แชร์

Ancaman Tengah Malam

ผู้เขียน: i'mdream
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-31 20:59:54
Drrrt... drrrt...

Ponsel Anya bergetar lagi di atas kasur untuk yang ketujuh kalinya. Ia menatap nama yang terpampang di layar "Bencana Alam" dengan perasaan campur aduk antara enggan dan takut. Sejak panggilan pertama tadi, ia sengaja tidak mengangkatnya, berharap kalau dibiarkan cukup lama, Tian akan menyerah sendiri.

Ternyata ia salah besar.

Dengan tangan gemetar, akhirnya Anya menekan tombol hijau. "H-halo?"

"CEWEK BRENGSEK! Lo pikir gue nelepon buat having fun apa?!"

Suara Tian me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Jepang

    "ARRGH!"Anya terbangun mendadak dari mimpinya, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. Mimpi itu terasa begitu nyata—terlalu nyata untuk sekadar diabaikan begitu saja.Entah kenapa gue ngerasa mimpi ini bakal jadi kenyataan, batinnya, masih berusaha menenangkan detak jantung yang belum sepenuhnya reda."Hufft, mungkin karena kepikiran mulu makanya kebawa mimpi," gumamnya lirih pada diri sendiri, mencoba menenangkan diri. "Takut banget gue," bisiknya, bergidik ngeri setiap kali potongan mimpi itu kembali terlintas di kepalanya.Ia melirik jam di meja belajar—pukul 06.07. Tanpa membuang waktu lagi, Anya bangkit, merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk bersiap.Setelah selesai, ia mengenakan hoodie kebesarannya seperti biasa, tak lupa menyampirkan tas selempang kesayangannya. Ia menarik koper kecilnya, lalu melangkah menuruni tangga."Bibi, Anya berangkat dulu ya," pamitnya begitu sampai di lantai bawah."Iya, Non. Hati-hati ya di sana, sama j

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   TOLONG!!!

    Anya melepas perban di siku dan kepalanya. Ia baru selesai mandi dan merasa luka-luka tersebut sudah tidak terlalu sakit. Hanya bagian lutut yang masih terasa nyeri, jadi ia menggantinya saja.Setelah selesai, matanya beralih pada novel-novel yang ia dapatkan tadi siang.Ia kembali teringat pada perilaku Tres kepadanya hari ini.Namun, kejadian di toko buku tadi membuat hatinya sedikit lega.Entah kenapa, ia merasa sedikit... bahagia?Tok. Tok. Tok.“Non, ayo makan malam.”“Iya, Bi.”Anya meletakkan bukunya di lemari, kemudian menyusul Bibi War. Ya, karena kecintaannya terhadap buku, terutama novel, Anya memiliki sebuah lemari kecil yang cukup untuk menampung koleksi-koleksinya.Sesampainya di meja makan, Papa dan Mama Anya sudah berada di sana.Anya menarik kursi dan duduk. Ia mengambil nasi beserta beberapa lauk.“Anya?”Anya langsung menatap papanya.Sangat jarang papanya membuka percakapan di meja makan.Dan benar saja, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut papanya seketika me

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Kantong Kresek

    “Ti-Tian,” ucap Tres dengan wajah yang langsung memucat.Bagaimana Tian bisa muncul di sini?! batin Tres.Tatapan Tian tajam menusuk ke arahnya.Entah kesialan apa yang menimpanya hari ini.Anya menatap keduanya secara bergantian."Aww!"Anya langsung memegang kepalanya yang baru saja terkena lemparan kantong kresek dari Tres.Kesambet apa, sih, dia? Tiba-tiba lemparin kresek ke kepala gue. Mana kepala gue kena botol susu stroberi lagi.“Lo tuh udah cupu, nggak tahu diri lagi! Lo kira gue bakal nerima makanan murahan lo itu?” tunjuk Tres kepada Anya.Anya mengerutkan kening.Maksudnya apa, coba? Kan yang bawa barang itu dia. Kenapa malah bilang kebalikannya?Baru saja Anya ingin tersanjung karena berpikir Tres sengaja membawakan susu stroberi kesukaannya.Ternyata ia salah.Aneh banget.Sementara itu, Tres sudah meninggalkan tempat tersebut.Kini hanya tersisa Anya dan Tian.“Mana?”“Apanya?” tanya Anya balik, masih bingung dengan kejadian barusan.“Yang tadi!” ucap Tian datar.Anya y

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Tidak Lagi!

    Suara alarm yang bising membangunkan Anya dari tidurnya.Memang, itu tujuan alarm, kan?Namun, tetap saja Anya masih mengantuk.Dengan mata setengah tertutup, ia berjalan mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi.Hari ini ia harus masuk sekolah, walaupun kondisinya belum sembuh total.---Anya menuruni tangga dengan tas sekolah sudah berada di punggungnya.Matanya langsung tertuju pada dua orang yang sudah duduk rapi di tempat masing-masing.Papanya duduk di kursi single yang berada tepat di bagian tengah, sedangkan mamanya duduk di kursi pertama di samping papanya.Anya menghela napas pelan.Entah kapan mereka datang.Semalam, setelah makan malam, Anya kembali ke kamarnya dan menghabiskan waktunya di sana.Ia kembali teringat obrolannya dengan sang kakak terakhir kali mengenai oleh-oleh yang dititipkan untuknya.Ya sudah, aku nggak akan minta. Kalau mereka kasih, baru aku terima.“Selamat pagi, Pa. Selamat pagi, Ma.”Tidak ada jawaban.Hanya anggukan kecil dari mamanya tanpa menoleh

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Panggilan Tak Terduga

    Pukul 06.00 tepat, Anya selesai membersihkan dirinya. Ia merapikan pakaian dan barang-barangnya.Dengan langkah tertatih, ia menuju sofa tempat Bibi War masih tertidur pulas.Saking pulasnya, Anya sampai tidak tega untuk membangunkan bibinya.Mereka masih berada di rumah sakit.Semalam, Anya memaksa ingin pulang. Namun, Bibi War tidak kalah kerasnya. Melihat kondisi Anya yang cukup parah, Bibi War memaksa agar mereka baru pulang pagi-pagi sekali.Anya menggoyangkan pelan tubuh Bibi War hingga wanita itu terbangun.Sepertinya, Bibi War cukup lelah karena menjaganya sepanjang malam.Akhirnya, Bibi War terbangun. Matanya langsung tertuju pada semua barang bawaan mereka yang sudah rapi dan tersusun pada tempatnya.Tidak perlu ditanya lagi.Sudah pasti Anya yang membereskannya.Bibi War menatap Anya dengan bangga.Walaupun kondisinya sedang tidak baik, gadis itu tetap tidak mau terlalu merepotkan dirinya.“Terima kasih, Non,” ucap Bibi War.“Sama-sama, Bibi sayang,” balas Anya dengan senyu

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Pulang

    Anya menyalakan ponselnya, hanya untuk melihat jam.Matanya langsung membulat sempurna.Pukul sepuluh malam.“Aku harus apa sekarang?” tanya Anya pada dirinya sendiri.Untuk berdiri saja ia sudah tidak mampu. Kakinya sakit, tangannya pun begitu. Kepalanya juga masih ditempeli sedikit perban.“Aku kayak korban tabrak lari, deh,” ucapnya sambil memandangi kedua kakinya.Lutut kirinya diperban. Siku kirinya pun begitu.Dan sekarang, ia baru sadar kalau kacamatanya tidak ada.Anya membuka aplikasi hijau di ponselnya.Sejujurnya, saat ini ia tidak tahu harus menghubungi siapa.Ia ingin memberitahu kakaknya, tetapi pasti orang tuanya juga akan tahu. Dan itu akan menjadi masalah besar.Anya memikirkan satu nama yang pasti saat ini sedang pusing mencarinya.Bibi War.Anya langsung menelepon bibi kesayangannya itu.Tidak butuh waktu lama, teleponnya diangkat.“Halo, Bi.”“Non! Ya ampun, ke mana aja, Non? Bibi cariin kamu. Tadi Bibi telepon, tapi nomor kamu nggak aktif. Non baik-baik aja, kan?

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status