แชร์

Bab 2. Malam Pembebasan

ผู้เขียน: Min Ye-Rin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-29 12:52:47

“Tu-Tuan, kumohon ...” dia kembali terisak.

Elowen mundur setengah langkah, napasnya tersengal. Refleks tangannya menyilang didepan dada dan merapatkan kakinya—berusaha menutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis—apabila terkena cahaya tubuhnya akan menerawang dan terlihat jelas.

“Aku tidak suka mengulang perintah.”

Suara itu turun begitu dingin. Elowen tidak memiliki pilihan lain.

Dengan napas tersengal, Elowen meraih simpul gaunnya. Jemarinya gemetar saat mulai melepaskannya.

Kain tipis itu perlahan melonggar, jatuh mengikuti gravitasi, menyisakan tubuh rapuh yang dipenuhi luka dan lebam samar di tubuhnya.

“Jangan menangis,” bisiknya dengan suara yang begitu rendah. “Aku tidak suka mendengar suara tangisan.”

Elowen pasrah.

Ia didorong dan jatuh tepat ke atas ranjang. Napasnya tercekat, saat punggungnya membentur permukaan kasur. Refleks ia memejamkan matanya lebih erat, jari-jarinya mencengkeram seprai.

“Apa kamu akan terus memejamkan mata seperti ini?” tanya pria itu. “Tatap aku. Kau harus melayaniku, bukan?”

Hembusan napasnya begitu terasa hangat di wajah Elowen.

“Ma-maaf Tuan … saya … saya baru pertama—” tubuhnya meremang ketika jari-jari kekar itu mulai menyentuh pipi, lalu turun ke lehernya.

Tidak ada sentuhan kasar. Yang ada hanya kehangatan, dan sangat kontrak dengan ketakutan yang membelenggunya.

Perlahan sentuhan itu bergerak lembut dan hati-hati, membuat Elowen berani membuka matanya perlahan.

Elowen melihat pria itu menurunkan pandangannya ke arah samping—tepatnya di area tulang rusuk Elowen berada.

“Kenapa dengan tubuhmu ini? Ada banyak memar baru dan bekas-bekas luka.” Dia melirik tajam Elowen yang sudah menelan salivanya.

“Tu-Tuan … saya … ini … ini hanya luka-luka kecil—”

“Darimana kau dapatkan luka seperti ini?”

Elowen kembali membeku. Apa pria di ini tidak menyukai tubuhnya? Apa pria ini akan kembali menjualnya hanya karena melihat bekas-bekas cambukan ini?

“Ibu,” bisiknya lirih. “Ibu tiri saya yang melakukan ini.”

Pria itu berdecih, lalu beranjak dari kasur. Melihat pria itu menjauh, Elowen segera menarik ujung bajunya, dan menatapnya penuh harap.

Elowen bingung.

“Menurutmu, pria mana yang akan tertarik tidur dengan gadis penuh luka seperti ini? Bahkan menatap tubuhmu lebih lama, sudah membuat mataku sakit.” Pria itu mengernyit, sebelum akhirnya membuang muka.

Belum sempat Elowen mencerna kata-kata itu, sebuah jubah hitam dilemparkan ke arahnya.

“Pakai itu. Tutupi dirimu.”

Elowen terpaku beberapa detik sebelum kembali buru-buru meraih kain tebal itu dan membungkus tubuhnya. Hangat. Sangat hangat. Berbeda jauh dari dinginnya dunia yang selama ini ia kenal.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Tu-Tuan … apa saya sudah mengecewakan Anda? A-apa Anda akan menjual saya lagi?”

Aneh. Tidak ada nafsu murahan. Tidak ada kerakusan pria mesum seperti cerita yang sering ia dengar tentang rumah bordil. Dia hanya berdiri mengamati.

Matanya menyapu wajah Elowen, lalu turun ke bahunya yang masih gemetar di balik jubah kebesaran itu. Rahangnya mengeras.

“Kau masih begitu muda,” bisiknya. “Kau tidak seharusnya berada di tempat seperti ini. Belum lagi semua luka yang kau terima …” Elowen bisa melihat kalau pupil mata itu mulai menggelap. “Siapa namamu?”

“Elowen … Elowen Virelle, Tuan …”

“Elowen,” ulangnya. Seolah sedang berusaha mengingat nama itu di kepalanya. “Dari mana asalmu?”

“Dari Eze—desa di atas tebing, tidak jauh dari tempat ini, Tuan,” jawab Elowen lirih.

Hening sejenak memenuhi ruangan. Lalu pria itu menghela napas panjang. Pria itu kemudian menjauh. Ia mengambil sesuatu dari atas meja—selembar dokumen, lalu melirik kembali pada Elowen. Dengan gerakan ringan, ia melemparkannya ke arah ranjang.

“Mulai detik ini, kau bukan lagi milik tempat ini.”

Elowen membeku. Matanya menatap dokumen itu tak percaya. “Ma-maksud, Tuan?”

“Aku sudah menebusmu. Hutangmu dan hutang siapa pun yang menjualmu sudah lunas. Kau bukan lagi bagian dari rumah bordil ini.”

Dunia seolah berhenti berputar. Mendadak ada orang yang tiba-tiba baik di dunia yang menurutnya kejam.

“Elowen,” lanjut pria itu, kini menatapnya lurus. “Kau bebas sekarang. Jalani sisa hidupmu dengan hal yang lebih baik. Dan jauhi tempat ini.”

Bebas? Kata itu terdengar sangat asing untuknya.

“Ke… kenapa tuan? Kenapa Tuan melakukan ini? Saya tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan sebesar ini.”

Pria itu tersenyum tipis—senyum yang tidak sepenuhnya hangat, tapi juga tidak dingin. “Aku tidak suka melihat seseorang dihancurkan hanya karena mereka tidak punya pilihan.”

Elowen ragu sejenak, jemarinya sudah saling meremas. Jika ia keluar dari ruangan ini sendirian, lalu kemana ia harus pergi? Dunia di luar sana tidak lebih ramah dari tempat ini.

Dengan sisa keberanian yang ia punya, ia melangkah mendekat.

“Tuan… bukankah Tuan sudah membeli saya? Apakah saya bisa ikut dengan Tuan? Saya mungkin terlihat lemah, tapi saya cukup handal dalam bekerja! Saya bisa melakukan pekerjaan apapun.”

Pria itu menatap tangan Elowen yang mencengkeram kainnya. Lalu—perlahan ia melepaskannya.

“Kau salah paham. Aku tidak membelimu untuk memilikimu,” ucapnya tegas. “Jika kau terus bergantung pada orang lain, maka kebebasan itu tidak akan ada artinya.”

Elowen menggenggam jubah itu lebih erat. Kehangatan dari jubah mulai meresap sampai ke kulit, tapi hatinya masih saja dipenuhi rasa ragu.

Ia tidak mengerti. Tidak ada pria di tempat ini yang bersikap seperti ini. Tidak ada. Namun untuk pertama kalinya ia tidak merasa benar-benar terancam.

Perasaan asing itu membuatnya semakin bingung—antara takut dan berharap.

Hanya saja harapan itu pupus seketika. Pria itu menepis tangan Elowen dengan cepat dan tegas.

Elowen membelalakkan matanya. “A-apa kita bisa bertemu lagi, Tuan?”

Kali ini, tatapan pria itu menggelap, dan sekujur tubuh Elowen merinding, hingga ia nyaris saja mundur selangkah.

“Berharaplah untuk tidak bertemu denganku lagi,” ujarnya. “Karena kalau nanti kita bertemu lagi … aku tidak berjanji akan melepaskanmu secara sukarela.”

Bulu kuduk Elowen meremang. Tak ada nada gurauan di kalimatnya. Suara itu sudah seperti perintah yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Pria itu berdiri dan tidak lagi memperdulikan Elowen yang berdiri dengan air mata yang kembali meluncur di pipinya.

“Pergilah sejauh mungkin dari tempat ini. Jangan biarkan siapa pun menetapkan harga untuk hidupmu lagi.”

Langkah pria itu menghilang di balik pintu, membawa pergi satu-satunya rasa aman yang baru saja ia kenal.

^^^

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
wiliansyah
bagus banget ini ceritanya
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
masih beruntung kamu Elowen. mungkin Elowen masih takut makanya dia minta ikut laki itu..
goodnovel comment avatar
vrimerose
Untung laki-lakinya baik.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 195. Epilog

    Sudah sekitar dua pekan Aisar dinobatkan sebagai raja. Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan benar-benar berubah. Bahkan untuk sekedar bertemu dengan Elowen saja sulit. “Kenapa, Baginda?” tanya Silas saat mendengar hembusan napas kasar Aisar. “Ada yang mengganggu pikiran Baginda hari ini?” Aisar melirik sekilas, lalu mendengus kasar. “Kalau tahu jadi raja akan sesibuk ini, aku malas menerima tahta ini.” Aisar menopang wajah dengan kedua tangannya. Di depannya ada banyak dokumen yang harus dia lihat. Namun belum sempat kembali berucap, Aisar tak sengaja melihat Elowen yang hendak pergi ke perpustakaan. Pria itu bangkun dengan ekspresi yang sumringah. “Kerjakan ini dulu, Silas. Aku ada misi rahasia,” katanya. “Maksud Tuan—” Aisar hanya mengangkat tangannya sambil berlalu. “Ini lebih penting dari tugas kerajaan—Elowen!” seru Aisar. Mendengar suara itu, Silas hanya menatap punggung Aisar lelah. “Atau mungkin Baginda Dominique memang terlalu cepat mengangkatnya sebag

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 194. Raja Veloisea

    Tiga minggu telah berlalu sejak nama Lady Isabella Veloisea dan Keluarga Virelle dipulihkan.Musim semi akhirnya benar-benar datang ke Kerajaan Veloisea. Taman-taman istana dipenuhi bunga yang bermekaran. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut kota, sementara jalan utama dipenuhi rakyat yang sejak pagi sudah berbaris rapi.“Apa Anda gugup Tuan?” tanya Silas. Aisar tahu itu bukan pertanyaan biasa. Dia menoleh, lalu tersenyum. “Sejak kapan aku gugup? Bukankah kau tahu aku ini selalu percaya diri dan berani?”Silas tersenyum lalu mengangguk. Dia lega, akhirnya perjuangan Aisar selama ini sampai di titik yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. “Mulai hari ini yang Tuan genggam bukan hanya kuas dan cat air, tapi kerajaan dan mahkotanya,” goda Silas lagi. Aisar tidak langsung menjawab. Dadanya sedikit membusung dengan kedua tangan terkepal kuat. “Entahlah, Silas. Rasanya melukis lebih mudah daripada memegang tahta,” katanya. Suara terompet kerajaan menggema dari segala penjuru is

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 193. Nama Yang Dipulihkan

    “Baginda Raja Veloisea telah tiba!” Suara terompet penyambutan, membuat seluruh bangsawan berdiri serempak. Mereka membungkuk hormat, sambil sesekali melirik Aisar yang masih tertatih dibantu oleh Elowen dan Silas. “Kenapa Tuan tidak mau disambut?” bisik Silas. Aisar hanya terkekeh. “Tidak usah. Buat apa, aku tidak biasa mendapat sambutan seperti itu. Aku kan sudah ada yang menyambut.” Silas berkedip ringan. Dia sepertinya jadi penghalang mutlak dua orang yang dimabuk cinta ini. “Baiklah, baiklah.” Aula utama Kerajaan Veloisea kembali dipenuhi para bangsawan. Tidak ada lagi bisikan-bisikan kecil yang terdengar. Semua orang berdiri dengan wajah tegang, menunggu keputusan terakhir yang akan mengubah sejarah kerajaan. Dominique duduk di atas singgasana dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Di sisi kanannya, Aisar duduk di kursi yang telah disiapkan tabib. Wajahnya masih pucat, tapi tatapannya tetap setajam biasanya. Elowen berdiri tepat di sampi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 192. Sebuah Penebusan Dosa

    “Aisar maafkan aku… Aku mohon jangan hukum Aurelia. Tolong... dia tidak bersalah.” Aisar tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya diam menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. Sulit dipercaya, pria yang dulu selalu berdiri dengan kepala tegak dan penuh kesombongan kini bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. “Adrien—” gumam Aisar pelan. Adrien kembali menangis. Bahunya bergetar hebat. Matanya yang basah menatap Aisar. “A-aku memang pantas menerima semua hukuman ini. Aku pantas dipenjara. Aku pantas kehilangan segalanya. Tapi Aurelia, kau tau dia hanya mengikuti ibuku. Dia tidak pernah mengangkat pedang kepadamu. Dia hanya terbawa arus, Aisar.” Dominique ikut memperhatikan putra yang selama ini selalu dibelanya. Baru kali ini Adrien benar-benar mengakui kesalahannya. “Bagaimana dengan Elowen?” tanya Aisar datar. Adrien perlahan menoleh. “Dia yang sudah kau tusuk dengan belati dan melawan rasa sakitnya.” Tatapannya bertemu dengan Elowen yang sejak tadi berdiri di samping

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   191. Seorang Pecundang

    “Pangeran Adrien. Dia mengamuk dan ingin bertemu dengan Tuan Muda. Dia bahkan berhasil melukai satu prajurit.” Senyum di wajah Aisar perlahan memudar. Tatapannya langsung beralih kepada Dominique yang juga tampak mengernyit. “Dia masih ingin melawan?” tanya Dominique dingin. “Adrien memang tidak bisa diberi kesempatan sedikit saja.” Silas menggeleng pelan. Dia melirik Aisar yang sepertinya memikirkan hal yang sama. “Tidak, Baginda. Keadaannya sedikit berbeda,” ujar Silas. Dia menatap mereka silih berganti, lalu berhenti pada Elowen. “Dia mungkin memang ingin bertemu dengan Tuan Muda dan Elowen.” “Maksudmu?” tanya Dominique. “Dia—” “Mungkin dia ingin minta maaf,” kata Aisar. Dia kembali bersandar karena rasa nyeri datang lagi. “Tuan, berbaringlah… lukanya masih basah,” ujar Elowen khawatir. Aisar hanya menggeleng, lalu menarik gadis itu duduk di sampingnya. “Coba jelaskan lagi.” Aisar kembali menatap Silas. Namun Silas tidak langsung menjawab. Dia melirik Dominique taku

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 190. Maaf Yang Terlambat

    “Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 6. Sebuah Lukisan

    Elowen yang sudah bersimpuh dengan tangan meremas gaunnya, berusaha mengangkat wajah. Bukan menatap lukisan itu, tapi matanya justru terpaku pada pria dia depannya. ‘Jadi dia adalah keluarga kerajaan Veloisea? Pria yang sudah membebaskanku dari ancaman malam itu adalah seorang anggota kerajaan?’“

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 5. Aisar Leonel

    “Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergeta

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 4. Lady Seraphine

    “Tujuan?” tanya salah satu penjaga dengan suara tegas.Elowen sedikit tersentak, lalu buru-buru menunduk sopan. Napasnya bahkan ikut tertahan beberapa saat.“Sa-saya… saya ingin melamar sebagai pelayan, Tuan. Ini surat rekomendasi saya,” ujar Elowen seraya memberikan surat itu dengan tangan gemetar

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 3. Jalan Menuju Istana

    Dua hari setelah malam itu, Elowen tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.Cerita dia yang dijual di rumah bordil, menyebar seperti kobaran api di ladang kering. Semua uang hasil menjual dirinya telah berpindah tangan—diterima dengan wajah puas oleh ibu tirinya. Dan sebagai balasan, Elowen diusi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status