Masuk“Saya ... saya baru kembali dari dapur, Tuan Duke,” jawab Emily cepat sambil menunduk.Kael melangkah keluar, mendekati Emily hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Emily dengan intensitas yang mencekik.Emily bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, takut jika Kael bisa membaca pikirannya tentang kotak kayu itu.Kael mengulurkan tangannya, bukan untuk mencekik, melainkan untuk menyentuh perban di tangan Emily dengan ujung jarinya yang kasar.“Lucian merawatmu dengan baik,” gumam Kael, lalu matanya menatap perban itu, dan perlahan naik menatap mata Emily.“Pastikan tangan itu cepat sembuh. Karena besok pagi, kau harus ikut denganku berburu.”Emily terbelalak. “Be-besok pagi, Tuan?” tanya Emily memastikan pendengarannya masih baik.“Ya. Kembali ke kamarmu, karena besok pagi sebelum matahari terbit, kau harus sudah siap dengan kudamu!”Kael melangkahkan kakinya meninggalkan Emily yang masih mematung kaku di lorong kastil tersebut sam
“Tahan sedikit, Elian,” gumam Lucian tanpa mendongak, dia tengah membasuh luka lecet di telapak tangan Emily dengan teliti. “Luka ini tidak seberapa dibandingkan apa yang akan Duke lakukan jika dia melihatmu melamun di aula tadi.”Emily menarik napas panjang seraya menatap uap yang naik dari mangkuk air. “Dia benar-benar kejam, Lucian. Dia menjadikan Benny tukang sapu hanya karena Johan lebih cerdik darinya. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada orang yang bisa mempermainkannya.”Lucian menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Emily dengan serius. “Itu bukan sekadar cerdik. Kakakmu maksudku, Johan Dawson tahu cara menggunakan alam. Mengumpan serigala kelaparan dengan darah rusa dan jubah bekas adalah taktik tingkat tinggi. Dia tahu Duke tidak akan berhenti mengejar, jadi dia meminjam taring binatang untuk memperlambat pasukan.”“Tapi tetap saja, Benny tidak bersalah,” sahut Emily lirih.“Di mata Duke, kegagalan adalah dosa terbesar,” Lucian mengikat perban bersih di tangan
“Kau bilang kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, Benny,” suara Kael memecah kesunyian, begitu tenang namun mengandung ancaman yang mematikan.“Kau bilang dia terluka dan terjebak di dalam gua itu.”Benny tampak gemetar hebat mendengar ucapan Kael barusan. “S-saya benar-benar melihatnya, Tuan Duke. Jejak darah itu, jubah biru itu ... saya tidak berbohong.”“Jejak darah dari seekor rusa yang sengaja diseret, dan jubah tua yang dipasangkan pada serigala,” potong Kael datar, lalu berdiri dari kursinya, langkah kakinya bergema lambat saat ia mendekati Benny.“Johan Dawson sudah pergi berjam-jam sebelum kita sampai ke sana. Dia mempermainkanmu, dan kau membiarkan aku ikut dalam permainan bodohnya.”Kael berhenti tepat di depan Benny, lalu menarik sebilah belati dari pinggangnya. Ia menggunakan ujung belati itu untuk mengangkat dagu Benny.“Aku tidak mentoleransi ketidakmampuan, apalagi kebodohan yang membuang-buang waktuku.”Emily yang melihat itu tidak bisa lagi menahan diri. Rasa
Gua batu itu mendadak berubah menjadi neraka yang dingin. Suara teriakan para prajurit berpadu dengan geraman rendah yang mengerikan dari kegelapan.Obor yang dibawa Emily bergoyang hebat saat beberapa ekor serigala berbulu abu-abu kusam melompat keluar dari celah bebatuan.Hewan-hewan itu tampak kurus kering, tulang rusuk mereka menonjol, dan mata mereka berkilat kelaparan.“Mundur! Bentuk barisan!” teriak Benny, namun suaranya tenggelam oleh suara robekan kain dan daging.Emily membeku di tempatnya. Di bawah cahaya obor yang remang, ia melihat seorang prajurit terjatuh dengan seekor serigala besar yang mengunci rahangnya di tenggorokan pria itu.Darah segar menyemprot ke dinding gua, merah dan panas di tengah udara yang membeku. Emily merasakan perutnya bergejolak hebat. Pemandangan itu memicu kembali ingatan tentang malam pembantaian keluarganya.“Tuan Duke, mereka terlalu banyak! Kita harus keluar!” seru salah satu prajurit yang lengannya berdarah.Di tengah kekacauan itu, Kael be
Malam hari telah tiba.Emily baru saja merebahkan tubuhnya di atas alas tidur yang tipis ketika suara derap sepatu bot yang terburu-buru menghantam lantai batu koridor.Dia tersentak duduk, sementara napasnya tertahan di kerongkongan. Ketukan keras terdengar di pintu kamar Kael yang terletak tidak jauh dari bilik kecilnya.Emily lantas bangkit dan melangkah tanpa suara menuju celah pintu. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan.Di luar, cahaya obor bergoyang liar, menyinari wajah Benny yang tampak tegang dan penuh keringat.“Tuan Duke! Bangun, Tuan!” teriak Benny.Pintu kamar Kael terbuka dengan sentakan pelan namun berwibawa. Kael berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja linen hitam yang longgar namun tatapannya sudah setajam pedang.“Ada apa? Jika ini bukan tentang Dawson, kau akan menyesal telah membangunkanku.”“Kami melihatnya, Tuan!” lapor Benny dengan cepat. “Prajurit di menara pengawas melihat sosok pria dengan jubah biru Dawson berlari menuju pegu
Emily kini berada di dalam ruang kerja sang Duke. Wanita itu berdiri sendirian di dekat meja besar yang berantakan, sementara suara langkah kaki para pengawal terdengar menjauh di koridor.Kael sedang berada di kamarnya untuk mengganti pakaian yang kotor oleh debu penjara, memberinya waktu beberapa menit yang sangat berharga.Dengan tangan gemetar, Emily merogoh ke dalam sepatunya dan menarik secarik kertas kusam yang dilemparkan oleh tawanan tadi. Matanya bergerak cepat menyisir tulisan cakar ayam di atasnya.‘Tuan Muda Johan selamat. Dia berhasil keluar dari sungai di hilir dan sekarang sedang mengumpulkan kekuatan di perbatasan utara. Jangan menyerah, Putri.’Emily memejamkan mata sejenak, lalu menghirup napas panjang yang terasa sangat melegakan.‘Johan masih hidup.’Beban yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat sedikit. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Suara derap langkah kaki yang berat dan tegas dari arah koridor membuatnya tersentak.Dia segera me
Kael turun dari kuda dengan gerakan tenang yang mengerikan. Ia melangkah maju, membiarkan ujung pedang besarnya terseret di atas bebatuan, menimbulkan suara srek-srek yang menyayat di sela deru air.Emily turun mengekor di belakangnya, kakinya terasa lemas melihat punggung kakaknya yang bersimbah d
“Katakan sekali lagi, Elian,” ucap Kael kembali. “Kain itu. Kenapa sulamannya identik dengan jubah Dawson?”Emily meremas tali kekangnya, dengan tangan yang terasa kaku. “Tuan Duke, saya sudah mengatakannya. Itu hanya kain pembersih milik saya yang robek. Saya berasal dari desa yang sama dengan pen
Bau amis darah dan erangan prajurit yang terluka mengisi udara lembap di bawah kaki bukit. Kael tidak bergabung dengan tim medis.Ia justru berjalan lurus ke arah Emily yang masih berdiri mematung di balik batu besar. Wajah Duke itu tampak gelap, lebih menyeramkan daripada kegelapan Hutan Obsidian
“Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih