Beranda / Romansa / Pelayan Cupu Sang BadBoy / Hari yang Melelahkan

Share

Hari yang Melelahkan

Penulis: i'mdream
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 14:24:29

Tian dan Chelsea baru saja memesan makanan di salah satu restoran mewah yang berada di lantai atas Mall. Sementara itu, Anya hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka sambil memegang beberapa kantong belanja yang sejak tadi dibebankan kepadanya.

Ia melirik jam yang terpajang di dinding restoran.

Pukul 17.20.

Perutnya kembali berbunyi pelan. Sejak pagi tadi, ia hanya sempat menghabiskan sepiring nasi goreng sebelum kembali tertidur karena demamnya. Setelah itu, ia buru-buru berangkat ke mall karena ancaman dari Tian.

Kalau dipikir-pikir, hidupnya memang cukup menyedihkan. Orang lain kalau ke mall untuk nonton bioskop, makan enak, dan berbelanja. Kalau dirinya? Jadi kuli angkut, belum makan, dan gratis lagi.

Sungguh paket lengkap penderitaan seorang Zefanya Aurellie.

Ponsel Tian yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.

Papa.

Tanpa menunggu lebih lama, Tian segera mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Pa."

Anya yang berada tidak jauh dari sana memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela restoran. Ia sama sekali tidak tertarik dengan urusan laki-laki menyebalkan itu.

Beberapa menit kemudian, Tian mengakhiri panggilan teleponnya dengan ekspresi yang jauh lebih serius dibandingkan sebelumnya.

"Aku harus pulang sekarang," ucapnya sambil meraih dompetnya.

"Hah? Sekarang?" Chelsea tampak sedikit kecewa.

"Ada urusan mendadak."

Tian kemudian mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Chelsea.

"Pakai ini saja. Belanja apa pun yang kalian mau."

Mata Chelsea seketika berbinar melihat kartu yang berada di tangannya.

"Serius?"

Tian mengangguk pelan. "Aku kabarin nanti."

Sebelum pergi, laki-laki itu sempat melirik sekilas ke arah Anya yang masih berdiri sambil membawa beberapa kantong belanja.

"Nurut aja sama Chelsea."

"..."

Anya hanya mampu tersenyum kaku.

Iya, Bos. Kalau perlu sekalian aku diangkat jadi ART tetap kalian aja.

Tanpa menunggu jawaban darinya, Tian segera meninggalkan restoran tersebut. Begitu sosok Tian menghilang dari pandangan, senyum Chelsea perlahan berubah menjadi lebih lebar.

Ia menatap kartu hitam yang berada di tangannya sambil tersenyum puas.

"Yes! Akhirnya kita bebas belanja sepuasnya!" serunya antusias.

Tres dan Clara ikut bersorak senang mendengar hal itu.

"Aku mau beli tas yang kemarin!" ujar Tres dengan mata berbinar.

"Kalau aku mau sepatu yang limited edition itu!" timpal Clara tidak kalah bersemangat.

Chelsea tertawa kecil sebelum mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang sejak tadi hanya berdiri diam di belakang mereka.

"Oh iya, kita hampir lupa kalau kita punya kuli angkut hari ini."

Anya tersenyum tipis. Ia bahkan sudah tidak mempunyai tenaga untuk merasa kesal lagi.

"Ayo, Anya!" panggil Chelsea sambil melambaikan tangannya. "Masih banyak toko yang mau kita datangi."

Dan begitulah mimpi buruk Anya dimulai.

Satu jam pertama berlalu dengan cukup "damai". Jika "damai" yang dimaksud adalah dirinya harus membawa sebelas kantong belanja seorang diri.

Kemudian bertambah menjadi enam belas kantong. Lalu dua puluh kantong. Anya mulai mempertanyakan beberapa hal dalam hidupnya.

Pertama, mengapa manusia membutuhkan begitu banyak pakaian? Kedua, mengapa manusia membutuhkan lima pasang sepatu dalam satu hari? Dan yang terakhir, mengapa dirinya masih hidup sampai sekarang?

"Anya! Yang itu juga dibawa!" seru Clara sambil menyerahkan dua paper bag besar ke dalam pelukannya.

"Yang ini juga!" Tres ikut menambahkan.

Chelsea yang sedang mencoba sepatu baru hanya tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut.

"Cepetan sedikit jalannya. Lama banget sih."

"Iya."

Anya kembali berjalan menuju basement untuk menyimpan seluruh barang belanjaan mereka ke dalam mobil Chelsea. Ini sudah ketiga kalinya ia bolak-balik dari lantai atas menuju basement.

Ia bahkan mulai merasa kedua tangannya akan putus karena terlalu lama membawa barang-barang yang tidak pernah berhenti bertambah. Saat kembali menuju lantai atas, Anya sempat berhenti beberapa detik untuk mengatur napasnya.

Kepalanya mulai terasa sedikit pusing. Mungkin karena efek demamnya belum benar-benar hilang. Belum lagi ia sama sekali belum makan sejak siang tadi.

"Nya, semangat!" gumamnya pelan sambil menepuk kedua pipinya.

Ia memang sering menyemangati dirinya sendiri seperti ini.

Kalau bukan dirinya sendiri yang menyemangati, lalu siapa lagi?

 

Hari mulai beranjak sore ketika Chelsea dan kedua sahabatnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah kafe yang berada di dalam mall.

Chelsea memesan beberapa dessert mahal beserta minuman favorit mereka. Anya masih berdiri sambil memegang beberapa kantong belanja yang tersisa.

"Aku mau yang ini sama yang ini," ujar Chelsea kepada pelayan.

"Tres?"

"Yang sama."

"Clara?"

"Aku juga."

Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya apakah Anya sudah makan atau belum. Padahal, gadis itu berdiri tidak sampai satu meter dari tempat mereka duduk. Perut Anya kembali berbunyi pelan.

Untungnya suara musik yang diputar di dalam kafe cukup keras sehingga tidak ada yang mendengarnya. Ia hanya mampu mengembuskan napas pelan sambil menghibur dirinya sendiri.

Nggak apa-apa, Nya. Anggap aja lagi diet.

Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak pernah berniat untuk diet. Setelah hampir tiga puluh menit berada di sana, mereka kembali melanjutkan aktivitas belanja. Anya sudah kehilangan hitungan berapa kali dirinya harus bolak-balik menuju basement hari ini.

Yang ia tahu, kedua tangannya mulai terasa kebas dan kepalanya semakin pusing. Jam menunjukkan pukul 18.50 ketika akhirnya Chelsea menghentikan langkahnya di depan sebuah restoran mewah.

"Akhirnya selesai juga!" seru Tres dengan senyum puas.

"Aku lapar banget," sambung Clara.

Chelsea menganggukkan kepalanya pelan sebelum menoleh kepada Anya. Untuk pertama kalinya sejak Tian pergi, gadis itu tersenyum sangat manis kepadanya.

Senyuman yang entah mengapa justru membuat bulu kuduk Anya meremang.

"Anya," panggilnya pelan.

"Iya?"

Chelsea tersenyum semakin lebar sambil meraih pergelangan tangan Anya dengan lembut.

"Ikut aku ke toilet dulu, yuk."

Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba memenuhi dada Anya. Selama tiga minggu terakhir, firasat buruknya hampir tidak pernah salah.

Dan kali ini, ia merasa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Jalan-jalan

    “Terima kasih, Nak Dani.” Bibi War tersenyum tulus. Wajahnya berseri-seri saat menerima buket bunga dari Dani. “Ini pertama kalinya dalam hidup Ibu dikasih bunga seperti ini,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.“Sama-sama, Bu. Lain kali Dani bawain yang lebih besar, deh,” balas Dani sambil tersenyum lebar.“Nggak perlu repot-repot, Nak.”“Nggak repot, kok. Dani malah senang bisa jadi cowok pertama yang ngasih bunga ke Ibu.” Dani mengangkat dagu sedikit, tampak bangga dengan dirinya sendiri.Bibi War terkekeh kecil melihat tingkah pemuda di hadapannya. “Nak Dani ini pandai sekali mengambil hati orang.”Dani tertawa ringan. “Wah, Ibu bisa aja.”Anya yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas pelan. Siapa sangka, Dani ternyata sangat pandai mendekati wanita, bahkan wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.Kalau begini, tidak mustahil Dani bisa semakin dekat dengannya.Padahal, Anya adalah gadis pendiam, tertutup, dengan tingkat introversi yang bisa dibilang suda

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Keseriusan Dani

    Dani menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Sudah sejak tadi ia ingin menghubungi Anya untuk menanyakan alamat rumahnya, tetapi ia bisa membayangkan bagaimana gadis itu akan bereaksi. Padahal, Dani sudah berjanji akan meminta izin langsung kepada papa Anya. Dan sebagai laki-laki yang ingin membuktikan keseriusannya, ia tidak berniat mengingkari janji itu hanya karena Anya mungkin akan menolaknya.Akhirnya, Dani memutuskan mencari alamat Anya melalui administrasi sekolah.Awalnya, ia mengira akan mendapat banyak pertanyaan. Namun, begitu menyebutkan nama lengkap dan identitas keluarganya, proses itu justru berjalan jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Orang tua Dani berasal dari kalangan konglomerat yang cukup dikenal dan memiliki hubungan baik dengan pihak sekolah. Setelah menjelaskan bahwa ia perlu mengunjungi rumah teman sekolahnya untuk suatu keperluan penting, Dani berhasil mendapatkan alamat yang dicari.Tak butuh waktu lama baginya untuk bersiap. Sebuah buket bunga yan

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Minta Bantuan

    “Harusnya Pak Bima, deh,” jawab Dani dari seberang telepon. Anya bertanya nama guru yang mengurus relawan ke jepang, ia ingin bertanya terkait telepon yang papanya terima juga informasi tentang nilai tambahannya.Ia sendiri juga tidak tahu dan bahkan tidak pernah bertemu dengan guru yang mengurus relawan. Karena dari awal pendaftarannya, semua sudah diatur oleh si bencana alam. Ya, siapa lagi kalau bukan Tian.Anya yang sejak tadi menggenggam ponselnya sedikit mengeratkan pegangan. Ia ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.“Emm, boleh minta tolong nggak?”Dani tersenyum miring. Pandangannya beralih pada buket bunga yang sudah ia selipkan ke dalam tasnya.Wah, sepertinya ada kesempatan bagus nih!“Mau minta tolong apa?” tanyanya santai. “Aku boleh ajuin syarat, nggak?”Anya terdiam sesaat.Syarat?Kira-kira syarat apa yang ingin diajukan cowok di seberang sana?Pikiran Anya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia takut Dani akan memintanya melakukan sesuatu yang sulit atau merepotk

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Selalu Disalahkan

    Sempat terlintas di pikiran Tian bahwa hubungan Dani dan Anya mungkin hanya hubungan palsu.Mungkin Dani hanya berpura-pura menjadi pacar Anya.Namun, semua keraguan itu seakan terjawab hari ini.Kontak Anya di ponsel Dani bahkan sudah diberi nama Pacar.Bukan hanya itu. Bahkan ketika Anya tidak datang ke sekolah, Dani tetap berniat mendatangi rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuket bunga.Tian memijat pelipisnya dengan dua jari.Bukan ini rencananya.Alurnya seharusnya tidak seperti ini.Anya tidak boleh berpacaran dengan sahabatnya sendiri.Terlebih lagi, dengan Dani.“Kenapa semuanya jadi rumit begini?” gumamnya lirih.Otak Tian dipenuhi berbagai pertanyaan.Bagaimana bisa Dani memiliki perasaan kepada cewek cupu seperti Anya?Apa yang menarik dari gadis itu?Menurut Tian, Anya tidak memiliki sesuatu yang istimewa sedikit pun.Namun, semakin ia memikirkannya, semakin kepalanya terasa pusing.*Mereka sudah berpacaran. Pasti bakal semakin dekat, kan?!*Tian mengembuskan napas kasar

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Buket

    Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status