LOGINEmily kini berada di dalam ruang kerja sang Duke. Wanita itu berdiri sendirian di dekat meja besar yang berantakan, sementara suara langkah kaki para pengawal terdengar menjauh di koridor.Kael sedang berada di kamarnya untuk mengganti pakaian yang kotor oleh debu penjara, memberinya waktu beberapa menit yang sangat berharga.Dengan tangan gemetar, Emily merogoh ke dalam sepatunya dan menarik secarik kertas kusam yang dilemparkan oleh tawanan tadi. Matanya bergerak cepat menyisir tulisan cakar ayam di atasnya.‘Tuan Muda Johan selamat. Dia berhasil keluar dari sungai di hilir dan sekarang sedang mengumpulkan kekuatan di perbatasan utara. Jangan menyerah, Putri.’Emily memejamkan mata sejenak, lalu menghirup napas panjang yang terasa sangat melegakan.‘Johan masih hidup.’Beban yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat sedikit. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Suara derap langkah kaki yang berat dan tegas dari arah koridor membuatnya tersentak.Dia segera me
“Dia bicara sesuatu? Suaranya terlalu lemah untuk sampai ke telingaku,” tanya Kael pada Emily.Emily segera menarik napas dalam, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya meski jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan. Dia harus menutupi bisikan itu sebelum Kael menyadarinya.“Dia ... dia hanya mengutuk saya, Tuan Duke,” sahut Emily dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski jemarinya yang memegang besi panas bergetar hebat.“Dia bilang saya akan membusuk di neraka jika menyentuhnya. Dia hanya mencoba menakuti saya agar saya menyerah.”Kael mendengus, lalu matanya menyipit penuh selidik. Dia pun berjalan memutari kursi tawanan itu, jarinya mengetuk-ngetuk gagang pedang di pinggangnya.“Mengutukmu? Menarik. Tampaknya tikus ini masih punya nyali untuk menggertak.”Kael berhenti tepat di samping Emily, hingga hawa dingin dari zirahnya terasa kontras dengan besi panas di tangan gadis itu.“Kalau begitu, tunjukkan padanya bahwa neraka yang dia bicarakan ada di sini, di tanganku. Tekan
“Elian. Ikut aku!”Keesokan harinya, Kael mengajak Emily ke sebuah penjara bawah tanah Ravenshire terasa lembap dan dingin, yang mengeluarkan bau karat besi serta busuk yang menusuk hidung.Emily berjalan di belakang Kael, mengikuti derap langkah sepatu bot pria itu yang bergema di sepanjang lorong batu yang sempit. Hanya ada cahaya obor yang bergoyang di dinding, hingga menciptakan bayangan panjang yang tampak menakutkan.Kael berhenti di depan sebuah jeruji besi yang berat. Dia lalu memberi isyarat kepada penjaga untuk membukanya.Di dalam ruangan kecil itu, seorang pria dengan pakaian koyak terikat pada kursi kayu. Kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat.“Ini adalah salah satu kurir yang tertangkap di perbatasan kemarin,” ucap Kael tanpa emosi. “Dia membawa pesan berkode, tapi mulutnya masih terkunci rapat. Dia mengaku tidak tahu apa-apa tentang keluarga Dawson.”Kael melangkah masuk lalu berdiri tepat di depan tawanan itu. Dia lalu menoleh ke arah Emily yang masih berdi
Kepanikan di dapur segera mereda setelah para prajurit bergerak ke pos masing-masing, namun ketegangan di atmosfer kastil justru semakin meruncing.Suara terompet dari menara pengawas menggema, menandakan kedatangan tamu penting yang tidak terduga.Bukan pemberontak yang datang menyerbu, melainkan serombongan kurir berkuda dengan panji emas Kerajaan yang berkibar di tengah badai salju.Emily baru saja selesai membantu Lucian membereskan sisa sayuran ketika seorang ajudan Kael muncul di ambang pintu dapur.“Elian! Duke memanggilmu ke ruang kerja pribadinya sekarang. Bawa sebotol anggur terbaik dari gudang bawah tanah,” perintah ajudan itu tanpa basa-basi.Emily mengangguk patuh, meski perutnya kembali melilit. Dia pun mengambil botol anggur tahun tua dan nampan perak, lalu berjalan melewati koridor-koridor sunyi menuju sayap utara.Di depan ruang kerja Kael, ia berpapasan dengan seorang pria berpakaian megah, kurir Raja, yang baru saja keluar dengan wajah kaku.“Ingat, Duke,” suara kur
“Saya ... saya sering melihat gadis-gadis di desa melakukan perawatan dengan minyak bunga matahari,” ucap Emily sembari mengatur detak jantungnya.“Karena saya sering dianggap terlalu cantik untuk ukuran pria desa, saya terobsesi merawat tangan saya agar tidak kasar. Saya tidak ingin terlihat seperti buruh rendahan.”Kael menyipitkan matanya menatap telapak tangan Emily yang kini memerah karena cengkeramannya. “Minyak bunga matahari? Kau pikir aku akan percaya alasan sepicik itu?”“Tuan Duke, mohon maafkan kelemahan saya,” Emily segera menundukkan kepalanya dan membiarkan beberapa helai rambutnya menutupi mata.“Saya tahu saya tampak tidak berguna dengan tangan seperti ini, tapi saya mohon jangan usir saya. Saya akan melakukan pekerjaan apa pun. Saya akan mencuci zirah, membersihkan istal, atau apa pun sekeras mungkin asalkan saya bisa tetap bekerja di sini. Saya tidak punya tempat tujuan lain.”Kael mendengus lalu melepaskan tangan Emily dengan sentakan kasar hingga tangan gadis itu
Gerbang besi Kastil Ravenshire berderit terbuka, menyambut kepulangan rombongan yang tampak kuyu dan bersimbah lumpur.Kael berjalan tegap menuju aula utama, jubah bulu serigalanya yang basah menyapu lantai marmer. Di sana, para pengawal yang berjaga segera berdiri tegak.Kael tidak membuang waktu lagi dan kini berdiri di tengah ruangan, membiarkan suaranya yang berat bergema hingga ke langit-langit aula yang tinggi.“Dengarkan semua!” seru Kael.“Pencarian Johan Dawson belum berakhir. Jangan ada yang berasumsi dia sudah mati hanya karena sungai itu menelannya. Tingkatkan penjagaan di setiap pos perbatasan.“Siapa pun yang melihat orang asing atau pergerakan mencurigakan, tangkap! Jika ada yang membiarkannya lolos, kepalanya sendiri yang akan menggantikannya di tiang gantungan.”Para prajurit serentak menghentakkan kaki ke lantai sebagai tanda patuh. Kael kemudian menoleh ke arah Emily yang berdiri di pojok ruangan.“Elian, siapkan air panas di kamarku. Sekarang,” perintah Kael dingin
Udara di dalam gua terasa membeku, seolah-olah dinginnya batu meresap langsung ke dalam sumsum tulang.Di luar, badai salju menderu-deru, menutup mulut gua dengan tirai putih yang tebal.Satu api unggun kecil di tengah ruangan hanya menyisakan bara merah yang lemah, memberikan cahaya remang yang ti
Malam telah tiba.“Cepat ikat kembali peti-peti itu! Kita harus segera mencari tempat berteduh sebelum badai ini menutup jalur!” teriakan Komandan Penjaga memecah suara angin.Emily bergegas menghampiri kuda cokelatnya yang membawa pasokan senjata cadangan. Tangannya yang masih kaku akibat kedingin
“Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih
Selama perjalanan yang melelahkan, mereka tak kunjung menemukan makanan yang bisa mereka makan.Perut Emily melilit perih, rasa lapar mulai mengikis konsentrasinya, namun ketegangan di sekitarnya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri.Di depannya, Duke Kael memacu kudanya dengan pelan







