbata. Ia bahkan harus mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan itu. Sejak tadi, lidahnya merasa kelu. Gisela merasakan ada yang berbeda saat William melepaskan pelukan itu. Ia tidak munafik, bahwa pelukan William memang sangat meneduhkan dan membuat candu. Ia ingin terus dipeluk pria itu."Kenapa kamu pergi sangat jauh. Pantas aku tidak bisa menemukan keberadaan mu sama sekali." Gisela hanya diam saat William sudah mengelus pipinya lembut. "Kalian saling kenal?" tanya Pak Aris mengalihkan perhatian. "Kami sangat saling mengenal, Pak." Gisela hanya menurut sa

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 107

    Kehidupan William sangat berubah drastis. Pria itu menjadi dingin dan seperti tak tersentuh. Bahkan l, wajahnya sangat kusut karena terlalu banyak pikiran. Sudah hampir sebulan melakukan pencairan tetapi keberadaan Gisela tidak ditemukan sama sekali. Entah ke mana perginya wanita itu. Seperti hilang ditelan bumi. Padahal William sudah mencari ke semua tempat-tempat yang kemungkinan dijamah Gisela. Juga mengecek semua keberangkatan pesawat maupun kereta. Siapa tahu istrinya melarikan diri ke rumah sakit. Namun, hasilnya masih sama. Tidak ada keberadaan Gisela. Wanita itu sama sekali tidak ditemukan. Akhirnya, William pasrah. Ia menghentikan semua pencarian. Hanya pasrah kepada Tuhan. Berharap suatu saat nanti Tuhan masih berbaik hati padanya untuk mempertemukan dengan Gisela. Tapi dalam hati tidak pernah putus berharap semoga Tuhan dan Gisela masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sekarang, ia hanya fokus mengembangkan bisnisnya agar semakin maju pesat. Menjadi

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 106

    "Tuan, keberadaan Nyonya Muda sama sekali tidak bisa dilacak. Padahal saya sudah mengerahkan semua anak buah. Tapi hasilnya masih nihil." Yoga datang ke rumah dengan wajah pucat. William menghela napas panjang. Lalu menatap Yoga sekilas saja. Sebelum akhirnya ia kembali fokus pada layar ponsel. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Mau bagaimana pun caranya, istriku harus ketemu!" "Saya akan terus berusaha, Tuan. Saya juga sudah mendatangi tempat Ayunda. Hasilnya sama. Dia juga tidak ada. Kemungkinan mereka berdua pergi bersama-sama," tutur Yoga. William membenarkan ucapan pria itu. Mengingat hubungan Gisela dan Ayunda yang sangat dekat, sudah pasti Ayunda tidak akan membiarkan Gisela pergi seorang diri. Dia pasti sedang bersama istrinya. "Kira-kira mereka pergi ke mana?" William frustrasi. Kehilangan Gisela, membuatnya seperti kehilangan semangat hidup. "Saya kurang tahu, Tuan. Saya akan usahakan cepat menemukan mereka." "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status