Share

7. Ganti Bajumu

Author: CeliiCaaca
last update Last Updated: 2025-12-15 11:22:28

Waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam. Jantung Diana sudah tidak bisa berdebar seperti biasa lagi setelah berdiri tepat di depan kamar Daniel. 

Malam ini juga Diana harus melakukan apa yang diminta oleh pria itu. Diana menelan ludahnya berkali-kali sembari menetralisir kegugupannya.

Diana kemudian mengetuk pintu kamar tersebut dan beberapa detik kemudian membuka pintunya.

“Selamat malam, Tuan,” sapa Diana dengan pelan.

Daniel yang sedang duduk di tepi tempat tidur menatap Diana dengan tatapan gelapnya. Kemeja hitam dengan dua kancing sudah terbuka, memperlihatkan dada bidang Daniel.

Daniel beranjak dari duduknya lalu memberikan sebuah lingerie warna merah darah mencolok transparan.

“Gunakan ini,” titah Daniel dingin.

“A-apa, Tuan?” ucap Diana dengan gugup.

Daniel hanya menarik tangan Diana dan memberikan baju itu padanya. Dari tatapannya terlihat jelas kalau Daniel enggan mengatakan dua kali.

Diana pamit untuk mengganti pakaian itu ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, kini, tubuhnya berdiri di depan cermin besar dalam kamar mandi mewah, dengan pakaian yang bahkan tak pantas disebut sebagai kain.

Diana menatap refleksi dirinya yang nyaris tidak ia kenali. Tubuhnya terbalut lingerie merah transparan yang membalut ketat di setiap lekuknya.

Gaun tipis itu terlalu kecil untuknya, hingga setiap inci kulitnya terekspos dengan gamblang. Dada padatnya tampak menyembul, nyaris keluar dari belahan kain yang seolah menolak menutupi apa pun.

Dia memejamkan matanya lalu menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa takut yang mencengkeram dadanya.

Dalam benaknya, wajah Citra yang memohon untuk melunasi uang sekolahnya, sewa rumah yang sudah jatuh tempo. Diana tidak boleh mundur apalagi membatalkan semuanya.

Setelah beberapa saat menatap dirinya sendiri, Diana akhirnya menegakkan bahu. Ia tahu bahwa malam ini tidak ada jalan kembali.

Dengan langkah gemetar namun mantap, dia menggenggam gagang pintu dan menariknya perlahan.

Begitu keluar, hawa dingin dari ruangan utama langsung menyapu kulitnya yang terbuka.

Diana menahan diri agar tidak memeluk tubuhnya sendiri untuk menutupi rasa malu. Ia berusaha berjalan tegak, meski langkahnya terasa berat seolah setiap gerakan adalah ujian keberanian.

Dan di sanalah Daniel berdiri menunggu di dekat ranjang besar berseprai hitam satin.

Lelaki itu kini sudah tanpa atasan, hanya mengenakan celana panjang hitam yang memperlihatkan dada bidang dan perut berototnya yang terbentuk sempurna.

Aura dominannya begitu kuat hingga membuat udara di sekitar seolah ikut menunduk padanya.

Jantung Diana seketika berdebar tak karuan. Ia menelan ludah berkali-kali, berusaha menahan diri untuk tidak menunduk.

Tapi tatapannya tetap saja terseret menatap dada Daniel yang lebar, kokoh, dan begitu dekat hingga dia bisa mencium samar aroma sabun maskulin yang menempel di tubuhnya.

Daniel memiringkan kepalanya sedikit, memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah.

Tatapan matanya perlahan menelusuri setiap lekuk tubuh Diana yang dibalut tipis kain merah itu.

Pandangan itu bukan sekadar menilai, itu seperti kepemilikan. Pandangan seorang predator yang tengah menikmati hasil buruannya.

“Sa-saya sudah siap, Tuan,” ucapnya dengan terbata.

Daniel melangkah mendekat dengan langkah pelan namun mantap. Setiap langkah yang ia ambil terdengar seperti dentuman dalam dada Diana.

Saat akhirnya lelaki itu berdiri tepat di depannya, Diana bisa merasakan panas tubuhnya, bisa mencium aroma cologne yang tajam dan elegan.

“Kamu masih perawan?” tanya Daniel kemudian.

Diana mengangguk pelan. “Ya, Tuan. Saya belum pernah melakukannya dengan siapa pun.”

“Bagus. Untuk pertama kalinya melakukan itu mungkin sedikit membuatmu tersiksa.”

Diana menatapnya dengan mata membulat, tidak yakin harus menjawab apa. Ujung jarinya menggenggam kain lingerie-nya sendiri, mencari pegangan dari rasa gugup yang hampir membuat lututnya lemas.

Daniel mendekat sedikit lagi hingga wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajah Diana. Tatapannya menembus dalam, penuh intensitas yang sulit didefinisikan.

“Namun, aku menyukainya.”

Dia berhenti sejenak dan menatap bibir Diana yang bergetar halus sebelum melanjutkan dengan nada berbisik yang membuat udara di antara mereka bergetar.

“Melihat wanita yang kukuasai merintih sakit menahan segala kegilaan yang akan kulakukan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   84. Kemenangan Kecil Diana

    Pintu ruang rapat yang megah itu akhirnya tertutup, mengakhiri sesi negosiasi yang terasa lebih lama dari perang dingin bagi Daniel.Para klien dari Jepang keluar dengan senyum puas, menjabat tangan Daniel dengan rasa hormat yang mendalam.Sebelum Mr. Tanaka meninggalkan ruangan, ia sempat melirik ke arah Diana yang masih berdiri tegak dengan wajah porselennya yang tanpa cela.“Sekretaris Anda sangat luar biasa, Tuan Arsenio. Begitu tenang, sopan, dan sangat tanggap. Anda beruntung memiliki staf dengan kontrol diri yang hebat seperti dia,” puji Mr. Tanaka dalam bahasa Inggris yang kaku.Daniel hanya bisa mengangguk kaku, memaksakan sebuah senyum profesional yang tipis.Di dalam hatinya, dia ingin berteriak bahwa wanita yang dipuji “tenang” itu baru saja mengacak-acak kewarasannya di bawah kolong meja dan di atas kap mobil.Daniel merasa lelah secara mental, seolah-olah seluruh energinya telah terkuras habis hanya untuk menjaga agar tangannya tidak gemetar dan suaranya tidak pecah sela

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   83. Topeng Profesional

    Tiga puluh menit berlalu seperti kilat yang menghantam kesadaran. Di lantai 50, di dalam ruang rapat eksekutif yang berdinding kaca antipeluru dan kedap suara, atmosfer berubah menjadi formalitas yang mencekam.Daniel Arsenio duduk di kursi utama yang terbuat dari kulit Italia, wajahnya sedingin marmer, tidak menampakkan sedikit pun sisa kegilaan yang baru saja dia tumpahkan di atas kap mobil di basement tadi.Di belakangnya, Diana berdiri dengan posisi tegak yang dipaksakan. Dia mengenakan blazer tambahan yang dipinjamkan Lino untuk menutupi seragam pelayannya, namun itu tidak bisa menutupi fakta bahwa kakinya masih terasa lemas seperti jeli.Setiap kali ia mencoba memindahkan beban tubuhnya dari satu kaki ke kaki lain, otot pahanya berdenyut, mengingatkan pada tekanan keras tangan Daniel yang baru saja menguasainya.Jemarinya yang memegang map dokumen sedikit gemetar, sebuah reaksi fisiologis dari adrenalin yang belum sepenuhnya surut.Di depan Daniel, Mr. Tanaka dan timnya dari Tok

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   82. Kegilaan di Basement

    “Ahhh … Daniel … s-sttt, pelankan, suara kita bisa terdengar …,” desah Diana pecah di antara napas yang memburu.Suaranya bergema samar di kesunyian basement yang lembap, tertelan oleh deru mesin SUV yang masih memancarkan hawa panas.Namun, Daniel tidak menggubris peringatan itu. Baginya, rasa takut yang memancar dari mata Diana justru menjadi bahan bakar yang melumat kewarasannya.Dengan gerakan yang kasar namun penuh perhitungan, Daniel mengangkat tubuh Diana dan mendudukkannya di atas kap mobil SUV hitam miliknya yang masih terasa hangat.Logam kap mobil itu beradu dengan kulit paha Diana, menciptakan sensasi kontras antara dinginnya besi dan panasnya gairah yang sedang membakar mereka berdua.Tidak ada kelembutan kali ini. Tidak ada rayuan manis atau ciuman pengantar yang panjang. Yang ada hanyalah luapan ego yang saling beradu.Daniel merobek sisa-sisa kesabaran yang dia miliki sejak di lift tadi. Dia melakukan penyatuan yang sangat intens, sebuah gerakan yang menuntut pengakuan

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   81. Aku Tahu Kamu Lapar

    Lampu indikator di atas pintu lift pribadi itu menyala merah, menandakan bahwa sistem sedang membaca akses sidik jari Daniel.Suasana di basement B3 yang sunyi hanya menyisakan suara mesin mobil yang perlahan mendingin.Daniel keluar lebih dulu, merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan gerakan yang tetap terlihat elegan dan berkuasa.Diana mengikutinya dari belakang, melangkah dengan rok seragam pelayan yang terasa sedikit lebih ketat setelah apa yang terjadi di dalam mobil tadi.Pintu lift berdenting halus dan terbuka, menyingkap interior kabin yang dilapisi marmer gelap dan aksen emas. Begitu mereka melangkah masuk, Daniel menekan tombol menuju lantai penthouse.Lift ini adalah lift khusus, yang sengaja diatur bergerak dengan kecepatan lambat. Bagi para petinggi Mahendra Group, kecepatan bukanlah segalanya; kenyamanan dan privasi adalah kemewahan yang sebenarnya.Daniel berdiri tegap di tengah kabin, menatap pantulan dirinya di dinding lift yang menyerupai cermin.Dia tampak seper

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   80. Kalau Begitu Tunjukkan Padaku

    Pagi itu, aroma bawang putih dan mentega baru saja memenuhi dapur kediaman Mahendra saat langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah ketenangan.Diana, yang masih mengenakan celemek linen berwarna krem di atas seragam pelayannya, baru saja hendak memindahkan tumisan ke piring saji ketika sebuah tangan kekar melingkar di pergelangan tangannya.“Lepaskan celemek itu. Kita berangkat sekarang,” perintah Daniel dengan suara yang terdengar rendah.Diana tersentak bahkan hampir menjatuhkan sudipnya. Dia lalu menoleh dan mendapati Daniel sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, namun matanya memancarkan kegelisahan yang ia sembunyikan di balik topeng kedinginan.“Tuan? Tapi sarapan Tuan belum selesai. Dan saya ... saya belum ganti baju. Saya masih memakai seragam pelayan, Tuan,” protes Diana sembari mencoba menarik tangannya.Daniel tidak memedulikan protes itu. Dengan satu gerakan dominan, dia melepas paksa ikatan celemek Diana dan melemparkannya ke lantai begitu saja.“Tidak ada waktu

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   79. Tidak Menerima Kembalian

    Daniel tidak lagi memberikan ruang untuk bernapas. Dengan gerakan yang efisien dan penuh kekuatan, dia menyambar pinggang Diana dan mengangkatnya, membawa tubuh mungil itu menuju sofa kulit hitam besar yang terletak di tengah ruangan.Sofa itu terasa dingin saat kulit Diana bersentuhan dengannya, namun suhu di ruangan itu justru terasa membakar.Daniel tidak membuang waktu; dia segera menindih Diana, mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala dengan satu tangan kekarnya, sementara tangan lainnya mencengkeram rahang Diana agar ia tak bisa berpaling.Inilah “hukuman” yang ia janjikan. Ini bukan lagi sekadar ciuman panas atau permainan lidah yang menggoda; ini adalah dominasi total. Daniel ingin meruntuhkan setiap inci keberanian yang tadi Diana pamerkan di bawah meja.Dia ingin Diana menyadari dengan seluruh sel tubuhnya bahwa Daniel Mahendra bukanlah pria yang bisa dipermainkan, bukan pion yang bisa ia gerakkan sesuka hati dalam permainan godaannya.“Tadi kamu sangat berani, bukan?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status