Share

Salah Paham

Author: Rita Tatha
last update Last Updated: 2025-11-01 04:45:01

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Gisela yang sudah terlelap, tiba-tiba begitu gelisah. Keringat dingin tampak membasahi dahi dan wajah. Tubuhnya terus bergerak tidak tenang. Beberapa detik kemudian, ia terbangun. Napasnya tersengal seiring keringat yang makin deras mengucur.

“Astaga, aku mimpi buruk lagi,” gumamnya.

Ia meremas selimut kuat. Mimpi itu, sungguh sangat mengganggu tidurnya. Ini bukanlah mimpi buruk pertama kali bagi Gisela. Di dalam sana, ia melihat jelas wajah kedua orang tuanya yang membiru, tak berdaya. Itu terus menghantui perasaannya.

“Ya Tuhan,” keluhnya. Mengusap wajah yang sudah basah oleh keringat.

Gisela menyingkap selimut dan hendak turun dari kasur. Tenggorokannya terasa sangat kering. Namun, baru saja berdiri tegak, terdengar suara pintu diketuk.

“Siapa?” tanya Gisela cemas. Ini adalah malam pertama ia tinggal di rumah mewah tersebut. Kekhawatiran sudah pasti ada.

“Aku. Buka pintunya.”

Gisela menangkap suara bariton yang tidak terdengar keras itu. Dengan perlahan Gisela maju lalu menarik gagang pintu tersebut. Tampaklah Danuarta yang berdiri sembari membawa secangkir teh hangat. Gisela menatap pria itu dengan bingung.

“Tu-Tuan,” panggil Gisela gugup.

“Maaf, aku mengganggu. Aku khawatir kamu tidak bisa tidur. Jadi, aku membawakan teh hangat untukmu,” ujarnya.

Gisela terpaku. Matanya sedikit membulat menatap Danuarta dan cangkir yang dipegang pria itu secara bergantian. Melihat gerakan mata Gisela, Danuarta justru menunjukkan senyuman tipis.

“Bagaimana kakimu?” tanya Danuarta. Pria itu hendak berjongkok untuk melihat keadaan kaki Gisela, tetapi dengan cepat ditahan oleh Gisela.

“Tuan, saya sudah lebih baik.”

“Syukurlah kalau begitu.” Danuarta tampak menghela napas lega.

Gisela mengulas senyum. Lalu menerima cangkir tersebut saat Danuarta menyodorkannya.

“Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan. Saya pasti akan mengingatnya,” kata Gisela. Ia sedikit membungkuk, sebuah tanda hormat kepada Danuarta.

“Kamu tidak perlu berterima kasih.”

Gisela tersenyum tipis. “Kalau sudah tidak ada hal lain lagi, saya mau kembali ke dalam, Tuan. Saya khawatir akan ada yang melihat lalu ....”

“Istirahatlah!” potong Danuarta.

Gisela hanya mengiyakan lalu menutup pintu itu dengan rapat setelah Danuarta berbalik dan pergi dari sana.

***

Pagi harinya, Gisela terkejut ketika mendengar suara pintu kamar digedor cukup kencang. Dengan langkah cepat, ia turun dari ranjang dan bergegas membuka pintu. Baru saja terbuka lebar, ia langsung berhadapan dengan Cindy yang memasang wajah sinis.

“Nyo-Nyonya,” panggil Gisela terbata.

“Kamu wanita kurang ajar!” Sebuah tamparan mendarat di pipi Gisela. Membuatnya tersentak kaget.

“A-Apa salah saya, Nyonya?” Gisela menunduk sambil memegang pipinya yang terasa panas.

“Kamu menggodaku suamiku!” hardiknya. Suaranya menggelegar kencang hingga beberapa pelayan yang masih berada di belakang pun, diam seribu bahasa.

“Saya tidak pernah menggoda Tuan Danuarta, Nyonya. Sungguh!” Gisela sedikit mendongak. Tatapan matanya tampak sendu. Membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba. Namun, tidak dengan Cindy yang justru berdecih keras.

“Semalam suamiku datang ke sini! Kamu pasti menggodanya!”

“Nyonya, saya sungguh tidak menggoda ... Arghhh!” Gisela mengerang saat Cindy justru menjambak rambutnya. Menciptakan rasa panas menjalar sampai seluruh kepala. “Nyonya, tolong ampuni saya. Saya sungguh tidak menggoda Tuan Danu.”

“Bukankah sudah kubilang kalau aku mengawasi mu! Siapa pun yang menggoda suamiku, tidak akan aku biarkan!” Cengkeraman itu semakin kuat. Seperti hendak mencabut rambut Gisela dari kepalanya.

Air mata Gisela mengalir. Ia tidak bisa melawan. Apalagi beberapa pelayan yang berada di sana, hanya diam tanpa ada sedikit pun yang membela maupun menolong Gisela.

“Nyonya, saya minta tolong. Ampuni saya. Sungguh, saya tidak pernah ada niatan untuk menggoda Tuan Danu,” ujar Gisela membela diri. Ia memegang tangan Cindy, berharap wanita itu akan melepaskannya. Namun, Cindy justru terlihat semakin geram.

“Awas saja kalau sampai kamu menggoda suamiku! Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!” gertak Cindy. Ia melepaskan cengkeraman itu dengan cara dihempas. Gisela yang tidak bisa menyeimbangkan tubuh pun, pada akhirnya jatuh tersungkur. “Kamu harus ingat kalau aku mengawasi mu!”

Cindy melangkah pergi dari sana, sementara Gisela masih terduduk sambil menangis. Pipi dan kepalanya masih menyisakan rasa panas dan sakit. Membuat tubuh Gisela terasa lemah.

“Gisela.” Suara lembut dari pintu, mengalihkan perhatian Gisela. Ia mendongak dan melihat Mbok Minah mendekat. Wajah wanita paruh baya itu menunjukkan kecemasan. “Kamu baik-baik saja?”

Gisela hanya membisu. Tidak menanggapi pertanyaan Mbok Minah sama sekali. Dengan perlahan, Mbok Minah membantu Gisela bangkit dan menuntunnya ke kasur. Setelahnya, Mbok Minah mengambil segelas air putih dan memberikan kepada Gisela.

“Minumlah, agar hatimu cukup tenang.”

“Terima kasih banyak, Mbok.” Gisela menerima, lalu meneguknya sekali. Terlihat jelas tubuh Gisela yang gemetar. Mbok Minah tampak tidak tega saat melihatnya.

“Apa semalam memang Tuan Danu datang ke mari?” tanya Mbok Minah. Gisela bisa menangkap raut wajah Mbok Minah yang tampak gelisah.

Gisela mengangguk lemah. Selang beberapa detik, terdengar desahan napas kasar dari Mbok Minah.

“Saya tidak tahu kalau Tuan Danu akan datang ke sini. Beliau hanya mengantar teh hangat untuk saya. Tapi, saya langsung menyuruh beliau pergi, bahkan Tuan Danu tidak masuk kamar ini sama sekali,” jelas Gisela. Suaranya terdengar bergetar.

“Mbok, percayalah kalau saya tidak pernah ada niatan untuk menggoda Tuan Danu. Nyonya Cindy, sudah salah paham.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 10

    “Mbok! Mbok Minah!” Suara Cindy begitu melengking memenuhi penjuru ruangan. Setiap pelayan yang mendengar segera menghentikan kegiatan mereka. Lalu melangkah mendekati sang nyonya rumah untuk melihat ada apakah gerangan. Begitu juga dengan Gisela. Walaupun teriakan Cindy tidak membuatnya penasaran, tetapi kakinya tetap melangkah mendekat mengikuti yang lainnya. “Ada apa, Nyonya?” tanya Mbok Minah. Tatapannya terlihat begitu menelisik sang majikan. “Loh, kok ke sini semua? Sudah sana kalian kembali kerja,” perintah Cindy. Membubarkan para pelayan itu. Termasuk Gisela. Walaupun berbalik, Gisela justru bersembunyi di balik tembok untuk mendengar pembicaraan Cindy dengan Mbok Minah.“Tuan sudah berangkat?” tanya Cindy. “Sudah, Nyonya. Sekitar lima belas menit yang lalu.” “Dia tidak membangunkanku.” Suara Cindy terdengar manja saat di depan Mbok Minah seorang. Berbeda jauh saat ia sedang berhadapan dengan pelayan lain. Wanita itu akan terlihat galak dan menyeramkan. “Apa dia sarapan?

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 09

    “Gisela, ayo ikut aku ke pasar,” ajak Mbok Minah. “Sebentar, Mbok. Saya ganti baju dulu.” Gisela menyahut dari kamar. Ini masih jam enam pagi, tetapi semua pelayan sudah bersiap dengan tugasnya masing-masing. Hampir tiga menit, Gisela keluar dengan memakai baju yang lebih rapi. Ia mengambil keranjang belanja dari Mbok Minah. Lalu bergegas pergi bersama wanita itu. Selama dalam perjalanan, Mbok Minah begitu antusias bercerita. Sementara Gisela hanya menanggapi dengan senyuman setiap kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu. Mbok Minah baik dan penyayang. Gisela merasa bahwa hubungan mereka begitu dekat. Dari semua pelayan yang ada di rumah Danuarta, hanya Mbok Minah yang bersikap sangat baik padanya. “Mbok, saya belum masak untuk sarapan.” “Tidak apa. Hari ini Tuan tidak ke kantor, jadi tidak perlu memasak pagi-pagi,” ujar Mbok Minah. Tangannya tampak sibuk memilih-milih sayuran segar. Gisela pun ikut melakukan hal yang sama. Pintar memasak, membuat Gisela pun sangat pandai d

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 08

    Gisela tersentak kaget, ia segera menyeimbangkan tubuh saat menyadari bahwa dirinya hampir saja terjatuh. Gerakan kasar Cindy yang begitu tiba-tiba membuat Gisela tidak memiliki persiapan apa pun untuk menahan diri. Helaan napas lega terdengar dari Gisela saat ia berhasil kembali menegakkan tubuhnya. “Cindy, apa yang kamu lakukan?” Suara Danuarta terdengar memenuhi setiap penjuru ruangan. Pria itu bahkan sudah berdiri dan hendak melangkah mendekati Gisela. Namun, langkahnya terhenti karena Cindy sudah menahan lengan suaminya. Tatapannya terlihat menajam hingga membuat pria itu bergeming. “Nyonya, saya minta maaf.” Gisela berdiri setengah membungkuk. Raut wajahnya tampak datar. Tidak menunjukkan ekspresi apa pun.“Jangan gunakan wajah jelekmu untuk menarik simpati suamiku! Kamu pikir aku tidak tahu!” tukas Cindy. Setiap kalimat yang terucap penuh dengan penekanan. “Nyonya, Anda jangan salah paham lagi. Saya ....” “Sudah. Jangan diperpanjang. Sayang...,” panggil Danuarta. Tatapanny

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 07

    “Nyo-Nyonya.” Gisela tergagap. Saat membalik badan ia langsung berhadapan dengan Cindy yang sudah melayangkan tatapan tajam. Seketika kepala Gisela tertunduk dalam. Tangannya saling meremas saat mendengar langkah Cindy yang mendekat.“Apa yang sedang kamu lakukan!” tanya Cindy lagi. Kali ini, terdengar lebih penuh dengan penekanan. “Saya sedang bersih-bersih, Nyonya. “ Gisela menjawab lirih. Tanpa mengangkat kepala. “Bersih-bersih? Kamu yakin?” Cindy bertanya tidak percaya. “Sepertinya tadi aku melihat kamu mau memukul foto ini.”“Tidak, Nyonya. Anda salah lihat. Saat sedang membersihkan tadi, tiba-tiba tangan saya kram.” Gisela menatap Cindy sambil menunjukkan tangannya. Sedikit mengibaskan agar Cindy benar-benar percaya. “Awas saja kalau kamu berani macam-macam dengan apa pun yang ada di rumah ini!” Cindy menunjuk wajah Gisela. “Baik, Nyonya.” Gisela berusaha tetap terlihat tenang agar Cindy tidak menaruh curiga yang berlebihan lagi.Gisela meremas baju bagian samping s

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Menarik Simpati

    “Tu-Tuan.” Gisela yang sedang mengambil minum di dapur, terkejut melihat kedatangan Danuarta tiba-tiba. “Kamu belum tidur?” tanya Danuarta. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Ini saya mau tidur, Tuan.” Gisela menunduk, tidak berani mengangkat kepala apalagi menatap Danuarta. Saat tidak mendapat respon, Gisela hendak melangkah pergi, tetapi Danuarta menahannya. “Aku minta maaf atas nama istriku. Aku tidak menyangka kalau dia akan menamparmu,” kata Danuarta. Gisela mengangkat kepala dan menunjukkan senyuman tipis. “Anda tidak perlu minta maaf, Tuan. Nyonya sama sekali tidak bersalah.” “Dia hanya salah paham.” Gisela mengangguk. Mengiyakan ucapan Danuarta. “Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu saya kembali ke kamar. Saya khawatir kalau Nyonya akan salah paham lagi.” Danuarta hanya diam. Saat Gisela melangkah, tiba-tiba ia tersandung kakinya sendiri. Hampir saja ia terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Beruntung, Danuarta segera menangkap p

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Mengadu

    Kamar Gisela terasa hening saat kedua wanita itu saling diam. Terdengar helaan napas panjang Mbok Minah. Gisela hanya diam dan terus tertunduk dalam. Khawatir Mbokan Minah tidak percaya ucapannya. Namun, ternyata tidak. Dengan gerakan perlahan, Mbok Minah mengusap punggung Gisela, membuatnya merasa nyaman. “Aku percaya sama kamu,” kata Mbok Minah. Gisela menoleh, guratan wajahnya menunjukkan kelegaan. Bahkan, senyuman tipis tampak menghiasi bibir Gisela. “Mbok, terima kasih sudah percaya pada saya. Sungguh, saya tidak ada niatan untuk menggoda Tuan Danu. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Nyonya Cindy. Saya khawatir Nyonya Cindy terus salah paham pada saya,” kata Gisela lirih. Ia kembali menunduk dan meremas ujung baju yang dikenakan. “Jangan dipikirkan. Biar nanti aku bantu jelaskan kepada Nyonya Cindy.” “Terima kasih banyak, Mbok. Kalau tidak ada Mbok Minah, sudah pasti saya akan ....” “Sudah, lebih baik kamu istirahat saja. Baru besok kamu bisa mulai bekerja,” pungka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status