Share

Terjebak Berdua

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2025-10-22 17:30:14
Sebelum Moza sempat menarik tangan, sebuah tangan kuat menangkap pergelangannya. Alhasil, ponsel Moza terjatuh dari genggaman, menghantam lantai dengan suara klik keras.

Seberkas sinar ponsel menyala—terarah tepat ke wajah Moza. Dan di ujung cahaya itu, Dastan berdiri dengan tatapan yang dalam.

Setelan jasnya masih melekat di tubuh, menonjolkan garis-garis otot yang kuat. Matanya gelap, seperti samudra yang siap menelan siapa saja yang mendekat.

“Kau sengaja menungguku di sini? Kau mencari kesempatan menyentuhku di kegelapan?” tanya Dastan dengan suara rendah.

Moza menahan napas. Tubuhnya gemetar. Ia bisa merasakan dada Dastan yang bergerak perlahan. Merasakan hawa hangat tubuh lelaki itu yang bercampur dengan aroma parfum musk.

“S-Saya hanya ingin memastikan siapa yang masuk,” lirih Moza terbata. “Saya diberi tugas oleh Bu Thalia untuk menunggu Anda pulang. Tapi, listrik mendadak padam sehingga saya panik.”

Dastan berdecak pelan. “Kenapa kau selalu panik saat bertemu denganku? Apa i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Saya adalah Suami Moza

    Sesuai dengan arah jari telunjuk Kayden, Dastan mengalihkan pandangan kepada Radit yang duduk mematung di kursi roda. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam.Nyali Radit seketika menciut, melihat postur Dastan yang tinggi besar dan berotot. Terlebih, mata pria itu bagaikan sinar laser yang mampu melubangi dasar jiwanya. Dengan gerakan kikuk, Radit kemudian menggeser kursi rodanya mendekat kepada sang ayah untuk mencari perlindungan."Papa... siapa dia?" bisiknya ketakutan.Dastan tidak menanggapi sama sekali, seakan Radit tidak layak untuk diperhatikan. Sambil tetap menggendong Kayden, ia berjalan menuju ke kursi di sebelah Moza. "Sebentar, Kay. Papa ingin bicara dengan Opa,” bisik Dastan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan sebelumnya.Lidah Moza terasa kelu, seperti terbungkus kapas tebal. Napasnya pendek-pendek, tertahan di kerongkongan. Sungguh, kehadiran Dastan saat ini bagaikan mimpi. Tadi siang dia masih berpikir pria itu sedang di luar negeri bersama

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Itu Papa

    Kata-kata Radit seperti petir di siang bolong. Didorong oleh insting perlindungan diri yang tajam, Moza mendorong dada Radit dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Alhasil, kursi roda pria itu mundur beberapa sentimeter. Moza berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menyalakan api kemarahan.Ia segera berdiri dan menarik Kayden ke belakang tubuhnya, menjauhkan sang putra dari jangkauan tangan Radit yang tidak stabil.Tuan Sentosa bergegas mendekat untuk menenangkan putranya. Ia meraih pegangan kursi roda Radit dan menariknya menjauh dari Moza. "Radit, kendalikan dirimu. Jangan membuat Moza salah paham," ujarnya cemas sekaligus malu. Ekspresi Radit pun kembali datar, seperti tombol yang dimatikan paksa. Dia memandang ke arah lain, seolah kejadian tadi tidak pernah ada.Tuan Sentosa kemudian berpaling kepada Moza. "Maafkan Radit, Moza. Dia hanya terlalu bersemangat melihatmu lagi setelah bertahun-tahun."Namun, Moza tidak mendengarkan. Matanya justru te

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria Berbahaya

    Sembari menggandeng Kayden, Moza melangkah di atas ubin marmer yang akrab di bawah alas kakinya. Ribuan kenangan langsung membanjiri benak Moza. Namun, sebelum ia sempat menggali lebih dalam, sosok pria berseragam pelayan muncul dari balik pintu."Non Moza...." panggil suara itu bergetar.Dia adalah Pak Galih, pelayan kepercayaan sang ayah yang sudah mengabdi sejak Moza masih belajar berjalan.Pria yang rambutnya telah memutih itu berdiri di depan Moza dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat lega melihat Non Moza baik-baik saja."Moza merasakan matanya memanas. Di rumah yang penuh aturan kaku, Pak Galih adalah sedikit dari orang yang memberinya kasih sayang tulus. "Terima kasih, Pak Galih. Saya juga senang bisa melihat Bapak masih sehat dan bekerja di sini."Pandangan Pak Galih lalu beralih ke bawah, ke arah bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Moza."Ini pasti jagoannya Non Moza. Kau tampan sekali, Nak. Siapa namamu?""Kayden," jawab bocah itu mantap, meskipun ma

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perkenalan Pertama

    Setibanya di unit apartemen, suasana hangat langsung menyambut Moza.Ia melihat Abigail dan Kayden duduk di meja makan, asyik menikmati potongan kue cokelat dengan bibir belepotan. Keceriaan mereka mampu mengalihkan rasa lelah yang mendera Moza selepas acara seminar."Mama sudah pulang!" seru Kayden riang.Moza mendekat dan mengecup kening kedua anaknya bergantian. "Apa kalian sudah makan siang?""Sudah, Ma. Tadi Bi Isna masak ayam katsu dan brokoli," jawab Abigail sambil tersenyum manis."Bagus kalau begitu," ujar Moza.Usai berganti pakaian, Moza bergabung lagi dengan anak-anaknya di ruang makan. Sambil menyuap makan siangnya yang terlambat, ia menatap Kayden dengan lembut. "Sayang, nanti jam enam sore, apa kamu mau ikut Mama ke suatu tempat?"Kayden menghentikan kunyahannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ke mana, Ma?""Ke rumah Opa.""Ketemu Opa Markus?" timpal Abigail dengan mata berbinar, mengira mereka akan berkunjung ke mansion.Moza meletakkan sendoknya, lalu me

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kembalinya Cinta Lama

    Rezon baru saja menyelesaikan kunjungan rutin di bangsal VVIP. Ia memeriksa kondisi mantan menteri yang selesai menjalani bedah bypass jantung, serta seorang pemilik jaringan hotel yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor jinak. Sebagai dokter penanggung jawab, Rezon harus memastikan kondisi mereka tetap stabil. Ketegangan itu terbawa hingga ia kembali ke ruangannya.Begitu duduk di kursi, pandangan Rezon langsung tertuju pada benda di sudut meja kerjanya. Rantang makanan bertingkat empat dari Izora. Sambil menghela napas panjang, Rezon menarik rantang itu. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dokter ingusan itu selain membuatku kesal," gumamnya skeptis.Satu per satu, Rezon membuka penutup rantang makanan. Bagian paling atas berisi salad buah dengan potongan apel, stroberi,dan anggur, yang diberi dressing yogurt tipis. Bagian kedua adalah tumis brokoli wortel, sedangkan bagian ketiga diisi dada ayam panggang beraroma lada hitam. Untuk lapisan terakhir, Izora menyajikan na

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perjodohan yang Tak Diinginkan

    Melihat keraguan yang masih membayangi wajah Moza, Tuan Hadinata menggenggam tangan putrinya lebih erat. Suaranya melunak, sarat dengan nada penyesalan. "Moza, Papa pasti akan menerima anakmu. Bagaimanapun juga, dia adalah cucu pertama Papa. Darah dagingmu merupakan darah daging Papa juga."Moza menarik napas panjang, mencoba melapangkan dadanya yang terasa sesak. Ia berpikir mungkin tidak ada salahnya berkata jujur. Toh, lambat laun ia harus memperkenalkan Kayden pada sang kakek.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Moza lantas merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia menggeser layar galeri, mencari sebuah foto yang diambilnya saat mereka masih di kota Sarima. Foto Kayden yang sedang tersenyum lebar dengan latar belakang perbukitan hijau."Ini anakku, Pa. Namanya Kayden," ucap Moza sambil menunjukkan layar ponselnya kepada sang ayah."Kayden adalah satu-satunya kekuatanku yang membuat aku tetap tegar menjalani hidup."Tuan Hadinata tertegun. Ia memandangi foto bocah laki-laki itu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status