Share

Diam-diam Perhatian

Penulis: Risca Amelia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 23:30:47

Merasa Moza telah menyerah, lidah Dastan menerobos masuk. Dengan terampil, ia membelit dan menguasai rongga mulut wanita itu, seolah ingin menelan habis seluruh udara dari paru-parunya.

Napas Moza pun terputus-putus seperti ikan yang terlempar ke daratan. Sesaknya bukan hanya datang dari ciuman Dastan, melainkan juga dari kegelapan pekat yang menyelimuti mereka berdua. Ruangan itu kini bagaikan lubang hitam yang menyedot habis pasokan oksigennya.

Kepala Moza mulai berputar, dunia terasa miring. Jantungnya berdebar kencang, lalu tiba-tiba melambat seperti mesin yang kehabisan bahan bakar.

Di tengah pusaran itu, pikiran Moza yang sekarat menyisakan sebuah pertanyaan pedih.

Mungkinkah usahanya mencari keadilan untuk Kayden hanya akan berakhir di sini, dalam dekapan mematikan Dastan Limantara?

Semakin lama tubuh Moza semakin lunglai, bagai boneka kain yang kehilangan rangkanya. Tangannya yang sempat menolak kini terkulai lemas di dada Dastan.

Di ambang putus asa, ketika titik-titik hita
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rini Rosyani
hayoooo ketahuan.... dia mh player, hapal pasti
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kembalinya Cinta Lama

    Rezon baru saja menyelesaikan kunjungan rutin di bangsal VVIP. Ia memeriksa kondisi mantan menteri yang selesai menjalani bedah bypass jantung, serta seorang pemilik jaringan hotel yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor jinak. Sebagai dokter penanggung jawab, Rezon harus memastikan kondisi mereka tetap stabil. Ketegangan itu terbawa hingga ia kembali ke ruangannya.Begitu duduk di kursi, pandangan Rezon langsung tertuju pada benda di sudut meja kerjanya. Rantang makanan bertingkat empat dari Izora. Sambil menghela napas panjang, Rezon menarik rantang itu. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dokter ingusan itu selain membuatku kesal," gumamnya skeptis.Satu per satu, Rezon membuka penutup rantang makanan. Bagian paling atas berisi salad buah dengan potongan apel, stroberi,dan anggur, yang diberi dressing yogurt tipis. Bagian kedua adalah tumis brokoli wortel, sedangkan bagian ketiga diisi dada ayam panggang beraroma lada hitam. Untuk lapisan terakhir, Izora menyajikan na

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perjodohan yang Tak Diinginkan

    Melihat keraguan yang masih membayangi wajah Moza, Tuan Hadinata menggenggam tangan putrinya lebih erat. Suaranya melunak, sarat dengan nada penyesalan. "Moza, Papa pasti akan menerima anakmu. Bagaimanapun juga, dia adalah cucu pertama Papa. Darah dagingmu merupakan darah daging Papa juga."Moza menarik napas panjang, mencoba melapangkan dadanya yang terasa sesak. Ia berpikir mungkin tidak ada salahnya berkata jujur. Toh, lambat laun ia harus memperkenalkan Kayden pada sang kakek.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Moza lantas merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia menggeser layar galeri, mencari sebuah foto yang diambilnya saat mereka masih di kota Sarima. Foto Kayden yang sedang tersenyum lebar dengan latar belakang perbukitan hijau."Ini anakku, Pa. Namanya Kayden," ucap Moza sambil menunjukkan layar ponselnya kepada sang ayah."Kayden adalah satu-satunya kekuatanku yang membuat aku tetap tegar menjalani hidup."Tuan Hadinata tertegun. Ia memandangi foto bocah laki-laki itu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ayah dan Putrinya

    Mulut Moza mendadak terasa kering. Kini, semua mata tertuju padanya, bahkan Prof. Reza di sampingnya ikut melirik penuh perhatian.Tak hanya Moza, Dastan yang duduk di bangku belakang juga terkejut mendengar pertanyaan itu. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak tegang. Ia tahu lebih dari siapapun, bahwa pertanyaan tentang kehamilan pasti akan memicu rasa sakit dan trauma yang pernah dialami Moza. Mungkin, Moza akan langsung teringat tentang masa-masa terkelam dalam hidupnya. Dastan hampir saja melangkah maju untuk menjadi tameng bagi Moza. Namun sebelum ia bisa bergerak, suara Moza terdengar lantang dan lugas dari podium."Terima kasih atas pertanyaannya," jawab Moza dengan suara yang berwibawa. "Tindakan pencegahan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri untuk menjaga tubuh, martabat, dan memahami batasan. Seorang wanita hendaknya tidak menyerahkan diri kepada pria yang belum atau bukan menjadi suaminya. Itu adalah langkah paling bijaksana."Moza berhenti sejenak. Matanya tanpa

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Mengagumi Tanpa Terlihat

    Begitu Tuan Hadinata dipersilakan duduk oleh salah satu panitia, Moza langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa meter dari panggung, membuat Moza tak kuasa menatap wajah ayahnya.Rasa sesak mulai menghimpit dada Moza.Mungkinkah sang ayah sengaja datang setelah melihat namanya tertera di daftar pembicara? Ataukah ini murni kebetulan untuk kepentingan yayasan?Walau perasaannya berkecamuk, Moza sadar bahwa lambat laun pertemuan ini harus terjadi. Sebagai seorang anak, ia tak bisa terus menghindar dari ayah kandungnya sendiri. Sambil menarik napas lambat, Moza kemudian mengalihkan perhatian sepenuhnya pada layar laptop. Meneliti kembali slide presentasi yang sudah ia susun dengan teliti. Dalam hati, Moza mulai menghitung mundur, menunggu menit-menit terakhir sebelum sesi pertama ditutup.Ketika Profesor Reza menutup presentasinya dengan kesimpulan yang tegas, suasana auditorium pecah oleh tepuk tangan meriah. Tanpa membuang waktu, sang pembawa a

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pertemuan yang Membawa Luka

    Gedung Universitas Pusat dengan lima lantai akhirnya mulai terlihat. Bangunan yang didominasi oleh kaca gelap dan pilar-pilar beton itu berdiri kokoh di tengah taman kampus yang asri. Semakin dekat mobil Pak Nata menuju lobi utama, jantung Moza kian bertalu kencang. Rasanya, sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Dulu, sewaktu dirinya masih mahasiswi, ia pernah beberapa kali datang sebagai peserta seminar biasa. Tak pernah terbayangkan bahwa suatu hari ia akan kembali dengan status yang jauh berbeda: sebagai pembicara."Silakan turun, Nyonya," suara Pak Nata memecah lamunan Moza. "Kalau acaranya sudah selesai, saya akan segera menjemput Nyonya."Moza memandang sejenak ke arah lobi kampus yang sudah ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Di beberapa sudut, spanduk-spanduk besar terpasang rapi, menampilkan judul seminar hari ini.Melihat namanya terpampang di sana, hati Moza diliputi rasa bangga sekaligus gugup."Terima kasih, Pak," ucap Moza singkat, sebelum i

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Misi Rahasia

    Pagi itu, Moza bergerak gesit di dapur. Ia memastikan Kayden dan Abigail menghabiskan sarapan telur gulung serta sereal mereka. Suara denting sendok dan tawa kecil anak-anak menjadi latar belakang yang menghangatkan suasana. Setelah urusan perut anak-anak selesai, Moza segera beralih ke kamar untuk mempersiapkan diri. Ini adalah hari besarnya, sebuah pembuktian profesionalitas yang tidak boleh ia sia-siakan.Abigail, yang selalu terpesona melihat ritual kecantikan, segera mengekor di belakang Moza. Gadis kecil itu asyik membantu memilihkan pakaian, bersikap seakan dirinya adalah penata busana pribadi sang ibu. Akhirnya, atas pilihan Abigail, Moza mengenakan setelan blazer dan celana panjang berwarna biru elektrik. Warna ini sangat menonjol, memancarkan aura kepercayaan diri yang nyata.Moza kemudian duduk di depan meja rias. Ia memulaskan make-up yang sedikit lebih tegas. Rambut panjangnya ia sanggul sederhana, dengan beberapa helai rambut yang sengaja disisakan di sisi wajah."Mama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status