Beranda / Romansa / Pelayan Cantik Milik Tuan Muda / 59. Kedatangan Sang Pengacau

Share

59. Kedatangan Sang Pengacau

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 21:26:13

Lampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran membiaskan cahaya keemasan pada wajah Diana yang tampak berbinar.

Suasana hatinya sedang sangat baik, segelas wine dan perhatian tak terduga dari Daniel membuatnya merasa lebih berani.

Dia mulai bercerita tentang masa kecilnya, sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan untuk ia bagikan kepada pria sedingin Daniel.

“Dulu, saat ulang tahunku yang kesepuluh, Ayah memberiku kejutan sebuah sepeda jengki berwarna pink terang. Padahal saat itu keuangan keluarga kami sedang sulit,” kenang Diana dengan senyum tulus yang menghiasi bibirnya.

“Aku sangat senang sampai-sampai aku tidur di samping sepeda itu di ruang tengah.”

Daniel menanggapi dengan gumaman singkat dan wajah datar seperti biasanya, namun matanya tak lepas dari bibir Diana yang terus bercerita.

Sebenarnya, di balik topeng kedinginannya, Daniel merasa hangat. Dia menyukai dinamika ini, di mana Diana mulai bicara santai tanpa embel-embel “Tuan” di setiap kalimatnya, seolah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   61. Jangan Mengulangi Ucapan itu Lagi

    Malam kian larut, waktu sudah menunjuk angka dua belas tepat.Dan atmosfer di dalam kamar utama kediaman Daniel telah berubah total.Sisa-sisa ketegangan akibat konfrontasi dengan Andra di restoran tadi seolah menguap, digantikan oleh ketegangan jenis lain, ketegangan yang sarat akan hasrat yang tak lagi bisa dibendung.Cahaya remang dari lampu tidur berwarna kekuningan menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding kamar yang luas itu.Diana duduk di tepi tempat tidur yang empuk, jemarinya meremas kain seprai sutra. Dia baru saja mengganti pakaiannya dengan sebuah lingerie sutra tipis berwarna merah marun, pemberian Daniel yang sudah tersaji di atas bantal saat mereka pulang tadi.Daniel berdiri tak jauh darinya, perlahan melepaskan jam tangan mahalnya dan melemparkan jasnya ke kursi tanpa melepaskan pandangan dari Diana.Daniel menghampirinya dengan langkah pelan namun pasti. Tanpa sepatah kata pun, dia meraih dagu Diana dan mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. Daniel k

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   60. Membelanya Secara Terang-terangan

    Suasana di lorong depan restoran itu mendadak beku. Daniel sudah mencengkeram pergelangan tangan Diana, niatnya jelas: ia ingin menarik wanita itu pergi dari jangkauan pandangan Andra yang memuakkan.Namun, langkah Daniel tertahan. Diana berhenti bergerak, membuat beban pada genggaman tangan Daniel terasa berat.Daniel menoleh. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun, namun sorot matanya yang tajam seolah bertanya, “Apa yang kamu lakukan? Kenapa berhenti?”Ada kilat amarah yang bercampur dengan rasa tidak percaya di dalam manik mata Daniel. Ia takut jika Diana akan goyah saat Andra menawarkan “jalan keluar”.Diana tidak menatap Daniel. Ia justru memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah Andra yang masih berdiri dengan senyum meremehkan.“Mas Andra,” suara Diana terdengar stabil meskipun jantungnya berdegup kencang di balik gaun biru dongkernya.“Saya rasa perlu meluruskan sesuatu. Saya tidak pernah dipaksa oleh siapa pun, termasuk oleh Tuan Daniel, untuk menandatangani kontrak se

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   59. Kedatangan Sang Pengacau

    Lampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran membiaskan cahaya keemasan pada wajah Diana yang tampak berbinar.Suasana hatinya sedang sangat baik, segelas wine dan perhatian tak terduga dari Daniel membuatnya merasa lebih berani.Dia mulai bercerita tentang masa kecilnya, sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan untuk ia bagikan kepada pria sedingin Daniel.“Dulu, saat ulang tahunku yang kesepuluh, Ayah memberiku kejutan sebuah sepeda jengki berwarna pink terang. Padahal saat itu keuangan keluarga kami sedang sulit,” kenang Diana dengan senyum tulus yang menghiasi bibirnya.“Aku sangat senang sampai-sampai aku tidur di samping sepeda itu di ruang tengah.”Daniel menanggapi dengan gumaman singkat dan wajah datar seperti biasanya, namun matanya tak lepas dari bibir Diana yang terus bercerita.Sebenarnya, di balik topeng kedinginannya, Daniel merasa hangat. Dia menyukai dinamika ini, di mana Diana mulai bicara santai tanpa embel-embel “Tuan” di setiap kalimatnya, seolah

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   58. Seolah Alam pun Merestui

    Restoran itu terletak di lantai paling atas sebuah hotel bintang lima, dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti hamparan permata.Alunan musik jazz yang lembut mengalun pelan, menciptakan suasana romantis yang seharusnya membuat siapa pun merasa nyaman. Namun, bagi Diana, suasana ini justru terasa sangat asing dan mendebarkan.Di hadapannya, Daniel duduk dengan setelan jas hitam yang sempurna. Ia tampak sangat tampan di bawah cahaya temaram lampu gantung, namun ekspresinya tetap sulit dibaca. Daniel hanya diam terpaku, menatap gelas wine yang belum disentuhnya.Diana merasa tenggorokannya kering. Dia mengenakan gaun simpel yang diberikan Daniel tadi sore melalui sopirnya untuk menjemput Diana di rumah, gaun sutra berwarna biru dongker yang membalut tubuhnya dengan anggun.Dia menelan salivanya pelan sebelum memberanikan diri membuka suara.“Tuan ... maksud saya, Daniel,” panggil Diana ragu. “Ada acara apa sebenarnya kamu membawaku ma

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   57. Masih Besar Kepala

    Suasana di lantai teratas gedung pencakar langit itu biasanya sangat tenang, hanya diisi oleh suara halus pendingin ruangan dan denting halus jarum jam mewah di dinding.Namun bagi Daniel, ruangan itu terasa riuh oleh suara-suara di dalam kepalanya sendiri.Dia tengah duduk di kursi kebesarannya, namun postur tubuhnya jauh dari kata berwibawa.Kedua tangannya menyangga dagu, matanya menatap kosong ke arah layar laptop yang sudah masuk ke mode screensaver.Ucapan Diana semalam terus terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyayat egonya. “Saya hanya pemuas Tuan ... nikmati saja apa yang sudah Tuan beli.”Kalimat itu terdengar begitu dingin dan transaksional. Bukankah seharusnya Daniel senang? Bukankah itu yang ia inginkan sejak awal? Sebuah hubungan tanpa ikatan, tanpa drama, hanya kepuasan fisik mutlak.Namun, kenyataannya, kata-kata itu justru membuatnya merasa seperti pecundang yang hanya bisa memiliki tubuh seseorang karena selembar cek.Ia mencoba meraih pulpen untuk m

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   56. Atau mungkin Selamanya

    Pukul sepuluh malam. Jam dinding antik di sudut kamar utama berdentang pelan, namun suaranya tenggelam oleh deru napas yang memenuhi ruangan.Sesuai kontrak yang tak tertulis namun mutlak, Diana telah berada di sana, dan tak butuh waktu lama bagi Daniel untuk menunjukkan otoritasnya.Tubuh Diana terhempas di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra hitam yang dingin.Namun, rasa dingin itu segera menguap saat tubuh besar Daniel menindihnya, mengunci pergerakan Diana di bawah dominasinya.Daniel tidak membuang waktu. Tangannya yang kuat mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Diana dengan liar, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus sisa-sisa hari yang melelahkan melalui sentuhan fisik yang intens.“Tuan ... ah, Daniel ....” Diana mengerang pelan saat bibir Daniel menemukan titik sensitif di belakang telinganya.Napas Daniel yang memburu terasa panas di kulit Diana, memicu hasrat yang sebenarnya ingin ia tekan, namun selalu gagal.“Jangan menahannya, Diana. Aku tahu kamu mengingi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status