Share

Bab 4. Lady Seraphine

Penulis: Min Ye-Rin
last update Tanggal publikasi: 2026-04-29 12:54:23

“Tujuan?” tanya salah satu penjaga dengan suara tegas.

Elowen sedikit tersentak, lalu buru-buru menunduk sopan. Napasnya bahkan ikut tertahan beberapa saat.

“Sa-saya… saya ingin melamar sebagai pelayan, Tuan. Ini surat rekomendasi saya,” ujar Elowen seraya memberikan surat itu dengan tangan gemetar. Wajahnya masih tertunduk dengan sebelah tangan mencengkram pinggiran gaunnya.

Penjaga itu mengambil suratnya, membaca sekilas, lalu melirik Elowen dari atas ke bawah. Tatapannya tajam, seolah menilai orang seperti apa yang berani melamar sebagai pelayan hanya dengan mengandalkan surat rekomendasi.

“Ahhh… kau mengenal Suster Marielle rupanya.” Beberapa detik terasa seperti selamanya. “Masuk. Laporkan ke aula pelayan,” katanya tegas.

Elowen mengangguk cepat. “Terima kasih, Tuan.”

Langkahnya terasa ringan sekaligus berat saat melewati gerbang besar itu. Matanya terus menelanjangi setiap sudut istana yang isinya hanya kemewahan. Ini pertama kalinya ia masuk ke tempat seperti ini.

Namun ada sesuatu yang membuat langkahnya berhenti beberapa saat. Tak jauh dari tempatnya, berdiri sebuah paviliun mewah bernuansa klasik dengan desain interior yang tidak begitu mewah. Tapi justru itulah yang sangat mencolok dari keseluruhan istana ini.

“Cepat!” seruan penjaga, membuat Elowen kembali melangkah.

“Ba… baik, Tuan…”

Matanya sempat melirik untuk yang terakhir kali dan dia berhasil menangkap siluet tegap yang sedang berdiri di balkon paviliun.

Dengan langkah tergesa menyeimbangi langkah pengawal, mata Elowen tidak berhenti menatap setiap sudut istana. Tempat yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.

Keindahan taman yang tertata rapi, air mancur yang berkilau di bawah sinar matahari, dan lorong-lorong luas yang dipenuhi lukisan bangsawan, mampu membuatnya benar-benar kagum.

Ada rasa kecil dalam dirinya. Seperti ia tidak pantas berada di sini. Dia semakin menundukkan kepala ketika berpapasan dengan pelayan-pelayan yang sedang bekerja.

‘Mereka semua bahkan mengenakan gaun yang sangat indah,’ ia berusaha menilai dirinya sendiri. ‘Sedangkan aku… hanya memakai gaun usang tanpa riasan sedikitpun. Wajah pucat, bibir kering. Kau memang sangat mengenaskan, Elowen.’

Gadis itu terus menunduk sepanjang jalan. Ia tidak berani menatap siapa pun terlalu lama.

Sampai akhirnya suara berat kembali membuat langkahnya terhenti. Elowen meremas kedua tangannya, menyalurkan rasa gugup dan takut di sana.

“Berhenti di situ.” Suara itu tajam. Tegas. Dan tidak memberi ruang untuk membantah.

Di ujung lorong berdiri seorang wanita dengan postur tegap. Rambutnya disanggul rapi tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Gaunnya sederhana, namun terlihat sangat bersih dan teratur. Tatapan dinginnya langsung menghunus ke arah Elowen.

“Nama?” tanyanya dingin.

“Elowen… Elowen Virelle, Nyonya…”

Wanita itu mendekat perlahan. Dia benar-benar terlatih. Setiap langkanya penuh perhitungan dan sangat rapi. Tidak memperlihatkan cela sedikitpun.

“Aku Lady Seraphine. Kepala pelayan di istana ini.”

Jantung Elowen langsung berdegup lebih cepat. Ternyata wanita di depannya adalah orang penting yang harus ditemui.

Dia menunduk semakin dalam. Tangannya mulai berkeringat. Mungkin kalau bisa, dia ingin masuk ke dalam gembolan baju yang dia bawa, untuk menghindari tatapan dingin itu.

‘Dia anggun sekali…’

Lady Seraphine mengambil surat dari tangan penjaga yang berdiri di dekatnya, lalu membacanya dengan seksama. Hening merambat di antara mereka. Hanya suara langkah pelayan lain yang berlalu-lalang di kejauhan.

Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali bersuara, “Kau dari gereja?”

“Iya, Nyonya…”

Lady Seraphine mengangkat dagunya sedikit. Dia memiringkan wajahnya untuk bisa menatap Elowen lebih dalam.

“Tidak ada pengalaman?”

“Ti… tidak ada, Nyonya.”

Itu bukan sepenuhnya benar. Dia jelas pernah menjadi pelayan di rumah seorang bangsawan dan berakhir menyedihkan. Orang tuanya terlilit hutang, sampai harus menyeretnya ke rumah bordil itu.

Tapi ia tidak mungkin menceritakan masa lalunya. Dan ia tidak akan pernah melakukannya.

Lady Seraphine menatapnya lama. Tatapan yang masih saja tajam, seolah bisa melihat sesuatu yang disembunyikan oleh gadis lugu di depannya.

“Di istana ini, kami tidak menerima orang yang lemah, ceroboh, atau penuh masalah.”

Dada Elowen menyempit dalam sekejap. Penuh masalah? Dia bukan hanya penuh masalah, tapi biang dari masalah. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?

“Tapi… kami juga tidak menilai dari masa lalu,” lanjutnya. Elowen segera menyambung napasnya.

“Selama kau tahu cara menjaga diri dan bekerja dengan benar. Kami bisa menerima itu.”

Elowen perlahan mengangkat wajahnya. Ada secercah harapan di sana. Dia juga tidak segugup sebelumnya.

“Jika kau diterima di sini, kau bukan lagi siapa pun selain pelayan istana. Tidak ada cerita lama. Tidak ada alasan. Hanya kerja dan pengabdian pada Kerajaan Valoisea. Apa kau mengerti?”

Elowen mengangguk cepat. “Saya mengerti, Nyonya.”

“Baik,” lanjutnya. “Kau akan menjalani masa percobaan selama dua minggu. Gunakan waktu itu untuk belajar dengan cepat.”

“Saya mengerti!” jawabnya cepat. “Saya akan berusaha bekerja dengan baik, Nyonya.”

Lady Seraphine berbalik dengan sangat anggun. “Ikuti aku.”

^^^

Langkah kaki Lady Seraphine terdengar mantap menyusuri lorong panjang istana.

‘Kalau kepala pelayan saja seanggun ini, bagaimana dengan Sang Ratu dan Putri Raja.’

Elowen menggeleng kasar. Dia tidak boleh berpikiran aneh. Dia harus ingat kalau dia datang ke istana hanya untuk bekerja.

“Perhatikan dengan baik,” ucap Lady Seraphine tanpa menoleh. “Istana ini bukan tempat untuk berkhayal. Setiap sudut memiliki aturan. Setiap langkah memiliki arti.”

Mereka melewati aula utama yang luas, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan dewa-dewi dan sejarah kerajaan. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca berwarna, menciptakan pantulan warna-warni di lantai marmer yang mengkilap.

“Itu aula perjamuan,” jelas Lady Seraphine sambil menunjuk ke ruangan besar di sebelah kiri.

Tempatnya cukup luas dan sangat mewah. Meja yang membentang dengan kursi-kursi berjejer rapi, dihiasi dengan lampu-lampu gantung yang menyala redup dan menenangkan.

Elowen kembali tersenyum kagum. Baru tempat perjamuan yang dia lihat, tapi rasanya dia mulai menginjakkan kaki di negeri dongeng yang selalu menjadi penghantar tidur.

“Aula adalah tempat para bangsawan dan tamu penting berkumpul. Kau tidak akan masuk ke sana kecuali diperintah. Jadi jangan asal melangkah.”

Elowen menelan ludahnya. Semua khayalannya hilang dalam sekejap mata. Dia kembali mengamati dengan kagum. Bedanya, kali ini lebih hati-hati.

“Di sisi timur, itu dapur utama. Di sana sangat disiplin sangat ketat. Kesalahan kecil saja bisa berakibat besar,” lanjutnya. “Ada banyak juru masak. Tapi itu bukan tugasmu. Kau hanya perlu tahu saya.”

“Iya, Nyonya,” jawab Elowen pelan.

Lady Seraphine akhirnya berhenti di sebuah jendela besar yang menghadap ke taman belakang istana.

“Dan itu—”

Elowen mengikuti arah pandangnya. Di kejauhan, berdiri paviliun yang tadi sempat ia lihat dari gerbang—bangunan yang berbeda dari kemewahan istana lainnya.

Dari jarak dekat seperti ini, Elowen bisa melihat detailnya dengan jelas. Dindingnya berwarna krem pucat, dengan jendela-jendela tinggi yang terbuka sebagian. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin.

Ada sesuatu tentang tempat itu. Sesuatu yang berhasil membuat dadanya terasa aneh.

“Itu Paviliun Utara,” ujar Lady Seraphine dengan nada yang sedikit berbeda—lebih rendah, lebih berhati-hati.

Lady Seraphine mendekatkan dirinya dengan Elowen. Membuat gadis itu mundur satu langkah.

“Jangan sekali-kali kau ke tempat itu, selain untuk bertugas. Itu adalah tempat terlarang, terutama untuk sebagian orang sepertimu.”

Dia bicara dengan hati-hati. Suaranya bahkan langsung membuat bulu kuduk Elowen meremang.

Elowen memperhatikan lebih saksama. “Siapa yang tinggal di sana, Nyonya?” tanyanya tanpa sadar.

“Seorang monster tanpa belas kasih,” ujarnya pelan. Dia kembali menjauhkan dirinya dari Elowen, dan menegakkan tubuhnya lagi. “Dia hanya punya dendam. Sosok yang dingin dan kejam.”

^^^

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
makin penasaran ini Thor ...
goodnovel comment avatar
vrimerose
Wah, makin penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 195. Epilog

    Sudah sekitar dua pekan Aisar dinobatkan sebagai raja. Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan benar-benar berubah. Bahkan untuk sekedar bertemu dengan Elowen saja sulit. “Kenapa, Baginda?” tanya Silas saat mendengar hembusan napas kasar Aisar. “Ada yang mengganggu pikiran Baginda hari ini?” Aisar melirik sekilas, lalu mendengus kasar. “Kalau tahu jadi raja akan sesibuk ini, aku malas menerima tahta ini.” Aisar menopang wajah dengan kedua tangannya. Di depannya ada banyak dokumen yang harus dia lihat. Namun belum sempat kembali berucap, Aisar tak sengaja melihat Elowen yang hendak pergi ke perpustakaan. Pria itu bangkun dengan ekspresi yang sumringah. “Kerjakan ini dulu, Silas. Aku ada misi rahasia,” katanya. “Maksud Tuan—” Aisar hanya mengangkat tangannya sambil berlalu. “Ini lebih penting dari tugas kerajaan—Elowen!” seru Aisar. Mendengar suara itu, Silas hanya menatap punggung Aisar lelah. “Atau mungkin Baginda Dominique memang terlalu cepat mengangkatnya sebag

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 194. Raja Veloisea

    Tiga minggu telah berlalu sejak nama Lady Isabella Veloisea dan Keluarga Virelle dipulihkan.Musim semi akhirnya benar-benar datang ke Kerajaan Veloisea. Taman-taman istana dipenuhi bunga yang bermekaran. Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut kota, sementara jalan utama dipenuhi rakyat yang sejak pagi sudah berbaris rapi.“Apa Anda gugup Tuan?” tanya Silas. Aisar tahu itu bukan pertanyaan biasa. Dia menoleh, lalu tersenyum. “Sejak kapan aku gugup? Bukankah kau tahu aku ini selalu percaya diri dan berani?”Silas tersenyum lalu mengangguk. Dia lega, akhirnya perjuangan Aisar selama ini sampai di titik yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. “Mulai hari ini yang Tuan genggam bukan hanya kuas dan cat air, tapi kerajaan dan mahkotanya,” goda Silas lagi. Aisar tidak langsung menjawab. Dadanya sedikit membusung dengan kedua tangan terkepal kuat. “Entahlah, Silas. Rasanya melukis lebih mudah daripada memegang tahta,” katanya. Suara terompet kerajaan menggema dari segala penjuru is

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 193. Nama Yang Dipulihkan

    “Baginda Raja Veloisea telah tiba!” Suara terompet penyambutan, membuat seluruh bangsawan berdiri serempak. Mereka membungkuk hormat, sambil sesekali melirik Aisar yang masih tertatih dibantu oleh Elowen dan Silas. “Kenapa Tuan tidak mau disambut?” bisik Silas. Aisar hanya terkekeh. “Tidak usah. Buat apa, aku tidak biasa mendapat sambutan seperti itu. Aku kan sudah ada yang menyambut.” Silas berkedip ringan. Dia sepertinya jadi penghalang mutlak dua orang yang dimabuk cinta ini. “Baiklah, baiklah.” Aula utama Kerajaan Veloisea kembali dipenuhi para bangsawan. Tidak ada lagi bisikan-bisikan kecil yang terdengar. Semua orang berdiri dengan wajah tegang, menunggu keputusan terakhir yang akan mengubah sejarah kerajaan. Dominique duduk di atas singgasana dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Di sisi kanannya, Aisar duduk di kursi yang telah disiapkan tabib. Wajahnya masih pucat, tapi tatapannya tetap setajam biasanya. Elowen berdiri tepat di sampi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 192. Sebuah Penebusan Dosa

    “Aisar maafkan aku… Aku mohon jangan hukum Aurelia. Tolong... dia tidak bersalah.” Aisar tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya diam menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. Sulit dipercaya, pria yang dulu selalu berdiri dengan kepala tegak dan penuh kesombongan kini bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. “Adrien—” gumam Aisar pelan. Adrien kembali menangis. Bahunya bergetar hebat. Matanya yang basah menatap Aisar. “A-aku memang pantas menerima semua hukuman ini. Aku pantas dipenjara. Aku pantas kehilangan segalanya. Tapi Aurelia, kau tau dia hanya mengikuti ibuku. Dia tidak pernah mengangkat pedang kepadamu. Dia hanya terbawa arus, Aisar.” Dominique ikut memperhatikan putra yang selama ini selalu dibelanya. Baru kali ini Adrien benar-benar mengakui kesalahannya. “Bagaimana dengan Elowen?” tanya Aisar datar. Adrien perlahan menoleh. “Dia yang sudah kau tusuk dengan belati dan melawan rasa sakitnya.” Tatapannya bertemu dengan Elowen yang sejak tadi berdiri di samping

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   191. Seorang Pecundang

    “Pangeran Adrien. Dia mengamuk dan ingin bertemu dengan Tuan Muda. Dia bahkan berhasil melukai satu prajurit.” Senyum di wajah Aisar perlahan memudar. Tatapannya langsung beralih kepada Dominique yang juga tampak mengernyit. “Dia masih ingin melawan?” tanya Dominique dingin. “Adrien memang tidak bisa diberi kesempatan sedikit saja.” Silas menggeleng pelan. Dia melirik Aisar yang sepertinya memikirkan hal yang sama. “Tidak, Baginda. Keadaannya sedikit berbeda,” ujar Silas. Dia menatap mereka silih berganti, lalu berhenti pada Elowen. “Dia mungkin memang ingin bertemu dengan Tuan Muda dan Elowen.” “Maksudmu?” tanya Dominique. “Dia—” “Mungkin dia ingin minta maaf,” kata Aisar. Dia kembali bersandar karena rasa nyeri datang lagi. “Tuan, berbaringlah… lukanya masih basah,” ujar Elowen khawatir. Aisar hanya menggeleng, lalu menarik gadis itu duduk di sampingnya. “Coba jelaskan lagi.” Aisar kembali menatap Silas. Namun Silas tidak langsung menjawab. Dia melirik Dominique taku

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 190. Maaf Yang Terlambat

    “Minta maaflah pada ibuku.”Kalimat itu menggantung di dalam ruangan. Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara. Bahkan Elowen yang masih menggenggam tangan Aisar ikut menahan napas.Dominique membeku di tempatnya. Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Aisar, melainkan kepada lantai marmer yang terasa begitu dingin di bawah kakinya.Permintaan itu jauh lebih berat daripada hukuman apa pun.Aisar menghela napas pelan. Luka di perutnya kembali berdenyut hingga membuat wajahnya sedikit meringis.“Sejak kecil aku tidak pernah meminta Ayah mengakuiku,” ujarnya dingin. “Aku juga tidak pernah meminta Ayah mencintaiku. Dan sekarang, aku hanya ingin nama ibuku dibersihkan.”Dominique perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya mulai memerah menatap mata Aisar yang masih sayu.“Ibumu adalah wanita yang paling baik yang pernah kutemui,” gumam Dominique lirih. “Aku semakin bersyukur karena dia memberiku putra sepertimu—”“Lalu kenapa Baginda membiarkan semua orang menghinanya?” Kalimat

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 6. Sebuah Lukisan

    Elowen yang sudah bersimpuh dengan tangan meremas gaunnya, berusaha mengangkat wajah. Bukan menatap lukisan itu, tapi matanya justru terpaku pada pria dia depannya. ‘Jadi dia adalah keluarga kerajaan Veloisea? Pria yang sudah membebaskanku dari ancaman malam itu adalah seorang anggota kerajaan?’“

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 5. Aisar Leonel

    “Kalau memang kau diberi tugas untuk mengantar sesuatu ke tempat itu … pastikan kau tidak menatap monster itu. Kalau tidak, kau akan habis diterkamnya.”Degup jantung Elowen sudah di atas manusia normal lainnya. Kini, dia bahkan enggan untuk melirik paviliun itu. Elowen meremas jarinya yang bergeta

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 3. Jalan Menuju Istana

    Dua hari setelah malam itu, Elowen tidak lagi memiliki tempat untuk kembali.Cerita dia yang dijual di rumah bordil, menyebar seperti kobaran api di ladang kering. Semua uang hasil menjual dirinya telah berpindah tangan—diterima dengan wajah puas oleh ibu tirinya. Dan sebagai balasan, Elowen diusi

  • Pelayan Kesayangan Sang Pangeran   Bab 2. Malam Pembebasan

    “Tu-Tuan, kumohon ...” dia kembali terisak. Elowen mundur setengah langkah, napasnya tersengal. Refleks tangannya menyilang didepan dada dan merapatkan kakinya—berusaha menutupi tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis—apabila terkena cahaya tubuhnya akan menerawang dan terlihat jelas. “Aku tida

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status