Share

Bab 104. Pertanyaan Risma

Penulis: Galaxybimasakti
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 22:46:05

"Aku harus bisa menjinakan mereka semua agar bisa mengetahui semua rahasia ini." gumamku, ketika Gunawan sudah pergi.

Aku segera memindahkan tumpukan nasi kotak itu ke bagasi mobil BMW hitam milik Ayah. Rasa puas sedikit merayap di dadaku saat melihat tumpukan uang tunai pemberian Nikita yang aku simpan di tas ku.

Sepuluh menit kemudian, aku tiba di lapangan dekat pos patroli desa.

Suasananya sudah ramai. Sekitar dua puluh orang pemuda, termasuk Agus, Ujang, dan Dedi, sudah berkumpul di sana.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 403. Mengantar Danu

    Melihat situasi tersebut, aku berdiri menyandarkan punggung di tiang bambu gubuk. Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan olah batin dan tenaga dalam yang diajarkan oleh Kakek Kosim di hulu sungai dulu. Aku berniat menyebarkan gelombang kepekaan rasaku untuk mendeteksi getaran hawa keberadaan Ayah di radius sekitar hutan ini.Namun, sesuatu yang sangat aneh terjadi.Saraf kepekaan batin dan tenaga dalamku mendadak buntu seketika! Gelombang energi batin yang biasanya sanggup menangkap desiran napas atau langkah kaki di tempat sepi kini bagaikan menabrak dinding tebal yang tak kasat mata. Aku sama sekali tidak sanggup mendeteksi atau melacak jejak hawa keberadaan Ayah di area ini.Aku membuka mata kembali dengan rasa heran yang amat sangat. Langkah kakiku bergeser keluar dari gubuk bambu, meneliti tanah basah di pekarangan luar gubuk di bawah sinar lampu senter polisi.Di atas tanah gembur dekat pohon pisang, mataku menangkap dua cetakan jejak kaki yang sangat s

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 402. Menyergap keberadaan Ayah

    Tasya dan Vira tersenyum ramah dari samping ranjang."Kamu harus cepat sembuh ya, Danu," kata Vira menyemangati. "Jangan pikirkan soal Gunadi lagi. Biarkan polisi yang mengurus manusia itu.""Iya, nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit, kamu bisa main ke tempat kami," tambah Tasya riang.Melihat interaksi hangat di antara mereka di dalam kamar rawat yang tenang itu, dadaku terasa begitu lapang dan hangat. Bayangan hitam konflik keluarga yang selama bertahun-tahun meracuni hidup kami kini perlahan-lahan sirna, berganti dengan ikatan saling mendukung di antara sesama korban kejahatan Ayah.Nikita mengobrol cukup lama dengan Danu, menanyakan latar belakang kehidupannya dan memberikan dukungan moral agar Danu tidak merasa sebatang kara lagi di dunia ini.Danu yang selama ini hidup penuh dendam dan kesepian tampak sangat tersentuh oleh perhatian tulus dari Nikita dan anak-anaknya.Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu mengobrol di dalam kamar rawat tersebut hingga hari mulai beranjak

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 401. Menjenguk Danu

    Ucapan Nikita sewaktu kami mengobrol dulu ternyata memang benar murni apa adanya. Selama ini, Nikita hanya ingin mengambil kembali hak kepemilikan bisnisnya dan menuntut keadilan serta balas dendam atas kematian adiknya, Tante Mirna.Kini, setelah jenazah Tante Mirna ditemukan di laboratorium bawah tanah walau dalam kondisi sudah meninggal dan telah dimakamkan secara layak, seluruh pencarian panjang Nikita akhirnya menemui titik akhir.Nikita mengusap lengannya pelan, menghembuskan napas lega. "Semuanya sudah berakhir sekarang, Aris... Mirna sudah tenang di alam sana.""Lalu apa langkah Mama selanjutnya?" tanyaku.Nikita menatapku mantap. "Dalam waktu dekat ini, Mama, Tante Rina, Tasya, dan Vira akan menggelar konferensi pers terbuka di depan publik. Kami mau mengumumkan secara jujur mengenai rekayasa kabar meninggalnya Tasya dan Vira dulu yang sebenarnya merupakan ulah Gunadi. Kami juga akan membongkar makam buatan yang sempat dibuat Gunadi untuk mengelak dari media.""Mama mau membe

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 400. Ternyata mereka benar

    Kami berdua meluncur menggunakan mobil milik Marni menuju Rumah Sakit. Di sepanjang perjalanan, Marni fokus mengemudikan mobil sementara aku sesekali menatap keluar jendela, memperhatikan deretan pepohonan dan bangunan yang terlewati.Hawa sejuk pendingin udara di dalam mobil berpadu dengan rasa tenang yang mendalam setelah kesalahpahaman di antara kami akhirnya runtuh.Sesampainya di halaman rumah sakit, Marni memarkirkan mobilnya di dekat ruang perawatan umum. Begitu kami melangkah ke dalam koridor yang sepi, aku langsung mengantarnya hingga ke depan kamar rawat Danu.Saat kami masuk ke dalam ruangan, Danu terlihat sedang berbaring lemah di atas kasur dengan perban tebal yang melilit di bagian perut dan dadanya. Wajahnya masih pucat, namun matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Begitu melihat kemunculanku bersama Marni, Danu memalingkan wajahnya pelan."Danu..." panggilku lembut seraya mendekati tempat tidurnya.Danu menghembuskan napas berat. "Aris... Maafin aku. Haru

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 399. Penyesalan

    "Mar... ini aku," kataku dengan suara pelan dan penuh rasa bersalah. "Kamu lagi di mana sekarang? Bisakah kita ketemu sebentar? Ada hal penting yang mau aku bicarakan.""Bisa, A! Bisa banget!" jawab Marni cepat tanpa ragu sedikit pun. "Marni lagi di daerah pusat kota, A. Kita ketemu di kafe taman tempat biasa ya?""Iya, Mar. Setengah jam lagi aku sampai di sana," sahutku."Iya, A. Marni tunggu ya!"Panggilan terputus. Aku segera menyelesaikan pembayaran makan siangku, melangkah keluar restoran, lalu menaiki sepeda motor menuju kafe berkonsep taman tempat kami biasa menghabiskan waktu sore.Tepat setengah jam kemudian, aku memarkirkan sepeda motor di halaman kafe. Suasana kafe siang itu agak lengang. Di sudut area outdoor yang terlindung rimbunnya tanaman mawar, aku melihat Marni sudah duduk sendirian di sebuah meja kayu.Aku melangkah mendekati meja tersebut. Langkah kakiku terasa sangat berat oleh beban rasa bersalah.Saat aku menarik kursi dan duduk di hadapannya, Marni mengangkat

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 398. Salah paham

    Ayah berhasil meloloskan diri dan kabur entah ke mana, dan dari sisa darah di lokasi tadi, besar kemungkinan Ayah juga mengalami luka-luka. Manusia itu benar-benar licik dan sadis, bahkan pada anaknya sendiri dia tidak memberi ampun.Kutatap pintu ruang operasi itu dengan rasa iba yang mendalam. Kasihan Danu... dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibunya, Tante Ratna, tewas mengenaskan di ruang bawah tanah, dan kini dia sendirian berjuang melewati masa kritis di dalam sana. Lalu, pandanganku perlahan mengarah pada bayanganku sendiri di kaca jendela yang gelap.Aku membayangkan jika berada di posisi Danu saat ini. Aku juga anak tunggal yang tak punya saudara kandung. Ibuku sudah tiada, Ayahku seorang pembunuh, dan kini aku sebatang kara. Rasanya... jika malam ini aku tiba-tiba mati atau tergeletak di tempat ini pun, tidak akan ada satu orang pun yang benar-benar peduli atau menangisi kepergianku. Semua orang di sekelilingku selama ini hanya datang dan pergi demi ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status