Share

Terjebak Berdua

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2025-10-22 17:30:14
Sebelum Moza sempat menarik tangan, sebuah tangan kuat menangkap pergelangannya. Alhasil, ponsel Moza terjatuh dari genggaman, menghantam lantai dengan suara klik keras.

Seberkas sinar ponsel menyala—terarah tepat ke wajah Moza. Dan di ujung cahaya itu, Dastan berdiri dengan tatapan yang dalam.

Setelan jasnya masih melekat di tubuh, menonjolkan garis-garis otot yang kuat. Matanya gelap, seperti samudra yang siap menelan siapa saja yang mendekat.

“Kau sengaja menungguku di sini? Kau mencari kesempatan menyentuhku di kegelapan?” tanya Dastan dengan suara rendah.

Moza menahan napas. Tubuhnya gemetar. Ia bisa merasakan dada Dastan yang bergerak perlahan. Merasakan hawa hangat tubuh lelaki itu yang bercampur dengan aroma parfum musk.

“S-Saya hanya ingin memastikan siapa yang masuk,” lirih Moza terbata. “Saya diberi tugas oleh Bu Thalia untuk menunggu Anda pulang. Tapi, listrik mendadak padam sehingga saya panik.”

Dastan berdecak pelan. “Kenapa kau selalu panik saat bertemu denganku? Apa i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kembalinya Cinta Lama

    Rezon baru saja menyelesaikan kunjungan rutin di bangsal VVIP. Ia memeriksa kondisi mantan menteri yang selesai menjalani bedah bypass jantung, serta seorang pemilik jaringan hotel yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor jinak. Sebagai dokter penanggung jawab, Rezon harus memastikan kondisi mereka tetap stabil. Ketegangan itu terbawa hingga ia kembali ke ruangannya.Begitu duduk di kursi, pandangan Rezon langsung tertuju pada benda di sudut meja kerjanya. Rantang makanan bertingkat empat dari Izora. Sambil menghela napas panjang, Rezon menarik rantang itu. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dokter ingusan itu selain membuatku kesal," gumamnya skeptis.Satu per satu, Rezon membuka penutup rantang makanan. Bagian paling atas berisi salad buah dengan potongan apel, stroberi,dan anggur, yang diberi dressing yogurt tipis. Bagian kedua adalah tumis brokoli wortel, sedangkan bagian ketiga diisi dada ayam panggang beraroma lada hitam. Untuk lapisan terakhir, Izora menyajikan na

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perjodohan yang Tak Diinginkan

    Melihat keraguan yang masih membayangi wajah Moza, Tuan Hadinata menggenggam tangan putrinya lebih erat. Suaranya melunak, sarat dengan nada penyesalan. "Moza, Papa pasti akan menerima anakmu. Bagaimanapun juga, dia adalah cucu pertama Papa. Darah dagingmu merupakan darah daging Papa juga."Moza menarik napas panjang, mencoba melapangkan dadanya yang terasa sesak. Ia berpikir mungkin tidak ada salahnya berkata jujur. Toh, lambat laun ia harus memperkenalkan Kayden pada sang kakek.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Moza lantas merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia menggeser layar galeri, mencari sebuah foto yang diambilnya saat mereka masih di kota Sarima. Foto Kayden yang sedang tersenyum lebar dengan latar belakang perbukitan hijau."Ini anakku, Pa. Namanya Kayden," ucap Moza sambil menunjukkan layar ponselnya kepada sang ayah."Kayden adalah satu-satunya kekuatanku yang membuat aku tetap tegar menjalani hidup."Tuan Hadinata tertegun. Ia memandangi foto bocah laki-laki itu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ayah dan Putrinya

    Mulut Moza mendadak terasa kering. Kini, semua mata tertuju padanya, bahkan Prof. Reza di sampingnya ikut melirik penuh perhatian.Tak hanya Moza, Dastan yang duduk di bangku belakang juga terkejut mendengar pertanyaan itu. Rahangnya mengeras dan wajahnya tampak tegang. Ia tahu lebih dari siapapun, bahwa pertanyaan tentang kehamilan pasti akan memicu rasa sakit dan trauma yang pernah dialami Moza. Mungkin, Moza akan langsung teringat tentang masa-masa terkelam dalam hidupnya. Dastan hampir saja melangkah maju untuk menjadi tameng bagi Moza. Namun sebelum ia bisa bergerak, suara Moza terdengar lantang dan lugas dari podium."Terima kasih atas pertanyaannya," jawab Moza dengan suara yang berwibawa. "Tindakan pencegahan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri untuk menjaga tubuh, martabat, dan memahami batasan. Seorang wanita hendaknya tidak menyerahkan diri kepada pria yang belum atau bukan menjadi suaminya. Itu adalah langkah paling bijaksana."Moza berhenti sejenak. Matanya tanpa

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Mengagumi Tanpa Terlihat

    Begitu Tuan Hadinata dipersilakan duduk oleh salah satu panitia, Moza langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa meter dari panggung, membuat Moza tak kuasa menatap wajah ayahnya.Rasa sesak mulai menghimpit dada Moza.Mungkinkah sang ayah sengaja datang setelah melihat namanya tertera di daftar pembicara? Ataukah ini murni kebetulan untuk kepentingan yayasan?Walau perasaannya berkecamuk, Moza sadar bahwa lambat laun pertemuan ini harus terjadi. Sebagai seorang anak, ia tak bisa terus menghindar dari ayah kandungnya sendiri. Sambil menarik napas lambat, Moza kemudian mengalihkan perhatian sepenuhnya pada layar laptop. Meneliti kembali slide presentasi yang sudah ia susun dengan teliti. Dalam hati, Moza mulai menghitung mundur, menunggu menit-menit terakhir sebelum sesi pertama ditutup.Ketika Profesor Reza menutup presentasinya dengan kesimpulan yang tegas, suasana auditorium pecah oleh tepuk tangan meriah. Tanpa membuang waktu, sang pembawa a

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pertemuan yang Membawa Luka

    Gedung Universitas Pusat dengan lima lantai akhirnya mulai terlihat. Bangunan yang didominasi oleh kaca gelap dan pilar-pilar beton itu berdiri kokoh di tengah taman kampus yang asri. Semakin dekat mobil Pak Nata menuju lobi utama, jantung Moza kian bertalu kencang. Rasanya, sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Dulu, sewaktu dirinya masih mahasiswi, ia pernah beberapa kali datang sebagai peserta seminar biasa. Tak pernah terbayangkan bahwa suatu hari ia akan kembali dengan status yang jauh berbeda: sebagai pembicara."Silakan turun, Nyonya," suara Pak Nata memecah lamunan Moza. "Kalau acaranya sudah selesai, saya akan segera menjemput Nyonya."Moza memandang sejenak ke arah lobi kampus yang sudah ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Di beberapa sudut, spanduk-spanduk besar terpasang rapi, menampilkan judul seminar hari ini.Melihat namanya terpampang di sana, hati Moza diliputi rasa bangga sekaligus gugup."Terima kasih, Pak," ucap Moza singkat, sebelum i

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Misi Rahasia

    Pagi itu, Moza bergerak gesit di dapur. Ia memastikan Kayden dan Abigail menghabiskan sarapan telur gulung serta sereal mereka. Suara denting sendok dan tawa kecil anak-anak menjadi latar belakang yang menghangatkan suasana. Setelah urusan perut anak-anak selesai, Moza segera beralih ke kamar untuk mempersiapkan diri. Ini adalah hari besarnya, sebuah pembuktian profesionalitas yang tidak boleh ia sia-siakan.Abigail, yang selalu terpesona melihat ritual kecantikan, segera mengekor di belakang Moza. Gadis kecil itu asyik membantu memilihkan pakaian, bersikap seakan dirinya adalah penata busana pribadi sang ibu. Akhirnya, atas pilihan Abigail, Moza mengenakan setelan blazer dan celana panjang berwarna biru elektrik. Warna ini sangat menonjol, memancarkan aura kepercayaan diri yang nyata.Moza kemudian duduk di depan meja rias. Ia memulaskan make-up yang sedikit lebih tegas. Rambut panjangnya ia sanggul sederhana, dengan beberapa helai rambut yang sengaja disisakan di sisi wajah."Mama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status