Share

Bab 6. Sebuah Lukisan

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-04-29 12:56:40

Elowen yang sudah bersimpuh dengan tangan meremas gaunnya, berusaha mengangkat wajah. Bukan menatap lukisan itu, tapi matanya justru terpaku pada pria dia depannya.

‘Jadi dia adalah keluarga kerajaan Veloisea? Pria yang sudah membebaskanku dari ancaman malam itu adalah seorang anggota kerajaan?’

“Bangunlah. Jangan bersimpuh seperti itu. Aku tidak suka melihat orang lain bersimpuh di kakiku tanpa alasan.”

Elowen tersentak, lalu bangkit dengan posisi tegak dan sopan. Tanpa sadar, Elowen mengulas senyum di wajahnya.

“Maafkan saya, Tuan” ucapnya pelan. “Sa … saya tidak menyangka akan bertemu Tuan, secepat ini.”

Aisar melirik sekilas. Tatapannya datar, dingin, emosinya tak terbaca. Ia melirik kotak di tangan Elowen.

“Berikan itu,” dia mengulurkan tangan. “Aku membutuhkan warna itu sekarang. Lukisan ini hanya membutuhkan sentuhan akhir.”

Elowen maju satu langkah. Menunduk, lalu memberikan pesanan Aisar dengan tangan gemetar. “Ini, Tuan. Ini pesanan Anda.”

Hening menyapa keduanya. Aisar kembali sibuk menyelesaikan lukisannya.

Cahaya sore masuk dari jendela tinggi paviliun, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat—berbanding terbalik dengan udara dingin yang terasa di dalam ruangan itu.

Aroma cat minyak dan kanvas memenuhi udara, bercampur dengan keheningan yang membuat setiap gerakan terasa lebih jelas.

“Kau belum menjawabnya, Elowen,” ujar Aisar, sontak membuat tubuh Elowen bergeming.

“Y-ya, Tuan?”

“Aku memintamu untuk melihat lukisan ini, dan apa pendapatmu tentangnya. Kenapa kau justru memperhatikanku?”

Jantung Elowen seolah berhenti berdetak. Wajahnya mulai berubah rona. Dia menggigit bibir bawahnya. Bohong kalau dia tidak sedikit senang. Bertemu dengan pria itu lagi, bahkan sudah menjadi harapannya.

Elowen merasa punya kesempatan untuk membalas budi atas kebebasan yang diberikan pria itu..

Kini dua pasang mata mereka akhirnya saling bertemu. Tapi Elowen segera menundukkan kepalanya lagi.

“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud lancang. Sa … saya hanya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Tuan, lagi.”

Ada sebuah kedutan samar di ujung bibir Aisar, sebelum ia memalingkan wajahnya kembali pada kanvas.

“Fokus saja pada lukisannya.”

Perlahan Elowen menatap lukisan itu. Wajah wanita di sana memang sangat mirip dengannya, bahkan sampai detail mata dan bentuk bibirnya.

Aisar masih memperhatikan.

“Lukisan itu memang sangat mirip dengan saya, Tuan. Saya tersanjung dan sangat berbangga hati tentang ini. Saat melihatnya, saya merasa… sedih.”

“Jelaskan.”

“Raut wajah wanita di dalam lukisan itu sangat kosong, seolah dia sudah tidak memiliki pilihan. Sorot matanya begitu menyedihkan. Hanya ada kehampaan dan putus asa...”

Aisar tidak langsung menjawab. Ia lalu mendengus kecil, terdengar seperti tawa sarkastik.

“Dan apa kau lupa? Sorot ini adalah sorot mata pertama yang kulihat di malam itu. Sekarang, bahkan kau sendiri yang mencemoohnya?”

Elowen menunduk, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih. Ada sesuatu dalam ucapannya yang terasa menusuk, tapi dia menelannya mentah-mentah. Membantah tidak akan mengubah apa pun—justru bisa menghancurkannya.

“Maafkan saya Tuan… maafkan saya. Saya telah lancang mengkritik lukisan indah ini.”

Aisar kembali menatap lukisan itu dalam diam. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mencengkeram kuas hingga hampir patah.

Merasakan aura pria itu berubah, Elowen tidak berani melakukan apa-apa. Hanya berdiri terpaku di sana.

Lalu, tanpa peringatan, Aisar menyapu cat di palet dan menumpahkannya ke atas kanvas itu dengan kasar.

“Aku tidak membutuhkan lukisan ini lagi.”

Elowen terkesiap ketika coretan kuas itu mengaburkan potret gadis itu, seolah menghapus kenangan yang ingin dilupakan.

Ia tercengang. Apakah ia salah bicara, dan sekarang tuannya ini marah hingga menghancurkan lukisan itu?

“M-maafkan saya, Tuan. Saya salah bicara. Saya tidak bermaksud mengkritik—”

“Tidak perlu,” potong Aisar dingin. “Tidak ada yang perlu dikenang. Tidak ada yang perlu diperbaiki.”

Hawa dingin mulai merayap menyentuh puncak dadanya. Elowen seketika membungkuk dalam. Dia tidak menyangka pria yang dihormatinya karena telah menyelamatkannya, memiliki aura yang sangat dingin.

Apa Elowen menyinggungnya karena telah mengungkit malam itu? Elowen sontak membungkuk, ia harus segera memperbaiki kesalahannya.

“S-saya…” tuturnya gemetar. “Saya benar-benar sangat bersyukur bertemu dengan Anda! Anda sudah membebaskan saya malam itu. Saya berhutang budi. Dan karena saya dipertemukan kembali dengan Anda, saya akan berusaha membayar hutang budi saya pada Anda.”

Dia membungkuk lebih dalam.

“Hanya itu?”

Ada suara decit pelan ketika Aisar berdiri dari kursinya, lalu maju satu langkah, tapi Elowen ikut mundur dua langkah.

Punggung Elowen menabrak salah satu pilar aula, saat itulah ia tak bisa kabur. Tubuh besar Aisar memojokkannya.

Hembusan napas kasar Aisar menerpa wajahnya, membuatnya tidak berani menatapnya.

“Saya sudah selesai, Tuan... Tugas saya hanya mengantarkan pesanan Tuan. Kalau begitu, saya mohon undur diri,” ucapnya sedikit gemetar.

Elowen baru ingat.

Para pelayan senior sudah memperingatkannya. Paviliun ini dihuni oleh seorang monster berdarah dingin.

Dan sosok yang disebut monster itu, kini sedang menatapnya dengan sorot mata tajam dan dingin, seperti predator yang hampir menerkam mangsanya.

“Kau sendiri yang bilang, akan membayar hutang budimu padaku… bagaimana kau akan melakukannya?”

^^^

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
seru kk kisahnya...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 195. Epilog

    Sudah sekitar dua pekan Aisar dinobatkan sebagai raja. Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan benar-benar berubah. Bahkan untuk sekedar bertemu dengan Elowen saja sulit. “Kenapa, Baginda?” tanya Silas saat mendengar hembusan napas kasar Aisar. “Ada yang mengganggu pikiran Baginda hari ini?” Aisar melirik sekilas, lalu mendengus kasar. “Kalau tahu jadi raja akan sesibuk ini, aku malas menerima tahta ini.” Aisar menopang wajah dengan kedua tangannya. Di depannya ada banyak dokumen yang harus dia lihat. Namun belum sempat kembali berucap, Aisar tak sengaja melihat Elowen yang hendak pergi ke perpustakaan. Pria itu bangkun dengan ekspresi yang sumringah. “Kerjakan ini dulu, Silas. Aku ada misi rahasia,” katanya. “Maksud Tuan—” Aisar hanya mengangkat tangannya sambil berlalu. “Ini lebih penting dari tugas kerajaan—Elowen!” seru Aisar. Mendengar suara itu, Silas hanya menatap punggung Aisar lelah. “Atau mungkin Baginda Dominique memang terlalu cepat mengangkatnya sebag

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 194. Raja Veloisea

    Tiga minggu telah berlalu sejak nama Lady Isabella Veloisea dan Keluarga Virelle dipulihkan.Musim semi akhirnya benar-benar datang ke Kerajaan Veloisea. Taman-taman istana dipenuhi bunga yang bermekaran. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut kota, sementara jalan utama dipenuhi rakyat yang sejak pagi sudah berbaris rapi.“Apa Anda gugup Tuan?” tanya Silas. Aisar tahu itu bukan pertanyaan biasa. Dia menoleh, lalu tersenyum. “Sejak kapan aku gugup? Bukankah kau tahu aku ini selalu percaya diri dan berani?”Silas tersenyum lalu mengangguk. Dia lega, akhirnya perjuangan Aisar selama ini sampai di titik yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. “Mulai hari ini yang Tuan genggam bukan hanya kuas dan cat air, tapi kerajaan dan mahkotanya,” goda Silas lagi. Aisar tidak langsung menjawab. Dadanya sedikit membusung dengan kedua tangan terkepal kuat. “Entahlah, Silas. Rasanya melukis lebih mudah daripada memegang tahta,” katanya. Suara terompet kerajaan menggema dari segala penjuru is

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 193. Nama Yang Dipulihkan

    “Baginda Raja Veloisea telah tiba!” Suara terompet penyambutan, membuat seluruh bangsawan berdiri serempak. Mereka membungkuk hormat, sambil sesekali melirik Aisar yang masih tertatih dibantu oleh Elowen dan Silas. “Kenapa Tuan tidak mau disambut?” bisik Silas. Aisar hanya terkekeh. “Tidak usah. Buat apa, aku tidak biasa mendapat sambutan seperti itu. Aku kan sudah ada yang menyambut.” Silas berkedip ringan. Dia sepertinya jadi penghalang mutlak dua orang yang dimabuk cinta ini. “Baiklah, baiklah.” Aula utama Kerajaan Veloisea kembali dipenuhi para bangsawan. Tidak ada lagi bisikan-bisikan kecil yang terdengar. Semua orang berdiri dengan wajah tegang, menunggu keputusan terakhir yang akan mengubah sejarah kerajaan. Dominique duduk di atas singgasana dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Di sisi kanannya, Aisar duduk di kursi yang telah disiapkan tabib. Wajahnya masih pucat, tapi tatapannya tetap setajam biasanya. Elowen berdiri tepat di sampi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 192. Sebuah Penebusan Dosa

    “Aisar maafkan aku… Aku mohon jangan hukum Aurelia. Tolong... dia tidak bersalah.” Aisar tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya diam menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. Sulit dipercaya, pria yang dulu selalu berdiri dengan kepala tegak dan penuh kesombongan kini bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. “Adrien—” gumam Aisar pelan. Adrien kembali menangis. Bahunya bergetar hebat. Matanya yang basah menatap Aisar. “A-aku memang pantas menerima semua hukuman ini. Aku pantas dipenjara. Aku pantas kehilangan segalanya. Tapi Aurelia, kau tau dia hanya mengikuti ibuku. Dia tidak pernah mengangkat pedang kepadamu. Dia hanya terbawa arus, Aisar.” Dominique ikut memperhatikan putra yang selama ini selalu dibelanya. Baru kali ini Adrien benar-benar mengakui kesalahannya. “Bagaimana dengan Elowen?” tanya Aisar datar. Adrien perlahan menoleh. “Dia yang sudah kau tusuk dengan belati dan melawan rasa sakitnya.” Tatapannya bertemu dengan Elowen yang sejak tadi berdiri di samping

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   191. Seorang Pecundang

    “Pangeran Adrien. Dia mengamuk dan ingin bertemu dengan Tuan Muda. Dia bahkan berhasil melukai satu prajurit.” Senyum di wajah Aisar perlahan memudar. Tatapannya langsung beralih kepada Dominique yang juga tampak mengernyit. “Dia masih ingin melawan?” tanya Dominique dingin. “Adrien memang tidak bisa diberi kesempatan sedikit saja.” Silas menggeleng pelan. Dia melirik Aisar yang sepertinya memikirkan hal yang sama. “Tidak, Baginda. Keadaannya sedikit berbeda,” ujar Silas. Dia menatap mereka silih berganti, lalu berhenti pada Elowen. “Dia mungkin memang ingin bertemu dengan Tuan Muda dan Elowen.” “Maksudmu?” tanya Dominique. “Dia—” “Mungkin dia ingin minta maaf,” kata Aisar. Dia kembali bersandar karena rasa nyeri datang lagi. “Tuan, berbaringlah… lukanya masih basah,” ujar Elowen khawatir. Aisar hanya menggeleng, lalu menarik gadis itu duduk di sampingnya. “Coba jelaskan lagi.” Aisar kembali menatap Silas. Namun Silas tidak langsung menjawab. Dia melirik Dominique taku

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 190. Maaf Yang Terlambat

    “Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 5. Aisar Leonel

    “Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergeta

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 4. Lady Seraphine

    “Tujuan?” tanya salah satu penjaga dengan suara tegas.Elowen sedikit tersentak, lalu buru-buru menunduk sopan. Napasnya bahkan ikut tertahan beberapa saat.“Sa-saya… saya ingin melamar sebagai pelayan, Tuan. Ini surat rekomendasi saya,” ujar Elowen seraya memberikan surat itu dengan tangan gemetar

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 3. Jalan Menuju Istana

    Dua hari setelah malam itu, Elowen tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.Cerita dia yang dijual di rumah bordil, menyebar seperti kobaran api di ladang kering. Semua uang hasil menjual dirinya telah berpindah tangan—diterima dengan wajah puas oleh ibu tirinya. Dan sebagai balasan, Elowen diusi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 2. Malam Pembebasan

    “Tu-Tuan, kumohon ...” dia kembali terisak. Elowen mundur setengah langkah, napasnya tersengal. Refleks tangannya menyilang didepan dada dan merapatkan kakinya—berusaha menutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis—apabila terkena cahaya tubuhnya akan menerawang dan terlihat jelas. “Aku tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status