MasukPram tidak bisa lagi menahan bendungan yang sudah hampir jebol itu. Ia menggeram panjang seiring dengan pedang pusakanya yang berdenyut hebat di kedalaman milik Dara, menyemburkan cairan hangat yang terasa sangat penuh mengisi setiap sudut labirin wanita itu."Ra... aku juga keluarrrrr!" gumam Pram sembari menjatuhkan tubuhnya di atas punggung Dara yang masih bergetar."Makasih ya, Mas... enak banget, ohhhh shhh hmmm," bisik Dara lirih.Pram dan Dara saling menatap dengan sisa gairah yang masih membekas di netra mereka, lalu perlahan menyatukan bibir dalam sebuah ciuman hangat yang lama dan penuh perasaan. Tidak ada lagi keliaran seperti sebelumnya, hanya ada lumatan-lumatan kecil yang seolah menjadi penutup manis atas pelepasan dahsyat yang baru saja mereka lalui. Pram sempat mengusap sisa keringat di dahi Dara sebelum akhirnya mereka berdua mulai bergerak cepat untuk kembali mengenakan pakaian masing-masing yang sempat berserakan di lantai kayu tersebut.Begitu mereka keluar dari
"Apa doronganku terlalu kenceng, Ra? Kerasa sakit nggak?" bisik Pram parau, suaranya bergetar menahan gejolak yang nyaris meledak di pangkal paha. Ia menatap wajah Dara yang nampak memerah sempurna dengan peluh tipis yang mulai membasahi keningnya.Dara menggelengkan kepala dengan cepat, matanya nampak sayu dan setengah terpejam menikmati sensasi penuh yang merambati seluruh syarafnya. "Nggak, Mas... jangan berhenti. Terus tusuk aja, aku justru suka kalau kamu main agak kasar begini," jawab Dara sembari mendesah kuat, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Pram.Mendengar izin itu, Pram langsung menambah tempo hentakannya. Gerakan pinggulnya menjadi lebih bertenaga, menghunjamkan pedang pusakanya ke dalam relung curam Dara dengan frekuensi yang semakin cepat. Suara tumbukan basah pertemuan dua kulit yang saling beradu mulai memenuhi ruangan kamar yang pengap itu, berpadu dengan derit ranjang kayu kuno yang seolah ikut protes menahan beban dua insan yang sedang dilanda gairah.Dara meng
Dara melingkarkan lengannya di leher Pram, membuat sepasang melon miliknya yang padat dan berukuran besar menekan dada Pram dengan sangat erat. Napasnya terasa hangat saat ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher pria itu."Mas... aku kangen banget sama kamu. Makasih ya udah nyelamatin Ibu," bisik Dara dengan suara yang dalam dan penuh damba.Pram merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya saat merasakan bantalan belakang Dara yang empuk menduduki pahanya dengan ketat. Ia memeluk pinggang Dara, merasakan lekuk tubuh wanita itu yang selalu membuat hasratnya bergejolak."Aku juga kangen sama kamu, Ra. Udah lama banget kan kita nggak berduaan kayak gini?" tanya Pram sembari mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil di leher jenjang Dara, membuat wanita itu mendesah pelan dalam pelukannya.“Ohhh, shhhh.“Dara memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Pram yang mulai merayap naik ke arah punggungnya. "Iya, Mas. Rasanya kayak berabad-abad sejak terakhir kali kamu... kamu mainin aku," gumam D
"Ibuuuu!" Bunga berteriak kencang dari ambang pintu kamar, suaranya yang lembut kini melengking tinggi karena luapan emosi. Ia berlari secepat kilat melintasi lantai ubin rumah sewa yang kuno itu, mengabaikan tas kecil yang tersampir di lengannya, lalu langsung menghambur memeluk tubuh Sisil yang bersandar di tumpukan bantal.Bunga kaget setengah mati, matanya membelalak lebar melihat ibunya sudah bisa duduk tegak, bahkan kelopak matanya nampak segar menatap ke arahnya. "Ibu... Ibu beneran sudah bangun? Ibu bisa liat Bunga?" tanyanya terisak sembari mengelus pipi Sisil yang sudah tidak sedingin kemarin.Intan menyusul di belakang, wajahnya yang riang kini basah oleh air mata haru. Ia tidak banyak bicara, hanya langsung merangsek maju dan ikut memeluk ibunya dari sisi lain. "Ibu jangan pergi lagi ya, Bu. Intan takut banget pas Ibu tidur lama gitu," lirih Intan sembari membenamkan wajahnya di bahu Sisil, membuat sepasang semangka miliknya menekan pinggiran ranjang dengan kencang.Si
Pram tersenyum tipis mendengar rajukan manja nyonya majikannya itu, ia meletakkan wadah roti di nakas dan menggenggam jemari Sisil yang kini mulai terasa hangat dialiri darah. "Maafin saya ya, Bu. Tapi kalau saya buru-buru pulang kemarin dalam kondisi kaki kiri yang belum pulih bener, saya justru nggak akan bisa membantu banyak buat Bu Sisil. Yang ada malah saya jadi beban tambahan di rumah itu," jelas Pram lembut, memberikan pengertian agar wanita itu tidak merasa ditinggalkan.Sisil mengangguk pelan, ia bisa menerima logika pria di hadapannya meski rasa rindu di dadanya masih tersisa. Ia menatap botol kecil berisi cairan herbal yang terletak tak jauh dari mereka. "Terus soal ramuan tadi, kok kamu bisa tahu cara bikinnya, Mas? Kamu belajar di mana? Kok kayaknya jago banget sampai aku yang tadinya kaku kayak kayu bisa ngomong lagi sekarang," tanya Sisil penasaran."Itu semua diajarkan mendiang kakek saya dulu, Bu. Beliau itu tabib desa yang cukup disegani. Dulu saya sering disuruh
"Ta-tapi, membawa pulang Ibu kan harus lunasin biaya rumah sakit dulu, Mas? Terus nanti kalau sampai rumah lalu Kakek sama Nenek malah ngamuk gimana? Kita nggak punya alasan kuat kalau mereka tahu kita bawa Ibu kabur," ucap Dara dengan nada bingung, jarinya meremas ujung blusnya yang sudah agak kusut."Udah aku bilang kan kemarin? Soal biaya itu urusanku, semua aku yang tanggung. Terus begitu keluar dari rumah sakit, kita langsung cari sewa rumah yang siap pakai. Jadi kita nggak usah balik ke rumah kalian dulu buat sementara waktu sampai kondisi bener-bener aman," jawab Pram tegas, memberikan rasa aman yang menyelimuti hati Dara yang sedang bimbang.Dara hanya bisa mengiyakan, meski hatinya merasa sangat sungkan atas kebaikan Pram yang seolah tanpa batas itu. Mereka segera bergerak cepat. Pram mengurus segala administrasi kepulangan Sisil di meja resepsionis, membayar tumpukan tagihan perawatan yang nilainya mencapai puluhan juta menggunakan uang tabungannya serta sisa dari persedia
Pram tersenyum, jemarinya membelai bahu polos Dara yang kuning langsat. "Gimana kalau kita cari makan siang di luar aja? Bukannya aku nggak mau masak lagi buat kamu, tapi kayaknya asyik juga kalau kita ganti suasana sebentar. Biar pikiranmu makin rileks.""Setuju banget! Tapi sebelum pergi, kita ha
Sisil masih tergeletak lemas di atas kasur tipis itu, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah cantiknya yang memerah. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu menoleh ke arah Pram dengan senyuman yang sangat santai, seolah tidak ada beban sama sekali. "Nggak apa-apa, Mas Pram. Malah enak rasanya
Pram berjalan ke meja rias Dara dan mengambil tube gel untuk pijat. “Lepas semua aja, lalu kamu tengkurap ya. Biar pakaiannya nggak kotor kena gel.“Dara menurut. Usai melepaskan you can see-nya, ia berdiri sedikit untuk menurunkan celana pendek berikut segitiga hanya.Mendadak pikiran Pram menjadi
Tepat saat Dara melenguh panjang dan mengejang hebat mencapai puncak kedua, ia menggenggam tonjolan di balik celana panjang Pram dengan sangat kuat. Matanya terpejam rapat dengan bibir kembang kempis, mencoba menghirup oksigen yang seolah hilang dari paru-parunya akibat gempuran nikmat yang bertub







