Share

Bab 5. Aisar Leonel

Penulis: Min Ye-Rin
last update Tanggal publikasi: 2026-04-29 12:55:09

“Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”

Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergetar.

“A… apa setiap pelayan, pasti akan ke tempat itu, Nyonya?”

Hening sejenak. Lady Seraphine tidak langsung menjawab. Tepat ketika dia berpapasan dengan seseorang yang berdiri di depan balkon paviliun, dia segeran menundukkan wajahnya, lalu bertolak pergi.

Elowen yang terkejut, refleks mengekor tanpa bertanya.

“Itu bukan tempat untuk pelayan biasa,” katanya akhirnya. “Dan bukan tempat untuk rasa ingin tahu yang berlebihan. Cukup kau tahu kalau di sana berbahaya.”

Elowen langsung menunduk lebih dalam. “Maaf, Nyonya, saya sudah lancang. Saya akan mengingatnya dengan baik.”

Lady Seraphine kembali menghentikan langkahnya. Begitupun dengan Elowen yang juga berhenti dua langkah di belakangnya.

“Ingat ini, Elowen. Di istana, tahu terlalu banyak bisa menjadi bahaya. Jadi kau harus tahu batasanmu, dan jangan pernah ikut campur atas semua yang bukan bagianmu.”

“Iya, Nyonya. Saya mengerti.”

Namun meskipun sudah menunduk, tanpa sadar mata Elowen kembali melirik paviliun itu. Dia tidak bisa sepenuhnya berpaling dari tempat monster itu berada.

Siluet di balkon membuatnya menegang. Entah kenapa dia terasa familiar. Dadanya kembali berdegup lebih cepat.

Sedangkan di balkon paviliun, seorang pria bertubuh tegap dengan rambut yang masih acak-acakan dan basah, menatap ke arah Elowen.

Sorot mata yang berkilat tajam, seperti melihat mangsa yang diincar akhirnya datang padanya tanpa perlu diminta.

^^^

Seorang pria dengan tubuh tegap, kemeja putih yang dibuka kancing atasnya, rambutnya tampak basah. Namun matanya tak lepas dari pemandangan asing di area istana.

“Yang Mulia Aisar Leonel,” panggil seorang pengawal sambil menunduk di depan pria itu.

Aisar Leonel menoleh, sorot mata dinginnya mengamati pengawal yang selalu setia padanya di paviliun ini.

“Silas,” panggil Aisar padanya.

“Tuan muda memanggil hamba?” jawab Silas Ravenwood.

“Katakan padaku. Siapa dia?”

Silas mengikuti arah tatapan Aisar. Dia menangkap seorang gadis desa yang sedang berjalan keliling istana dengan Lady Seraphine.

“Dia pelayan baru, Tuan,” ujar Silas, seraya kembali menunduk.

Aisar tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada sosok gadis itu—cara jalannya yang kikuk, matanya yang terus bergerak seolah takut melakukan kesalahan, dan pakaian sederhana yang terasa terlalu kontras dengan kemewahan istana.

“Pelayan?” ulangnya pelan. “Apa kerajaan sedang membutuhkan pelayan baru?” dia meraih kuas yang ada di meja balok, tatapannya beralih dari jendela ke kanvas lukis di depannya.

“Belum ada laporan resmi, tapi Lady Seraphine sendiri yang membawanya masuk. Itu sudah cukup menjelaskan posisinya.” Silas sedikit melirik Aisar yang sudah kembali sibuk dengan lukisannya. “Apa Tuan muda membutuhkan informasinya?”

Aisar Leonel mengangkat wajahnya yang mengeras. “Tidak. Aku tidak ada urusan dengan istana. Terserah mereka mau membawa pelayan baru atau badut baru. Aku tidak peduli.”

“Maafkan hamba, Tuan.” Silas kembali mundur dua langkah. Membuat cukup jarak seperti apa yang selalu Aisar minta.

Aisar berhenti melukis. Kini ia melirik kembali keluar jendela, matanya masih menyorot tajam.

Di kejauhan, gadis itu hampir tersandung saat langkahnya terlalu cepat mengikuti Lady Seraphine. Refleks, ia menunduk berkali-kali meminta maaf, membuat beberapa pelayan lain menahan tawa kecil.

“Gadis itu…” gumamnya. Ia lalu menatap Silas tajam. “Bawa dia kesini. Aku ingin menemuinya secara langsung.”

“Segera, Tuan.”

Silas langsung pergi untuk memenuhi keinginan Tuan mudanya.

^^^

“Elowen!” seru Elis—seorang pelayan senior yang tiba-tiba datang.

Elowen yang hendak menyantap makan siangnya, langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat.

“Iya… saya,” sahutnya patuh.

“Antarkan ini ke paviliun,” ujar Elis sambil memberikan sebuah bingkisan berwarna coklat.

“Ingat Elowen, jangan pernah mengangkat wajahmu. Kau hanya perlu mengantarkan ini dan segera kembali. Tidak usah melakukan hal lain. Tidak usah berbuat yang tidak penting.”

Degup jantung Elowen sudah semakin kencang. Kedua tangannya gemetar ketika meraih bingkisan itu.

“Sa… saya harus ke paviliun sendiri?” tanya Elowen ragu, sebab ini hari pertamanya bekerja. Dan ia sudah dengar desas-desus tentang sosok berbahaya di paviliun.

“Jangan membantah!” bentak Elis. “Lakukan tugasmu.”

“B-baik, Nyonya,” jawab Elowen refleks. Bentakan itu membuatnya kaget dan pucat pasi.

“Pergilah. Segera selesaikan tugas pertamamu. Ingat pesanku.”

Elowen berjalan dengan tergesa. Dia berjalan melewati pintu samping sesuai arahan dari para penjaga yang biasa mengantar pesanan ke paviliun.

‘Ayo Elowen. Kau hanya perlu mengantarkan ini, lalu kembali,’ pikirnya.

Pintu paviliun yang tinggi menjulang, kini sudah ada di depannya. Dia menelan salivanya sudah payah.

Perlahan dia mendorong pintu itu. Suara deritnya membuat bulu kuduknya meremang.

Paviliun itu benar-benar sepi. Sesuai rumor yang sudah Elowen dengar, tidak ada pelayan yang bekerja di dekat sini—kecuali yang ditugaskan secara khusus, seperti dirinya.

Ruangan utama paviliun tidak begitu terang. Hanya dihiasi beberapa lampu dengan sinar pucat dan tungku api yang masih menyala.

Tubuh Elowen membeku, ketika matanya menatap seorang pria dengan postur tubuh tinggi besar sedang menghadap ke arah jendela yang terbuka.

“Sa… saya mengantarkan pesanan ini, Tuan—”

Mata mereka bertemu. Jantung Elowen seperti lupa bagaimana caranya bekerja.

Elowen mundur dengan mata yang tidak lepas dari pria di depannya. Dia sampai terjatuh ketika tak sengaja menginjak gaunnya sendiri.

“Tu … Tuan…”

“Apa kabarmu, Elowen Virelle?” tanya pria itu, melirik ke arah Elowen sebelum kembali menatap lukisannya. “Bagaimana lukisanku? Kau menyukainya? Apa sudah mirip denganmu?”

Suara itu menggema pelan di tengah aula yang sepi.

Pria itu. Pria yang dirumorkan sebagai monster berdarah dingin, adalah pria yang sama yang sudah membebaskannya dari jeratan rumah bordil malam itu!

^^^

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
wahhh beruntung nih si Elowen. bertemu lagi dengan pria itu.
goodnovel comment avatar
vrimerose
Bakal seru nih Elowen dan Aisar
goodnovel comment avatar
Lavenhaze
MEREKA KETEMU LAGI??? WAH BAKAL PECAH SIH INI
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 195. Epilog

    Sudah sekitar dua pekan Aisar dinobatkan sebagai raja. Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan benar-benar berubah. Bahkan untuk sekedar bertemu dengan Elowen saja sulit. “Kenapa, Baginda?” tanya Silas saat mendengar hembusan napas kasar Aisar. “Ada yang mengganggu pikiran Baginda hari ini?” Aisar melirik sekilas, lalu mendengus kasar. “Kalau tahu jadi raja akan sesibuk ini, aku malas menerima tahta ini.” Aisar menopang wajah dengan kedua tangannya. Di depannya ada banyak dokumen yang harus dia lihat. Namun belum sempat kembali berucap, Aisar tak sengaja melihat Elowen yang hendak pergi ke perpustakaan. Pria itu bangkun dengan ekspresi yang sumringah. “Kerjakan ini dulu, Silas. Aku ada misi rahasia,” katanya. “Maksud Tuan—” Aisar hanya mengangkat tangannya sambil berlalu. “Ini lebih penting dari tugas kerajaan—Elowen!” seru Aisar. Mendengar suara itu, Silas hanya menatap punggung Aisar lelah. “Atau mungkin Baginda Dominique memang terlalu cepat mengangkatnya sebag

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 194. Raja Veloisea

    Tiga minggu telah berlalu sejak nama Lady Isabella Veloisea dan Keluarga Virelle dipulihkan.Musim semi akhirnya benar-benar datang ke Kerajaan Veloisea. Taman-taman istana dipenuhi bunga yang bermekaran. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut kota, sementara jalan utama dipenuhi rakyat yang sejak pagi sudah berbaris rapi.“Apa Anda gugup Tuan?” tanya Silas. Aisar tahu itu bukan pertanyaan biasa. Dia menoleh, lalu tersenyum. “Sejak kapan aku gugup? Bukankah kau tahu aku ini selalu percaya diri dan berani?”Silas tersenyum lalu mengangguk. Dia lega, akhirnya perjuangan Aisar selama ini sampai di titik yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. “Mulai hari ini yang Tuan genggam bukan hanya kuas dan cat air, tapi kerajaan dan mahkotanya,” goda Silas lagi. Aisar tidak langsung menjawab. Dadanya sedikit membusung dengan kedua tangan terkepal kuat. “Entahlah, Silas. Rasanya melukis lebih mudah daripada memegang tahta,” katanya. Suara terompet kerajaan menggema dari segala penjuru is

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 193. Nama Yang Dipulihkan

    “Baginda Raja Veloisea telah tiba!” Suara terompet penyambutan, membuat seluruh bangsawan berdiri serempak. Mereka membungkuk hormat, sambil sesekali melirik Aisar yang masih tertatih dibantu oleh Elowen dan Silas. “Kenapa Tuan tidak mau disambut?” bisik Silas. Aisar hanya terkekeh. “Tidak usah. Buat apa, aku tidak biasa mendapat sambutan seperti itu. Aku kan sudah ada yang menyambut.” Silas berkedip ringan. Dia sepertinya jadi penghalang mutlak dua orang yang dimabuk cinta ini. “Baiklah, baiklah.” Aula utama Kerajaan Veloisea kembali dipenuhi para bangsawan. Tidak ada lagi bisikan-bisikan kecil yang terdengar. Semua orang berdiri dengan wajah tegang, menunggu keputusan terakhir yang akan mengubah sejarah kerajaan. Dominique duduk di atas singgasana dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Di sisi kanannya, Aisar duduk di kursi yang telah disiapkan tabib. Wajahnya masih pucat, tapi tatapannya tetap setajam biasanya. Elowen berdiri tepat di sampi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 192. Sebuah Penebusan Dosa

    “Aisar maafkan aku… Aku mohon jangan hukum Aurelia. Tolong... dia tidak bersalah.” Aisar tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya diam menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. Sulit dipercaya, pria yang dulu selalu berdiri dengan kepala tegak dan penuh kesombongan kini bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. “Adrien—” gumam Aisar pelan. Adrien kembali menangis. Bahunya bergetar hebat. Matanya yang basah menatap Aisar. “A-aku memang pantas menerima semua hukuman ini. Aku pantas dipenjara. Aku pantas kehilangan segalanya. Tapi Aurelia, kau tau dia hanya mengikuti ibuku. Dia tidak pernah mengangkat pedang kepadamu. Dia hanya terbawa arus, Aisar.” Dominique ikut memperhatikan putra yang selama ini selalu dibelanya. Baru kali ini Adrien benar-benar mengakui kesalahannya. “Bagaimana dengan Elowen?” tanya Aisar datar. Adrien perlahan menoleh. “Dia yang sudah kau tusuk dengan belati dan melawan rasa sakitnya.” Tatapannya bertemu dengan Elowen yang sejak tadi berdiri di samping

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   191. Seorang Pecundang

    “Pangeran Adrien. Dia mengamuk dan ingin bertemu dengan Tuan Muda. Dia bahkan berhasil melukai satu prajurit.” Senyum di wajah Aisar perlahan memudar. Tatapannya langsung beralih kepada Dominique yang juga tampak mengernyit. “Dia masih ingin melawan?” tanya Dominique dingin. “Adrien memang tidak bisa diberi kesempatan sedikit saja.” Silas menggeleng pelan. Dia melirik Aisar yang sepertinya memikirkan hal yang sama. “Tidak, Baginda. Keadaannya sedikit berbeda,” ujar Silas. Dia menatap mereka silih berganti, lalu berhenti pada Elowen. “Dia mungkin memang ingin bertemu dengan Tuan Muda dan Elowen.” “Maksudmu?” tanya Dominique. “Dia—” “Mungkin dia ingin minta maaf,” kata Aisar. Dia kembali bersandar karena rasa nyeri datang lagi. “Tuan, berbaringlah… lukanya masih basah,” ujar Elowen khawatir. Aisar hanya menggeleng, lalu menarik gadis itu duduk di sampingnya. “Coba jelaskan lagi.” Aisar kembali menatap Silas. Namun Silas tidak langsung menjawab. Dia melirik Dominique taku

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 190. Maaf Yang Terlambat

    “Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 28. Diantara Dua Pangeran

    Elowen mengangguk cepat. Patuh. Dan penuh ketakutan. “Y-ya, Tuan.” Setelah pintu tertutup, Elowen perlahan memeluk lututnya sendiri. “Apa yang harus kulakukan?” Kelemahan Tuan Muda. Mainannya. Jangan menyulitkan Tuan Muda Aisar. Semua kalimat itu terus berputar di kepalanya. “Apa keputusanku u

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 3. Jalan Menuju Istana

    Dua hari setelah malam itu, Elowen tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.Cerita dia yang dijual di rumah bordil, menyebar seperti kobaran api di ladang kering. Semua uang hasil menjual dirinya telah berpindah tangan—diterima dengan wajah puas oleh ibu tirinya. Dan sebagai balasan, Elowen diusi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 2. Malam Pembebasan

    “Tu-Tuan, kumohon ...” dia kembali terisak. Elowen mundur setengah langkah, napasnya tersengal. Refleks tangannya menyilang didepan dada dan merapatkan kakinya—berusaha menutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis—apabila terkena cahaya tubuhnya akan menerawang dan terlihat jelas. “Aku tida

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 1. Malam Mencekam

    “Lepaskan aku! Kumohon… lepaskan!” Suara tangis Elowen Virelle pecah di tengah ruangan mewah yang dipenuhi tawa menjijikkan. Air matanya merusak riasan tebal yang dipaksakan ke wajahnya—bedak pucat dan lipstik merah yang terasa asing di bibirnya. Tubuh kecil itu berusaha memberontak, namun c

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status