LOGINJam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Gisela yang sudah terlelap, tiba-tiba begitu gelisah. Keringat dingin tampak membasahi dahi dan wajah. Tubuhnya terus bergerak tidak tenang. Beberapa detik kemudian, ia terbangun. Napasnya tersengal seiring keringat yang makin deras mengucur.
“Astaga, aku mimpi buruk lagi,” gumamnya. Ia meremas selimut kuat. Mimpi itu, sungguh sangat mengganggu tidurnya. Ini bukanlah mimpi buruk pertama kali bagi Gisela. Di dalam sana, ia melihat jelas wajah kedua orang tuanya yang membiru, tak berdaya. Itu terus menghantui perasaannya. “Ya Tuhan,” keluhnya. Mengusap wajah yang sudah basah oleh keringat. Gisela menyingkap selimut dan hendak turun dari kasur. Tenggorokannya terasa sangat kering. Namun, baru saja berdiri tegak, terdengar suara pintu diketuk. “Siapa?” tanya Gisela cemas. Ini adalah malam pertama ia tinggal di rumah mewah tersebut. Kekhawatiran sudah pasti ada. “Aku. Buka pintunya.” Gisela menangkap suara bariton yang tidak terdengar keras itu. Dengan perlahan Gisela maju lalu menarik gagang pintu tersebut. Tampaklah Danuarta yang berdiri sembari membawa secangkir teh hangat. Gisela menatap pria itu dengan bingung. “Tu-Tuan,” panggil Gisela gugup. “Maaf, aku mengganggu. Aku khawatir kamu tidak bisa tidur. Jadi, aku membawakan teh hangat untukmu,” ujarnya. Gisela terpaku. Matanya sedikit membulat menatap Danuarta dan cangkir yang dipegang pria itu secara bergantian. Melihat gerakan mata Gisela, Danuarta justru menunjukkan senyuman tipis. “Bagaimana kakimu?” tanya Danuarta. Pria itu hendak berjongkok untuk melihat keadaan kaki Gisela, tetapi dengan cepat ditahan oleh Gisela. “Tuan, saya sudah lebih baik.” “Syukurlah kalau begitu.” Danuarta tampak menghela napas lega. Gisela mengulas senyum. Lalu menerima cangkir tersebut saat Danuarta menyodorkannya. “Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan. Saya pasti akan mengingatnya,” kata Gisela. Ia sedikit membungkuk, sebuah tanda hormat kepada Danuarta. “Kamu tidak perlu berterima kasih.” Gisela tersenyum tipis. “Kalau sudah tidak ada hal lain lagi, saya mau kembali ke dalam, Tuan. Saya khawatir akan ada yang melihat lalu ....” “Istirahatlah!” potong Danuarta. Gisela hanya mengiyakan lalu menutup pintu itu dengan rapat setelah Danuarta berbalik dan pergi dari sana. *** Pagi harinya, Gisela terkejut ketika mendengar suara pintu kamar digedor cukup kencang. Dengan langkah cepat, ia turun dari ranjang dan bergegas membuka pintu. Baru saja terbuka lebar, ia langsung berhadapan dengan Cindy yang memasang wajah sinis. “Nyo-Nyonya,” panggil Gisela terbata. “Kamu wanita kurang ajar!” Sebuah tamparan mendarat di pipi Gisela. Membuatnya tersentak kaget. “A-Apa salah saya, Nyonya?” Gisela menunduk sambil memegang pipinya yang terasa panas. “Kamu menggodaku suamiku!” hardiknya. Suaranya menggelegar kencang hingga beberapa pelayan yang masih berada di belakang pun, diam seribu bahasa. “Saya tidak pernah menggoda Tuan Danuarta, Nyonya. Sungguh!” Gisela sedikit mendongak. Tatapan matanya tampak sendu. Membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba. Namun, tidak dengan Cindy yang justru berdecih keras. “Semalam suamiku datang ke sini! Kamu pasti menggodanya!” “Nyonya, saya sungguh tidak menggoda ... Arghhh!” Gisela mengerang saat Cindy justru menjambak rambutnya. Menciptakan rasa panas menjalar sampai seluruh kepala. “Nyonya, tolong ampuni saya. Saya sungguh tidak menggoda Tuan Danu.” “Bukankah sudah kubilang kalau aku mengawasi mu! Siapa pun yang menggoda suamiku, tidak akan aku biarkan!” Cengkeraman itu semakin kuat. Seperti hendak mencabut rambut Gisela dari kepalanya. Air mata Gisela mengalir. Ia tidak bisa melawan. Apalagi beberapa pelayan yang berada di sana, hanya diam tanpa ada sedikit pun yang membela maupun menolong Gisela. “Nyonya, saya minta tolong. Ampuni saya. Sungguh, saya tidak pernah ada niatan untuk menggoda Tuan Danu,” ujar Gisela membela diri. Ia memegang tangan Cindy, berharap wanita itu akan melepaskannya. Namun, Cindy justru terlihat semakin geram. “Awas saja kalau sampai kamu menggoda suamiku! Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!” gertak Cindy. Ia melepaskan cengkeraman itu dengan cara dihempas. Gisela yang tidak bisa menyeimbangkan tubuh pun, pada akhirnya jatuh tersungkur. “Kamu harus ingat kalau aku mengawasi mu!” Cindy melangkah pergi dari sana, sementara Gisela masih terduduk sambil menangis. Pipi dan kepalanya masih menyisakan rasa panas dan sakit. Membuat tubuh Gisela terasa lemah. “Gisela.” Suara lembut dari pintu, mengalihkan perhatian Gisela. Ia mendongak dan melihat Mbok Minah mendekat. Wajah wanita paruh baya itu menunjukkan kecemasan. “Kamu baik-baik saja?” Gisela hanya membisu. Tidak menanggapi pertanyaan Mbok Minah sama sekali. Dengan perlahan, Mbok Minah membantu Gisela bangkit dan menuntunnya ke kasur. Setelahnya, Mbok Minah mengambil segelas air putih dan memberikan kepada Gisela. “Minumlah, agar hatimu cukup tenang.” “Terima kasih banyak, Mbok.” Gisela menerima, lalu meneguknya sekali. Terlihat jelas tubuh Gisela yang gemetar. Mbok Minah tampak tidak tega saat melihatnya. “Apa semalam memang Tuan Danu datang ke mari?” tanya Mbok Minah. Gisela bisa menangkap raut wajah Mbok Minah yang tampak gelisah. Gisela mengangguk lemah. Selang beberapa detik, terdengar desahan napas kasar dari Mbok Minah. “Saya tidak tahu kalau Tuan Danu akan datang ke sini. Beliau hanya mengantar teh hangat untuk saya. Tapi, saya langsung menyuruh beliau pergi, bahkan Tuan Danu tidak masuk kamar ini sama sekali,” jelas Gisela. Suaranya terdengar bergetar. “Mbok, percayalah kalau saya tidak pernah ada niatan untuk menggoda Tuan Danu. Nyonya Cindy, sudah salah paham.”Kehamilan Gisela ternyata membuat Yoga dan Ayunda semakin dekat. Meski mereka sering bertengkar dan berdebat daripada akurnya. Namun, Yoga merasa bingung pada dirinya sendiri. Setiap ia melihat Ayunda merasa kesal, maka hatinya akan merasa senang karena terhibur. Itulah yang membuatnya selalu menggoda gadis itu agar kesal. "Aku akan memberi kamu uang. Jadilah pacar pura-puraku." Yoga membuatkan mata penuh mendengar ucapan dari Ayunda. Yang benar saja, tidak angin atau hujan tiba-tiba Ayunda mengajukan permintaan aneh padanya. Tentu saja ia tidak langsung menyanggupinya. "Aku bukan pria bayaran." Yoga menyesap kopi dengan santai tidak peduli meski gadis di depannya sudah mendesah kasar."Lalu? Aku butuh pacar pura-pura untuk menemaniku ke acara reuni. Kalau tidak, mantan pacarku pasti akan meledek habis-habisan."Aku tidak butuh uang. Aku sudah banyak uang. Ingat, gajiku bahkan lebih besar daripada gajimu." "Cih! Sombong sekali." Ayunda mencebik. Yoga bukannya kesal justru terkek
Kabar kehamilan Gisela langsung menyebar. Terutama pada lingkungan sekitar dan keluarga yang dekat dengan mereka. Semua bersuka cita atas kabar itu. Banyak yang mendoakan Gisela dan janinnya agar bisa tumbuh sehat sampai persalinan tiba. Hal itu tentu saja membuat Gisela merasa sangat bahagia. Ia tidak menyangka kalau hamil akan sebahagia itu. Namun, di sisi lain ia merasa perbandingan yang terbalik. Kehidupan sehari-harinya tidak sebebas dulu. Selama menjalani kehamilan, Gisela merasa menjadi wanita paling terkekang. Bukan tanpa alasan, William menjadi suami yang over protektif. Bahkan, ia tidak bebas melakukan hal apa pun. Semuanya serba dibatasi apa pun otu. Bahkan, William sampai memanggil ahli gizi ke rumah hanya bertugas memasak untuk Gisela. Terkadang ia merasa gemas sendiri, tetapi jika dipikir lagi, apa yang dilakukan William itu sebagai tanda sayang pria itu kepadanya dan calon buah hati mereka. "Mbok, saya mau ke kantor." Gisela berbicara lembut kepada Mbok Minah.
Hubungan Gisela dan William semakin hari semakin menghangat. Mereka bahkan menikmati waktu selama tinggal di desa itu. William sangat cepat bisa berbaur dengan warga desa. Juga para warga yang antusias, apalagi saat mereka mengetahui kalau William adalah suami dari Gisela. Hubungan mereka semakin dekat saja. Seperti orang yang sudah hidup bersama bertahun-tahun. "Besok aku harus kembali ke kota. Ada rapat penting yang tidak bisa ditinggal," kata William. Saat ini, ia sedang berpelukan mesra di atas ranjang setelah selesai melakukan pertempuran panas. Sejak malam pertama itu dilewati, William seperti tidak memberi ampun karena terus membuat Gisela keramas setiap pagi. "Kenapa cepat sekali?" Gisela berbicara merengek seperti anak kecil yang merajuk. "Kamu tidak mengajakku pulang?" "Memangnya kamu mau pulang denganku?" tanya William penuh harap. Gisela hanya diam tidak memberi jawaban sama sekali. "Kalau kamu masih ingin di sini, tidak apa. Aku tidak akan memaksa kamu pulang bers
Pelukan itu terasa hangat bagi Gisela. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu kembali dengan William. Lelaki yang selalu mengisi hari-harinya juga mengisi hatinya. Tubuhnya masih membeku bahkan seperti tidak bisa digerakkan. Ia berdiam diri seperti patung. "Aku merindukanmu." William berbisik di telinga Gisela. Membuat tubuhnya meremang seketika. "Selama ini aku memcarimu." "Ke-Kenapa kamu ada di sini?" Suara Gisela terbata. Ia bahkan harus mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan itu. Sejak tadi, lidahnya merasa kelu. Gisela merasakan ada yang berbeda saat William melepaskan pelukan itu. Ia tidak munafik, bahwa pelukan William memang sangat meneduhkan dan membuat candu. Ia ingin terus dipeluk pria itu."Kenapa kamu pergi sangat jauh. Pantas aku tidak bisa menemukan keberadaan mu sama sekali." Gisela hanya diam saat William sudah mengelus pipinya lembut. "Kalian saling kenal?" tanya Pak Aris mengalihkan perhatian. "Kami sangat saling mengenal, Pak." Gisela hanya menurut sa
Kehidupan William sangat berubah drastis. Pria itu menjadi dingin dan seperti tak tersentuh. Bahkan l, wajahnya sangat kusut karena terlalu banyak pikiran. Sudah hampir sebulan melakukan pencairan tetapi keberadaan Gisela tidak ditemukan sama sekali. Entah ke mana perginya wanita itu. Seperti hilang ditelan bumi. Padahal William sudah mencari ke semua tempat-tempat yang kemungkinan dijamah Gisela. Juga mengecek semua keberangkatan pesawat maupun kereta. Siapa tahu istrinya melarikan diri ke rumah sakit. Namun, hasilnya masih sama. Tidak ada keberadaan Gisela. Wanita itu sama sekali tidak ditemukan. Akhirnya, William pasrah. Ia menghentikan semua pencarian. Hanya pasrah kepada Tuhan. Berharap suatu saat nanti Tuhan masih berbaik hati padanya untuk mempertemukan dengan Gisela. Tapi dalam hati tidak pernah putus berharap semoga Tuhan dan Gisela masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Sekarang, ia hanya fokus mengembangkan bisnisnya agar semakin maju pesat. Menjadi
"Tuan, keberadaan Nyonya Muda sama sekali tidak bisa dilacak. Padahal saya sudah mengerahkan semua anak buah. Tapi hasilnya masih nihil." Yoga datang ke rumah dengan wajah pucat. William menghela napas panjang. Lalu menatap Yoga sekilas saja. Sebelum akhirnya ia kembali fokus pada layar ponsel. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Mau bagaimana pun caranya, istriku harus ketemu!" "Saya akan terus berusaha, Tuan. Saya juga sudah mendatangi tempat Ayunda. Hasilnya sama. Dia juga tidak ada. Kemungkinan mereka berdua pergi bersama-sama," tutur Yoga. William membenarkan ucapan pria itu. Mengingat hubungan Gisela dan Ayunda yang sangat dekat, sudah pasti Ayunda tidak akan membiarkan Gisela pergi seorang diri. Dia pasti sedang bersama istrinya. "Kira-kira mereka pergi ke mana?" William frustrasi. Kehilangan Gisela, membuatnya seperti kehilangan semangat hidup. "Saya kurang tahu, Tuan. Saya akan usahakan cepat menemukan mereka." "







