Home / Romansa / Pelayan Cupu Sang BadBoy / Satu-satunya yang Peduli

Share

Satu-satunya yang Peduli

Author: i'mdream
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-28 14:30:47

Anya menaiki tangga dengan langkah gontai. Telinganya masih berdenging oleh omelan panjang Papanya tadi, tetapi anehnya, kepalanya terlalu lelah untuk memikirkan apa pun lagi.

Yang ada di benaknya sekarang hanya satu: mandi, lalu tidur.

Sesampainya di kamar, ia langsung menuju kamar mandi dan membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Berkali-kali ia menggosok kulitnya dengan sabun, seolah dengan begitu bau tak sedap dan penghinaan yang ia terima hari ini bisa ikut luntur bersama air yang mengalir ke lantai.

Namun, percuma.

Kata-kata yang dilontarkan orang-orang hari ini masih terdengar jelas di kepalanya.

Udah muka pas-pasan, dandanan kayak gini lagi.

Pantesan nggak ada yang mau temenan sama lo.

Turun sini aja ya, Dek. Penumpang pada komplain.

Apa susahnya sih jadi anak yang bisa diandalkan kayak kakakmu?

Semua kalimat itu terus berputar tanpa henti di kepalanya.

Setelah selesai mandi, Anya keluar dengan handuk yang melilit rambutnya dan mengenakan piama longgar berwarna krem kesayangannya. Ia kemudian duduk di atas kasur sambil menatap kosong dinding kamarnya.

Gue harus mikirin apa sekarang?

Gue bahkan udah nggak lapar lagi. Padahal dari siang cuma makan nasi goreng doang.

Rasa lapar yang sejak tadi menyiksanya perlahan menghilang, tergantikan oleh rasa lelah yang jauh lebih besar.

Hari ini terasa terlalu panjang untuk dijalani sendirian.

Tok, tok, tok.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Non Anya, ini Bibi."

Mendengar suara yang begitu familiar itu, Anya sedikit menegakkan tubuhnya dengan lebih tegak.

"Masuk aja, Bi."

Pintu kamar terbuka perlahan. Bibi War masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk bakso hangat, nasi putih yang masih mengepul, serta segelas jus kesukaan Anya.

"Bibi denger tadi Non Anya dimarahin sama Tuan Besar," ucapnya lembut sambil meletakkan nampan itu di meja kecil dekat kasur. "Makanya Bibi buatin makanan dulu. Siapa tahu Non belum makan malam."

Tatapan Anya jatuh pada semangkuk bakso di hadapannya. Dadanya terasa sedikit hangat.

Di rumah sebesar ini, ternyata masih ada satu orang yang mengingat apakah ia sudah makan atau belum.

"Makasih, Bi."

Bibi War tersenyum lembut. Wanita paruh baya itu kemudian duduk di tepi kasur dan mengusap kepala Anya pelan, seperti yang selalu dilakukannya sejak Anya masih kecil.

"Non Anya kuat kok," katanya pelan. "Bibi tahu, Non udah sering ngadepin yang lebih berat dari ini."

Kalimat sederhana itu, entah kenapa, membuat mata Anya mulai terasa panas.

"Tuan Besar sama Nyonya cuma belum ngerti aja cara nunjukin sayang mereka. Bibi yakin, mereka tetap sayang sama Non."

Anya hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan.

Ia tidak sanggup menjawab.

Pemandangan seperti ini sudah menjadi rutinitas bagi Bibi War selama bertahun-tahun: melihat Anya pulang dengan mata sembab, mendengar suara Tuan Besar yang memarahinya dari lantai bawah, lalu diam-diam menyiapkan makanan kesukaannya sebagai bentuk kasih sayang yang tidak pernah gagal diberikan.

Bahkan, terkadang Bibi War lebih memahami dirinya dibanding kedua orang tuanya sendiri.

"Udah dimakan dulu ya, Non. Nanti keburu dingin."

"Iya, Bi."

Setelah Bibi War keluar dari kamar, Anya duduk di lantai sambil memangku nampan makanannya. Perlahan ia mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

Rasanya tetap sama seperti biasanya.

Hangat.

Dan menenangkan.

Namun, entah kenapa, setiap suapan malam ini terasa begitu berat untuk ditelan. Pikirannya kembali melayang pada setiap kejadian yang menimpanya hari ini.

Chelsea dan teman-temannya yang memperlakukannya seperti pembantu. Pintu toilet yang terkunci dari luar. Air pel yang mengguyur tubuhnya. Hinaan Yuli soal penampilannya. Tatapan jijik para penumpang bus.

Hingga omelan panjang Papanya yang bahkan tidak sempat menanyakan keadaannya.

Dari luar sampai ke dalam rumah, gue nggak pernah benar-benar baik-baik aja, ya?

Semua orang hanya bisa menyalahkan, menghina, dan memandang rendah dirinya. Tidak ada satu pun yang bertanya apakah ia baik-baik saja. Bayangan tangan Bibi War yang mengusap kepalanya tadi kembali terlintas di benaknya.

Satu-satunya orang yang selalu peduli. Satu-satunya orang yang selalu datang tanpa perlu diminta. Cuma Bibi doang yang benar-benar peduli sama gue. Dan seketika itu juga, pertahanan yang sejak tadi berusaha ia bangun runtuh begitu saja.

Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh satu per satu membasahi pipinya.

"Kenapa sih..." bisiknya lirih di sela isakan. "Kenapa harus gue yang ngalamin semua ini?"

Ia menangis sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Untuk sekali ini saja, ia ingin membiarkan dirinya menjadi lemah. Ia lelah. Sangat lelah.

Setelah beberapa lama, tangisnya perlahan mereda. Anya mengusap kedua matanya dengan punggung tangan sebelum menarik napas panjang.

"Udah, Nya," gumamnya pelan kepada dirinya sendiri. "Nangis boleh, tapi jangan kelamaan."

Ia tersenyum tipis sambil menghela napas pelan.

"Besok pasti lebih baik."

Meskipun jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak terlalu yakin dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.

Drrt...

Drrt...

Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas kasur, memecah keheningan kamar.

Dengan malas, Anya meraih ponselnya. Namun, begitu melihat nama yang tertera di layar, seluruh tubuhnya langsung menegang.

BENCANA ALAM

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Anjir, orang ini nggak capek apa ganggu hidup gue terus?

Drrt...

Drrt...

Panggilan itu terputus, lalu kembali masuk beberapa detik kemudian. Anya hanya menatap layar ponselnya dengan kesal. Tian tidak pernah menghubunginya tanpa alasan.

Dan setiap kali nama itu muncul di layar ponselnya, tidak pernah ada hal baik yang menunggunya.

Jangan-jangan besok gue disuruh jadi babu lagi?

Drrt...

Drrt...

Untuk ketiga kalinya, panggilan itu kembali masuk. Tepat ketika Anya hendak mematikannya, sebuah pesan masuk di layar ponselnya.

Bencana Alam: Kalau lima menit lagi lo nggak angkat, gue dateng ke rumah lo sekarang juga.

Mata Anya langsung membulat sempurna.

"Hah?!"

Tangannya refleks melihat jam yang menunjukkan pukul 22.37.

Orang gila mana yang mau datang ke rumah orang jam segini?!

Tapi masalahnya, Tian memang orang gila itu.

Dan yang lebih mengerikan lagi, Tian tidak pernah mengucapkan ancaman yang tidak akan dilakukannya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Buket

    Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   What?!

    Kalimat Dani tadi seperti mantra yang terus berputar-putar di kepala Tian.Kenalin, pacar gue. Zefanya namanya.Tian ingin memejamkan mata, berharap bisa sedikit menghindar dari semua itu. Namun, bukannya tenang, justru muncul bayangan Dani dan Anya yang bergandengan tangan.Tian berdecak kesal.Mereka sudah berada di dalam pesawat. Tian sebenarnya ingin sekali tidur, tetapi adegan Anya dan Dani terus mengganggu pikirannya.Bahkan Chelsea yang sedari tadi duduk di sampingnya, merengek meminta ini dan itu, sama sekali tidak digubris.“Sayang, aku mau—”Tidak ada jawaban.“Sayang...”Tetap tidak ada respons.Bahkan ketika Chelsea mulai meminta penjelasan tentang hubungan Anya dan Dani, Tian hanya memberinya tatapan tajam.“Kenapa mereka bisa pacaran?” tanya Chelsea lagi.Tian mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.Entah kenapa, tetapi sahabatnya itu terasa seperti sudah berkhianat kepadanya.Harusnya dari awal bisa gue cegah. Nggak sampai mereka pacaran

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Zefanya Namanya

    Hari kepulangan pun tiba.Chelsea, Clara, dan Tres, beserta Tian dan Liam, sedang menunggu salah satu teman mereka, Dani.Anggota cheers dan basket sudah lebih dulu berangkat. Mereka memang geng bisnis class, makanya memilih penerbangan terpisah.Sebenarnya mereka tidak ingin terpisah dari anggota tim lainnya. Tapi, sudah tahu kan, ini idenya siapa?Yeps, Chelsea.Si Queen dramatis itu tidak mau dan memaksa gengnya, beserta Tian dan gengnya, untuk naik bisnis class.Mereka berdiri di area parkiran bandara sambil menunggu satu orang lagi.“Dani ke mana, sih? Lelet banget, deh.” Chelsea menggerutu dengan wajah yang sudah sangat muram.“Nggak tahu apa ini lagi panas banget?” lanjutnya sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah.Liam yang berdiri tak jauh darinya langsung menirukan gaya bicara Chelsea. Bibirnya dibuat menye-menye, lengkap dengan ekspresi wajah yang sengaja dilebih-lebihkan.Tian hanya melirik dengan ekor matanya.Namun, satu lirikan tajam itu sudah cukup membuat Liam

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Masih Topik yang Sama

    “Emang menurut lo piala itu nggak berarti?”Tian sedikit berteriak.Tatapannya menajam ke arah Liam.“Bego lo!”Liam langsung membalas, tidak mau kalah.“Lo pikir dengan jadiin piala sebagai alasan buat ngebully orang itu bener?”Kali ini pertengkaran mereka benar-benar memanas.Bedanya, Liam bukan tipe orang yang mudah mengandalkan otot seperti Tian dan Dani. Ia cenderung lebih kalem dan berpikir sebelum bertindak.Namun, untuk kali ini, kesabarannya benar-benar habis.“Lo kira latihan nggak capek sampai gue bilang piala itu nggak berarti buat gue? Hah?!”Suara Liam meninggi.“Pikir pakai otak!”Ia menunjuk dada Tian.“Piala itu juga berarti buat gue. Kita dapetinnya dengan kerja keras.”Liam mengembuskan napas kasar.“Tapi nggak secupu itu sampai dijadiin alasan buat ngebully orang.”Damn.Kalimat Liam terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke tubuh Tian.Wajah Tian seketika kehilangan auranya.Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti biasanya.Tidak ada pula senyum sinis yang

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Terbuka

    Tian, Dani, dan Liam kembali berada di kamar dengan posisi duduk seperti sebelumnya.Liam duduk di sofa single, sementara Tian dan Dani duduk berhadapan di sofa yang sedikit lebih panjang.Masing-masing dari mereka sudah memegang sekantung es batu untuk mengompres wajah yang lebam akibat perkelahian tadi.“Hadap-hadapan!”Perintah Liam terdengar tegas.Tian dan Dani langsung menatapnya tajam.Kedua rahang mereka mengeras. Alis menukik tajam, kening berkerut, dan tatapan keduanya sama-sama tidak bersahabat.Namun, tidak ada yang berani membantah.Terlebih setelah Liam berdeham pelan.“Ehem.”Keduanya akhirnya menurut.“Mulai!”Tidak ada yang bergerak.Baik Tian maupun Dani hanya saling tatap dengan tatapan penuh gengsi.Beberapa detik berlalu.Dani akhirnya mengembuskan napas berat.Tangannya perlahan terangkat, lalu mulai mengompres wajah Tian dengan kantung es yang dipegangnya.“Pelan, bangsat!”Tian langsung meringis ketika Dani tanpa sengaja menekan bagian wajahnya yang terkena puk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status