ログインAnya memandangi susu stroberi yang sejak tadi mengganggu pikirannya.Ini siapa yang taruh di meja aku, sih?Masa tiba-tiba ada susu stroberi di meja aku?Apa kemarin aku yang kelupaan, ya?Kayaknya enggak deh. Aku kan selalu minum ini pas udah di bawah pohon mangga.Anya terus berperang dengan pikirannya sendiri.Tadi pagi, saat masuk kelas, ia melihat susu stroberi itu sudah ada di mejanya.Ia tidak berani mengambilnya karena takut susu itu milik orang lain.Akhirnya, ia menggesernya sedikit ke sudut meja agar tidak terus mengganggu pikirannya.Namun, tindakan itu sedari tadi diperhatikan oleh seorang siswi.Tres.“Lo ngeliatin apa sih dari tadi? Serius amat,” ucap Clara yang tiba-tiba mengagetkan Tres.“Eh, enggak kok. Lagi ngelamun aja,” balas Tres dengan salah tingkah, seperti baru saja ketahuan melakukan sesuatu.Tres membuka bukunya. Sengaja ia mengalihkan pandangan ke buku tersebut, padahal pikirannya sedang tidak berada di sana.Ia kembali teringat kejadian semalam.“Mama kete
Brian masih memantau interaksi yang terjadi di antara tiga orang di sana. Ia melihat bagaimana Anya hanya menunduk sejak tadi.Chelsea dan Tian berdiri di antara Anya. Tangan Chelsea memegang pergelangan tangan Anya. Dan saat tangan Tian hendak memegang leher bagian belakang Anya, Brian buru-buru menghampiri mereka.“Permisi?!”Brian berhasil mengagetkan mereka.Tian buru-buru menarik tangannya, begitu pula dengan Chelsea.Perasaan belum lima menit dia pergi, kok udah balik lagi, sih? Ganggu banget! batin Chelsea.Sementara itu, Tian sedang memutar otaknya, mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan situasi ini kepada Brian.“Eh, Pak Brian. Tadi saya dan Chelsea lihat cewek ini sama Bapak, jadi kami mau kenalan aja,” ucap Tian dengan yakin.“Oh, hahaha... begitu, ya.” Brian tersenyum. “Maaf, ya. Teman saya ini tidak suka diganggu.”Brian menekankan setiap katanya, seolah-olah itu merupakan sebuah peringatan.Tian dan Chelsea hanya mengangguk, lalu buru-buru pergi dari sana.“Nya, kam
“Chelsea?!” ucap Anya tertahan.Ia langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Chelsea dan Tian sedang duduk bermesraan, sedikit jauh dari tempat ia berdiri.Brian yang menyadari Anya tiba-tiba diam pun lantas bertanya.“Anya? Ada apa?”Namun, tidak ada jawaban dari Anya.Brian pun mengikuti arah pandangan Anya yang tertuju pada sepasang kekasih yang sedang romantis-romantisnya.Brian mengenali cowok itu.Yah, siapa yang tidak mengenal putra tunggal dari keluarga terpandang, kan?Tapi, kenapa Anya bereaksi seperti ini saat melihat mereka? batin Brian.Apa mereka saling kenal?Bisa aja kan? Mereka kan teman sekolah. Batin Tian.“ANYA!”Karena mereka sudah cukup lama terdiam tanpa ada pergerakan apa pun, akhirnya Brian sedikit berteriak untuk menyadarkan Anya.Dan sepertinya itu berhasil. Tapi panggilan ketiga barulah panggilannya direspon.Seketika Anya menoleh ke arahnya.“Kamu baik-baik aja?” tanya Brian langsung setelah Anya mendapatkan kembali kesadarannya.“Emm... i-iya, Kak.
“Sayang!” “Ih, kamu kok gitu sih, Sayang? Aku ngundang dia kan cuma iseng aja. Siapa tahu dia bisa bantu-bantu apa gitu,” rengek Chelsea. Ia sedikit dimarahi oleh Tian karena mengundang Anya. Sudah pasti Tian akan marah. Bagaimanapun, ia tidak mau kedua sahabatnya mengetahui bahwa dirinya menjadikan seorang cewek culun sebagai pelayan. Untungnya, sampai sekarang dua sahabatnya itu belum muncul. Tidak ingin mengambil risiko, jari Tian langsung bergerak lincah di layar ponselnya. Ia mengklik aplikasi hijau di ponselnya, lalu masuk ke obrolan grup geng motornya. Kumpul di markas. Sekarang! Loh, Bos. Bukannya kita mau ada acara, ya? balas Dani. Iya, Tian. Kita udah rapi banget nih. Itu pesan dari Liam. Tidak lupa dengan foto yang dikirimnya, memperlihatkan dirinya sudah lengkap dengan kemeja batik. Entah kenapa, ia memilih setelan itu. Penampilannya malah terlihat seperti akan menghadiri acara pemerintahan. Wih, sendirian aja nih ceritanya? Kali ini anggota lain yang menyahut.
Anya tiba-tiba terdiam sesaat.Loh, EO emangnya nyuci piring juga ya? Ini yang lagi nyuruh gue siapa sih? Kenapa juga gue nurut sama dia! batin Anya kembali bertanya-tanya."Nya, lu harus kasitau dia kalo lo tuh tamu undangan, bukan pekerja di sini!" gumamnya sendiri, terlambat menyadari kekeliruannya."Em, per—""Loh, lo bukannya adiknya—"Ucapan pria itu terhenti seketika saat melihat wajah panik Anya. Ia buru-buru mengalihkan tatapan tajamnya ke arah koordinator lapangan yang masih berdiri di dekat situ."Bu Intan?!" suaranya mendadak tegas. "Maksudnya apa ini?!""Em, Pak, begini. Em, saya..." Bu Intan tergagap, tidak berani menatap balik.Sementara itu, Anya masih sibuk berperang dengan pikirannya sendiri, mengamati wajah lelaki di depannya yang terasa familiar.Kakak ini nggak asing deh. Siapa ya? Apa kenalannya Papah?Tapi kalo dilihat dari tampangnya sih, kayaknya sepantaran sama Kak Bastian.Anya terus tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga tidak sadar bahwa Bu Intan yang
"Ini buat apa, Chelsea?" tanya Anya dengan wajah bingung, menatap sebuah kotak yang tiba-tiba disodorkan padanya, dibungkus kertas kado cantik berwarna pastel."Hadiah buat lo," ucap Chelsea dengan senyum manisnya, sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan pada Anya. "Sekalian permintaan maaf gue soal kejadian kemarin."Anya mengerjap, tidak menyangka akan mendengar kata "maaf" keluar dari mulut Chelsea. "Oh... nggak apa-apa kok, Chel.""Oh iya, ini juga," Chelsea kembali menyodorkan sebuah kartu kecil berwarna emas.Anya menerimanya dengan hati-hati, membaca tulisan yang tertera di sana—undangan pesta ulang tahun Tres."Sebenarnya ini dress buat lo pake nanti malem ke pesta ultahnya Tres," lanjut Chelsea, menunjuk kotak kado yang tadi ia berikan. "Inget, lo harus dateng ya, Anya. Kalo lo nggak dateng, gue bakal sedih banget loh."Wajah Chelsea berubah muram, bibirnya sedikit mengerucut, ekspresi sedih yang dibuat-buat namun begitu meyakinkan bagi Anya yang polos."Ih, tenang aja, Chel,







