Mag-log in”Iya nih, aku belum nyembur juga. Kalian nungging yuk. Jejer kesamping ya,” perintah Pram dengan nada suara bariton yang teramat sangat berat, dalam, dan sarat akan dominasi.Mendengar instruksi dari pria yang paling mereka gilai itu, Sinar, Tari, dan Sarah yang tubuh polos mereka masih lemas sertaa terengah-engah pasca pelepasan massal tadi, seketika mengumpulkan sisa-sisa tenaga mereka dengan patuh. Tanpa bantahan sedikit pun, ketiga wanita cantik itu merangkak memposisikan diri di atas sprei kasur king-size yang sudah berantakan. Mereka berjejer ke samping secara berurutan, menunggingkan tubuh polos mereka dengan membelakangi Pram, membiarkan sepasang buah dada kembar mereka menggantung erotis menempel di atas kasur. Dari posisi menungging berjejer ini, tiga aset bulatan belakang yang sangat montok, padat, dan mulus tersaji seutuhnya di depan mata Pram, lengkap dengan kawah gelap masing-masing yang sudah menganga lebar, memerah merekah, dan basah kuyup kebanjiran sisa cairan asm
Pergumulan panas di dalam kamar utama yang terkunci rapat itu kian bergerak liar mencapai titik kulminasi gairah yang luar biasa pekat. Pram yang berbaring telentang di atas kasur king-size merasakan seluruh tubuh tegapnya dikepung oleh kehangatan dan aroma intim dari ketiga wanita cantiknya yang sudah sepenuhnya kehilangan pengendalian diri akibat terbakar nafsu tiada tara.Di atas selangkangannya, Sarah masih terus mempertahankan gerakan memompa pinggulnya naik dan turun dengan ritme yang dalam. Setiap kali pangkal paha Sarah berbenturan dengan paha kokoh Pram, suara tamparan kulit yang basah berdentum riuh berulang kali memecah keheningan kamar. Pram yang menyadari jepitan dinding dalam gua Sarah sudah bergerak kian kencang dan berdenyut liar meremas batang senjatanya, segera memberikan instruksi baru. Pram meminta Sarah tetap disana hingga mencapai puncaknya, menuntut wanita itu untuk tidak menurunkan temponya sedikit pun demi meraih kepuasan maksimal.”Terus, Sarah... jangan
Setelah memuaskan hasratnya dengan belasan kali hentakan liar yang menguras sisa-sisa tenaganya, Tari akhirnya mengangkat pinggulnya perlahan, menarik keluar pedang pusaka Pram dari dalam dirinya dengan suara letupan basah yang seksi. Tari turun dari atas tubuh Pram dengan napas yang terengah-engah lambat, tubuh mulusnya terkulai lemas di atas kasur sembari membiarkan sisa cairan kebasahan mengalir di sela-sela paha mulusnya.Melihat menara kebahagiaan milik Pram masih berdiri tegak dengan sangat gagah, tegang maksimal, dan berkilat-kilat basah oleh sisa pelumas alami, giliran Sarah yang tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Sarah yang langsung merangkak gemulai mengambil alih posisi di atas selangkangan Pram. Dengan sisa gairah yang sudah membakar seluruh relung curamnya, Sarah memegang batang tongkat baseball raksasa milik Pram, mengarahkan ujung kepalanya yang panas membara tepat di bibir gua miliknya yang sudah becek luar biasa.Sarah menurunkan pinggulnya secara perlahan
”Mas, aku mau dimanjain pakai ini,” bisik Sinar dengan suara yang teramat sangat serak dan mendesah manja. Sepasang matanya yang sayu dan berkabut gairah menatap lurus ke arah pangkal paha Pram, sementara tangan halusnya menggenggam erat milik Pram yang sudah menegang maksimal bagaikan tongkat baseball raksasa yang luar biasa keras, panas, dan berurat menonjol. Genggaman tangan Sinar bahkan tidak mampu melingkari seluruh diameter batang perkasa itu dengan sempurna, membuktikan betapa dahsyatnya ukuran senjata sang bos besar setelah menerima servis mulut beruntun tadi.Pram tersenyum lebar, mengusap lembut helai rambut Sinar yang tampak sedikit berantakan akibat luapan hasrat yang membara di dalam kamar tidur yang terkunci rapat tersebut. ”Aku rebahan aja ya. Kalian yang bergantian di atasku. Aku mau menghemat tenaga biar besok di pesawat nggak kram semua,” sahut Pram dengan nada suara baritonnya yang dalam, memberikan instruksi manja yang langsung disambut dengan anggukan patuh dan
Begitu pintu kamar utama ditutup rapat dan dikunci dari dalam, atmosfer di ruangan luas itu seketika berubah menjadi luar biasa pekat oleh ketegangan gairah yang membara. Pram tidak membuang waktu lagi untuk segera memulai aksi untuk memagut bibir di kamar bersama ketiga wanitanya yang sudah tampak begitu lapar akan sentuhannya.Ia menarik tubuh molek Tari ke dalam pelukannya terlebih dahulu, melumat bibir tipis gadis itu dengan sangat rakus dan mendalam. Lidah Pram bergerak lincah menerobos masuk ke dalam rongga mulut Tari yang manis, membelit lidahnya dengan penuh dominasi hingga terdengar suara kecapan basah yang erotis. Sinar dan Sarah yang menyaksikan pagutan panas itu tidak tinggal diam. Mereka beringsut mendekat dari kedua sisi, menempelkan tubuh hangat mereka pada punggung dan dada bidang Pram yang masih terbungkus kemeja, sambil sesekali ikut menciumi leher dan rahang kokoh sang pria dengan penuh hasrat yang meletup-letup. Setelah menciumi Tari hingga gadis itu lemas keha
”Apa? Ke Belanda?!”Sinar, Tari, dan Sarah tersentak bersamaan tatkala Pram datang berkunjung ke rumah hunian mereka untuk mengabarkan rencana keberangkatannya yang terkesan sangat mendadak pada esok hari. Ketiga wanita cantik yang sedang sibuk merintis kedai kuliner Italia itu seketika menghentikan aktivitas mereka di ruang tengah, menatap pria tegap di hadapan mereka dengan sepasang mata yang membelalak lebar, diliputi rasa terkejut yang teramat sangat.”Ya, seperti yang aku bilang tadi, aku mau ngurus aset ayahku yang ada disana,” Pram menanggapi dengan nada suara baritonnya yang tenang dan stabil. Ia duduk di sofa sembari melonggarkan satu kancing teratas kemejanya, membiarkan hawa sejuk dari kipas angin ruangan menerpa dada bidangnya yang berotot. Pram memandangi wajah ketiga wanitanya satu per satu, mencoba meredam riak keterkejutan yang masih tertinggal di raut wajah mereka yang menawan.”Berapa lama, Mas?” tanya Tari yang seketika terlihat murung. Bibir tipisnya yang seksi
"Pengalaman buruk apa, Tar? Maksud kamu ketusnya kamu selama ini padaku ada alasannya?" tanya Pram dengan nada rendah, matanya sesekali melirik spion tengah namun tetap fokus pada kemudi saat mobil menyalip sebuah truk besar.Tari menarik napas panjang, bahunya yang ramping nampak sediki
"E-eh... bisa, bisa kok, Tar. Nanti aku siapkan mobilnya," jawab Pram terbata, masih sedikit tidak percaya dengan perubahan sikap gadis yang biasanya memandangnya sebelah mata itu.Tari nampak membuang muka, tangannya memegang gagang pintu dengan erat, menyembunyikan kegugupan yang cukup kentara.
"Jangan sekarang, Tan. Sebentar lagi waktunya aku mulai kerja jadi pelayan di rumah Bu Sisil. Nanti kalau aku telat gara-gara kamu, yang ada malah berantakan semua jadwal pagi ini," ucap Pram sambil menggelengkan kepala, mencoba menahan gejolak gairah yang mulai memanas di pangkuannya.Intan langsu
"Bi, permisi, aku mau bikin jus jeruk. Tari tadi minta dianterin ke atas," ucap Pram sambil melangkah masuk ke area dapur yang harum oleh aroma bumbu masakan.Bi Surti yang sedang merapikan rak piring segera menoleh, lesung pipitnya menyembul saat ia memberikan senyuman manis pada pria itu. "Eh, Ma