แชร์

Bab 3. Jalan Menuju Istana

ผู้เขียน: Min Ye-Rin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-29 12:53:45

Dua hari setelah malam itu, Elowen tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.

Cerita dia yang dijual di rumah bordil, menyebar seperti kobaran api di ladang kering.

Semua uang hasil menjual dirinya telah berpindah tangan—diterima dengan wajah puas oleh ibu tirinya. Dan sebagai balasan, Elowen diusir. Dikucilkan dan dianggap aib terburuk di desanya.

“Dasar pelacur!” Rose—ibu tirinya memekik sambil menghempaskan tubuh Elowen yang masih lemas dan pucat. Teriakannya menggema, membuat para penduduk desa yang melintas menoleh geram.

“Kau tidak pantas menginjakkan kakimu di tempat ini. Gadis hina! Nodamu hanya akan membawa sial untuk kami semua.”

“Aku tidak melakukannya! Pria baik itu membebaskanku. A-aku tidak disentuh sedikitpun—” Elowen mencoba menjelaskan.

“Omong kosong! Mana mungkin pria hidung belang tidak memanfaatkan kesempatan! Sekali kau masuk ke tempat itu, kau sudah ternoda! Dan sekarang kau juga pandai berbohong?!”

Seorang pria tua datang membawa beberapa telur busuk dan sekarung kotoran ternak. Ia melempari Elowen dengan benda menjijikan itu—diikuti oleh warga yang lain.

Sedangkan Rose, wanita itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Seolah sedang menyaksikan drama terbaik sepanjang masa.

“Mati saja kau aib! Mati!”

“Berhenti! Aku mohon berhenti! Kalian salah paham!” teriakan Elowen bahkan tidak mampu menembus suara warga-warga itu.

“Aku tidak bersalah…” lirih Elowen. Dia berusaha mempertahankan dirinya. Namun tak ada siapapun yang mendengar.

“Pergi kau!”

“Enyah kau dari sini, atau kami akan menyeretmu ke hutan dan menjadikanmu santapan binatang buas?!”

Elowen menggeleng kasar. Air matanya menyatu dengan lelehan kotoran ternak di wajahnya.

Sejak saat itu, desa kecil yang dulu ia sebut rumah berubah menjadi tempat yang sangat asing. Tatapan orang-orang menusuk tanpa ampun. Bisikan-bisikan mengikuti setiap langkahnya.

Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di sebuah gereja tua di ujung desa.

Air mata jatuh tanpa suara. “Tuan … kebebasan apa yang kau berikan? Semuanya terasa sia-sia,” gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan gereja.

Kesedihan itu perlahan berubah menjadi tawa kosong yang sangat pelan. Sayatan-sayatan dari penderitaan seolah meluap bersama atmosfer gereja.

Ia menengadah menatap patung salib yang seperti menegurnya dalam diam. Tangan Elowen memeluk tubuhnya sendiri.

“Aku harus pergi kemana lagi…?” lirih Elowen.

“Anakku.”

Elowen tersentak ketika sebuah tangan hangat mendarat di pundaknya. Dia menoleh kaku. Tepat di belakangnya ada Suster Marielle—Suster yang rela mengotori tubuhnya untuk merangkul Elowen hari itu.

“Su… Suster Marielle,” gumam Elowen irih.

Marielle berdiri di sampingnya, menatapnya dengan penuh kasih yang asing.

“Kau masih menangis?” tanya Marielle pelan.

Elowen menunduk lebih dalam, lalu mengangguk. Air matanya berjatuhan. “Saya tidak punya tempat di dunia ini lagi, Suster…”

“Menangislah sampai dadamu merasa lega,” ujarnya pelan. Pelukannya sangat hangat dan nyaman. “Jangan menyerah. Percayalah, Nak. Takdir tidak selalu membawa kabar buruk.”

Elowen terisak tanpa menahan diri sesuai perkataan Marielle.

Suster Marielle mengusap rambutnya perlahan. Menatap Elowen penuh kasih sayang.

“Aku datang membawa kabar baik. Ada lowongan pekerjaan di istana, kau bisa mencoba kalau mau,” lanjutnya. “Ini mungkin akan menjadi jalan bagimu untuk memulai lagi.”

Kalimat itu membuat Elowen membeku. Perlahan ia mengangkat wajahnya. Membiarkan Marielle melihat betapa kusutnya wajah indah itu.

“Istana?” tanya Elowen ragu. “Apa… apa aku pantas datang ke tempat seperti itu? Aku hanya rakyat biasa. Aku tidak punya kemampuan apapun, Suster.”

“Jangan berkecil hati terlebih dulu,” ujarnya. “Mereka sedang mencari pelayan tambahan untuk musim perayaan. Aku mengenal salah satu kepala pelayan di sana.”

Marielle menggantung kalimatnya. Ia tersenyum saat melihat cahaya harapan yang kembali hidup di mata biru Elowen.

“Kalau kau mau, aku bisa merekomendasikan, aku juga tidak tahu akan diterima atau tidak, tapi setidaknya kau bisa mencoba.”

Elowen membeku beberapa saat. Jantungnya berdegup dengan cepat.

Istana? Tempat yang sangat jauh dari desa ini. Jauh dari semua orang yang mengenalnya. Tapi jika ia gagal ia tidak tahu harus ke mana lagi.

Elowen kembali menatap Marielle. Tangannya sudah saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih.

“A… aku mau. Tapi… tapi kenapa Suster membantuku sampai sejauh ini?”

Marielle tersenyum tipis. Dia menarik napas panjang, lalu menengadah menatap langit yang sangat bersih.

“Karena hidupmu masih panjang. Kau tidak bisa terus menerus larut dalam rasa sedih ini, Elowen. Mereka yang sudah membungmu, akan menyesal kalau kau bisa bangkit dari jurang gelap ini.”

Gadis itu menunduk. Dia tidak bisa terus terjebak di luka yang sama. Jika ini satu-satunya kesempatan maka ia harus mencobanya.

“Terima kasih… terima kasih banyak, Suster. Terima kasih… semoga kebaikan Suster Marielle dibalas dengan sesuatu yang lebih indah.”

Gadis itu menggenggam erat surat rekomendasi yang didapatkan dari Marielle.

Gerbang istana menjulang tinggi di hadapannya—seolah menguji apakah ia pantas masuk ke dalamnya.

Elowen menelan ludahnya. Untuk sesaat, ada rasa takut yang kembali merayap di dadanya.

“Dicoba dulu saja, Elowen. Kau tidak akan tahu kalau tidak mencobanya,” bisik Elowen pada dirinya sendiri.

Kini ia melangkah bukan lagi karena sebuah paksaan, bukan untuk menjadi alat pelunas hutang, melainkan karena pilihannya sendiri, dan untuk hidupnya sendiri. Meski ia tahu, satu penolakan saja bisa menghancurkan segalanya.

Sekali lagi, dia berusaha percaya pada bumi yang di pijaknya. Sekali lagi dia berusaha percaya pada takdir yang pernah menghancurkannya.

“Siapa kau?” suara berat itu membuat langkah Elowen berhenti. Bulu kuduknya meremang. Dia tanpa sadar meremas surat di genggamannya.

^^^

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
ihhh serunya bacanya cerita ini Thor...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 195. Epilog

    Sudah sekitar dua pekan Aisar dinobatkan sebagai raja. Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan benar-benar berubah. Bahkan untuk sekedar bertemu dengan Elowen saja sulit. “Kenapa, Baginda?” tanya Silas saat mendengar hembusan napas kasar Aisar. “Ada yang mengganggu pikiran Baginda hari ini?” Aisar melirik sekilas, lalu mendengus kasar. “Kalau tahu jadi raja akan sesibuk ini, aku malas menerima tahta ini.” Aisar menopang wajah dengan kedua tangannya. Di depannya ada banyak dokumen yang harus dia lihat. Namun belum sempat kembali berucap, Aisar tak sengaja melihat Elowen yang hendak pergi ke perpustakaan. Pria itu bangkun dengan ekspresi yang sumringah. “Kerjakan ini dulu, Silas. Aku ada misi rahasia,” katanya. “Maksud Tuan—” Aisar hanya mengangkat tangannya sambil berlalu. “Ini lebih penting dari tugas kerajaan—Elowen!” seru Aisar. Mendengar suara itu, Silas hanya menatap punggung Aisar lelah. “Atau mungkin Baginda Dominique memang terlalu cepat mengangkatnya sebag

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 194. Raja Veloisea

    Tiga minggu telah berlalu sejak nama Lady Isabella Veloisea dan Keluarga Virelle dipulihkan.Musim semi akhirnya benar-benar datang ke Kerajaan Veloisea. Taman-taman istana dipenuhi bunga yang bermekaran. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut kota, sementara jalan utama dipenuhi rakyat yang sejak pagi sudah berbaris rapi.“Apa Anda gugup Tuan?” tanya Silas. Aisar tahu itu bukan pertanyaan biasa. Dia menoleh, lalu tersenyum. “Sejak kapan aku gugup? Bukankah kau tahu aku ini selalu percaya diri dan berani?”Silas tersenyum lalu mengangguk. Dia lega, akhirnya perjuangan Aisar selama ini sampai di titik yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. “Mulai hari ini yang Tuan genggam bukan hanya kuas dan cat air, tapi kerajaan dan mahkotanya,” goda Silas lagi. Aisar tidak langsung menjawab. Dadanya sedikit membusung dengan kedua tangan terkepal kuat. “Entahlah, Silas. Rasanya melukis lebih mudah daripada memegang tahta,” katanya. Suara terompet kerajaan menggema dari segala penjuru is

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 193. Nama Yang Dipulihkan

    “Baginda Raja Veloisea telah tiba!” Suara terompet penyambutan, membuat seluruh bangsawan berdiri serempak. Mereka membungkuk hormat, sambil sesekali melirik Aisar yang masih tertatih dibantu oleh Elowen dan Silas. “Kenapa Tuan tidak mau disambut?” bisik Silas. Aisar hanya terkekeh. “Tidak usah. Buat apa, aku tidak biasa mendapat sambutan seperti itu. Aku kan sudah ada yang menyambut.” Silas berkedip ringan. Dia sepertinya jadi penghalang mutlak dua orang yang dimabuk cinta ini. “Baiklah, baiklah.” Aula utama Kerajaan Veloisea kembali dipenuhi para bangsawan. Tidak ada lagi bisikan-bisikan kecil yang terdengar. Semua orang berdiri dengan wajah tegang, menunggu keputusan terakhir yang akan mengubah sejarah kerajaan. Dominique duduk di atas singgasana dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Di sisi kanannya, Aisar duduk di kursi yang telah disiapkan tabib. Wajahnya masih pucat, tapi tatapannya tetap setajam biasanya. Elowen berdiri tepat di sampi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 192. Sebuah Penebusan Dosa

    “Aisar maafkan aku… Aku mohon jangan hukum Aurelia. Tolong... dia tidak bersalah.” Aisar tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya diam menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. Sulit dipercaya, pria yang dulu selalu berdiri dengan kepala tegak dan penuh kesombongan kini bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. “Adrien—” gumam Aisar pelan. Adrien kembali menangis. Bahunya bergetar hebat. Matanya yang basah menatap Aisar. “A-aku memang pantas menerima semua hukuman ini. Aku pantas dipenjara. Aku pantas kehilangan segalanya. Tapi Aurelia, kau tau dia hanya mengikuti ibuku. Dia tidak pernah mengangkat pedang kepadamu. Dia hanya terbawa arus, Aisar.” Dominique ikut memperhatikan putra yang selama ini selalu dibelanya. Baru kali ini Adrien benar-benar mengakui kesalahannya. “Bagaimana dengan Elowen?” tanya Aisar datar. Adrien perlahan menoleh. “Dia yang sudah kau tusuk dengan belati dan melawan rasa sakitnya.” Tatapannya bertemu dengan Elowen yang sejak tadi berdiri di samping

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   191. Seorang Pecundang

    “Pangeran Adrien. Dia mengamuk dan ingin bertemu dengan Tuan Muda. Dia bahkan berhasil melukai satu prajurit.” Senyum di wajah Aisar perlahan memudar. Tatapannya langsung beralih kepada Dominique yang juga tampak mengernyit. “Dia masih ingin melawan?” tanya Dominique dingin. “Adrien memang tidak bisa diberi kesempatan sedikit saja.” Silas menggeleng pelan. Dia melirik Aisar yang sepertinya memikirkan hal yang sama. “Tidak, Baginda. Keadaannya sedikit berbeda,” ujar Silas. Dia menatap mereka silih berganti, lalu berhenti pada Elowen. “Dia mungkin memang ingin bertemu dengan Tuan Muda dan Elowen.” “Maksudmu?” tanya Dominique. “Dia—” “Mungkin dia ingin minta maaf,” kata Aisar. Dia kembali bersandar karena rasa nyeri datang lagi. “Tuan, berbaringlah… lukanya masih basah,” ujar Elowen khawatir. Aisar hanya menggeleng, lalu menarik gadis itu duduk di sampingnya. “Coba jelaskan lagi.” Aisar kembali menatap Silas. Namun Silas tidak langsung menjawab. Dia melirik Dominique taku

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 190. Maaf Yang Terlambat

    “Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 4. Lady Seraphine

    “Tujuan?” tanya salah satu penjaga dengan suara tegas.Elowen sedikit tersentak, lalu buru-buru menunduk sopan. Napasnya bahkan ikut tertahan beberapa saat.“Sa-saya… saya ingin melamar sebagai pelayan, Tuan. Ini surat rekomendasi saya,” ujar Elowen seraya memberikan surat itu dengan tangan gemetar

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 2. Malam Pembebasan

    “Tu-Tuan, kumohon ...” dia kembali terisak. Elowen mundur setengah langkah, napasnya tersengal. Refleks tangannya menyilang didepan dada dan merapatkan kakinya—berusaha menutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis—apabila terkena cahaya tubuhnya akan menerawang dan terlihat jelas. “Aku tida

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 1. Malam Mencekam

    “Lepaskan aku! Kumohon… lepaskan!” Suara tangis Elowen Virelle pecah di tengah ruangan mewah yang dipenuhi tawa menjijikkan. Air matanya merusak riasan tebal yang dipaksakan ke wajahnya—bedak pucat dan lipstik merah yang terasa asing di bibirnya. Tubuh kecil itu berusaha memberontak, namun c

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 6. Sebuah Lukisan

    Elowen yang sudah bersimpuh dengan tangan meremas gaunnya, berusaha mengangkat wajah. Bukan menatap lukisan itu, tapi matanya justru terpaku pada pria dia depannya. ‘Jadi dia adalah keluarga kerajaan Veloisea? Pria yang sudah membebaskanku dari ancaman malam itu adalah seorang anggota kerajaan?’“

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status