Share

Bab 29

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-04-11 22:51:26

Emily kini berada di dalam ruang kerja sang Duke. Wanita itu berdiri sendirian di dekat meja besar yang berantakan, sementara suara langkah kaki para pengawal terdengar menjauh di koridor.

Kael sedang berada di kamarnya untuk mengganti pakaian yang kotor oleh debu penjara, memberinya waktu beberapa menit yang sangat berharga.

Dengan tangan gemetar, Emily merogoh ke dalam sepatunya dan menarik secarik kertas kusam yang dilemparkan oleh tawanan tadi. Matanya bergerak cepat menyisir tulisan cakar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 68

    Lampu minyak yang dibawa Emily sengaja ia redupkan hingga hanya menyisakan pendar kecil. Ia melangkah keluar melewati pintu dapur yang jarang dikunci, menyelinap ke arah sayap barat kastil yang sudah lama tidak terjamah.Halaman belakang ini dulunya adalah kebanggaan Lady Elena, namun kini hanya menjadi hamparan semak belukar dan dahan mawar liar yang kering.Emily menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Informasi dari Lucian tentang pertemuan rahasia Elena di tempat ini menjadi satu-satunya petunjuk yang paling masuk akal.Ia harus menemukan bukti fisik, sekecil apa pun, yang tertinggal di area yang menurut pelayan lama menjadi titik buta penjaga.“Pintu samping di dekat pohon oak,” gumam Emily pelan, mengingat arahan Lucian.Ia menyibak semak berduri dengan ujung sepatunya, berusaha tidak menimbulkan suara derak yang terlalu keras. Langkahnya terhenti saat ia melihat dinding mawar yang begitu lebat hingga menutupi sebagian tembok batu kastil.Di balik jalinan ba

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 67

    “Jawab aku, Elian,” desis Kael. “Kenapa tanganmu tidak bisa berhenti bergetar?”Emily sudah membuka mulutnya, namun tenggorokannya terasa sekering gurun. Baru saja ia hendak memaksakan sebuah alasan keluar, pintu ruang makan terbuka dengan debuman keras.Seorang prajurit berpangkat kapten masuk dengan napas memburu, memegang sebuah gulungan perkamen tebal dengan segel lilin biru.“Tuan Duke! Maafkan kelancangan saya, tapi dokumen proyek dermaga dari perbatasan utara baru saja tiba,” lapor prajurit itu dengan suara lantang. “Kurir mengatakan ini sangat mendesak karena menyangkut audit dana yang hilang.”Kael segera melepaskan tangan Emily. Ketegangan yang tadi berpusat pada gadis itu seketika berpindah pada gulungan perkamen tersebut. Wajah Kael berubah drastis; keintiman yang mengancam tadi menguap, digantikan oleh sorot mata penguasa yang haus akan informasi.“Akhirnya,” gumam Kael, lalu melirik Emily sekilas dengan tatapan yang masih penuh selidik, namun ia melambaikan tangannya den

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 66

    Perjalanan kembali ke kastil berlangsung dalam keheningan yang jauh lebih berat daripada saat mereka berangkat. Emily berkuda beberapa langkah di belakang Kael, menatap punggung tegap sang Duke yang tertutup jubah hitam.Kata-kata Kael di hutan tadi masih terngiang jelas di telinganya. Hasrat pria itu untuk membunuhnya dan Johan bukan lagi sekadar gertakan; itu adalah tujuan hidupnya.Sesampainya di kastil, kesibukan segera berpindah ke dapur. Emily membantu Lucian menyiapkan hasil buruan tersebut. Daging rusa jantan itu dipanggang dengan rempah-rempah kuat, aromanya memenuhi lorong-lorong batu yang dingin.Namun, bagi Emily, aroma itu tidak membangkitkan selera makan. Ia justru teringat pada rusa yang mati dengan sekali tembak, persis seperti bayangan Kael tentang bagaimana keluarga Dawson seharusnya berakhir.“Bawa ini ke ruang makan pribadi,” perintah Lucian sambil menyerahkan nampan perak besar. “Dan Elian, kuatkan hatimu. Tatapannya malam ini jauh lebih tajam dari biasanya.”Emil

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 65

    Kael menurunkan busurnya, namun ia tidak segera mengambil anak panah baru. Ia berdiri tegak, memunggungi Emily sambil menatap arah lari rusa yang baru saja lolos.Hening di hutan itu terasa menekan, hanya diselingi suara gesekan dedaunan. Emily mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba menetralkan degup jantungnya yang liar. Pertanyaan Kael tentang pengkhianatan tadi terasa seperti umpan yang sangat berbahaya.Emily menarik napas panjang, mencoba memberanikan diri. Ini adalah kesempatan paling terbuka yang ia miliki untuk menggali pola pikir Kael.“Tuan Duke,” panggil Emily lirih. “Jika pengkhianatan begitu menyakitkan bagi Anda... bolehkah saya bertanya satu hal?” tanyanya kemudian.Kael tidak menoleh, namun bahunya sedikit bergerak. “Katakan.”“Kenapa Anda begitu yakin bahwa Lord Dawson melakukan korupsi puluhan tahun lalu? Maksud saya, dia adalah orang yang sangat dipercaya oleh mendiang Raja. Tidakkah ada kemungkinan bahwa bukti-bukti itu dimanipulasi oleh orang lain?”Kael

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 64

    Udara di perbatasan utara terasa jauh lebih menusuk dibandingkan area kastil. Hutan pinus yang lebat menelan cahaya matahari, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara pepohonan.Kael berkuda di depan dengan langkah mantap, sementara Emily mengikuti di belakang menggunakan kuda yang lebih kecil, membawa kantong kulit berisi persediaan air dan anak panah cadangan.Kael tidak banyak bicara sejak meninggalkan kastil. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Masalah korupsi di proyek Bendungan Perbatasan Utara telah menyita waktu tidurnya selama seminggu terakhir.Para pejabat yang ia percayai ternyata menilap dana pembangunan, membuat pondasi bendungan itu terbengkalai dan mengancam keselamatan ribuan warga di hilir.“Berhenti di sini,” perintah Kael pelan.Ia turun dari kudanya dengan gerakan yang sangat tangkas. Emily segera menyusul, menambatkan tali kekang kuda pada dahan pohon yang rendah.Kael mengambil busur panjangnya yang terbuat dari kayu hitam yang dipoles m

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 63

    Di pagi harinya, Emily masuk dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang. Kepalanya masih sedikit pening karena kurang tidur, namun ancaman Kael semalam membuatnya tidak punya pilihan selain tampil sempurna.Kael sudah duduk di balik meja besarnya. Ia tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya kemeja putih dengan kerah terbuka dan rompi hitam.Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang tegang saat ia menulis sesuatu dengan pena bulu.“Kau tampak sudah sembuh, Elian,” ucap Kael tanpa mengangkat wajah dari kertasnya.“Berkat kemurahan hati Anda, Tuan Duke. Istirahat semalam sangat membantu,” jawab Emily sambil meletakkan nampan berisi kopi pekat dan roti gandum di sisi meja yang kosong.Kael hanya bergumam pendek, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan, di mana beberapa peti kayu besar terbuka dengan dokumen yang meluap keluar.“Arsip dari lima tahun yang lalu. Semuanya berantakan karena pemeriksaan semalam. Rapikan kembali berdasarkan ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status